A Thousand Flowers

A Thousand Flowers
Chapter 87. Bebas



Kekuatan otak manusia dalam label kecerdasan sungguh tanpa batas. Bahkan, Tuhan pun menantang manusia untuk melintasi seluruh penjuru langit dan bumi dengan kekuatan yang dimilikinya. Hanya saja, akankah kekuatan itu digunakannya untuk melindungi seluruh jagat raya atau malah menghancurkannya, semua tergantung manusia itu sendiri. Hak manusia untuk memilih, meniti jalan kebaikan atau keburukan yang terpatri di setiap hati.


Empat pemuda yang berdiri di belakang Ki Daud dibuat melongo dengan panel-panel yang terbentang di hadapan mereka. Begitu Ki Daud memasukkan kunci-kunci itu sesuai tempatnya dan menekan tombol power, mesin itu pun menyala seketika. Menampilkan pergerakan angka yang terus menanjak. Semua menanti harap-harap cemas.


TEEET!


Proses gagal .…


Layar monitor itu pun padam tepat pada angka lima puluh persen.


Semua saling pandang. Ki Daud terkocoh-kocoh berlari, membuka laci meja di sudut ruang itu dan mengeluarkan buku catatan tua. Membacanya berulang kali dengan teliti, mengangguk-angguk. Namun, sesaat kemudian keningnya berkerut.


“Ada yang salah prosesnya, Yah?” tanya Izzah, mendekati Ki Daud.


“Semua sudah sesuai dengan catatan yang ada di buku ini,” sahut Ki Daud, tak mengerti.


“Atau mungkin ada catatan yang lain?” tanya Izzah lagi.


Ki Daud pun mencari-cari di laci mejanya. Akan tetapi, tak ada catatan apa pun yang tersisa di sana.


“Bagaimana dengan ini?” tanya Shin Seo Hyun tiba-tiba menyela, menyodorkan sehelai kertas usang yang baru saja dikeluarkannya dari dompet.


Ki Daud membuka lipatan kertas itu. Gambar empat batang pohon yang tersusun seperti puzzle langsung tertangkap oleh matanya. Ki Daud memicingkan mata, mengamati dengan teliti lukisan yang terlihat kumal itu.


Titik-titik noda cokelat bertebaran di mana-mana. Membuat kejelasan gambar sedikit tersamarkan.


Dengan helaan napas panjang, Ki Daud meraih sebuah kaca pembesar agar bisa melihat lebih jelas.


“Boleh aku lihat, Ayah?” tanya Izzah penasaran saat menyaksikan lelaki itu terdiam dengan tatapan sejuta tanya.


Ki Daud pun menyerahkan kaca pembesar itu kepada Izzah. Ekspresi Izzah yang sama dengan ayahnya mengundang rasa ingin tahu Shin Seo Hyun. Dirampasnya kaca pembesar di tangan Izzah. Dalam sekejap, ia pun terpaku meneliti setiap mili gambar di atas kertas kucel itu.


“Bagaimana? Apakah hasil pengamatan kalian sama dengan apa yang aku pikirkan?” tanya Ki Daud, melirik Izzah dan Shin Seo Hyun bergantian.


“Kurasa begitu, Ayah,” sahut Izzah dan diamini suaminya dengan anggukan kepala.


“Oke. Mari kita coba lagi!” ujar Ki Daud.


Sejurus kemudian, dibukanya lemari kaca di sisi meja itu, lalu dikeluarkannya beberapa jarum kecil.


“Aku butuh setetes darah kalian,” ujarnya, menyerahkan jarum yang baru diambilnya kepada Dimas, Abbas dan Shin Seo Hyun.


Ki Daud memberi contoh dengan meneteskan darahnya sendiri pada lubang kecil di atas panel kunci Bunga Rafflesia. Ketiga lelaki itu pun melakukan hal yang sama di atas panel kunci masing-masing.


Tombol power kembali ditekan. Layar monitor pun kembali menyala. Desahan napas lega bergema saat angka yang ada di layar monitor itu terus bergerak naik melewati angka lima puluh persen. Senyum tipis mulai terukir di bibir mereka. Namun, dalam sekejap senyum itu kembali sirna.


TEEET!


Proses gagal .…


“Yaaah .…”


Kompak mereka mendesah kecewa ketika kerja mesin itu kembali terhenti di angka sembilan puluh persen.


Ki Daud memeriksa seluruh tombol yang ada dengan sangat hati-hati dan teliti. Tiba-tiba matanya menyipit tatkala menemukan lubang kecil di atas tombol start.


“Butuh yang lain lagi?” tanya Dimas, mulai terlihat sedikit putus asa.


“Rahmi!” pekiknya sesaat kemudian, membuat yang lain terlonjak kaget.


“Bunda? Apa hubungannya dengan Bunda?” tanya Izzah, merasa janggal.


“Aku baru ingat, kembaranku telah memodifikasi program mesin ini sebelum menyerahkan kunci itu kepada bundamu. Aku yakin dia juga telah menggunakan darah bundamu untuk bisa menjalankan mesin ini,” jelas Ki Daud.


“Sini! Teteskan darahmu!” lanjut Ki Daud, meminta Izzah mengulurkan tangan.


Begitu tetes darah Izzah jatuh ke lubang kecil di atas tombol start, mesin itu otomatis hidup kembali.


Mereka berdiri dengan jantung berdetak kencang, menunggu pergerakan angka yang terus berjalan.


TING!


Proses berhasil .…


Sebuah gambar pulau muncul berputar-putar di layar monitor, membuat yang berada di ruang itu bisa bernapas dengan lega.


“Waaah … luar biasa!” desis Dimas dan Abbas, terpesona.


Izzah dan Shin Seo Hyun tak mampu menyembunyikan rasa takjubnya.


“Aku tak menyangka sejak puluhan tahun yang lalu sudah ada mesin pengaman yang menerapkan sensor DNA,” ujar Shin Seo Hyun, berdecak kagum.


Mata mereka tak berkedip menatap gambar di layar monitor. Ketika perputaran pulau itu berhenti, tampak seberkas cahaya kuning keemasan melingkupinya seperti tempurung.


Mereka terus menanti. Tiba-tiba gambar sebatang pohon muncul diikuti tiga pohon lainnya di keempat sisi pulau. Perlahan lingkaran keemasan yang menutupi pulau terbelah menjadi empat dan terbuka layaknya empat kelopak bunga yang sedang mekar. Dan di saat bersamaan, monitor kecil di sisi panel itu pun menyala. Menampilkan program acara dari dunia luar.


“Alhamdulillah … kita berhasil terhubung ke dunia luar,” gumam Ki Daud.


Tak lama setelah keempat kelopak bunga itu menghilang seolah bersembunyi di bawah pulau itu, lima pasang mata sontak menoleh ke layar monitor kecil yang terhubung ke dunia luar. Terdengar sebuah berita.


“Sebuah pulau yang dikabarkan telah hilang selama puluhan tahun mendadak muncul kembali sesaat yang lalu.”


Serentak mereka sujud syukur dan saling berpelukan. Air mata haru menetes tanpa bisa dicegah. Izzah menangis sesenggukan di pelukan ayahnya. Begitu emosi mereka mulai reda, Ki Daud mendekati Shin Seo Hyun.


“Terima kasih, Nak. Kehadiranmu telah menyelamatkan kami semua,” bisik Ki Daud, memeluk erat menantunya.


Meski tak sepenuhnya paham dengan apa yang terjadi, Shin Seo Hyun merasa senang perjuangannya mengejar Izzah bermakna lebih.


Dimas dan Abbas pun bergantian menyalami dan memeluk hangat Shin Seo Hyun, seakan telah menemukan saudara mereka yang lama hilang. Izzah mendekat. Diam-diam Shin Seo Hyun menggenggam erat tangan istrinya.


“Bagaimana, Ki?” tanya Jumali, tergopoh-gopoh menyongsong Ki Daud dan yang lainnya begitu sampai di depan pintu belakang.


Ki Daud mengangguk dengan senyum lebar. Sontak Jumali langsung menghambur memeluk Ki Daud, melompat girang seperti seorang bocah diberi kejutan hingga membuat tubuh Ki Daud terguncang hebat.


“Kau ingin meremukkan tulang tuaku, Jumali?” tanya Ki Daud sesak napas karena eratnya dekapan Jumali.


“Oh! Maaf, Ki. Aku terlalu senang,” sahut Jumali, merasa kikuk menjadi pusat perhatian rombongan Izzah.


Kecemasan yang sempat melanda masih menyisakan lelah di persendian Ki Daud beserta rombongannya. Hingga tanpa perlu menunggu perintah, serentak mereka menghempaskan pantat dan bersandar lunglai di sofa ruang tengah Ki Daud.


***