
Sepanjang sisa hari itu hingga tiba di Derawan, Shin Seo Hyun lebih banyak diam. Pikirannya dipenuhi tanya akan sosok lelaki yang terlihat begitu akrab dengan istrinya.
NYUT!
Hatinya berdesir perih.
“Kamu kenapa sih, Mas? Perasaan dari Tanjung Redep tadi kamu kok pendiam banget ya … Sakit?” tanya Izzah, tak mengerti penyebab perubahan suasana hati suaminya.
Shin Seo Hyun menatap lekat wajah Izzah yang tampak segar setelah mandi. Menantang kedua bola matanya, mencari setitik rahasia yang mungkin tersimpan di sana.
“Siapa lelaki itu?” tanyanya langsung ketika yang ditemukannya di mata Izzah hanyalah kepolosan dan rasa tak bersalah.
“Lelaki yang mana?” sahut Izzah, masih belum paham juga.
“Lelaki yang berbicara denganmu di depan toko tadi,” jawab Shin Seo Hyun, tak bisa menyembunyikan kecemburuan dari nada suaranya.
“Oh … itu … teman kuliah,” ujar Izzah santai sambil memasang kaus kaki.
“Sampai tertawa akrab begitu?” kejar Shin Seo Hyun lagi.
Kedua alis Izzah bertaut dan terkejut ketika melihat kilatan cemburu di mata suaminya. Namun, sesaat kemudian ia tertawa. Membuat Shin Seo Hyun melayangkan tatapan aneh.
“Ya ampun … jadi dari tadi kamu manyun begitu karena cemburu, Mas?” goda Izzah setelah menghentikan tawanya.
“Enggak. Siapa bilang aku cemburu. Aku cuma nanya,” bantah Shin Seo Hyun sok cuek karena gengsi.
“Alah! Cuma nanya kok ekspresinya seakan mau membunuh,” balas Izzah meledek. Tatapan Shin Seo Hyun makin tajam.
“Sudah kubilang aku tidak cemburu. Aku hanya tidak suka melihat kamu didekati lelaki lain. Itu saja!” sanggah Shin Seo Hyun lagi.
“Mas … Mas … kamu ini ya … dulu saja waktu Yudha datang ke indekosku, kamu bijak banget menghadapinya. Padahal, aku belum jadi istri kamu. Lah … kenapa setelah jadi istri bawaannya malah curiga,” protes Izzah, geleng-geleng kepala.
“Ya jelas bedalah. Dulu kan kamu belum jadi istriku. Sekarang setelah menikah, aku mau kamu hanya melirikku. Tidak lelaki lain. Teman atau apa pun namanya itu,” kilah Shin Seo Hyun membela diri.
Izzah mendecak. Ia seakan melihat sosok baru Shin Seo Hyun. Dalam hati ia tertawa geli menyadari kecemburuan suaminya itu.
CUP!
Diciumnya pipi Shin Seo Hyun sekilas sambil lewat dan menjatuhkan diri di atas ranjang. Lelah.
Shin Seo Hyun mengusap pipi yang dicium Izzah. Tersenyum tipis, lalu ikut berbaring di samping Izzah seraya memeluknya. Resahnya hilang seketika.
“Izzah, berjanjilah bahwa kau tidak akan pernah meninggalkanku,” bisiknya dengan mata berkaca-kaca. Ia benar-benar takut kehilangan Izzah.
Izzah menoleh. Terkesiap menatap bening yang merebak di bola mata suaminya.
“Sebegitu besarkah rasa cintamu padaku?” tanya Izzah haru. Shin Seo Hyun mengangguk dan mempererat pelukannya.
“Aku janji. Selama kau masih mencintaiku dengan tulus, aku akan tetap menemanimu,” bisik Izzah seraya mengecup kening Shin Seo Hyun.
Api cemburu yang sempat berpijar membuat gairah kelelakian Shin Seo Hyun kian liar ketika menghirup wewangian yang memancar dari tubuh Izzah. Dan ranjang itu pun makin terbakar, menyisakan cucuran keringat berserakan dan mengering di kala fajar.
***
Hari terakhir di pulau Derawan, Shin Seo Hyun dan Izzah sepakat menghabiskan waktu di Danau Labuan Cermin.
Duduk di atas kapal yang disewanya, Shin Seo Hyun mendekap Izzah mesra sembari memanjakan mata dengan rimbunnya pepohonan di tepi danau. Udara sejuk menyapa. Menghadirkan ketenangan, jauh dari hiruk pikuk rutinitas kota.
Permukaan air danau yang bening laksana kaca memantulkan kilau cahaya matahari ke udara, seperti sebuah cermin membiaskan wajah. Sungguh indah karya yang Maha Kuasa. Perpaduan asin dan tawar air danau itu seolah sehelai lapisan tipis tak kasatmata. Menjadi pemisah ikan-ikan yang berenang lincah di bawahnya.
Dan Izzah makin terpana menatap pasir putih di dasar danau yang tembus pandang, saking beningnya air di danau itu.
Di kejauhan tampak para wisatawan sibuk dengan kegiatan masing-masing. Sebagian berenang mencicipi perbedaan rasa air danau. Berkejaran dengan ikan-ikan dari spesies yang berbeda. Ada juga yang terbuai dengan aktivitas snorkelling atau menyelam agar bisa lebih leluasa menikmati pemandangan indah di dasar danau.
“Kau ingin mencoba?” tanya Shin Seo Hyun saat melihat Izzah begitu antusias menyaksikan orang-orang yang sedang asyik menyelam.
“Tidak. Melihat seperti ini sudah cukup membuatku senang,” sahutnya, mengedarkan pandangan ke sekeliling danau.
Meski ukuran danau itu tidak terlalu luas, bahkan tergolong mini, pesonanya sungguh tiada tara.
“Tak sia-sia merogoh kocek dan meluangkan waktu ke sini,” gumam Izzah, terpukau karena keunikan air danau.
“Aku senang kau menyukainya,” balas Shin Seo Hyun berbisik. Izzah menyandarkan kepala di bahu suaminya.
Puas mengitari danau Labuan Cermin, Shin Seo Hyun dan Izzah berleha-leha berendam diri di air panas asin Pemapak. Melenturkan kepenatan-kepenatan dan menenteramkan pikiran. Saling pijat dan gosok dalam napas cinta. Mengukir kenangan indah di akhir liburan mereka hingga kembali menginjakkan kaki di pulau Derawan
menjelang matahari terbenam.
Sebelum sinar mentari benar-benar menghilang, Izzah mengamati rumah panggung yang telah dihuninya selama beberapa hari itu, seolah ingin merekam dengan jelas setiap detailnya.
Rumah-rumah yang berjajar itu berdiri kokoh, menjorok ke laut dengan kaki-kaki pondasi yang terbenam di pasir putih, berbalut air sebening kaca menghempas pelan di tiup angin laut. Menimbulkan suara deburan yang lamat-lamat terdengar seperti simfoni penenang jiwa.
Izzah menarik napas panjang dan dalam. Memenuhi rongga dadanya dengan sejuknya udara pantai, lalu mengembuskan kuat-kuat seakan-akan mengucap selamat tinggal dengan rasa kecewa karena enggan berpisah dengan pesona Derawan dan sejuta kenangan yang menggetarkan sukma.
Shin Seo Hyun berjalan pelan mendekati Izzah, lalu melingkarkan kedua lengan di pinggang istrinya. Kebiasaan yang sangat disukainya. Merasakan kehangatan tubuh Izzah sekaligus menyesap aroma wanginya.
Saat mentari benar-benar tenggelam di laut dalam. Hati Shin Seo Hyun dan Izzah makin terpaut dalam diam.
“Berhenti menatapku begitu, Mas! Lama-lama tatapan tajammu bisa melubangi wajahku,” pinta Izzah, merasa risi dipandangi tanpa kedip oleh Shin Seo Hyun sembari berbaring di ranjang.
“Kau yang memaksaku,” sergah Shin Seo Hyun.
“Apa maksudmu?” tanya Izzah bingung. Shin Seo Hyun mengumbar senyum memesona.
“Tak ada pilihan bagiku selain mencintaimu dan terus belajar mencari cara untuk membahagiakanmu,” sahutnya seraya membelai anak rambut Izzah dengan ujung jari.
“Huh? Bagaimana kau tahu kalimat itu? Kau–”
Ucapan Izzah terpotong oleh kecupan ringan Shin Seo Hyun.
“Aku sangat mencintaimu, Izzah, IN Cinnamon,” ujar Shin Seo Hyun, memeluk Izzah penuh cinta.
***