
Setahun sudah waktu berlalu semenjak kembalinya Izzah dari Negeri Seribu Bunga. Gadis itu kini siap menjalani kehidupan yang baru di negeri asing lainnya. Jauh dari keluarga dan sahabat. Mencoba mengadu nasib demi menggapai cita-cita.
Sebuah pesawat komersial mendarat di Bandara Internasional Incheon, Korea Selatan.
Pukul 17.30. Dari pintu kedatangan, Izzah melenggang keluar, menarik kopernya. Ia terkagum-kagum menyaksikan kemewahan dan kemegahan Bandara Incheon. Sesaat ia menghentikan langkah menikmati pemandangan orang-orang yang berlalu lalang.
“Waah … bagus banget! Pantas saja bandara ini menjadi bandara yang terbesar di Asia dan dinobatkan sebagai bandara terbaik di dunia versi Global Traveller selama tiga tahun berturut-turut.”
“Ckckck!” Izzah berdecak kagum.
“Benar-benar luar biasa!” Tak henti-hentinya Izzah memuji bandara yang baru pertama kali dipijaknya itu.
“Oh ya, Bunda .…” Izzah baru ingat untuk menelepon bundanya.
Ia merogoh saku mengeluarkan ponsel. Baru saja ia hendak memencet tombol dial, tiba-tiba lautan manusia bergerak serentak ke arah Izzah. Entah dari mana datangnya. Ponsel Izzah terjatuh. Izzah berusaha menerobos kerumunan itu. Celingak-celinguk mencari ponselnya yang tertendang ke sana kemari.
Izzah makin terdesak. Kuatnya dorongan dari puluhan atau bahkan mungkin ratusan orang itu membuat koper Izzah terlepas dari genggamannya.
Ia berjuang membebaskan diri dari kerumunan itu. Namun, semakin ia mencoba bergerak keluar, semakin ia terdorong ke belakang dan terkurung.
Izzah mengamati sekelilingnya, mencari tahu ada apa sebenarnya. Tiba-tiba puluhan kilatan cahaya menyilaukan matanya. Dengan memicingkan mata, Izzah akhirnya menyadari bahwa ia terkurung dalam kerumunan para awak media.
“Hem … pasti ada orang penting. Artis kah?” gumamnya seraya mencari-cari sosok yang menonjol di antara kerumunan itu.
“Di mana-mana, berada dekat orang penting memang bikin repot.” Izzah menggerutu. Ia makin terdesak.
“Tolong berikan konfirmasi Anda Tuan Shin. Benarkah Anda menolak tawaran perjodohan dengan Nona Kim?”
“Apakah Anda sudah memiliki seorang kekasih?”
Samar-samar Izzah mendengar pertanyaan yang ditujukan kepada seseorang. Izzah menoleh, mengikuti cahaya blitz.
Sekitar tiga langkah di belakangnya, berdiri seorang lelaki usia akhir dua puluhan. Ia berusaha menutupi mukanya dengan tangan kiri. Sementara tangan yang lain menenteng tas kerja. Beberapa petugas keamanan bandara tampak berusaha melindungi laki-laki itu.
Dari luar, seorang pemuda berlari, mencari-cari seseorang. Ia meloncat agar bisa melihat sosok di tengah kerumunan.
Lautan awak media itu semakin beringas. Izzah mulai takut. Ia terus melangkah mundur. Langkahnya terhenti ketika merasa menabrak seseorang. Izzah memutar tubuh, berharap bisa melarikan diri dari kerumunan itu.
“Sial!” maki Izzah dalam hati saat ia menemukan tak ada celah untuk keluar.
Kesal. Izzah menengadah, menatap lelaki yang menurutnya adalah sumber masalah. Izzah terkesima. Ternyata lelaki di hadapannya itu sangat tampan. Untuk sesaat mereka berdua saling menatap intens tanpa kata.
Deg! Deg! Deg.
Lelaki itu merasa jantungnya berdegup kencang. Tatapannya terpaku pada mata gadis yang berdiri begitu dekat dengannya. Ia seperti tersihir dan tenggelam dalam pesona mata gadis itu.
Sinar blitz semakin berseliweran, membuat Izzah ikut melindungi matanya. Ia tersadar dari pesona yang seakan membiusnya. Kekesalannya kembali memuncak.
Pertanyaan demi pertanyaan terus terdengar. Namun, lelaki itu tetap bungkam. Izzah tak sanggup lagi menahan diri.
Mata lelaki itu memancarkan kilat kemarahan. Tangannya mencengkeram kuat tas kerjanya. Ia merasa tertohok. Selama ini belum pernah ada yang berani mengkritik tindakannya. Semua orang tunduk pada perkataan dan perintahnya.
Melihat lelaki itu masih diam dan terus menutupi wajahnya, Izzah semakin naik pitam.
“Waah … benar-benar sombong ini orang. Memangnya enggak pernah diajarkan cara menghargai orang lain? Apa susahnya sih menjawab pertanyaan para wartawan itu?” rutuk Izzah dalam hati. Tatapannya penuh dengan kemarahan.
Ribuan pertanyaan terdengar seperti dengungan lebah di telinga Izzah. Suasana makin panas.
“Jawablah! Atau Anda memang senang melihat orang lain terjebak kesulitan karena Anda?” Izzah mulai pusing. Keringatnya bercucuran. Ia seakan kekurangan oksigen. Napasnya mulai pendek.
“Aw!” Izzah memekik lemah ketika ia makin terdorong dan posisinya makin terkunci, tak bisa bergerak sama sekali.
Melihat kondisi Izzah, kemarahan di mata lelaki itu meredup. Hatinya terenyuh. Saat Izzah menjerit kesakitan, entah mengapa ia merasa ingin melindungi gadis itu. Spontan ia menurunkan tangan yang dari tadi selalu menutupi wajahnya. Ia mendekap gadis itu dan memutar tubuhnya, menjadikan punggungnya sebagai tameng untuk menahan kuatnya dorongan para awak media yang kelaparan berita.
Izzah mulai lemas. Lelaki itu akhirnya mengalah dan berkata lantang kepada lautan wartawan itu.
“Baiklah! Saya akan meluangkan waktu tiga puluh menit untuk menjawab pertanyaan kalian semua. Tapi sebelum itu, tolong beri jalan agar Nona ini bisa keluar dari sini.”
Kerumunan wartawan itu pun membelah diri, membuka jalan. Lelaki itu memapah Izzah keluar.
Pemuda yang sedari tadi lari wara-wiri mencari seseorang langsung menyongsong lelaki itu begitu melihatnya keluar dari kerumunan, memapah seorang gadis.
“Maaf, Tuan. Saya terlambat menjemput karena terjebak macet.” Pemuda itu membungkuk.
“Antarkan Nona ini ke hotel X,” perintah lelaki itu menahan geram. Ia mengabaikan permohonan maaf pemuda yang bertugas menjemputnya.
“Baik, Tuan!” Pemuda itu membantu Izzah menemukan kopernya yang tercecer.
Begitu duduk di mobil, Izzah menyandarkan tubuh penatnya. Lemas.
“Tolong antarkan ke alamat ini, Pak!” pinta Izzah menyerahkan sepotong kertas bertuliskan sebuah alamat.
“Tapi Nona … Tuan Shin meminta saya untuk mengantar Anda ke hotel X,” bantah pemuda itu sambil melirik gadis yang duduk di kursi belakang melalui kaca spion. Namun, ia tetap mengambil kertas yang disodorkan Izzah.
“Kami tidak saling kenal. Tidak ada alasan bagi saya untuk mematuhi perintahnya.” Izzah menolak tegas.
Pemuda itu pun mengikuti kemauan Izzah. Setelah sampai di tempat tujuan, ia memutar mobilnya kembali ke bandara.
Shin Seo Hyun baru saja menyelesaikan jumpa pers dadakannya. Ia memijat pundaknya yang pegal akibat aksi dorong-mendorong para awak media itu.
Ia berjalan ke parkiran menunggu jemputan. Tiba-tiba langkahnya terhenti. Matanya melihat sebuah ponsel tergeletak begitu saja di atas lantai. Dipungutnya ponsel itu dan diperiksanya. Ketika mendapati ponsel itu mati, ia pun menyimpannya di saku celana.
Hampir satu jam Shin Seo Hyun menunggu mobil yang menjemputnya. Sang sopir segera berlari turun membukakan pintu. Begitu pintu mobil terbuka, Shin Seo Hyun langsung menghempaskan pantatnya di jok mobil. Kelelahan. Mobil itu pun melaju menuju Seoul.
***