
Izzah memencet bel. Seorang wanita usia lima puluhan keluar menyambutnya. Izzah membungkuk, memberi hormat.
“Selamat malam, Nyonya Choi. Saya Izzah.” Izzah memperkenalkan diri.
“Oh ya … selamat datang, Nona Izzah. Saya sudah mempersiapkan kamar Anda. Mari!” Wanita itu cukup fasih berbahasa Indonesia karena sebagian besar orang-orang yang pernah menghuni kosannya itu memang berasal dari Indonesia.
Setelah menutup pintu rumahnya, ia mengantar Izzah ke kamar di atas atap melalui tangga yang melingkar di samping rumahnya. Izzah mengekor.
Wanita itu membuka pintu kamar yang akan dihuni Izzah.
“Silakan dicek dulu, Nona! Beritahu saya kalau masih ada hal lain yang Nona butuhkan!” ujar si pemilik kontrakan mempersilakan Izzah untuk mengecek kondisi kamar itu.
“Ya, Nyonya Choi.”
Izzah mengamati seluruh penjuru kamar. Memeriksa setiap detail yang diperlihatkan oleh si pemilik kontrakan.
Fasilitas yang disediakan pemilik kontrakan itu cukup lengkap, kecuali tempat tidur. Hanya ada kasur lipat. Namun demikian, Izzah merasa puas.
“Ini sudah bagus, Nyonya. Terima kasih atas kerja keras Anda.” Izzah kembali membungkukkan badan.
“Baiklah. Kalau begitu selamat beristirahat. Semoga betah ya .…” Wanita itu pamit. Izzah mengantarnya sampai ke pintu.
Setelah selesai memindahkan isi kopernya ke dalam lemari pakaian yang disediakan, Izzah melangkah keluar.
Ia berdiri di pinggir pagar pembatas. Mengedarkan pandangan, menikmati indahnya Kota Seoul di malam hari.
Direntangkannya kedua tangan seraya menghela napas dalam, memasok oksigen Kota Seoul ke paru-parunya yang tadi terasa sesak.
“Aku tidak pernah bermimpi bisa menikmati semua ini. Alhamdulillah ….” Izzah berkata penuh syukur.
Ia tidak menyangka akan berhasil mendapat kesempatan untuk magang pada salah satu rumah sakit ternama di Kota Seoul setelah melalui rangkaian seleksi yang sangat ketat.
Izzah meraba saku jaketnya, mencari ponsel. Tidak ada. Dirabanya saku lainnya. Juga tidak ada.
Izzah mulai panik. Ia telah memeriksa semua kantong pakaiannya. Namun, masih juga tak menemukan ponselnya,
Terbirit-birit ia lari ke kamar, memeriksa tasnya. Ditumpahkannya semua benda dari dalam tasnya. Betapa kecewanya Izzah ketika tetap tak menemukan apa yang dicarinya.
“Astagfirullah … di mana aku meletakkannya?” Izzah mengingat-ingat.
“Ya Allah … bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan?” Izzah semakin panik ketika terbayang insiden di bandara tadi sore. Ia lupa mencari ponselnya yang terjatuh dalam kerumunan awak media itu.
Untuk beberapa lama, Izzah terduduk lemas. Ia tidak mungkin kembali ke Bandara Incheon malam ini. Kalau pun bisa, belum tentu juga ponselnya masih di sana.
Izzah menghempaskan napas pasrah.
“Sudahlah. Mungkin memang sudah takdirnya begitu. Mudah-mudahan Allah memberi ganti yang lebih baik,” kata Izzah, berusaha ikhlas.
Dimasukkannya kembali barang-barang yang berserakan di atas lantai ke dalam tas, lalu berlari turun mengetuk pintu rumah pemilik kontrakan.
“Ya? Butuh sesuatu?” tanya Nyonya Choi saat melihat Izzah berdiri di depan pintu.
“Maaf, Nyonya Choi. Saya ingin menghubungi ibu saya, tapi ponsel saya hilang di bandara. Apakah saya boleh meminjam ponsel Nyonya Choi? Saya janji tidak akan lama.” Izzah menjelaskan tujuan kedatangannya dengan nada sungkan.
“Ya ampun. Kamu tidak perlu sungkan begitu. Tentu saja boleh. Panggil saja saya Bibi, dan anggap keluarga sendiri.” Nyonya Choi tersenyum hangat dan menyodorkan ponselnya kepada Izzah.
Dalam sekejap Izzah segera menghubungi bundanya, memberi kabar bahwa ia sudah sampai dengan selamat. Tak lupa ia menenangkan bundanya dengan berjanji bahwa ia akan mematuhi semua nasihat bundanya dan menjaga diri dengan baik selama berada di Korea Selatan.
“Terima kasih, Bi. Maaf sudah merepotkan,” ucap Izzah membungkukkan badan setelah menyerahkan kembali ponsel yang dipinjamnya kepada Nyonya Choi. Kemudian, ia pamit dan balik ke kamarnya.
***
Pukul 23.00. Di sebuah apartemen mewah, Shin Seo Hyun masih berkutat dengan laptopnya. Ia meraih cangkir kopi di atas meja dan membawa cangkir itu ke mulutnya. Matanya masih menatap layar monitor.
Keningnya berkerut ketika menyadari cangkir kopinya telah kosong. Dengan enggan ia pun berdiri menuju dapur, membuat secangkir kopi tambahan.
Shin Seo Hyun kembali duduk di meja kerjanya, membuka tas kerja yang tadi dibawanya dari bandara.
PLUK!
Terdengar sesuatu jatuh saat Shin Seo Hyun mengeluarkan beberapa dokumen. Tampak sebuah ponsel tergeletak di bawah meja. Ia ingat itu adalah ponsel yang dipungutnya di bandara tadi. Ia pun mengambilnya.
Shin Seo Hyun memperhatikan ponsel di tangannya. Masih mati. Diambilnya charger untuk mengisi ulang daya ponsel itu. Sesaat kemudian, ia melanjutkan pekerjaannya.
Pukul satu dini hari. Shin Seo Hyun mematikan laptopnya. Ia meninggalkan meja kerjanya dan berbaring di tempat tidur. Tiba-tiba ia teringat akan ponsel yang tadi di casnya. Ia pun segera bangkit, mencabut charger dan kembali ke ranjangnya dengan ponsel di tangan.
Shin Seo Hyun meletakkan ponsel itu di atas meja kecil di samping ranjang. Baru saja ia akan memejamkan mata, ia kembali duduk. Mengambil ponsel di atas meja dan menghidupkannya.
Begitu ponsel menyala, tampaklah wajah cantik seorang gadis berhijab. Senyumnya sangat menawan. Shin Seo Hyun langsung terbayang kejadian di bandara tadi sore.
Deg! Deg! Deg!
“Ah!” Shin Seo Hyun mendesah kecewa mendapati ponsel itu terkunci.
Ia merebahkan tubuhnya di ranjang sambil memegang ponsel itu seraya mencoba beberapa kombinasi angka, tetapi selalu gagal.
“Aish!” Shin Seo Hyun mulai kesal. Ia duduk dan berusaha keras memikirkan kombinasi berbagai angka.
“Yes!” teriaknya kegirangan sambil mengepalkan tangan saat berhasil membuka ponsel itu.
“Gadis aneh. Bagaimana bisa dia berpikir untuk menjadikan tanggal hari ini sebagai kunci ponselnya? Apa ini pengalaman pertamanya ke Seoul?” Shin Seo Hyun geleng-geleng kepala, merasa lucu sekaligus setengah tak percaya.
Ia masih menatap lekat foto wallpaper di ponsel itu.
“Cantik,” desisnya.
Tiba-tiba hatinya tergelitik untuk membaca pesan-pesan yang banyak masuk saat ponsel baru menyala .
“Tidak, tidak. Itu tidak baik. Itu sangat privasi.” Ia memperingatkan dirinya sendiri.
Shin Seo Hyun kembali merebahkan diri dan meletakkan ponsel itu di atas meja. Namun, sedetik kemudian ia meraihnya kembali karena penasaran ingin melihat-lihat galeri di ponsel itu.
Terjadi perang batin dalam diri Shin Seo Hyun.
“Sudah, tidak apa-apa. Toh yang punya ponsel juga tidak akan tahu kalau kamu tidak menceritakannya,” bisik hati Shin Seo Hyun.
Shin Seo Hyun mengangguk-angguk. Jarinya mulai bergerak, tetapi terhenti.
“Jangan! Biar bagaimanapun, itu perbuatan yang tidak baik,” bisik sisi hati Shin Seo Hyun yang lain menyadarkannya.
Shin Seo Hyun menghela napas bimbang.
“Jangan dengarkan dia! Dia tidak tahu caranya bersenang-senang. Ayo, buka saja! Sebentar saja cukup kok.” Sisi gelap hati Shin Seo Hyun terus memprovokasi.
Shin Seo Hyun pun kalah. Rasa penasaran yang begitu besar mendepak logikanya akan pentingnya etika menghargai milik orang lain.
Dibukanya kunci ponsel di tangannya. Mengintip galeri gadis si pemilik ponsel. Ia mengangguk-angguk dan senyum-senyum sendiri melihat foto-foto yang ada di galeri itu. Ketika melihat foto gadis itu dengan seorang lelaki muda dan tampan, matanya menyipit.
“Siapa cowok di foto ini? Pacarnya?” Shin Seo Hyun bertanya pada diri sendiri.
Pose si gadis dan lelaki itu menunjukkan bahwa hubungan mereka sangat dekat, bukan hanya sekadar teman. Si lelaki merangkul pundak gadis itu mesra. Keduanya tersenyum bahagia.
NYUT!
Ada desir perih di hati Shin Seo Hyun melihat foto itu. Ia gelisah tanpa ia tahu mengapa. Cepat-cepat ditutupnya kembali ponsel itu, lalu berusaha untuk tidur.
Di kamarnya, Shin Seo Hyun resah, memikirkan cara bagaimana ia bisa mengembalikan ponsel itu kepada pemiliknya.
Di kamarnya, Izzah gelisah, memikirkan cara agar bisa mengumpulkan uang untuk membeli ponsel baru.
***
Cahaya mentari pagi menyeruak dari celah-celah ventilasi. Izzah menggeliat, terjaga dari tidurnya. Ia benar-benar lelah hingga kembali terlelap setelah salat subuh.
Disibaknya tirai jendela agar cahaya mentari pagi bisa leluasa menjelajahi setiap sudut kamarnya.
“Selamat pagi, Kota Seoul!” Izzah menyapa Seoul di pagi pertamanya. Merasakan sejuknya udara pagi, lalu beranjak ke kamar mandi.
Ia tak ingin datang terlambat di hari pertamanya mulai bekerja sebagai dokter magang. Setelah menghabiskan waktu tiga puluh menit di kamar mandi, ia membuka lemari dan memilih pakaian yang akan dipakainya.
Izzah mematut diri di depan cermin, mengangguk mantap setelah yakin dengan penampilannya. Warna biru gelap yang dikenakannya memberi kesan misterius dan elegan. Sungguh akan sangat serasi dengan jas dokter nantinya.
Ting … tong …
Bel berbunyi. Izzah membuka pintu. Nyonya Choi berdiri di depan pintu, tersenyum ramah.
“Wah, sudah siap mau berangkat ya? Saya yakin kamu belum sempat masak di hari pertamamu bekerja. Ini, ambillah! Kamu bisa membawanya.” Nyonya Choi mengulurkan sekotak bekal kepada Izzah.
“Aduuh … Bibi baik sekali. Terima kasih banyak ya, Bi. Saya jadi tidak enak terus-terusan merepotkan Bibi,” jawab Izzah makin sungkan. Ia mengambil kotak makanan dari tangan Nyonya Choi dengan kedua tangannya.
“Aah … itu bukan apa-apa. Hanya bekal untuk sarapan saja.” Nyonya Choi merendah.
Izzah memasukkan kotak pemberian Nyonya Choi ke dalam tasnya.
“Oh ya, Bi. Bisakah Bibi memberitahu saya rute tercepat untuk sampai ke tempat kerja saya dan juga supermarket terdekat?” tanya Izzah sebelum Nyonya Choi meninggalkannya.
Nyonya Choi memberi penjelasan kepada Izzah. Izzah mendengarkan dengan sungguh-sungguh dan mencatat petunjuk Nyonya Choi, lalu menyimpannya. Kemudian, ia turun dan berjalan menuju halte bus.
Izzah sengaja mencari kontrakan yang dekat dengan halte bus dan tidak terlalu jauh dari tempatnya magang.
***