
“Dari mana?” tanya Shin Seo Hyun pura-pura tidak tahu saat berpas-pasan jalan dengan Izzah di tangga.
“Cari angin,” jawab Izzah cuek, membuat sebelah alis Shin Seo Hyun terangkat.
Izzah menggeser langkahnya ke kanan. Di saat bersamaan, Shin Seo Hyun bergerak ke kiri. Izzah bergeser ke kiri, Shin Seo Hyun malah berpindah ke kanan. Beberapa kali mereka seolah saling adang, membuat Izzah mulai kesal.
“Bisakah sehari saja Anda tidak mengganggu hidup saya, Tuan Shin?” sungut Izzah dengan wajah cemberut serta mata melotot.
Melihat roman muka Izzah yang menurutnya menggemaskan, Shin Seo Hyun menahan tawa. Ia suka sekali dengan ekspresi Izzah saat marah seperti itu.
“Silakan lewat, Yang Mulia Ratu!” ujar Shin Seo Hyun membungkuk, memberi jalan pada Izzah.
Izzah mendengus jengkel, lalu melangkah naik. Ia berjalan dengan mengentakkan kaki sekeras mungkin. Menyalurkan kedongkolannya pada setiap anak tangga yang diinjakknya. Membayangkan bahwa itu adalah kepala bos besarnya.
Namun, belum sampai ia berada di puncak tangga, tiba-tiba Shin Seo Hyun menghentikannya.
“Tunggu!” teriak Shin Seo Hyun. Ia mendongak menatap Izzah sembari menggaruk pelipis kanannya dengan jari telunjuk.
“Apa lagi?” tanya Izzah. Ia memasang wajah sewot dengan bibir yang mengerucut.
Shin Seo Hyun baru saja hendak membuka mulut. Namun, diurungkannya saat teringat gadis itu selalu kelelahan setiap kali selesai menggunakan kekuatan uniknya.
“Ah, tidak. Silakan naik!” sahut Shin Seo Hyun seraya membentangkan kedua tangannya, mempersilakan Izzah untuk terus naik.
Izzah cuma geleng-geleng kepala masa bodoh, lalu berjalan menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar, Izzah berdiri termangu menatap pakaiannya yang masih teronggok di atas kasur. Tidak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu.
“Mau apa lagi bos licik itu?” rutuk Izzah. Hatinya merasa dongkol setiap kali memikirkan ultimatum yang diberikan Shin Seo Hyun.
Mendengar tak ada jawaban, Shin Seo Hyun yang berdiri di belakang pintu langsung menerobos masuk. Izzah pura-pura tidak mendengar langkah-langkah kaki yang kian mendekat.
Dalam hati ia menyesal. “Harusnya aku kunci saja pintunya.”
Namun, sisi hatinya yang lain membantah. “Ini rumahnya, sangat tidak sopan bertindak seperti itu.”
“Aissh!” sungut Izzah kesal seraya membantingkan dirinya ke atas kasur, membuat Shin Seo Hyun mendongak kaget. Sejenak Izzah lupa kalau ada orang lain di kamar itu.
“Kenapa?” tanya Shin Seo Hyun, mengagetkan Izzah. Buru-buru Izzah bangkit dan merapikan pakaian yang dikenakannya.
“Memalukan sekali!” makinya pada diri sendiri.
“Minumlah! Ini akan membuatmu lebih bertenaga,” ujar Shin Seo Hyun lembut sambil meletakkan segelas jus jambu merah campur madu di atas meja.
Izzah masih berdiri mematung. Ia salah tingkah dan merasa malu. Harus diakuinya, meski sering membuatnya kesal, Shin Seo Hyun selalu memperlakukan dirinya dengan baik.
“Kau tak menyukainya?” tanya Shin Seo Hyun tatkala melihat Izzah masih bergeming.
“Oh! Bukan … begitu. Terima kasih!” sahut Izzah terbata-bata. Shin Seo Hyun tersenyum manis, menghadirkan desir halus di hati Izzah.
“Kau masih punya waktu tiga puluh menit,” ujar Shin Seo Hyun, melirik arloji di tangannya.
Mendengar itu, wajah Izzah serta merta mengeras. Shin Seo Hyun melihat perubahan raut muka Izzah dengan sudut matanya, lalu melenggang santai meninggalkan gadis itu menahan geram.
Kesal, Izzah mengenyakkan pantatnya dengan keras di atas sofa. Dengan gerakan kasar ia menyambar gelas jus di atas meja. Ia menenggaknya sampai habis seolah-olah sedang menelan Shin Seo Hyun bulat-bulat.
Lalu, tubuhnya melorot tertelungkup di sepanjang sofa dan membiarkan tangan kanannya jatuh menjuntai ke lantai. Dalam waktu kurang dari tiga puluh menit, ia harus sudah membuat keputusan.
“Bagaimana ini?” Izzah duduk, lalu melorot lagi. Duduk lagi, dan melorot lagi. Berulang kali begitu hingga tiga puluh menit pun berlalu.
TOK! TOK! TOK!
Kembali terdengar suara pintu diketuk.
“Benar-benar tepat waktu si bos licik ini,” batin Izzah jengkel. Rasanya ingin ia menghilang saat itu juga.
Dengan santainya Shin Seo Hyun duduk di sofa. Matanya menatap Izzah tajam.
“Bagaimana? Satu atau dua?” tanya Shin Seo Hyun tanpa basa-basi, membuat Izzah semakin gugup.
“Baiklah. Aku mengalah. Aku pilih satu,” jawab Izzah pelan sambil menundukkan kepala dan menautkan jari-jari tangannya, seolah saling memberi kekuatan atas apa yang diucapkan bibirnya. Shin Seo Hyun tersenyum penuh kemenangan.
“Apa? Aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas,” kata Shin Seo Hyun sembari mendekatkan telinganya, meminta Izzah untuk mengulangi ucapannya.
“Aku pilih satu,” ulang Izzah dengan suara sedikit lebih keras.
“Apa kau bilang?” tanya Shin Seo Hyun masih pura-pura tidak dengar, membuat darah Izzah menggelegak.
“Aku pilih satu. Puas?” teriak Izzah di telinga Shin Seo Hyun seraya berdiri menatap lelaki di depannya itu dengan tajam.
Shin Seo Hyun menggosok telinganya dengan tangan, lalu berdiri meninggalkan Izzah dengan senyum dikulum. Baru beberapa langkah, ia berbalik.
“Kau punya waktu satu jam untuk menyusun pakaianmu ke lemari yang ada di sana dan bersiap-siap untuk keluar bersamaku. Aku akan mengajakmu ke tempat penting,” ujar Shin Seo Hyun tegas. Ia menunjuk sebuah lemari besar, lalu melangkah pergi.
Sepeninggal Shin Seo Hyun, Izzah terduduk lemas.
“Bertahanlah! Ini hanya untuk beberapa bulan,” ujarnya, menyemangati diri sendiri.
Izzah tak mengerti mengapa Shin Seo Hyun selalu bisa mendominasinya.
Teringat batas waktu yang diberikan Shin Seo Hyun, bergegas Izzah memasukkan pakaiannya ke dalam koper. Dengan malas diseretnya koper itu menuju lemari yang ditunjuk Shin Seo Hyun.
“Hah!”
Izzah ternganga melihat lemari itu telah dipenuhi dengan begitu banyak pakaian wanita yang terlihat mewah dan hanya menyisakan sedikit ruang kosong. Ketika terpana dengan isi lemari itu, tiba-tiba matanya melihat secarik kertas tertempel di sisi dalam lemari.
Ragu-ragu diulurkannya tangannya meraih kertas itu dan membacanya.
Ta-da!
Pakaian ini semuanya milikmu. Hari ini pakailah yang tergantung paling kiri. Aku akan menunggumu di bawah.
~Shin Seo Hyun~
Izzah menghela napas. Tanpa sadar ia tersenyum. "Huh, ternyata dia bisa romantis juga,” puji Izzah. Ditempelkannya kertas itu di tempat semula.
Jari-jari Izzah bergerak menyusuri barisan pakaian yang tergantung rapi. Dan ketika tangannya sampai pada gantungan terakhir, pelan-pelan ditariknya baju itu keluar. Sebuah terusan ciamik berwarna biru gelap dengan kardigan warna kontras yang memberi kesan cerah. Lagi-lagi tanpa sadar Izzah tersenyum.
“Bagus juga selera bos licik itu,” gumamnya.
Tanpa membuang waktu, Izzah segera memindahkan pakaiannya dari koper ke lemari dan bergegas ganti baju serta dandan ala kadarnya. Saat melirik jam tangannya, masih tersisa waktu sepuluh menit. Selesai memakai dress shoes, Izzah langsung turun.
***