
Aneka macam seni visual dan pameran khusus menyambut Izzah dan rombongannya begitu memasuki museum lantai pertama. Puas mengagumi semua itu, mereka menjelajah lantai kedua.
Izzah tampak serius mempelajari sejarah Yonsei. Tiba-tiba ia merasa seolah tengah diawasi dari kejauhan.
Merasa kehadirannya dicurigai, Shin Seo Hyun bersembunyi. Merapikan topi dan membetulkan posisi masker yang dikenakannya.
“Kok aku jadi seperti penguntit ya?” pikir Shin Seo Hyun garuk-garuk kepala, merasa aneh dengan dirinya sendiri.
Izzah mengedarkan pandangan mengamati seluk beluk ruang museum. Tak ada yang mencurigakan. Hampir satu jam Izzah menghabiskan waktu mencerna prasejarah dan sejarah Korea serta mengagumi keindahan jade Cina.
Di lantai tiga, Izzah dan rekan-rekannya disuguhi aneka tembikar, donasi artefak dan tak lupa mereka menyempatkan diri mengunjungi kantor museum.
Sebelum meninggalkan museum, mereka juga melihat pameran lainnya berupa Sugyongwon, yaitu rumah berbentuk T untuk pengorbanan di depan Makam Kerajaan atau rumah Monumen, dan Rumah Memorial keluarga Underwood.
Lelah mengitari benda-benda purbakala di dalam museum, kini saatnya menikmati keindahan bagian luar Yonsei University Museum.
Jalan-jalan yang panjang dan lebar terbentang luas di seluruh bagian Yonsei University Museum.
Izzah dan Riris berjalan bergandengan tangan menyusuri jalan. Ketika orang-orang yang berlalu lalang menatap aneh ke arah mereka, Izzah melepaskan genggaman tangan Riris. Mereka berdua sama-sama tertawa. Di Indonesia, hal seperti itu biasa. Namun, di Korea ternyata bisa mengundang penilaian yang berbeda mengenai
orientasi seksual mereka.
Dari pohon ke pohon, Shin Seo Hyun mengikuti ke mana pun Izzah pergi. Lagi-lagi Izzah merasa diawasi. Mendadak ia balik badan, ingin menangkap basah si penguntit.
Lagi-lagi Izzah kecele. Gerak Shin Seo Hyun lebih cepat. Shin Seo Hyun menahan tawa diam-diam. Merasa berhasil mengecoh Izzah.
Tak ingin liburannya ternodai oleh hal-hal yang tidak jelas, Izzah mengabaikan kecurigaannya. Pada titik-titik tertentu di mana Yonsei University Museum menyajikan keindahan yang tiada tara, Izzah mengabadikan tempat itu dengan kamera ponselnya. Sesekali mereka berpose bersama, mengabadikan momen langka yang mungkin tak akan pernah terulang.
Adakalanya Fadhil menjahili Izzah dengan menabur daun-daun maple dan gingko yang berguguran di atas kepalanya, lalu berlari mengelak kejaran sang adik dan mendapatkan hadiah cubitan ketika berhasil tertangkap. Hari itu, Izzah dan teman-temannya benar-benar bersenang-senang.
Lelah lari-larian, Izzah dan Riris duduk di atas bangku di tepi jalan. Menyaksikan keseruan Fadhil dan yang lainnya berpose bak bintang ternama.
“Copeeet … tolooong .…” Teriakan seorang wanita mengejutkan Izzah dan teman-temannya.
Tampak seorang lelaki membawa lari sebuah tas milik wanita itu. Spontan Izzah berdiri melepaskan tas yang disandangnya dan meletakkannya di bangku. Tangannya dengan gesit membuka ritsleting di kiri kanan rok untuk memberi ruang gerak yang lebih bebas, lalu berlari mengejar si pencopet. Tak ingin tertinggal jauh, yang lain ikut menyusul Izzah.
Napas Fadhil memburu. Ia berhenti, tak sanggup melanjutkan pengejaran. Ihsan menguatkan langkah menyusul Izzah. Ia takut Izzah kenapa-napa. Yudha, Johny dan Riris mengikuti jejak Fadhil.
“Wuish, gila. Lari Izzah kencang banget,” kata Yudha dengan napas terengah-engah.
“Lah iyalah … kamu lupa kalau Izzah mantan atlit sprinter dan maraton?” balas Johny tersengal-sengal.
“Aku bisa mati kehabisan napas kalau begini,” keluh Riris terduduk lemas.
Fadhil melanjutkan pengejaran.
Di jalanan yang sepi, si pencopet mendadak berhenti. Tepat saat Izzah berhasil menyusulnya. Ia seperti sengaja menunggu gadis yang mengejarnya.
“Kembalikan tas itu!” pinta Izzah datar.
Lelaki itu senyum mengejek. Tiba-tiba dua lelaki lain keluar dari balik pohon dan berdiri di belakang lelaki itu.
“Ah, ternyata lelaki ini sengaja memancing ke dekat rekannnya,” batin Izzah.
“Ini? Ambil sendiri kalau bisa!” tantang lelaki itu sambil mengacungkan tas yang dipegangnya kepada Izzah.
Belum sempat Izzah menjawab, dua lelaki yang berdiri di belakangnya langsung menyerang Izzah secara bersamaan.
Refleks Izzah menangkis serangan dua lelaki itu. Ihsan yang baru tiba langsung turun tangan membantu Izzah. Meski kemampuan bela dirinya tidak sehebat Izzah, ia tidak ingin Izzah terluka.
Kemampuan bela diri komplotan pencopet itu tidak bisa dianggap remeh. Beberapa kali serangan mereka bersarang di tubuh Ihsan, membuat konsentrasi Izzah sempat terpecah.
Nyaris saja Izzah kena tendangan. Izzah tidak setengah-setengah lagi mengeluarkan kemampuan bela dirinya. Terlebih ketika ia melihat Fadhil ikut bertarung melawan si pencopet.
Shin Seo Hyun berdiri mematung melihat perkelahian Izzah. Ia seperti deja vu. Tiba-tiba kepalanya berdenyut sakit. Kembali ia menyaksikan seorang remaja lelaki terkapar di jalanan, di mana seorang gadis bertarung dengan sengit
melawan tiga lelaki muda.
Lama-lama gambaran yang awalnya terlihat samar itu tampak semakin jelas. Kini ia dapat melihat bahwa dirinyalah remaja lelaki yang terkapar itu. Dan gadis yang sedang bertarung itu tidak lain adalah Izzah. Lamat-lamat ia mendengar gadis itu berteriak memberi perintah.
“Safitri, cepat bawa sepupumu pergi dari sini! Aku akan mengadang para begundal ini!”
Safitri berlutut membantu Shin Seo Hyun berdiri. Dalam kondisi setengah sadar dan dipapah oleh sepupunya, ia meninggalkan Izzah seorang diri menghadapi preman-preman yang telah memerasnya.
“Aaargh.” Shin Seo Hyun meredam pekiknya.
“Hah!” Ia merasa aneh lantaran tidak kehilangan kesadaran seperti sebelumnya. Setelah mengingat semuanya, kepalanya terasa begitu ringan.
“Apakah ini efek pengobatan yang dilakukan gadis aneh itu?” bisik Shin Seo Hyun.
Teringat Izzah dalam bahaya, ia segera menghubungi polisi.
Polisi datang sesaat setelah Izzah, Ihsan dan Fadhil berhasil merobohkan komplotan pencopet itu.
“Terima kasih, Nona, Tuan,” ucap salah satu polisi setelah memborgol si pencopet.
“Kami harap kalian tidak keberatan memberi kesaksian di kantor polisi,” pintanya.
“Baik, Tuan,” jawab Izzah, Fadhil dan Ihsan serentak.
Izzah mengambil tas yang tergeletak di tanah, lalu menyerahkan tas itu kepada pemiliknya. Izzah tidak tahu sejak kapan wanita itu tiba di sana.
“Terima kasih, Nona.” Wanita itu membungkuk hormat.
“Tidak apa-apa, Nyonya. Lain kali harap lebih hati-hati,” jawab Izzah membalas penghormatan wanita itu.
“Mari ikut saya! Saya akan mentraktir Nona dan teman-teman Nona,” ajak wanita itu menunjukkan rasa terima kasihnya.
“Terima kasih, Nyonya. Nyonya tidak perlu melakukan itu. Kami senang bisa membantu Nyonya.” Kali ini Fadhil yang bicara.
“Aduuh … jangan begitu Tuan! Saya merasa berutang budi pada kalian semua,” balas wanita itu sungkan.
“Maaf, Nyonya. Saya akan membawa mereka untuk diperiksa. Mungkin lain kali saja.” Tiba-tiba Shin Seo Hyun menyela, membuat Izzah terperangah.
“Sejak kapan si bos di sini?” tanya Izzah di hati.
“Aah … aku kebetulan lewat sini setelah olahraga,” kata Shin Seo Hyun, menggaruk kuping kanannya yang tak gatal. Ia seolah mendengar pertanyaan Izzah.
“Apa dia lihat semuanya?” Izzah jadi gelisah. Ia memasang kembali ritsleting di kiri kanan roknya.
Yudha dan Riris datang membawa beberapa botol air mineral. Entah bagaimana mereka mendapatkannya.
Park Joon Soo memarkir mobil dan mendatangi Shin Seo Hyun dengan membawa kotak P3K karena Izzah, Fadhil dan Ihsan menolak untuk dibawa ke rumah sakit.
Beruntung tak ada yang cedera. Meski Ihsan sempat kena pukul, untungnya tidak pada titik-titik vital. Hanya sedikit luka lecet dan memar.
Kejadian itu tak menghalangi Izzah dan rombongannya untuk melanjutkan rencana mereka mengelilingi Kota Seoul. Bahkan, Shin Seo Hyun dan Park Joon Soo dengan senang hati menjadi guide mereka.
Jika waktu bisa berhenti, Izzah ingin hari itu waktu tak berputar agar bisa lebih lama menikmati pesona keindahan Kota Seoul, mahakarya Sang Maha Pencipta. Sungguh … Maha Suci Allah, Pencipta yang paling baik.
***