
Di pengujung musim gugur, langit masih biru cerah meski cahaya matahari terkesan lebih teduh. Suhu udara sudah mulai terasa di ambang musim dingin.
Izzah memakai jaket yang lebih tebal dari biasanya. Berniat menghabiskan akhir pekannya dengan mengunjungi objek wisata yang belum sempat ia datangi. Tak lupa ia memasukkan sebotol air mineral ke dalam tas ranselnya sebelum beranjak keluar.
“Hah!” Izzah terkesima.
Sejenak ia mematung menatap senyum seorang lelaki yang berdiri tepat di depannya saat pintu terbuka.
“Hai, Can!” sapa lelaki itu sambil melambaikan tangan.
Izzah mundur dan membanting pintu. Lelaki itu kaget. Izzah bersandar pada daun pintu, mengusap kedua matanya.
“Pagi-pagi sudah melihat yang aneh-aneh. Apa aku mulai berhalusinasi gara-gara begadang hampir semalaman?” tanya Izzah pada diri sendiri. Pelan-pelan ia kembali membuka pintu.
“Hai .…”
Lagi-lagi terdengar sapaan dari lelaki di depan pintu.
Melihat gelagat Izzah yang akan kembali menutup pintu rumahnya, lelaki itu mengadang celah pintu dengan sebelah kakinya.
“Eiit, tunggu! Aku bukan siluman, Izzah … gimana sih … masa lupa sama teman sendiri,” gerutu lelaki itu terlihat kecewa dengan sikap Izzah. Izzah kembali mengucek kedua matanya.
“Jadi … ini benaran kamu, San?” tanya Izzah, masih tak yakin dengan penglihatannya.
“Iyaaa … Izzaaaah ... waah, sepertinya kamu perlu kacamata nih,” sungut Ihsan.
“Oops, maaf. Habis kamu nggak ngasih kabar sebelumnya sih!” protes Izzah.
“Hehe … sengaja … biar jadi kejutan,” balas Ihsan sembari menyeringai.
“Ngomong-ngomong, sepertinya kamu sudah siap-siap mau berangkat nih. Ke mana?” tanya Ihsan ingin tahu.
“Biasalah … cari suasana baru. Mumpung masih di Korea,” sahut Izzah santai.
“Oh … ya sudah. Aku temani ya …,” tawar Ihsan. Izzah mengangguk ringan.
“Aduh!” pekik Izzah kesakitan.
Kepalanya tertarik ke belakang, seperti ada sesuatu yang menarik jilbabnya dengan kuat.
Mendengar teriakan Izzah, Ihsan yang baru berjalan beberapa langkah spontan berlari menangkap tubuh Izzah yang terhuyung ke belakang. Untuk sesaat mata mereka bertemu.
Deg! Deg!
Jantung Ihsan berdetak kencang. Khawatir Izzah akan mendengar suara detak jantungnya, pelan-pelan ia membantu Izzah berdiri dengan benar.
“Mundurlah! Sepertinya jilbabmu tersangkut,” bisik Ihsan di telinga Izzah. Ia mencoba melepaskan sangkutan itu.
Karena posisi jilbab yang tersangkut itu persis di belakang telinga kanan Izzah, Ihsan terpaksa melingkarkan lengan kanannya melewati leher Izzah. Membuat kepala Izzah seakan bersandar pada pundak kiri Ihsan. Izzah menahan napas karena gugup.
Ihsan masih berkutat dengan ujung paku yang mengait jilbab Izzah. Tidak mudah untuk melepaskannya.
“Aduh!” Izzah kembali berteriak kesakitan saat Ihsan tanpa sengaja menarik jilbabnya dengan kuat.
“Apa yang kamu lakukan!” bentak seorang lelaki.
Lelaki yang baru tiba itu menarik punggung jaket Ihsan dan menghempaskan tubuhnya hingga terjengkang ke lantai.
BUK!
Lelaki itu mencengkeram pakaian Ihsan dan secepat kilat melayangkan tinju ke mukanya. Ihsan meringis menahan sakit sambil menyeka darah di sudut bibirnya dengan jempol tangan kiri.
Izzah yang tak menyangka Ihsan akan mendapat serangan mendadak itu hanya bisa melotot dan menutup mulutnya dengan kedua tangan.
“Hentikan, Mas Dimas!” teriak Izzah begitu tersadar saat melihat Dimas akan kembali melancarkan serangannya pada Ihsan.
Mendengar teriakan Izzah, sontak Dimas menghentikan pukulannya. Tangannya masih terkepal dan mengambang di udara.
“Apa? Kamu ingin aku membiarkan saja lelaki berengsek ini berbuat tak senonoh sama kamu?” bentak Dimas sambil melirik Izzah sekilas, lalu kembali melayangkan tinjunya ke muka Ihsan.
Kali ini Ihsan tak tinggal diam. Ia menangkis pukulan Dimas dan berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Dimas yang terbakar emosi.
"Kamu yang berengsek!" hardik Ihsan mencekal pergelangan tangan Dimas.
"Apa kamu bilang?" Dimas makin naik pitam. Ia bersiap untuk kembali menyerang Ihsan.
Ihsan yang tubuhnya masih terkunci diimpit Dimas hanya bisa melakukan pertahanan.
Breeet!
Jilbabnya yang masih tersangkut robek ketika ia berlari mendekati Ihsan dan Dimas. Mencoba melerai perkelahian mereka dengan menahan tangan Dimas yang mengambang di udara.
"Kamu mengenal lelaki ini?" tanya Dimas mengerutkan alis menatap Izzah. Izzah mengangguk.
Dimas segera turun dari tubuh Ihsan dan melepaskan cengkeramannya. Izzah membantu Ihsan berdiri.
“Ayo masuk dulu, San! Biar kuobati lukamu,” ajak Izzah. Ihsan melangkah masuk mengikuti Izzah.
Dimas mengekor. Ia duduk berhadapan dengan Ihsan. Diperhatikannya darah yang masih mengucur di sudut bibir Ihsan. Tiba-tiba rasa bersalah menyelinap di hatinya.
“Sepertinya aku telah memukulnya terlalu kuat,” batin Dimas.
“Maafkan aku! Aku tidak tahu jika Anda kenalan Izzah,” ujar Dimas menyesal.
Ihsan tak menyahut, membuat Dimas makin tak enak hati. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Ada apa ini? Pagi-pagi kok sudah ramai?” tanya Dirga. Tahu-tahu ia juga muncul di rumah Izzah.
“Tuan Dimas dan Tuan Ihsan juga sudah di sini?” ujarnya heran.
Ia menatap aneh ekspresi Dimas yang diam membisu. Keningnya juga berkerut melihat bibir Ihsan berdarah.
“Kok semua diam sih?” tanyanya penasaran.
“Tanya saja pada lelaki yang Tuan panggil Tuan Dimas ini, Tuan Shin!” sahut Ihsan dingin. Matanya melirik Dimas kesal.
Melihat Izzah mendekat dengan kotak P3K di tangannya, Shin Seo Hyun menghampiri Izzah.
“Sini! Biar aku yang mengobati Tuan Ihsan,” kata Shin Seo Hyun. Tanpa menunggu persetujuan Izzah, ia mengambil alih kotak P3K dari tangan gadis itu, lalu mengobati Ihsan.
Kesempatan itu segera digunakan Izzah untuk mengganti jilbabnya. Ihsan dan Dimas masih saling tatap.
Shin Seo Hyun merasakan atmosfer perseteruan antara Dimas dan Ihsan.
“Ada apa sih sebenarnya? Kalian berkelahi?” tanya Shin Seo Hyun sambil menutup kotak P3K dan meletakkannya di lantai. Ia ikut duduk bersama Dimas dan Ihsan sehingga membentuk formasi tungku.
“Cuma salah paham,” jawab Dimas, melirik Ihsan dengan malu-malu.
Shin Seo Hyun menatap Ihsan seolah meminta konfirmasi. Ihsan hanya mengangkat kedua alisnya. Bersamaan dengan itu, Izzah keluar dari kamarnya dan ikut duduk bersama mereka.
“Mas Dimas dan Tuan Shin pagi-pagi kok juga ikutan muncul di sini?” tanya Izzah heran.
Pagi damai yang diangankannya buyar seketika dengan kehadiran tiga orang tamu tak diundang itu.
“Rencananya sih mau ngajak kamu jalan,” jawab Shin Seo Hyun terus terang, diikuti anggukan kepala Dimas.
“Aku sudah punya rencana sendiri,” sahut Izzah, membuat Shin Seo Hyun dan Dimas melirik Ihsan secara bersamaan.
Takut terjadi kesalahpahaman lagi, Izzah kembali angkat bicara.
“Ah … Ihsan juga datang mendadak seperti Mas Dimas dan Tuan Shin,” jelas Izzah.
Sontak Dimas dan Shin Seo Hyun menarik napas lega tanpa sadar. Dan itu menarik perhatian Ihsan yang terus mengawasi mereka berdua. Naluri kelelakiannya menangkap gelagat aneh pada perasaan Dimas dan Shin Seo Hyun terhadap Izzah.
“Kalau begitu kita pergi bareng saja,” usul Dimas.
"Terserah kalian. Yang jelas, ada atau tidak ada kalian, aku tetap akan menjalankan rencanaku,” sahut Izzah tegas.
Ia mulai sedikit kesal perjalanannya tertunda. Tiga lelaki itu geleng-geleng kepala mendengar ucapan Izzah.
Izzah sudah berdiri di luar pintu. Melihat tiga lelaki itu masih berdiam diri di tempat duduk mereka dengan tatapan kosong, Izzah makin gondok.
“Tuan-tuan yang terhormat, apa kalian akan tetap di sini selamanya?” sergah Izzah, bersiap-siap akan mengunci pintu.
Tiga lelaki yang terlihat seperti orang bodoh itu pun berdiri kaget dan segera keluar dari rumah Izzah. Mereka berbaris mengekor di belakang Izzah.
“Nah, Tuan-Tuan … terima kasih atas kunjungan Tuan-Tuan pagi ini. Sekarang saatnya aku pergi,” ujar Izzah pamit dengan nada sedikit sarkastik. Selesai berkata demikian, Izzah langsung balik badan dan hendak berjalan menuju halte bus.
“Eeiitt … tunggu dulu!” cegah Ihsan seraya menarik ransel Izzah.
***