A Thousand Flowers

A Thousand Flowers
Chapter 30. Mencari Bukti 2



Izzah menatap anak itu dengan prihatin. Teringat diagnosa tim dokter tadi siang.


Hasil MRI anak lelaki itu memperlihatkan adanya pembekuan darah otak karena trauma benturan pada kepala. Namun, sangat disayangkan, operasi belum bisa segera dilaksanakan.


“Kasihan sekali kamu, Dik. Karena kelalaian orang tuamu yang tidak memasang kursi booster, kamu harus mengalami hal seperti ini,” gumam Izzah pelan.


Dengan mata terpejam, diusapnya kepala anak itu. Menyalurkan energi penyembuh dari telapak tangannya. Tak jauh dari situ, tanpa diketahui Izzah, Shin Seo Hyun mencuri rekam aksi gadis itu.


Izzah membuka mata, bergegas keluar sebelum wali anak itu kembali. Shin Seo Hyun bersembunyi. Menanti-nanti apa yang akan terjadi selanjutnya.


Karena rasa ingin tahu yang begitu besar, Shin Seo Hyun memutuskan untuk lembur sembari mengawasi sepak terjang Izzah.


Tiga puluh menit kemudian, seorang wanita berlari tergopoh-gopoh ke ruang IGD.


“Dokter … Dokter … anak saya sudah bangun! Anak saya sudah bangun!” teriak wanita itu dengan wajah berbinar dan penuh harap agar dokter segera mendatangi kamar anaknya.


Tim dokter langsung berlari ke kamar anak itu. Izzah mengekor.


***


“Ini kasus kedua yang tidak masuk akal, Tuan Shin.”


Ketua tim dokter yang menangani anak itu langsung melaporkan hasil temuannya kepada Shin Seo Hyun begitu mengetahui sang direktur masih berada di kantornya.


“Hem .…”


Shin Seo Hyun hanya berdeham pelan membaca laporan rekam medik di tangannya.


Setelah selesai, diserahkannya kembali laporan itu kepada ketua tim dokter.


“Jadi, bagaimana menurut anda, Tuan Shin?”


“Lakukan MRI ulang untuk memastikannya!”


“Baik, Tuan Shin.”


Ketua tim dokter itu segera pamit.


Mumet dengan teka-teki yang belum terpecahkan, Shin Seo Hyun merebahkan tubuhnya di atas sofa.


Ia sangat yakin bahwa dokter magang itulah penyebab terjadinya keajaiban pada neneknya dan juga anak lelaki usia enam tahun itu, tetapi bagaimana ia bisa membuktikannya?


Shin Seo Hyun mendesah. Otaknya berpikir keras mencari solusi.


“Siapa sebenarnya gadis itu? Kekuatan apa yang dia punya hingga bisa mengobati orang lain dengan begitu cepat? Bahkan, mampu mengalahkan teknologi kedokteran modern?” Shin Seo Hyun duduk.


“Tapi … kenapa gadis itu tidak melakukannya kepada semua pasien?”


Shin Seo Hyun tetap tak menemukan jawaban dari setiap pertanyaannya.


Gusar. Shin Seo Hyun memutuskan untuk keluar mencari udara segar.


Suasana IGD tampak sepi. Berbanding terbalik dengan suasana pagi tadi. Shin Seo Hyun tak melihat keberadaan Izzah di sana.


“Di mana gadis aneh itu?” Gumam Seo Hyun mengedarkan pandangan.


Rasa ingin tahunya kembali bangkit.


“Jangan-jangan gadis itu berbuat aneh lagi,” desisnya.


Berpikir akan adanya kemungkinan itu, Shin Seo Hyun pun mencari Izzah. Beberapa kamar pasien yang menjadi target Shin Seo Hyun tak menunjukkan tanda-tanda keberadaan Izzah.


“Di mana dia?” Shin Seo Hyun makin penasaran.


Ketika melewati ruang istirahat dokter dan perawat, langkah Shin Seo Hyun terhenti. Matanya menangkap sesosok gadis berhijab tengah membaca buku dengan malas di sebuah meja. Hanya dilihat dari busananya, Shin Seo Hyun yakin gadis itu pasti Izzah.


Melangkah tanpa suara, Shin Seo Hyun mendekati Izzah. Melihat Izzah jatuh tertidur, Shin Seo Hyun melirik arloji di tangannya. Pukul 12.30. Shin Seo Hyun kaget menyadari waktu sudah lewat tengah malam.


“Ia pasti sangat kelelahan,” kata hati Shin Seo Hyun.


Dibukanya jas yang dipakainya untuk menyelimuti Izzah, lalu kembali ke kantornya.


***


Tiga hari kemudian .…


Di mejanya, Shin Seo Hyun membaca laporan yang diserahkan Park Joon Soo. Hasil penyelidikannya tentang Izzah. Park Joon Soo berdiri mengawasi Shin Seo Hyun.


Shin Seo Hyun manggut-manggut membaca profil Izzah.


“Hah!”


Izzatun Nisa gadis yang cerdas. Siswa terbaik di setiap jenjang pendidikan dan selalu mendapat beasiswa. Sering kali memenangkan berbagai olimpiade sains, seni, dan sastra. Bahkan, ia juga pemegang sabuk merah kuning pencak silat, sabuk hitam taekwondo serta Dan 10 judo.


“Benar-benar gadis multitalenta,” pujinya.


“Joon Soo .…”


“Ya?”


“Kamu yakin data ini valid?”


“Aku mengerahkan semua intel terbaik kita untuk mendapatkan data ini,” jawab Park Joon Soo.


“Ckckck ... aku tak menyangka gadis yang tampak biasa saja ternyata memiliki segudang prestasi yang luar biasa. Pantas saja dia lulus seleksi menjadi dokter magang di sini dengan nilai tertinggi.”


“Lalu, bagaimana dengan keluarga dan pergaulannya?”


Shin Seo Hyun tidak menemukan data tentang itu dalam laporan Park Joon Soo.


“Sejak kecil dia hanya tinggal bersama ibunya dan seorang kakak laki-laki.”


Park Joon Soo meletakkan selembar foto di atas meja.


“Ah … ternyata laki-laki itu kakaknya, bukan pacarnya.” Hati Shin Seo Hyun bersorak gembira hingga tanpa sadar ia tersenyum.


“Kamu mengenalnya?” tanya Joon Soo,  melihat Seo Hyun tersenyum.


“Ah, tidak!”


Joon Soo merasa Seo Hyun menyembunyikan sesuatu. Ia lalu menyerahkan tiga lembar foto lainnya.


Muka Shin Seo Hyun merah padam melihat tiga foto lelaki di tangannya. Harus ia akui tiga lelaki itu tampan. Dan itu membuat ia marah tanpa sebab yang jelas. Park Joon Soo mengernyitkan kening melihat perubahan wajah Shin Seo Hyun.


“Izzah ternyata cewek tomboy. Ketiga lelaki itu adalah teman dekatnya .…” Joon Soo menahan informasinya.


Entah mengapa ia merasa terpancing untuk membuktikan sesuatu. Wajah Seo Hyun tampak kaku.


“Menurut informan terpercaya, dua dari tiga lelaki itu sedang bersaing memperebutkan hati Izzah.”


Park Joon Soo mengatakan itu sengaja dengan nada memprovokasi.


Emosi mendengar kalimat terakhir Joon Soo, tangan Seo Hyun terkepal. Joon Soo menahan senyum.


“Informasi terakhir, aku yakin kamu akan makin terperangah,” kata Joon Soo mengulur waktu.


“Jangan bertele-tele. Cepat katakan!” Nada bicara Seo Hyun mulai meninggi.


Joon Soo tertawa. “Kamu sekarang menjadi tidak sabar gara-gara gadis magang itu, Seo Hyun.”


Seo Hyun menatap Joon Soo dengan tatapan menikam. Joon Soo semakin yakin dengan dugaannya.


“Kamu ingat Safitri?” tanya Joon Soo


“Safitri mana yang kamu maksud?” Seo Hyun tak mengerti arah pembicaraan Joon Soo yang dianggapnya mulai menyimpang.


“Itu lo … sepupu kamu dari Indonesia.”


“Oh, aku ingat. Lalu, apa hubungannya dengan Izzah?” tanya Seo Hyun makin tak mengerti


“Ternyata, Safitri itu adalah teman dekat Izzah waktu SMA,” jelas Joon Soo.


Seo Hyun melongo tak percaya.


“Ini buktinya,” lanjut Joon Soo memperlihatkan selembar foto.


Seo Hyun mengambil foto itu. Ia masih mengenali wajah sepupunya. Tampak Safitri merangkul pundak seorang gadis berambut hitam lurus sepinggang.


Tiba-tiba Seo Hyun merasa dunia seakan berputar. Kepalanya mendadak sakit luar biasa.


“Seo Hyun. Kau kenapa? Kau baik-baik saja?” Joon Soo panik memegang Seo Hyun


Seo Hyun makin berteriak kesakitan. Potongan-potongan kejadian tak jelas tiba-tiba berputar di kepalanya.


Ia melihat seorang remaja lelaki terkapar di jalanan setengah sadar. Tubuhnya penuh lebam dengan wajah hampir babak belur. Seorang gadis tampak tengah berkelahi dengan tiga orang remaja lelaki. Semua samar-samar seperti negatif film.


Tangan Seo Hyun makin erat memegang kepalanya. Memekik kencang sebelum akhirnya tak sadarkan diri.


Bergegas Joon Soo membawa Seo Hyun ke IGD.


***