A Thousand Flowers

A Thousand Flowers
Chapter 65. Gosip Sampul



“Turunkan aku di sini, Tuan Shin!” pinta Izzah sebelum mobil Shin Seo Hyun berbelok memasuki gerbang rumah sakit.


“Kenapa? Kau malu terlihat datang bersamaku?” tanya Shin Seo Hyun. Ia terlihat kurang senang dengan permintaan Izzah.


Setiap kali Izzah datang bersamanya, gadis itu selalu saja minta diturunkan beberapa meter sebelum mencapai pintu gerbang dan itu membuat Shin Seo Hyun merasa sangat dongkol.


“Bukan begitu, Tuan. Aku hanya tidak ingin menjadi bahan gosip teman-teman sekantor,” jawab Izzah tenang.


“Apa itu sangat mengganggumu?” selidik Shin Seo Hyun


“Tentu saja,” sahut Izzah. “Aku bukan tipe orang yang senang menjadi pembicaraan publik.” Ia berkata dengan nada tegas, membuat Shin Seo Hyun langsung menginjak rem dengan sangat kuat.


“Baiklah. Kau boleh turun sekarang,” jawab Shin Seo Hyun. Ia terpaksa mengalah demi melindungi nama baik Izzah.


“Terima kasih,” ucap Izzah, menutup pintu.


Shin Seo Hyun tak langsung menjalankan mobil. Dibiarkannya Izzah memasuki gerbang terlebih dulu. Baru kemudian ia bergerak perlahan, mengiringi langkah gadis itu dengan tatapan yang sulit diartikan.


Saat Izzah muncul di ruang IGD, teman-temannya bergegas mengerubunginya.


“Kamu tidak apa-apa, Zah?” tanya Kang So Ra khawatir.


“Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah mencemaskanku,” jawab Izzah, tersenyum.


“Sebenarnya kami sangat ingin membesukmu, tapi .…” Ucapan salah satu perawat itu terhenti karena disikut oleh perawat lainnya. Izzah mengernyit heran.


Kang So Ra cepat-cepat menarik Izzah ke ruang istirahat. Beberapa perawat dan dokter yang penasaran mengekor di belakang mereka. Begitu tiba di dalam ruang istrihat itu, Kang So Ra langsung mendorong Izzah duduk di atas sebuah kursi. Sementara yang lain berdiri mengelilinginya. Izzah semakin merasa aneh.


Tiba-tiba Kang So Ra mengeluarkan sebuah majalah dari tasnya. Ia memperlihatkan foto sampul majalah itu kepada Izzah. Tampak seorang perempuan dengan senyumnya yang menawan memangku seorang gadis kecil berwajah imut. Di belakangnya berdiri seorang lelaki tampan dan gagah, tersenyum penuh karisma dengan sebelah


tangannya berada di pundak si wanita.


Mata para perawat dan dokter itu pun terbelalak menyaksikan kemesraan dan keharmonisan yang dipertontonkan oleh ketiga orang yang menghiasi sampul majalah itu.


“Waaah! Itu benaran Direktur Shin dan Dokter Izzah?” tanya mereka serentak.


Izzah mengambil majalah itu dari tangan Kang So Ra. Alih-alih memperhatikan wajah-wajah yang terpampang menghias sampul majalah itu, Izzah lebih tertarik membaca tulisan yang tertera di sana.


“Melayani Sepenuh Hati: Direktur dan Dokter Rumah Sakit XYZ Tak Keberatan Mengasuh Anak Dari Keluarga Pasien”


Tanpa sadar Izzah tersenyum membaca judul yang mendeskripsikan foto mereka. Ternyata kekhawatirannya selama ini tidak terbukti. Izzah bisa bernapas dengan lega karena reporter itu tidak memanipulasi hubungannya dengan Shin Seo Hyun.


“Jadi benar nih?” tanya Kang So Ra, menginterogasi Izzah.


Izzah cuma tersenyum, lalu beranjak menuju IGD. Ia meninggalkan teman-temannya yang masih berdiri bengong sambil geleng-geleng kepala.


Perawat dan dokter laki-laki yang hendak menuju ruang istirahat itu menatap Izzah heran saat melihat gadis itu berjalan sendiri, sementara yang lain masih berdiri mematung menatap punggungnya.


“Ada apa dengan Dokter Izzah?” tanya salah satu perawat pria, tak mampu menahan diri dari rasa ingin tahunya.


Penasaran, perawat itu bergegas melihat majalah yang tertelungkup di dadanya. Yang lain ikut mengintip.


“Hah!”


Begitu melihat foto yang terpampang di sampul majalah itu, mereka pun sama terkejutnya dan ternganga bengong menatap lorong kosong. Lalu serentak berlari menyusul rekan-rekannya ke ruang IGD.


***


Istirahat makan siang kali ini terlihat lebih ramai dari biasanya. Sebagian pegawai yang duduk di meja lain saling berbisik-bisik, melirik Izzah. Sebenarnya Izzah merasa risi menjadi pusat perhatian. Namun, ia memilih untuk tidak memedulikan semua itu. Ibarat kata bijak, tak seorang pun dapat mengontrol ucapan dan perbuatan orang lain, tetapi setiap orang punya hak untuk menentukan bagaimana responsnya terhadap perlakuan orang lain.


Dan bagi Izzah, bersikap cuek terhadap situasi yang tak disukai menjadi pilihan terbaik demi menghindari prasangka dan kekusutan pikiran sekaligus menjaga ketenangan hati.


“Zah, kamu yakin tidak ada hubungan apa-apa antara kamu dan Direktur Shin?” tanya Kang So Ra, berbisik pelan. Sepertinya ia masih penasaran dengan foto sampul majalah itu.


“Bukannya kamu sudah baca sendiri artikelnya?” sahut Izzah, balik bertanya.


“Iya sih, tapi … aku ingin dengar langsung dari kamu,” balas Kang So Ra dengan nada sedikit kecewa karena Izzah terkesan berusaha menghindar untuk menjawab pertanyaannya.


Melihat ekspresi manyun Kang So Ra, Izzah tersenyum.


“Hubungan aku dan Direktur Shin hanya sebatas atasan dan bawahan. Jadi, jangan mikir yang aneh-aneh. Lagian, itu kan semacam bentuk promosi juga. Kayaknya kamu kebanyakan nonton drama kisah bos dan karyawan nih,” goda Izzah, disambut gelak tawa teman-temannya, membuat Kang So Ra tersenyum mesem.


“Tapi … kalau dilihat-lihat, kayaknya Pak Direktur benaran naksir kamu deh, Zah,” ujar Kang So Ra mulai bergosip.


“Sudah deh, tidak usah dibahas,” sahut Izzah dengan nada malas. Ia tidak tertarik untuk membicarakan hal-hal yang berbau cinta.


Raut muka Izzah yang dingin mengundang tatapan heran dari rekan-rekan semejanya.


“Jangan bilang kamu tidak tertarik sama cowok,” timpal perawat yang duduk di samping Kang So Ra.


“Bisa jadi,” jawab Izzah santai sambil memasukkan makanan ke mulutnya.


“Whaaatt!"


Sontak mereka semua yang duduk di meja itu serentak berteriak kaget. Bahkan, sendok dan garpu di tangan Kang So Ra sampai terlepas. Beberapa perawat dan dokter laki-laki yang mendengar jawaban Izzah ternganga tak percaya. Sebagian dari mereka bahkan sampai terbatuk-batuk dan buru-buru menyambar air di atas meja mereka.


“Waaah … Dokter Izzah kalau bercanda kira-kira dong. Masa iya perempuan secantik Dokter Izzah tidak berminat sama lawan jenis,” protes salah satu dokter yang duduk di sebelah kanan Kang So Ra.


“Ho oh … menutup peluang saja,” sambung perawat di sampingnya dan langsung mendapat hadiah jitakan di kepalanya dari sang dokter. Perawat itu pun meringis, mengusap kepalanya.


Tiba-tiba terdengar lantunan salawat Omar Borkan Al-Gala bersenandung dari ponsel Izzah. Izzah segera berdiri dan menjauh dari rekan-rekannya menerima panggilan itu. Membuat mereka saling pandang dan mereka-reka.


Sementara itu, duduk di pojok yang sedikit tersembunyi, Shin Seo Hyun mengawasi Izzah tanpa suara hingga tak seorang pun karyawan yang tengah menikmati makan siang itu menyadari keberadaannya. Kedua alis Shin Seo Hyun bertaut saat melihat Izzah kembali ke tempatnya dengan senyum hambar untuk menutupi kegusarannya.


***