A Thousand Flowers

A Thousand Flowers
Chapter 14. Curiga 2



Izzah menarik kursi dari bawah meja panjang, lalu duduk dan membuka kaus kakinya. Tampak dua jari kakinya mengalami luka lecet.


Izzah membuka botol yang diterimanya dari Ki Daud. Didekatkannya mulut botol itu ke hidungnya, menghirup aroma serbuk yang ada di dalamnya.


“Hem, ini serbuk rambut pakis simpai,” bisiknya pelan. Namun, masih bisa terdengar oleh Ki Daud yang bersembunyi tidak jauh dari situ.


Ki Daud terkesima, mengagumi kepintaran gadis itu. Jarang sekali ada yang mengenali ramuannya, apalagi ramuan rambut pakis simpai.  Selain ramuan itu sulit di dapat, masyarakat juga belum begitu paham akan khasiat pakis simpai untuk kesehatan. Padahal, rambut pakis simpai sangat efektif untuk mengobati bisul atau luka. Ki Daud terus mengawasi Izzah.


Izzah membersihkan darah di jari kakinya dengan tisu, kemudian memegang luka yang sudah bersih dengan tangan kanan selama beberapa detik. Secara perlahan luka itu terlihat sudah membaik. Lalu, ditempelkannya sedikit serbuk pakis simpai pada bekasnya. Izzah tidak ingin Ki Daud curiga.


Ki Daud menyaksikan semua yang dilakukan Izzah dari tempatnya bersembunyi. Ia manggut-manggut, seolah yakin dengan kecurigaannya. Pelan-pelan Ki Daud kembali ke ruang rahasia.


***


Sebulan sudah Izzah menghilang tak tentu rimba. Jarum jam menunjukkan pukul satu malam. Ihsan masih terjaga. Ia berbaring di atas ranjang berbantalkan lengan kanannya. Matanya terpaku menatap layar ponsel di tangan kirinya. Mendesah gundah.


“Di mana kamu sebenarnya, Zah?” Ihsan bertanya pada potret Izzah yang terpampang di layar ponselnya.


Pikirannya langsung kembali pada peristiwa saat ia menolong Izzah. Perasaan cemas dan hasrat untuk segera bertemu menyatu dalam resah dan gelisah. Beberapa kali ia membalikkan badan ke kiri dan ke kanan.


Sejak seminggu yang lalu, Bunda Izzah telah memutuskan untuk menghentikan pencarian Izzah. Ihsan bisa maklum jika Bunda Izzah melakukan itu karena keterbatasan biaya dan tenaga. Ia bahkan rela menghabiskan seluruh uangnya jika diminta. Tetapi yang tidak ia mengerti, ternyata bukan itu alasan Bunda Izzah menghentikan pencarian anak gadisnya.


Malam itu Ihsan bertamu ke rumah Izzah. Ia baru saja hendak mengetuk pintu ketika tiba-tiba tanpa sengaja mendengar percakapan serius antara Bunda Izzah dan Fadhil tentang Izzah. Ihsan tahu ia harus membatalkan niatnya untuk bertamu. Tetapi karena merasa penasaran, akhirnya ia menguping pembicaraan itu.


“Nak, tolong beri tahu Bunda! Apa kamu melihat sesuatu yang aneh pada Izzah hari itu?” Terdengar suara Bunda Izzah bertanya setengah memohon.


“Apa itu ada hubungannya dengan kehilangan Izzah, Bunda?” Fadhil bertanya terkesima.


Ia merasa bundanya seakan menyembunyikan sesuatu. Bunda Izzah tidak menjawab pertanyaan Fadhil. Hanya menghempaskan napas berat.


Lama belum terdengar jawaban. Ihsan mengintip dari lubang kunci. Tampak Fadhil duduk berhadap-hadapan dengan bundanya. Ia tengah berpikir serius.


“Bunda .…” Terdengar suara Fadhil membuka percakapan setelah lama hening. Ihsan terus menguping.


“Terus terang, saat Fadhil istirahat setelah salat Duha, samar-samar Fadhil sempat mendengar Izzah seperti berbicara dengan seseorang. Tapi, saat itu Fadhil sangat lelah dan mengantuk. Fadhil tidak mendengar semuanya. Fadhil .…”


Fadhil menundukkan kepala, menghentikan ucapannya. Ia ragu. Khawatir kalau ibunya tidak akan percaya atau bahkan marah karena merasa dibohongi. Ia menautkan tangan dan menggerakkan jemarinya gelisah.


“Teruskan, Nak!” pinta Bunda Izzah.


Nada bicaranya yang lembut mengikis keraguan dan kekhawatiran Fadhil.


“Fadhil mendengar Izzah menyebut nama Syifa, Bunda.” Saat mengatakan itu, Fadhil mengamati raut wajah bundanya.


Tak ada keterkejutan membias di wajah wanita paruh baya itu. Ia tampak tenang. Namun, Fadhil dapat melihat kegelisahan di matanya.


“Terima kasih. Bunda lelah. Bunda mau istirahat dulu,” kata Bunda Izzah lesu.


Sejurus kemudian ia berdiri dan masuk ke kamar.


“Oh ya, mulai besok … beritahu warga untuk menghentikan pencarian!” perintahnya kepada Fadhil sebelum menutup pintu kamarnya. Fadhil hanya diam, tak mengerti.


“Aaah … pasti ada sesuatu yang disembunyikan Bunda Izzah, tapi apa?” tanya Ihsan kesal pada diri sendiri sambil bergerak bangkit dari pembaringan dan duduk di atas ranjang, memeluk guling. Hingga kini ia belum juga bisa memecahkan teka teki itu.


***


Setelah makan malam, Ki Daud menemani Dimas dan Abbas berbicang-bincang di ruang tamu. Tanpa terasa malam semakin larut. Ki Daud meminta Dimas dan Abbas untuk menginap, tetapi mereka menolak dengan sopan.


“Ki, sebenarnya tujuan kami ke sini bukan hanya untuk mengambil ramuan herbal saja,” kata Dimas setelah cukup lama berbincang.


“Oh ya?” Kening Ki Daud berkerut.


“Ayah ingin Ki Daud datang ke mansion kami, memeriksa langsung kondisi Kak Tiara,” jelas Dimas.


Ki Daud tidak menanggapi. Selintas berkelebat percakapannya dengan Naimah beberapa waktu yang lalu.


“Tuan, melihat Izzah mengingatkan saya pada seseorang yang sangat kita kenal sebelumnya,” ujar Naimah takut-takut sambil membereskan meja makan.


“Apakah Tuan juga merasa begitu?” lanjutnya ketika Ki Daud tampak berpikir.


“Aku mengerti maksud Bibi,” jawab Ki Daud


“Lalu … apa yang akan Tuan lakukan?” tanya Naimah


“Entahlah Bi, mungkin aku akan segera mencari tahu. Sepertinya malam ini akan purnama.”


Naimah mengerti arah pembicaraan Ki Daud. Tiba-tiba hati Naimah dihinggapi rasa gundah.


“Tapi Tuan … bukankah itu berbahaya?” Naimah benar-benar mengkhawatirkan Ki Daud


“Cuma itu satu-satunya cara untuk membuktikan kebenarannya, Bi,” tegas Ki Daud sambil melangkah meninggalkan Naimah.


Naimah tidak berani membantah. Ia tahu Ki Daud tidak pernah mengubah keputusannya.


“Bagaimana Ki?” tanya Dimas minta kepastian.


Ki Daud tersadar dari lamunannya dan menjawab, “Tolong sampaikan permohonan maaf saya kepada ayahmu, hari ini saya belum bisa ke sana.”


“Sayang sekali.” Dimas tampak kecewa, tetapi ia yakin Ki Daud pasti punya alasan tersendiri. Selama ini Ki Daud belum pernah menolak permintaan ayahnya.


“Tapi Nak Dimas tidak perlu khawatir, saya akan mengutus Izzah untuk menggantikan saya. Itu juga … kalau Nak Dimas tidak keberatan,” tawar Ki Daud


Dimas kaget. Tidak menduga Ki Daud akan memberi penawaran seperti itu. Akan  tetapi, dalam hati ia bersorak gembira.


“Saya percaya dengan keputusan Ki Daud,” jawab Dimas menyetujui ide Ki Daud


Awalnya Izzah menolak. Namun, setelah diberi penjelasan dan dibujuk oleh Ki Daud serta dukungan Naimah dan Jumali, akhirnya Izzah bersedia menggantikan Ki Daud memenuhi permintaan ayah Dimas.


Setelah melepas kepergian Izzah dengan Dimas dan Abbas, Ki Daud pamit kepada Naimah dan Jumali. Seekor kuda jantan berwarna cokelat dan tampak gagah berdiri menunggunya di samping rumah.


Ki Daud segera menunggangi kuda itu dan bergegas memacunya menembus Hutan Larangan. Ia harus tiba di Danau Kembang Setaman sebelum purnama menghilang di langit malam.


***