A Thousand Flowers

A Thousand Flowers
Chapter 22. Kembali



Sinar mentari pagi menembus ventilasi ruang pemulihan Ki Daud. Izzah masih tertidur sambil tetap menggenggam tangan ayahnya.


Ki Daud membuka mata perlahan, menatap kosong langit-langit kamar di mana ia berada.


“Pasti Jumali yang telah membawaku kemari,” pikir Ki Daud.


“Di mana dia?”


Ki Daud menoleh ketika merasakan seseorang menggengam tangan kanannya. Matanya berakaca-kaca, melihat bukan Jumali yang berada di sampingnya, melainkan Izzah. Anak yang selama ini tidak pernah diketahuinya.


Ki Daud membelai kepala Izzah dengan lembut, membuat gadis itu terbangun dari tidurnya.


Izzah mengangkat kepalanya dari tempat tidur. Begitu menyadari Ki Daud sudah sadar, ia memekik gembira.


“Ayah sudah bangun?”


Ki Daud tersenyum mengangguk dan  berusaha untuk duduk. Izzah membantunya.


Ki Daud dan Izzah saling berpelukan. Keduanya menitikkan air mata bahagia.


"Alhamdulillah … terima kasih Ayah sudah kembali,” bisik Izzah pelan.


Ki Daud membelai punggung Izzah. Hatinya terasa begitu hangat. Ia tidak menyangka memiliki seorang putri. Bertemu Izzah merupakan hadiah terindah bagi Ki Daud.


“Maafkan Ayah, Nak. Ayah tidak mendampingimu saat kau bertumbuh.” Ki Daud merasa bersalah dan sangat menyesal.


“Tidak Ayah. Ayah tidak bersalah. Aku bahagia sekarang bisa bertemu dengan Ayah. Ayah adalah hadiah terindah di ulang tahunku yang kedua puluh satu.”


Izzah tersenyum, melepaskan pelukan ayahnya. Ki Daud kaget.


“Benarkah?”


Izzah mengangguk.


“Kalau begitu, mari kita rayakan!” Ki Daud makin bersemangat. Ia beranjak turun dari pembaringan.


“Sebentar, Ayah!” Izzah memapah ayahnya untuk duduk kembali saat dilihatnya Ki Daud masih berjalan oleng.


Ki Daud patuh. Izzah memijat kaki ayahnya pada titik-titik tertentu. Hawa sejuk dan hangat mengaliri kaki Ki Daud. Ki Daud tersenyum penuh kasih menatap putrinya. Ia tahu Izzah tengah mengerahkan kemampuan khususnya. Ki Daud merasa benar-benar beruntung memiliki dua wanita yang luar biasa.


Terdengar suara pintu terbuka. Naimah dan Jumali melangkah masuk. Naimah membawa semangkuk bubur kacang merah dan segelas susu.


“Silakan makan dulu, Tuan!” Naimah meletakkan bubur dan susu yang dibawanya di atas meja kecil di samping ranjang, lalu menarik meja kecil itu ke hadapan Ki Daud.


Jumali memindahkan beberapa pot bunga dari kamar itu. Izzah baru sadar kalau ruang pemulihan Ki Daud dipenuhi beberapa pot tanaman antiradiasi alami.


“Bagaimana Bibi dan Pak Jumali tahu kalau Ayah sudah sadar?” tanya Izzah penasaran. Ia bahkan belum keluar dari ruangan itu.


“Hahaha .…” Ki Daud dan Jumali tertawa. Naimah cuma senyum.


“Nanti saja membahas itu, Zah. Sekarang biarkan Ayahmu sarapan dulu,” jawab Naimah.


Izzah segera menyuapi ayahnya. Naimah dan Jumali ikut bahagia melihat kedekatan ayah dan anak itu.


Setelah sarapan, Jumali dan Naimah membawa Ki Daud ke taman kecil di belakang rumah, agar Ki Daud bisa menghirup udara segar setelah beberapa hari terkurung di ruang pemulihan. Kemudian, mereka meninggalkan Ki Daud dan Izzah. Memberi kesempatan dan keleluasaan kepada Ki Daud dan Izzah untuk saling melepas rindu


dan bertukar cerita.


Banyak kisah yang membuat Izzah terharu. Namun, tidak sedikit pula yang membuatnya terperangah tak percaya. Lika-liku kehidupan memang merupakan sebuah misteri yang entah kapan bisa terpecahkan.


Yang pasti, sekarang Izzah memahami bahwa terkadang kita harus rela melepaskan apa yang kita miliki dan cintai. Bukan karena tidak lagi menginginkannya, melainkan karena kita percaya bahwa sesuatu yang sudah ditakdirkan menjadi milik kita tetap akan kembali, meskipun telah pergi. Waktu akan menjawab semuanya, meski dengan cara yang tak terduga dan tak pernah terpikirkan sebelumnya.


Maka nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan?


***


Sisa purnama tampak pucat di langit pagi. Ki Daud, Izzah, Naimah dan Jumali berdiri membisu di ruang pemulihan Ki Daud. Naimah dan Jumali menunduk sedih dan lesu. Ki Daud memeluk Izzah erat.


Pertemuan adalah awal dari sebuah perpisahan. Kini saatnya mereka melepas kepergian Izzah untuk meraih mimpi di dunianya sendiri.


Ki Daud melepaskan pelukannya, membawa Izzah berjalan menuju lukisan yang terpajang di dinding ruangan itu.


Empat lukisan alam berjajar rapi. Ki Daud berhenti tepat pada lukisan ketiga. Tampak sebatang pohon berbentuk unik berdiri di tepi aliran sungai. Izzah langsung mengenali pohon itu. Ia menghela napas, menatap ayahnya. Ki Daud mengangguk.


Izzah berbalik, menghadap Naimah dan Jumali yang berdiri di belakangnya.


“Terima kasih, Bi … Pak … selama ini kalian telah memperlakukan Izzah seperti keluarga sendiri. Izzah akan selalu mengingat Bi Naimah dan Pak Jumali.” Izzah pamit.


Naimah memeluk Izzah tanpa kata. Jumali menatap Izzah dengan mata memerah menahan tangis.


“Semoga kita bisa bertemu lagi, Zah,” kata Jumali, tersenyum getir.


Ki Daud merangkul pundak Izzah. Izzah memutar tubuhnya kembali menghadap lukisan di dinding. Tangannya kini memegang seuntai kalung pemberian bundanya.


“Bunda … Izzah akan segera kembali,” bisik Izzah.


Dengan bismillah, Izzah menempelkan liontin kalung itu pada lukisan pohon di tepi sungai. Serta merta cahaya terang muncul seketika. Sekejap kemudian, Izzah menghilang bersama lenyapnya cahaya di dalam lukisan itu.


Ki Daud, Naimah, dan Jumali menghapus air mata mereka. Kebahagiaan yang pernah mereka rasakan bersama Izzah kini berganti kesedihan. Mereka pun tidak tahu apakah mereka akan kembali bertemu dengan Izzah atau tidak. Ki Daud merasa sebagian jiwanya kosong, hilang entah kemana.


***


“Tolooong .…” Seorang anak lelaki usia sebelas tahun berteriak sambil berlari menuju orang-orang yang beristirahat di bendungan.


Orang-orang itu sontak menghentikan aktivitas mereka. Sebagian berlari menyongsong anak lelaki itu.


“Ada apa, Dik?” tanya seorang pemuda berusia awal dua puluhan.


“Itu … ada orang mati di atas sana,” jawab anak lelaki itu dengan wajah ketakutan sambil menunjuk sebatang pohon berbentuk aneh.


Si pemuda dan orang-orang yang bergerombol itu pun segera berlari ke arah yang ditunjuk anak itu. Benar saja! Seorang gadis tergeletak tak bergerak, tidak jauh dari pohon itu.


Pemuda itu meraba pergelangan tangan gadis yang tergeletak itu. Merasakan detak nadinya.


“Alhamdulillah masih hidup, cuma pingsan saja.”


Orang-orang yang menyaksikan itu menarik napas lega. Mereka segera memberikan pertolongan. Beberapa orang membantu menaikkan gadis itu ke punggung si pemuda yang sudah berjongkok. Lalu, pemuda itu pun membawa si gadis ke desa terdekat diiringi rombongannya.


***


Ahmad ya habibi, habibi


Habibi salam, habibi


Salam'alaika … habibi …


Suara ponsel berdering memperdengarkan lantunan merdu salawat dari Omar Borkan Al Gala.


Rahmi bergegas keluar dapur, menyambar ponsel di atas meja makan. Ia mengerutkan dahi. Nama seorang kepala desa terpampang di layar ponselnya.


“Ya? Apa?”


“Baiklah. Saya segera ke sana.” Rahmi kalang kabut setelah mendengar pembicaraan di seberang telepon.


Buru-buru ia membuka celemek yang dikenakannya, mematikan kompor, lalu bergegas keluar.


Ceklek! Ceklek!


Rahmi mengunci pintu depan.


“Assalamu’alaikum .…” Terdengar suara salam. Rahmi menoleh, senyum.


“Nak Ihsan.” Rahmi menyapa teman anaknya. Ihsan menyalami Rahmi.


“Bunda mau pergi ya? Sepertinya sedang terburu-buru,” tanya Ihsan melihat Rahmi tergesa-gesa memasukkan anak kunci ke dalam tas kecil yang disandangnya.


“Iya, Nak”


“Ke mana?


“Rumah sakit.”


“Bunda sakit?” Ihsan terkejut dan cemas.


Rahmi tersenyum gelisah. “Tidak. Bukan Bunda, tapi Izzah.”


Ihsan terperanjat. “Izzah sudah ditemukan, Bunda?”


Rahmi mengangguk.


“Alhamdulillah .…” Ihsan bersyukur.


“Kalau begitu, mari saya antar, Bunda!” Ihsan bergegas keluar, membukakan pintu mobil untuk Rahmi. Rahmi segera masuk ke mobil Ihsan.


Ihsan memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Deg! Deg! Deg!


Jantungnya berdebar-debar karena sangat khawatir.


“Ya Allah, semoga Izzah tidak kenapa-napa," doa Ihsan dalam hati.


Di sampingnya, Rahmi berusaha menenangkan diri.


Sesampainya di rumah sakit, Ihsan langsung memarkir mobilnya di depan Instalasi Gawat Darurat.


Begitu turun dari mobil Ihsan, Rahmi berlari memasuki ruang IGD. Ihsan mengunci mobilnya dan bergegas menyusul Rahmi.


***