A Thousand Flowers

A Thousand Flowers
Chapter 83. Kukejar Dirimu



Kehilangan kekasih bagai tersedot ke lubang hitam terdalam di rongga hati. Menorehkan perih melebihi sayatan sembilu. Menancapkan lara seperti hantaman godam raksasa. Harapan akan perjumpaan laksana tersesat di tengah labirin keputusasaan dan terikat pada rantai ketidakberdayaan.


Shin Seo Hyun masih bersimpuh di hamparan sajadah. Membisikkan doa-doa dalam penghambaan terendah. Membiarkan untaian doa itu mengudara di bentang malam menggapai Rabb-nya. Dan ketika lelah menyapa, ia pun terlelap dalam kepasrahan jiwa.


“Kenapa kau masih di sini, Dirga? Tidakkah kau merindukan istrimu?” tanya seorang kakek tua, menghampiri Shin Seo Hyun yang duduk termangu mencari pintu di batang pohon besar tempat Izzah lenyap ditelan seberkas cahaya. Dengan tatapan hampa ia mengangkat kepala.


“Kakek?” desisnya lemah. Matanya menatap sayu berbalut resah.


Lelaki tua yang dipanggilnya ‘Kakek’ itu berjongkok di depan Shin Seo Hyun. Senyum simpati menghias wajah keriputnya.


“Kini sudah saatnya kau membuka kotak yang kuberikan padamu dua puluh tahun yang lalu. Bangkitlah!” ujarnya seraya menyentuh pundak Shin Seo Hyun, lalu menghilang sebelum Shin Seo Hyun sempat melontar kata.


“Kakek. Kakeeek. Di mana kaaau?”


Teriakan Shin Seo Hyun melengking, memanggil kakeknya yang telah lenyap bak embusan angin lalu. Ia berdiri celingak-celinguk kebingungan.


“Kakeeek ….” Pekik Shin Seo Hyun bergema seantero kamar saat terjaga dari tidurnya.


“Astagfirullah. Ternyata cuma mimpi,” gumamnya, mengusap muka.


“Kotak? Kotak apa yang dimaksud Kakek?” tanyanya, mengingat-ingat semua pemberian sang kakek yang pernah diterimanya.


Kesakitan dan kematian, dua hal yang saling berkaitan. Seorang lelaki tua terbaring di ranjang rumah sakit dengan sisa tenaga yang kian melemah.


“Dirga, kemarilah!” panggil kakek tua itu pada seorang bocah lelaki usia delapan tahun yang berdiri di ujung ranjang dengan mata sembab karena tangis.


Masih dengan sisa isaknya, ia memenuhi panggilan sang kakek tanpa suara.


“Ini … ambil dan simpanlah!” ujar kakek itu, menyerahkan sebuah kotak hitam kecil kepada Dirga yang menyambutnya dengan kedua tangan mungilnya.


“Kotak apa ini, Kek?” tanyanya ingin tahu. Sang kakek mencoba tersenyum di sela batuknya.


“Suatu saat nanti, jika pohon di taman belakang itu berdaun kembali, kau akan membutuhkannya. Jadi, simpanlah baik-baik hingga waktu itu tiba!” sahut lelaki tua itu di ujung napasnya.


“Kek … Kakeek …,” panggil Dirga, mengguncang tubuh tua kakeknya yang tak lagi bernyawa.


Bunyi lengkingan mesin memanggil dokter dan perawat seketika. Dirga hanya bisa menatap dengan air mata yang menganak sungai ketika tubuh kaku itu dibawa ke kamar jenazah.


“Ah! Kotak itu. Aku harus menemukannya!” pekik Dirga seraya berdiri dan melipat sajadah.


Dengan semangat empat lima, dibukanya semua laci yang ada di kamarnya. Hingga benang hitam dan merah fajar terurai, kotak itu tak jua kunjung ditemukannya. Shin Seo Hyun mendesah lelah.


“Di mana aku menyimpannya?” gumamnya, bertanya-tanya.


Lalu, bergegas ia lari mendua katak menuju ruang perpustakaan.


Dibukanya lemari di sudut ruang perpustakaan itu. Dan dalam hitungan detik, lemari itu pun sudah seperti kapal pecah. Lagi-lagi ia mendesah kecewa karena tak menemukan apa yang dicarinya. Dirga terus mencari dan mencari.


“Aha! Ini dia!” teriak Dirga girang ketika menemukan kotak hitam kecil di laci meja paling bawah ruang perpustakaan itu.


Berdiri dengan memicingkan mata, ia mengamati kotak di tangannya dengan rasa ketertarikan tingkat dewa. Diputarnya kotak itu berulang kali sebelum benar-benar membukanya.


“Hah!”


Terkesima, Dirga berdecak kagum melihat isi kotak itu. Sebuah kalung unik berbentuk ginseng berhiaskan batu topaz kuning asli Brazil tergeletak indah di atas sehelai kertas putih yang mulai terlihat usang dimakan usia.


Dirga memperhatikan kalung itu dengan saksama. Pantulan cahaya lampu yang jatuh menimpa permata di kalung itu laksana semarak kemilau cahaya lampu disko di tengah gegap gempita entakan musik yang dimainkan seorang DJ profesional kelas dunia.


Tiba-tiba matanya membesar menyaksikan pohon keempat dalam lukisan itu. Bertalah ia menuju jendela, mengintip pohon besar di taman belakang. Menggunakan bias cahaya rembulan, Dirga menyamakan pohon besar itu dengan lukisan yang dipegangnya.


“Benar sekali. Ini adalah lukisan pohon di taman itu,” desisnya, tersenyum dengan binar mata penuh harapan.


***


Jika harapan adalah pulau tujuan, maka segala daya upaya akan menjadi perahu yang digerakkan oleh kekuatan dayung cinta. Berjuang keras melawan ombak prahara, tak peduli badai derita memaksa kemudi hati berputar arah. Tetap melaju, selama layar kasih sayang berlambang setia masih berkibar dalam dada.


Shin Seo Hyun bolak-balik memperhatikan lukisan di tangannya dan pohon besar yang berdiri kokoh di hadapannya. Hatinya telah mantap untuk mencari istrinya. Apa pun yang akan ditemuinya di balik pohon itu, ia tak lagi memikirkannya. Tak ada keraguan ataupun ketakutan. Yang ia tahu hanyalah mengerahkan seluruh kemampuan jiwa raganya untuk menemukan Izzah.


“Bismillah .…”


Shin Seo Hyun merentangkan tangan memeluk pohon besar yang telah menelan istrinya.


BLASH!


Seberkas cahaya memancar dari kalung yang dikenakannya. Bersamaan dengan hilangnya cahaya itu, Shin Seo Hyun pun lenyap seketika.


DRAP! DRAP! DRAP!


Suara entakan kaki kuda berlari kencang seakan membuat bumi bergetar hebat. Seorang lelaki muda yang duduk di atas pelana lekas menarik tali kekang begitu melihat sosok seorang lelaki tengkurap di tanah. Kuda itu pun meringkik sebelum menghentikan larinya.


HAP!


Dengan cekatan, lelaki itu melompat turun dari kuda tunggangannya. Melangkah melawan bias mentari pagi sepenggalan naik, didekatinya sosok asing itu. Dirabanya urat nadi di leher lelaki itu. Ia mendesah lega mengetahui lelaki itu hanya pingsan tak sadarkan diri. Ia celingukan mengamati sekeliling, seolah mencari tahu dari mana lelaki itu muncul.


Sekejap kemudian, digendongnya lelaki itu dan dinaikkannya ke atas punggung kuda. Lalu, ia pun menarik tali kekang kuda itu dan berbalik arah, menyusuri tepian padang ilalang yang terbentang luas.


Rasa hangat yang mengaliri telapak kaki dan aroma khas ramuan herbal menyadarkan Shin Seo Hyun. Begitu membuka mata, sebuah senyum ramah menyambutnya.


“Syukurlah Anda sudah sadar, Tuan,” sapa hangat seorang lelaki usia tiga puluhan, duduk di tepi ranjang di mana ia terbaring.


“Anda siapa?” tanya Shin Seo Hyun sambil duduk memegang kepalanya yang masih sedikit pusing. Lelaki itu tersenyum.


“Aku Ilham, salah satu penjaga gerbang empat, Negeri Seribu Bunga,” sahutnya ramah.


“Tuan sendiri siapa? Dan bagaimana Tuan bisa masuk ke sini?” tanyanya, terkesan menyelidik.


Ia merasa aneh, dua hari berturut-turut dua orang asing terdampar di dekat pohon besar di tepi padang ilalang itu.


“Oh … aku Shin Seo Hyun. Aku juga tidak tahu bagaimana aku bisa berada di sini. Aku sedang mencari istriku,” jawab Shin Seo Hyun, tertunduk sedih.


“Istri? Jadi, wanita cantik itu istri, Tuan?” Lelaki itu terperanjat.


“Sayang sekali …,” desisnya, menggelengkan kepala. Membuat kening Shin Seo Hyun lipat dua belas.


“Apa maksud, Tuan?” tanya Shin Seo Hyun. Hatinya mulai ketar-ketir.


“Wanita itu sudah terbang sejam yang lalu,” tukasnya.


“Apa?”


Air muka Shin Seo Hyun berubah keruh. Ia tak mampu menyembunyikan kekagetan dan kekecewaannya.


***