
Izzah masih berdiri mematung menatap lukisan di dinding. Lagi-lagi ia merasa deja vu. Ia berusaha keras mengingat-ingat beberapa hal yang terus membuatnya merasa deja vu. Akan tetapi, semakin kuat ia berusaha, semakin tak ditemukan jawabannya. Kepalanya jadi pusing. Izzah menggaruk kepalanya dengan kesal.
“Kenapa? Ada yang aneh dengan lukisannya?” Tahu-tahu Dimas sudah berdiri di samping Izzah.
“Astagfirullah .…”
PLAK!
Karena kaget, Izzah refleks memukul pundak Dimas.
“Ternyata kamu latah juga ya …,” ledek Dimas sambil meringis menahan sakit. Tak menyangka akan menerima pukulan sekeras itu.
“Siapa suruh datang diam-diam,” sungut Izzah.
“Iya … aku yang salah. Maaf .…” Dimas mencoba berdamai
“Sepertinya kamu bukan hanya calon dokter, tapi juga seorang pencinta lukisan,” tebak Dimas, melihat Izzah begitu serius memperhatikan lukisan di dinding itu.
“Tentu saja. Sebuah lukisan tidak hanya sekadar menyuguhkan keindahan.” Izzah menjawab datar.
“Oh ya?"
“Lewat sebuah lukisan, kita bisa tahu bagaimana sudut pandang dan emosi sang pelukis. Bahkan, jika mau lebih teliti lagi, kita bisa menemukan tujuan, pesan atau makna tersembunyi di balik lukisan itu sendiri.”
“Aku suka cara pandangmu terhadap sebuah lukisan,” puji Dimas.
“Lalu, apa yang kamu temukan dalam lukisan itu?” tanya Dimas
Izzah menghela napas panjang sebelum menjawab.
“Banyak.”
Dimas menatap Izzah penasaran.
“Kekhawatiran, kebersamaan, harapan dan juga ketergantungan. Sepertinya lukisan ini dibuat pada masa-masa sulit .…” Izzah menghentikan ucapannya. Wajahnya berkabut.
Dimas menoleh, menunggu ucapan Izzah yang menggantung. Dahinya berkerut melihat perubahan ekspresi Izzah.
Izzah melipat kedua tangannya di dada dan kembali menghela napas panjang.
“Atau mungkin … ini sebuah lukisan perpisahan,” lanjut Izzah pelan. Entah kenapa dadanya terasa sesak saat mengucapkan itu.
Dimas menatap Izzah tak berkedip. Ia makin mengagumi gadis itu.
“Benarkah? Aku bahkan tidak pernah berpikir begitu. Yang aku tahu, setiap kali aku merasa kangen sama kakek, aku akan menghabiskan waktu berlama-lama memandangi lukisan itu,” jawab Dimas.
“Kakek?” Izzah heran. Tak menyangka kalau itu lukisan keluarga Dimas.
“Ya. Lelaki kedua dari kiri adalah kakekku.”
“Terus … yang lainnya?” Izzah makin penasaran
“Yang paling kiri itu, kakeknya Abbas.”
“Oh ....” Izzah ber-oh. "Pantas saja Dimas dan Abbas begitu akrab," pikirnya.
“Yang ketiga, ayahnya Ki Daud.” Izzah ternganga. Sekarang ia baru benar- benar mengerti perkataan Ayah Dimas tentang kedekatan hubungan mereka dengan Ki Daud.
Dimas diam, tidak melanjutkan penjelasannya.
“Terus … yang terakhir?”
“Entahlah. Aku juga tidak tahu. Bahkan, ayahku pun tidak tahu siapa namanya. Yang aku tahu, mereka dikenal sebagai empat sekawan.” Nada bicara Dimas terdengar putus asa. Matanya tak sedikit pun beralih dari lukisan itu.
“Kurasa mereka orang-orang hebat,” tebak Izzah
“Ya, begitulah. Menurut cerita yang kudengar. Mereka pahlawan Negeri Seribu Bunga. Tanpa mereka mungkin negeri ini sudah musnah.” Saat mengatakan itu wajah Dimas justru menunjukkan raut duka.
Izzah menatap Dimas.
“Bukankah seharusnya Mas Dimas merasa bangga, tapi kenapa Mas Dimas malah tampak sedih ya? Apa terjadi sesuatu yang buruk dengan orang-orang dalam lukisan itu?" tanya Izzah, tetapi hanya dalam hati.
Dimas menoleh. Izzah membuang muka, gugup.
“Kamu ingin menanyakan sesuatu?” tanya Dimas.
“Tidak. Jika Mas tidak ingin menceritakannya,” balas Izzah.
“Aku bukannya tidak ingin menceritakannya. Aku hanya tidak tahu harus mulai dari mana. Yang jelas, sampai saat ini aku dan Abbas masih mencari informasi tentang keberadaan orang keempat dari empat sekawan itu.”
“Sepertinya orang itu sangat penting.”
“Ya. Jika dia atau keturunannya ditemukan, maka Negeri Seribu Bunga tak akan lagi seperti sebuah penjara dan terasing dari dunia luar. Kami semua yang terkurung di sini akan bisa menikmati hidup normal.”
“Maksud Mas?” Izzah benar-benar tidak mengerti apa yang dibicarakan Dimas.
“Mas tahu?” Izzah heran
“Awalnya tidak, tapi saat kamu menyebutkan nama universitas tempatmu kuliah, aku bisa menebaknya.”
“Bagaimana bisa?”
“Ceritanya panjang. Mungkin lain kali akan aku ceritakan.” Dimas merasa belum siap untuk menceritakan semua itu kepada Izzah. Izzah pun tak ingin memaksa.
Dimas membantu Izzah mencari beberapa buku. Setelah itu Dimas dan Izzah turun ke bawah, menemui Nyonya Prasetyo dan Tiara untuk pamit.
Dimas menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat dari jadwal yang dijanjikan. Ia ingin mengajak Izzah berkeliling kota tempat tinggalnya sebelum mengantar gadis itu pulang ke rumah Ki Daud.
***
Dimas melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Pertama kali, ia membawa Izzah ke museum. Izzah tidak dapat menyembunyikan rasa takjubnya melihat benda-benda koleksi museum Negeri Seribu Bunga. Meskipun tidak begitu luas, ternyata dari dulu negeri itu sangat maju. Terbukti dari masih tersimpannya beberapa produk berteknologi canggih. Ketika melewati koleksi foto aksesoris langka, Izzah tertegun. Lagi-lagi ia merasa deja vu.
“Kenapa? Pernah melihat benda itu?” tanya Dimas ketika Izzah belum juga beranjak dari situ.
“Oh ... enggak kok. Terpesona saja. Cantik dan unik,” jawab Izzah terkejut.
Dimas menyipitkan mata. Entah kenapa ia merasa Izzah tengah berbohong.
Puas melihat-lihat benda-benda koleksi museum itu, Dimas membawa Izzah ke pantai setelah meninggalkan masjid tempat mereka melaksanakan salat zuhur.
Sebenarnya Dimas ingin mengajak Izzah ke banyak tempat, tetapi Izzah menolak karena takut kemalaman pulang ke rumah Ki Daud. Dimas memaklumi kekhawatiran Izzah, mengingat mereka hanya berdua saja.
Sesampainya di pantai, Dimas segera memarkir mobilnya. Izzah segera keluar. Matanya berbinar melihat hamparan laut biru yang membentang. Tak sabar, ia pun melangkahkan kaki menyusuri jembatan yang menjorok ke laut itu.
BIP! BIP!
Ponsel Dimas berbunyi. Dimas segera menjawab panggilan itu begitu melihat nama Abbas tertera di layar monitor.
“Hasil penyelidikan sudah ada, Bos.” Terdengar suara Abbas dari seberang telepon.
“Ya, siapa?” tanya Dimas ingin tahu.
“Mantan pacar Kak Tiara.”
“Apa? Kamu yakin?” Dimas terperangah tak percaya.
“Kamu mulai meragukan kemampuanku?” balas Abbas sedikit sewot
“Baiklah. Aku percaya. Segera bereskan!” perintah Dimas tegas
“Siap, Bos!”
Sambungan telepon diputus.
Setelah menutup telepon Dimas baru sadar Izzah sudah meninggalkannya. Dimas celingukan mencari Izzah. Orang-orang mulai ramai. Menyulitkan Dimas melacak keberadaan Izzah.
Beberapa pengunjung tampak bergerombol dan berbisik-bisik. Sebagian menunjuk ke suatu arah. Dimas penasaran, lalu melihat ke arah yang ditunjuk.
Tampak seorang gadis sedang berjalan di atas pagar jembatan. Pagar itu sangat kecil. Hilang keseimbangan sedikit saja, bisa dipastikan gadis itu akan langsung tercebur ke laut.
Gadis itu melangkah pelan menuju ujung jembatan. Kedua tangannya terentang. Sesekali ia berhenti, lalu kembali berjalan. Semakin lama semakin ke tengah.
“Sepertinya gadis itu mau bunuh diri.”
“Iya. Benar. Seseorang harus mencegahnya.”
Sayup-sayup terdengar ungkapan khawatir dari orang-orang yang bergerombol itu.
Dimas makin penasaran. Ia menerobos kerumunan itu dan makin mempercepat langkahnya menyusuri jembatan. Begitu dapat melihat gadis itu dengan lebih jelas. Dimas terpekik.
“Izzaaah!” Dimas pun berlari seperti orang kesetanan.
GREP!
Dimas menyambar lengan Izzah. Seketika Izzah hilang keseimbangan dan jatuh menimpa Dimas. Untuk sesaat Dimas dan Izzah saling tatap, sama-sama syok.
Izzah bergegas bangkit. Pipinya memerah. Malu bercampur marah.
Dimas menghela napas lega karena berhasil menyelamatkan Izzah. Ia duduk mengelus pinggangnya yang terasa nyeri.
“Apa-apaan sih kamu, Mas!” Izzah meledak. Tak percaya Dimas akan melakukan hal segila itu.
“Kamu yang apaan! Mau cari mati? Apa kamu tidak tahu bunuh diri itu dosa?” Dimas ikut berteriak.
Ia sudah berdiri melihat Izzah membersihkan pakaiannya dari kotoran yang menempel. Dadanya masih bergemuruh karena cemas.
***