A Thousand Flowers

A Thousand Flowers
Chapter 44. Aku Percaya Padamu



“Bagaimana mungkin aku memanggil Anda hanya dengan nama, Tuan? Bukankah usia Anda hampir enam tahun lebih tua dari usiaku?” tolak Izzah sopan.


“Kalau begitu, panggil oppa saja!” Shin Seo Hyun tak ingin menyerah.


“Rasanya aneh,” sahut Izzah merasa sungkan. Ia tahu, di Korea panggilan oppa biasa dipakai sebagai sapaan  kepada kakak laki-laki atau kekasih.


“Ya sudahlah kalau kau memang keberatan. Kalau memanggilku dengan nama atau sapaan khas Indonesia bagaimana?” tanya Shin Seo Hyun lagi, masih bersikeras dengan keinginannya.


“Memangnya Tuan punya nama Indonesia?” tanya Izzah rada kaget.


“Tentu saja. Kakekku orang Indonesia asli. Tapi … tidak ada yang tahu identitasku itu selain keluarga. Jadi, kau orang pertama yang mengetahuinya,” jawab Shin Seo Hyun bangga.


“Benarkah?” Izzah baru tahu kalau bosnya itu berdarah keturunan Indonesia. Shin Seo Hyun mengangguk.


“Bagaimana? Mau, kan?” tanya Shin Seo Hyun dengan nada terkesan menuntut.


“Boleh juga kalau Anda memaksa,” sahut Izzah jual mahal. Shin Seo Hyun geleng-geleng kepala.


“Ternyata gadis ini juga mempunyai harga diri yang tinggi,” gumamnya di hati.


“Anggap saja ini perkenalan awal kita. Aku Dirga Kusuma. Kamu boleh panggil aku, Dirga,” ujar Shin Seo Hyun memperkenalkan diri secara resmi seraya mengulurkan tangan.


Izzah melirik sekilas tangan Dirga yang terulur, tetapi tak menyambutnya. Izzah tak akan pernah mau menerima uluran tangan atau sentuhan lelaki  kecuali memang kondisi yang membolehkan sesuai hukum agama yang dianutnya.


“Baiklah, Mas Dirga. Aku rasa aku tidak perlu memperkenalkan diri lagi. Sekarang bagaimana kalau kita pulang? Hari sudah larut malam,” balas Izzah sambil mengetuk jam tangannya dengan jari telunjuk.


Shin Seo Hyun alias Dirga Kusuma menarik kembali tangannya yang terulur.


“Sesuai rumor, ternyata gadis ini memang menolak untuk bersalaman dengan lawan jenis,” batin Dirga.


Ia sama sekali tidak merasa tersinggung. Sebaliknya, ia merasa beruntung jika benar-benar bisa memiliki Izzah seutuhnya.


“Oke. Ayo kita pulang!” ajaknya.


Malam itu, Dirga dan Izzah meninggalkan Sungai Han dengan membawa sepenggal kenangan dan rahasia masing-masing.


***


“Mas Dimas!” seru Izzah kaget dan khawatir tatkala melihat Dimas duduk merapatkan kedua kakinya seraya mengepalkan kedua tangan dan meniupnya untuk melawan hawa dingin.


Mendengar pekik Izzah, Dimas segera menyongsongnya. Ia tak menghiraukan tubuhnya yang kedinginan tanpa jaket.


“Kamu ke mana saja, Zah? Tidak terjadi sesuatu yang buruk, kan?” tanya Dimas. “Sudah tak terhitung kali aku meneleponmu tanpa ada jawaban. Aku sangat khawatir.”


Dimas benar-benar cemas. Diamatinya tubuh Izzah dari ujung kepala hingga ke kaki. Izzah mengecek ponselnya.


“Aduuuh … maaf, Mas Dimas. Ponselku mati, tapi aku baik-baik saja,” jawab Izzah, merasa tak enak hati. Bergegas ia membuka  pintu.


“Masuk dulu, Mas! Akan kubuatkan teh hangat,” tawar Izzah.  Ia merasa kasihan melihat kondisi Dimas.


Di bibir tangga, Dirga menahan geram mendengar percakapan Izzah dan Dimas. Ia mempercepat langkah menghampiri mereka. Dimas menatap Dirga dengan mata berkilat.


“Tuan Shin? Mau apa Anda malam-malam datang ke sini?” tanya Dimas menginterogasi. Ia tidak senang dengan kemunculan Dirga.


“Aku hanya mengantar Izzah pulang,” sahut Dirga tenang. Ia sudah mampu mengontrol emosinya. Mendengar jawaban Dirga, Dimas hanya mendengus.


Dimas dan Dirga duduk tanpa banyak bicara. Keduanya hanya saling pandang. Lelah menantang tatapan tajam Dimas, Dirga berdiri dan melangkah menuju rak buku Izzah. Melihat-lihat kumpulan novel Izzah. Masih seperti sebelumnya, belum ada yang bertambah.


Ia sengaja menunjukkan kedekatannya dengan Izzah untuk memancing emosi Dimas. Ia ingin tahu bagaimana perasaan Dimas yang sesungguhnya kepada Izzah.


“Belum sih … akhir-akhir ini IN Cinnamon sepertinya sangat sibuk,” sahut Izzah sambil berjalan membawa nampan berisi tiga cangkir teh hangat.


Sekilas Dirga menangkap kilatan cemburu di mata Dimas. Sebagai sesama lelaki, ia tahu Dimas memandang sosok Izzah sebagai seorang wanita, bukan teman. Ia tersenyum senang melihat Dimas memakan umpannya. Dengan santai ia kembali ke tempat duduk semula.


Dinginnya angin malam menerobos masuk melalui pintu yang terbuka. Dimas memegang cangkir tehnya dengan kedua tangan. Membiarkan rasa hangat mengalir, sekadar mengurangi rasa dingin yang membuat jari-jarinya seakan membeku. Pelan-pelan ia menyeruput teh itu agar kehangatan yang dimilikinya juga dapat mengaliri tubuhnya.


Dirga mengawasi gerak-gerik Dimas dengan sudut matanya, melewati bibir cangkir teh yang disesapnya. Benaknya memikirkan cara bagaimana ia bisa mengalahkan Dimas dalam persaingannya memperebutkan hati Izzah.


Hanya terhalang oleh sebuah nampan, diam-diam Dimas juga curi-curi pandang ke arah Dirga dari balik jemarinya yang memegang cangkir. Ia yakin lelaki yang menjadi relasi bisnisnya itu juga menyimpan rasa terhadap Izzah.


Izzah yang tidak peka terhadap perasaan lelaki hanya duduk manis menikmati teh hangat di tangannya. Ia tidak menyadari perang batin yang bergolak antara Dimas dan Dirga. Yang ia tahu, mereka harus segera menghabiskan teh itu, lalu keluar dari rumahnya secepat mungkin.


Selesai menikmati teh hangat yang disuguhkan Izzah, Dimas dan Dirga pamit. Setibanya di tepi jalan, Dimas memanggil Dirga yang hendak membuka pintu mobilnya.


“Tuan Shin, bisa bicara sebentar?” pintanya berterus terang.


Dimas memang dikenal sebagai pribadi yang sangat jujur dan selalu berterus terang. Dan sifat itulah yang membuat Dirga tertarik untuk menjalin kerja sama bisnis dengan Dimas.


“Ya?” sahut Shin Seo Hyun menghentikan gerakannya. Menyongsong Dimas yang berjalan ke arahnya.


“Terus terang, aku tidak suka basa-basi. Jadi, aku akan bertanya secara langsung dan aku harap Anda akan menjawab dengan jujur,” kata Dimas datar. Shin Seo Hyun menautkan kedua alisnya.


“Apa Anda mencintai Dokter Izzah?” tanya Dimas dengan nada menginterogasi. Shin Seo Hyun tersenyum.


“Sepertinya rumor tentang Anda yang selalu to the point itu memang benar adanya ya …,” sahut Shin Seo Hyun sedikit mengulur waktu.


“Tidak usah bertele-tele! Saat ini aku tidak punya banyak waktu untuk mengobrol santai,” sergah Dimas dingin.


“Haha … aku pun demikian. Terus terang, aku ingin segera pulang setelah lelah mengarungi sungai Han bersama Dokter Izzah,” balas Shin Seo Hyun, membuat kuping Dimas memerah terbakar api cemburu.


“Kalau begitu, jawab saja pertanyaanku dan Anda bisa melaksanakan niat Anda segera,” sahut Dimas datar. Susah payah ia berusaha menahan emosinya.


“Baiklah jika itu maumu. Jujur saja, aku sangat mencintai Dokter Izzah. Bahkan, sejak pertama kali melihatnya. Kau puas sekarang?” jelas Shin Seo Hyun gamblang. Ia juga setali tiga uang dengan Dimas, selalu berterus terang.


Mendengar pengakuan Shin Seo Hyun, Dimas mengepalkan jari-jari tangannya. Tatapannya menantang mata Shin Seo Hyun.


Shin Seo Hyun pun tak mau kalah. Tatapannya tajam menikam sanubari Dimas.


“Oke. Kalau benar begitu, silakan perjuangkan cintamu! Tapi ingat, aku juga akan berjuang dan tak akan menyerah begitu saja,” ujar Dimas mengultimatum.


“Baiklah. Sebagai lelaki sejati, mari bersaing secara sehat. Dan aku pastikan persaingan ini tidak akan berpengaruh apa pun terhadap kerja sama bisnis kita,” sahut Shin Seo Hyun mantap.


“Bagaimana? Deal?” tanya Shin Seo Hyun mengonfirmasi tatkala dilihatnya Dimas masih menatapnya dalam diam. Ia mengulurkan tangan kepada Dimas. Dimas tersenyum.


“Ok. Deal,” balas Dimas. Ia mengangguk seraya menerima uluran tangan Shin Seo Hyun.


Dimas dan Seo Hyun saling membelakangi menuju mobil masing-masing. Baru beberapa langkah, Dimas berbalik.


“Oh ya … satu hal lagi, biarkan Dokter Izzah yang menentukan pilihannya!” ucap Dimas setengah berteriak. Shin Seo Hyun hanya mengacungkan jempol tanda setuju.


Sementara Izzah yang tidak mengetahui apa yang terjadi di luar sana antara Dimas dan Dirga, sudah terlelap di balik selimut hangat.


***