
Suara air yang jatuh bergemuruh saling bersambut dengan gemercik air yang mengalir menuju muara. Kicauan burung diselingi riuh tawa muda-mudi yang tengah bercanda menjadi harmoni latar penenteram jiwa. Hari ini pengunjung terlihat ramai. Ragam aktivitas yang berbeda dengan latar belakang pemandangan alam yang menawan laksana sebuah lukisan nyata, sangat indah dan tiada banding.
Sebagian tampak asyik berenang sambil bermain air. Sebagian lagi mulai mengisi perut mereka yang keroncongan. Sementara yang lainnya lebih memilih menjadi penonton, menikmati setiap detail keindahan di depan mata. Ada juga yang sibuk mondar-mandir sekadar menyapa pengunjung lainnya. Syukur-syukur bisa kenalan. Namanya juga anak muda. Selama tidak bersifat merusak dan merugikan, nikmati hidup selagi bisa.
Izzah termasuk dalam golongan ketiga. Ia tak ingin menceburkan diri berbasah-basahan dan membaur dengan keramaian itu. Baginya, duduk manis di atas sebuah batang pohon besar lebih menarik.
Pohon itu roboh. Batangnya melintang di tepi hilir aliran kolam air terjun. Di bawahnya terdapat tebing batu yang tidak terlalu tinggi, tersusun seperti tangga. Memudahkan siapa pun yang ingin mencapai batang pohon itu. Letaknya sedikit tersembunyi karena terhalang oleh sebuah batu besar di seberangnya. Jika diperhatikan dari kolam air terjun, siapa pun yang duduk di sana, hanya bagian pinggang ke ataslah yang akan terlihat.
Ihsan memanjat tebing batu itu dan ikut duduk sekitar tiga jengkal dari sisi kiri Izzah lantaran tak ingin membuat Izzah merasa kurang nyaman jika duduk terlalu dekat.
Sejenak Izzah lupa akan buku-bukunya. Entah karena memang sedang tidak ingin membaca atau karena khawatir bukunya akan basah. Yang dilakukannya hanya mengedarkan pandangan, menikmati aneka aktivitas pengunjung di sana.
Yudha dan Johny semangat berenang dan bermain air, membaur dengan pengunjung lain. Sesekali mereka melakukan salto setelah berayun dari akar besar yang tergantung pada sebatang pohon di pinggir kolam. Bahkan, sebagian pengunjung menampilkan aksi salto dari tebing batu setinggi dua atau tiga meter.
Riris hanya mandi di bagian tepi sambil bercengkerama dengan kenalan barunya. Sementara Fadhil tetap fokus pada hobi fotografinya.
“Mereka benar-benar menikmati hidup tanpa beban,” desah Izzah, menghela napas. Ihsan menoleh.
“Memangnya hidup kamu penuh beban?” tanyanya pada Izzah.
Izzah terkesima. Tak menyangka ucapannya cukup keras hingga bisa didengar Ihsan.
“Bukan … begitu maksudku,” jawabnya sedikit gugup.
“Kenapa kamu enggak gabung sama mereka?” tanya Izzah, mengalihkan pembicaraan.
Ihsan terlihat kecewa. Selalu berakhir seperti itu setiap kali ia mencoba mencari celah untuk bisa masuk ke ranah pribadi Izzah.
“Enggak bawa baju ganti.” Ihsan beralasan. Sebenarnya, ia hanya ingin cari kesempatan untuk bisa berduaan sama Izzah.
“Zah, sudah cukup lama ya kita berteman. Enggak terasa sudah delapan tahun lebih lo,” ucap Ihsan, kembali membuka percakapan.
“Yep. Terus?” respons Izzah datar dan hanya menoleh sekilas.
“Tapi, kamu kok enggak pernah ya ceritain hal-hal yang bersifat pribadi ke aku?”
Ihsan tak mampu lagi menahan rasa penasarannya. Izzah tersenyum tipis mendengar pertanyaan Ihsan yang to the point.
Setelah diam sesaat, Izzah akhirnya menjawab, “Adakalanya tidak semua hal yang kita rasakan dan kita alami harus diceritakan kepada orang lain. Walau kepada teman atau keluarga sekalipun. Ada hal yang terkadang cukup disimpan untuk diri sendiri.”
Ucapannya terdengar bijak. Namun, Ihsan merasakan ada kegetiran tersembunyi di balik nada bicara Izzah yang agak berat.
“Iya sih, tapi ada saatnya juga kita perlu berbagi cerita agar beban yang dirasakan bisa lebih ringan,” ujarnya.
Izzah menatap kosong ke depan. Ekspresi wajahnya sulit ditebak.
“Aku memang enggak janji bisa ngasih solusi untuk setiap permasalahan kamu. Tapi … kalau kamu butuh teman curhat, aku selalu siap untuk mendengarkan semua keluh-kesah kamu,” lanjut Ihsan dengan nada serius.
Entah kenapa Izzah justru merasa lucu mendengarnya.
“Hahaha ….”
Izzah pun tertawa sambil menutup mulut dengan punggung tangan kanan. Ihsan jadi salah tingkah dan garuk-garuk kepala.
“Memangnya ucapanku salah ya?” Ihsan bertanya lugu. Tak mengerti jalan pikiran Izzah. Akan tetapi, rasanya senang bisa melihat Izzah tertawa seperti itu. Pemandangan langka.
“Enggak sih. Aku cuma kaget saja. Sejak kapan kamu beralih profesi jadi psikolog,” jawab Izzah setelah berhenti tertawa.
“Khusus buat kamu saja. Orang lain mah enggak,” jelas Ihsan.
“Enggak ah. Entar nggak kebayar,” tolak Izzah.
“Tenang saja. Gratis kok,” balas Ihsan meyakinkan.
“Ah! Yang benar?” Izzah tak percaya.
“Yep. Apa sih yang enggak buat kamu,” tegasnya lagi.
“Gombal!” bantah Izzah.
Ihsan menatap Izzah dengan tatapan yang sulit dipahami. Ada kilatan kecil memancar dari bola matanya.
“Aku bersungguh-sungguh, Izzah. Bahkan, jika kamu butuh tempat untuk bersandar atau menangis. Kamu bisa memakai bahuku,” ucap Ihsan dengan nada dan ekspresi serius.
“Waah … sepertinya korban drakor bertambah satu nih,” Izzah masih menganggap ucapan Ihsan hanya sekadar main-main. Namun, ketika melirik wajah Ihsan, ia jadi merasa tak enak hati. Ihsan menatap Izzah penuh tanya.
“Tak bisakah kamu memercayaiku, Zah?” tanya Ihsan, tetapi cuma dalam hati.
“Sebenarnya apa yang telah terjadi hingga kamu sedikit pun tidak memiliki kepercayaan terhadap orang lain?” Lagi-lagi cuma dalam hati. Ia tak punya keberanian untuk bertanya langsung.
“Maaf,” ujar Izzah merasa bersalah.
Tidak seharusnya ia menganggap ucapan Ihsan sebuah lelucon. Izzah tahu pasti, Ihsan hanya memanggil dengan nama asli saat lagi serius atau marah.
“Aku tidak bermaksud membuatmu tidak nyaman. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa kamu tidak sendiri. Masih ada orang yang peduli sama kamu.” Ihsan sungguh-sungguh mengatakan itu.
“Terima kasih,” ucap Izzah. Tiba-tiba saja suasana menjadi hening. Canggung.
***
“Yud, tangan kamu luka ya?” Johny berteriak melihat darah mengalir dari lengan kanan Yudha. Mereka sudah mendarat dari air. Yudha segera mengecek lengannya. Ada goresan cukup panjang.
Naluri dokter Izzah langsung bereaksi. Ia segera turun dari tempat duduknya. Menyambar ranselnya, lalu mendekati Yudha.
“Coba kulihat,” katanya pada Yudha.
Yudha mengulurkan tangan, memperlihatkan luka di dekat sikunya.
“Cukup dalam dan panjang. Duduklah! Biar kuobati,” perintah Izzah.
“Tahan tanganmu ya!” lanjutnya.
Yudha segera memegang pergelangan tangannya. Izzah mengeluarkan kotak P3K, mengambil alkohol, lalu membersihkan luka Yudha. Ia mengeluarkan kotoran dari dalam luka itu dengan pelan dan sangat hati-hati. Mengolesi dengan betadine dan menutupnya dengan kain kasa. Izzah bekerja cekatan tanpa menyentuh kulit Yudha sama sekali.
Yudha menatap Izzah lekat. Merasakan sentuhan lembut Izzah, jantungnya berdegup kencang. Ingin rasanya ia bisa berlama-lama menatap Izzah sedekat itu.
“Selesai,” ucap Izzah langsung berdiri. Yudha kaget.
“Makasih. Gratis, kan?” candanya.
“Memangnya berani bayar berapa?” tantang Izzah.
“Seumur hidup,” bisiknya di telinga Izzah. Izzah mendelik. Yudha menyeringai.
“Izzzaaaaah ….”
Seseorang meneriakkan nama Izzah. Izzah menoleh. Tampak seorang gadis setengah berlari menuju ke arahnya.
“Safitri?”
Izzah segera menyongsong gadis itu dan meninggalkan Yudha tanpa pamit. Yudha menatap punggung Izzah. Masih berdiri terpaku di tempatnya.
“Aku benar-benar berharap bisa menghabiskan sisa hidupku bersama kamu, Zah,” kata Yudha dalam hati.
“Tapi, kamu begitu sulit untuk dijangkau. Apa yang harus kulakukan untuk bisa membuka pintu hatimu?”
***
“Zah, Aku kangen banget sama kamu. Aku enggak nyangka bakal ketemu kamu di sini. Kamu semakin cantik pakai jilbab,” cerocos Safitri tanpa melepaskan pelukannya.
“Kamu nih ya … masih saja bawel,” balas Izzah, mencubit hidung Safitri.
Ia juga bahagia bisa bertemu lagi dengan teman akrabnya ketika SMA. Mereka mencari tempat duduk.
“Kamu kok enggak pernah menghubungi aku sih, Zah? Mentang-mentang sudah kuliah. Banyak dapat teman baru … eeeh … teman lama dilupain,” sungut Safitri. Izzah geli melihat ekspresinya.
“Lo … bukannya kamu yang selalu menghindar? Setiap kali dihubungi selalu saja nomornya tidak aktif.” Izzah membela diri. Safitri melongo, berpikir.
“Begitu ya?” Ah, ternyata dia yang salah. Safitri menepuk jidat begitu ingat sesuatu.
“Aiih … maaf, ponselku hilang dan aku ganti nomor.”
Dalam sekejap mereka pun segera bertukar nomor ponsel.
“Ya sudah deh. Enggak apa-apa, yang penting sekarang kita sudah bisa kembali berkomunikasi.” Izzah maklum. Tak terasa sudah satu jam lebih mereka saling bertukar cerita. Izzah tampak ceria. Saatnya untuk berpisah.
“Zah, aku pulang dulu ya,” pamit Safitri begitu mendengar rekan seperjalanannya memanggil, lalu memeluk Izzah.
“Siapa di antara dua cowok itu yang jadi pacar kamu? Jangan bilang dua-duanya ya …,” tanya Safitri menggoda.
Izzah menoleh, mengikuti pandangan mata Safitri. Yudha dan Ihsan sontak berpaling menghindari tatapan Izzah. Gelagapan.
“Oh … itu … mereka cuma teman kok. Kamu kan tahu kalau dari dulu aku anti pacaran,” jelas Izzah datar.
“Masa sih? Sayang banget. Sepertinya mereka suka kamu lo … dari tadi mereka terus saja ngawasin kamu.” Izzah tak merespons. Ditatapnya Yudha dan Ihsan bergantian.
“Enggak mungkinlah,” bantah Izzah dalam hati. “Safitri pasti salah.”
“Sampai ketemu lagi, Zah.”
Melihat Izzah diam saja. Safitri berlalu, melambaikan tangan.
“Jangan sia-siakan tangkapan bagus, Zah!” teriaknya, mengedipkan mata. Izzah tersenyum kecut. Bengong. Pikirannya dihantui ucapan Safitri.
***