A Thousand Flowers

A Thousand Flowers
Chapter 39. Penguntit



Siang itu, langit tampak bersih. Suhu terasa lebih hangat. Siluet mentari di celah dedaunan seperti kilau berlian dengan warna keemasan. Memantulkan warna kuning dan merah daun-daun gingko dan maple yang beralih rupa.


Izzah dan Dimas menyusuri jalanan di sepanjang kompleks Yonsei University Museum. Menghabiskan waktu istirahat dengan obrolan ringan seraya mengagumi keindahan dedaunan yang berguguran bak karpet terbentang.


Berada di dekat Dimas membuat Izzah lebih nyaman mengekspresikan dirinya. Tak jarang tawanya berderai mendengar lelucon atau tingkah laku Dimas yang terkadang sedikit kekanak-kanakan.


Di kejauhan, sebuah mobil hitam membayangi langkah Izzah diam-diam. Seorang lelaki berpakaian serba hitam mengamati setiap gerak-gerik Izzah dan Dimas tanpa sepengetahuan mereka.


Bak seorang paparazzi profesional, lelaki itu mengabadikan setiap momen indah Izzah dan Dimas hingga pasangan itu beranjak dari situ.


Di pelataran parkir, Dimas melepas kepergian Izzah masuk kantor dengan lambaian tangan dan senyum merekah.


Berdiri di balik jendela ruangannya, Shin Seo Hyun menyaksikan semua itu dengan tangan terkepal. Darahnya mendidih tatkala Izzah membalas lambaian tangan Dimas dengan senyum menawan.


TOK! TOK!


Terdengar bunyi pintu diketuk.


“Masuk!”


Shin Seo Hyun menoleh dan kembali ke mejanya begitu melihat Park Joon Soo sudah berada di ruangannya.


Park Joon Soo meletakkan sebuah amplop cokelat di atas meja Shin Seo Hyun.


“Tidak banyak data tentang Dimas Prasetyo. Sepertinya dia seorang pebisnis yang sangat menjaga privasi.”


“Benarkah?” Shin Seo Hyun tak percaya.


“Ya. Hanya saja, kami berhasil menemukan alamat rumah yang baru saja dibelinya beberapa hari yang lalu.”


Alis Shin Seo Hyun terangkat. Ia mengeluarkan selembar foto dari amplop yang diletakkan Park Joon Soo.


Melihat foto di tangannya, alis Shin Seo Hyun makin berkerut. Ia merasa mengenali rumah itu. Dan ketika membaca alamat yang tertera di belakang foto itu, tanpa sadar ia memaki.


“Sial!”


Shin Seo Hyun membanting foto itu ke atas meja dan berdiri berkacak pinggang. Kilatan amarah terpancar di matanya.


Park Joon Soo mendongak kaget


“Kenapa?”


Mengabaikan pertanyaan Park Joon Soo, Shin Seo Hyun mengibaskan tangan, mengusir sekretarisnya itu agar keluar.


“Aaarrgh”


BUK!


Seo Hyun meninju meja dengan keras. Melampiaskan kekesalannya akan sosok Dimas pada meja yang tak bersalah.


***


Izzah berbaring di atas sebuah meja besar tidak jauh dari mulut tangga rumah indekosnya. Menatap bintang-bintang bertaburan di langit malam bak butiran permata. Syahdunya bisik angin membuat angan berkelana menyusuri lorong waktu, di mana canda menghadirkan kehangatan dalam jiwa.


“Aaah ….”


Desah sunyi memaksa Izzah memejamkan mata. Membiarkan embusan angin mempermainkan ujung jilbabnya.


Dihitungnya hari yang tersisa di Korea. Mereka-reka sejuta rencana. Akankah semua berjalan mulus?


Tiba di puncak tangga rumah Izzah, Dimas terpana melihat gadis itu terbaring santai berbantalkan sebelah lengan.


Dengan berjinjit, direbahkannya tubuh di samping Izzah tanpa suara. Ia menopang kepalanya dengan sebelah tangan dan menatap Izzah dalam hening.


Lima menit kemudian Izzah memiringkan tubuhnya, tepat berhadapan dengan Dimas seraya membuka mata.


“Aaakh … astagfirullah!”


BUK!


Izzah berteriak kaget dan refleks melayangkan tinju yang mendarat tepat di dada Dimas. Cepat-cepat ia bangkit.


UHUK!


Dimas terbatuk dan mengelus dadanya yang terasa sakit.


“Kalau ninju kira-kira dong, Zah!” rutuknya seraya duduk bersila di atas meja.


Dimas menyeringai. “Hehe … habis … aku lihat kamu sedang tidur. Aku jadi penasaran. Siapa tahu kamu sedang memimpikan aku.”


Izzah mengangkat tangan hendak menjintak kepala Dimas mendengar candaannya. Spontan Dimas menghindar.


“Bagaimana Mas Dimas bisa tahu aku tinggal di sini?”


Seingat Izzah, Dimas belum pernah mengantarnya pulang.


Dimas tersenyum melihat kening Izzah lipat dua belas.


“Tahulah. Kan kita tetangga satu kompleks”


“Masa sih? Kok aku tidak pernah melihat Mas Dimas di sekitar sini sebelumnya?”


“Begitu ya? Ya … sudahlah. Tidak usah dibahas. Sekarang bagaimana kalau kita jalan-jalan menikmati keindahan Kota Seoul di malam hari. Mumpung cuaca lagi bagus.”


Izzah melirik jam di pergelangan tangannya. Pukul 19.40. “Belum terlalu malam,” pikir Izzah.


“Boleh, tapi tidak lama-lama ya .…”


Dimas mengacungkan jempol tanda setuju.


“Tunggu sebentar!” kata Izzah, lalu masuk ke rumah.


***


Di kamarnya, Shin Seo Hyun duduk di atas sofa memandang foto-foto Izzah dan Dimas yang dikirim oleh orang bayarannya. Jantungnya menggelegak melihat tawa Izzah begitu lepas saat bersama Dimas.


Kekesalannya makin menjadi saat ia ingat bahwa Dimas tidak termasuk dalam daftar teman dekat Izzah pada laporan Park Joon Soo sebelumnya.


“Dimas benar-benar pandai menyimpan identitasnya. Baiklah, akan aku ikuti permainannya,” geram Shin Seo Hyun.


“Kenapa harus ada begitu banyak pria di sisi gadis aneh itu?”


“Aku harus cari tahu ada hubungan apa antara dia dengan Dimas”


Bergegas Shin Seo Hyun menyambar jaketnya yang tergeletak di lengan sofa, lalu keluar setengah berlari.


***


Berdiri di tepi pagar pembatas dengan kedua tangan di saku celana, Dimas menunggu Izzah sambil menikmati pesona lampu-lampu kendaraan yang berseliweran di bawahnya.


Ia segera memutar tubuh saat mendengar suara pintu di kunci. Izzah keluar dengan pakaian yang berbeda dan menyandang tas ransel kesayangannya. Senyum Dimas mengembang, lalu ia turun mendahului Izzah.


Shin Seo Hyun baru saja hendak mematikan mesin mobilnya ketika matanya menangkap sosok Izzah masuk ke mobil yang dibukakan oleh seorang lelaki.


Begitu mengenali wajah lelaki itu, Shin Seo Hyun mencengkeram kemudi dengan erat, berusaha menahan emosinya yang tiba-tiba meledak.


“Huh! Lagi-lagi Dimas!”


Tanpa buang waktu, ia menjalankan mobilnya membuntuti mobil Dimas.


Dimas membawa Izzah ke Namsan Tower melalui jalur kereta gantung. Izzah mendecak karena dibuat terpesona oleh keindahan Kota Seoul dilihat dari ketinggian Namsan Tower.


“Bagaimana? Cantik, kan?” tanya Dimas, melihat kekaguman Izzah.


“Iya. Cantik banget. Mas Dimas sering ke sini?”


“Tidak juga. Hanya beberapa kali.”


“Waah … Mas Dimas benar-benar beruntung ya .…”


“Mau lihat yang lebih cantik?” tawar Dimas.


“Memangnya ada?” tanya Izzah, mengangkat alis


“Ada. Ayo sini!” ajak Dimas sambil menarik lengan baju Izzah.


Shin Seo Hyun mengepalkan tangan. Ia benar-benar geram tingkat dewa melihat adegan Dimas dan Izzah berjalan berdampingan dibelai tiupan angin sepoi-sepoi. Menikmati keindahan Kota Seoul tanpa kaca penghalang. Terlebih saat menyaksikan Izzah tak segan-segan mengumbar senyum dan tawa. Membuat hati Shin Seo Hyun semakin


panas.


Pasangan mudi-mudi tampak bergandengan tangan memadu kasih. Sebagian sibuk menuliskan nama dan menggantungnya di gembok cinta, seolah menggantung harap akan keabadian cinta mereka dan tak akan ada yang dapat memisahkan seiring terbuangnya kunci dari gembok cinta yang mereka lempar jauh.


***