A Thousand Flowers

A Thousand Flowers
Chapter 28. Di Balik Topeng



Mata wanita tua itu masih tertutup rapat. Izzah memeriksa tangan dan kakinya. Memijat lembut titik-titik tertentu. Rasa kasih dan iba membuat hati Izzah tergerak untuk menyalurkan kekuatan khusus yang dimilikinya.


Setelah selesai mengobati wanita itu, Izzah kembali duduk, menggegam tangan pasiennya dengan lembut. Sesekali sebelah tangannya membelai rambut wanita itu.


“Nek, bertahanlah! Anda harus kuat. Aku yakin Anda akan sembuh. Tapi berjanjilah, tetaplah berjuang untuk hidup, Nek. Aku akan merawat Nenek dengan baik,” ujar Izzah seraya membelai rambut wanita itu penuh kasih, seolah wanita tua itu adalah nenek kandungnya.


Hampir satu jam Izzah berbicara dengan nenek itu. Pinggangnya mulai terasa pegal. Gerakan kecil di genggaman tangannya membuat Izzah tersenyum lebar.


“Anda sudah bangun, Nek? Terima kasih,” ucap Izzah bahagia. Dipencetnya bel tidak jauh dari kepala ranjang.


Tim dokter yang menangani wanita itu berdatangan dalam waktu singkat. Izzah menepi, memberi ruang pada para dokter untuk melakukan pemeriksaan.


Shin Seo Hyun datang membesuk dikawal sekretarisnya.


“Wah, sepertinya nenek ini benar-benar orang penting, sampai-sampai Tuan Direktur ikut turun tangan meninjau kondisinya,” gumam Izzah dalam hati.


Ia tidak tahu kalau pasien yang dirawatnya adalah nenek sang direktur. Dan status itu memang selalu dirahasiakan dari perawat yang bertugas merawat si nenek atas permintaan Shin Seo Hyun. Hanya tim dokter dan Park Joon Soo yang mengetahui kebenarannya.


***


Shin Seo Hyun duduk bersandar dan bertopang dagu di ruang kerjanya. Bunyi ketukan pena yang beradu dengan meja membahana. Perkataan ketua tim dokter yang memeriksa sang nenek terngiang-ngiang di telinganya.


Saat itu, setelah melakukan pemeriksaan, ketua tim dokter langsung membuntuti Shin Seo Hyun ke ruang kerjanya, melaporkan hasil pemeriksaan timnya.


“Tuan Shin, nenek Anda sadar lebih cepat dari perkiraan. Kami sangat bersyukur akan hal itu, tapi ….” Dokter itu memenggal penjelasannya. Membuat Shin Seo Hyun penasaran dengan penjelasan yang menggantung.


“Coba lihat ini!” Dokter itu menyerahkan laporan hasil pemeriksaan.


Kening Shin Seo Hyun berlipat laksana kertas diremas.


“Menurut Anda, ini juga sesuatu yang mustahil kan, Tuan Shin?” Ketua tim dokter itu seakan meminta dukungan pendapat.


“Ini benar-benar di luar dugaan,” jawab Shin Seo Hyun dengan nada tak percaya


“Ya. Hasil pemeriksaan neorologis dan angiografi sebelumnya menunjukkan gangguan saraf motorik yang cukup parah pada kaki sehingga menyebabkan kelumpuhan serta terdapat penyumbatan pembuluh darah pada otak. Tapi hari ini, kaki nenek Anda sudah bisa bergerak sendiri tanpa fisioterapi.” Dokter itu menutup laporan rekam medisnya.


“Ternyata keajaiban itu nyata adanya,” lanjutnya tersenyum lebar.


“Nenek Anda benar-benar beruntung!”


Shin Seo Hyun geleng-geleng kepala. Sulit dipercaya bahwa keajaiban masih ada di zaman serba teknologi canggih ini.


“Ah!”


Shin Seo Hyun menepuk jidat, ingat sesuatu. Buru-buru ia membuka laptopnya.


Di ruang VVIP, Izzah baru saja selesai membersihkan tubuh pasiennya, mengganti baju serta menyisir rambutnya. Tak lupa ia membedaki wajah keriput si nenek.


“Nah, sekarang Nenek sudah segar dan wangi. Mau saya suapi bubur, Nek?” tanya Izzah lembut.


Si nenek yang biasa disapa dengan Nyonya Shin itu ikut tersenyum melihat keceriaan gadis perawatnya.


Ia mengangguk, mengiyakan pertanyaan Izzah. Izzah pun menyuapinya.


“Siapa namamu, Nak?”


“Panggil Izzah saja, Nek.”


“Nama yang indah. Kamu dari mana?”


Meski bicaranya terkadang sedikit cadel karena efek stroke yang pernah dialaminya, Nyonya Shin sangat ramah.


“Indonesia, Nek.”


“Indonesia? Ah, sudah lama sekali saya tidak ke sana.”


Ada kerinduan tersirat dalam nada suara Nyonya Shin. Tatapannya menerawang jauh.


“Nenek pernah ke Indonesia? Pantas saja Bahasa Indonesia Nenek sangat bagus,” puji Izzah.


Orang kaya seperti Nyonya Shin tentu saja bisa pergi ke mana pun di muka bumi ini. Kalau Izzah? Boro-boro. Ke Korea saja karena dapat lulus seleksi.


“Tapi, itu sudah lama sekali.” Raut wajah Nyonya Shin berubah sedih.


Nyonya Shin menggeleng. Izzah membersihkan sisa bubur di sudut bibir Nyonya Shin.


“Waah, Nenek hebat! Kalau makannya terus seperti ini, Nenek pasti akan segera pulang.”


Pujian Izzah menghalau mendung di wajah pasiennya. Izzah senang usahanya mengembalikan keceriaan si nenek berhasil.


Nyonya Shin menatap Izzah penuh kekaguman.


“Gadis ini ceria dan hangat,” puji Nyonya Shin di hati.


Ia berandai-andai membayangkan Izzah menjadi cucunya. Pasti ia tak akan pernah merasa kesepian, pikir Nyonya Shin.


Setelah meletakkan mangkuk bubur yang telah kosong di atas nakas, Izzah memperbaiki posisi Nyonya Shin agar lebih nyaman.


Merasa kenyang, Nyonya Shin pun jatuh tertidur.


Setelah memastikan tidur Nyonya Shin benar-benar pulas, diam-diam Izzah menyingkap selimut yang menutupi kaki Nyonya Shin.


Dengan sangat hati-hati, Izzah kembali memijat lembut titik-titik tertentu di kaki pasiennya itu. Izzah juga meraba pelan urat nadi di kedua lengan Nyonya Shin. Selesai di bagian kaki dan tangan, Izzah merapikan kembali selimut Nyonya Shin.


Kini Izzah beralih ke bagian kepala. Ditempelkannya telapak tangannya pada kening wanita tua itu.


“Selamat tidur, Nek,” bisik Izzah sepelan mungkin agar tak membuat Nyonya Shin terjaga.


Dari laptopnya, Shin Seo Hyun menyaksikan semua aksi Izzah dengan tatapan menyelidik. Hatinya bertanya-tanya apakah gadis itu yang membawa keajaiban untuk neneknya?


Sungguh ia sangat mengagumi cara gadis itu merawat neneknya. Dan ia senang telah mengambil keputusan yang tepat memilih gadis itu.


Shin Seo Hyun tampak sedang berpikir keras, mencari akal agar bisa membuktikan kebenaran dugaannya. Ia yakin Izzah bukanlah dokter magang biasa.


***


Seminggu telah berlalu. Kondisi Nyonya Shin pulih seperti sediakala. Izzah membantu Nyonya Shin berbenah untuk pulang.


“Nek Uyuuut ….”


Seorang gadis kecil usia lima tahun berlari ke pelukan Nyonya Shin setelah melepaskan genggaman tangan ibunya.


“Ha Na, Sayang .…”


Nyonya Shin mendaratkan ciuman di kedua pipi buyutnya itu.


Izzah menyapa Nyonya Kang, mama Ha Na.


“Mama … ajak Aunty Izzah ya!” rengek Ha Na manja.


Mama Ha Na tersenyum. Sejak Nyonya Shin dirawat, Ha Na jadi dekat dengan Izzah.


“Aunty Izzah harus kerja, Sayang .…”


Mendengar jawaban mamanya, Ha Na langsung cemberut.


Izzah mengusap kepala Ha Na dan berusaha menghiburnya.


“Nanti Aunty akan main sama Ha Na kalau libur ya ....”


“Aunty Izzah janji ya …,” tuntut Ha Na


Izzah mengangguk. Ha Na pun kembali ceria.


Mengintip dari balik pintu, Shin Seo Hyun menatap Izzah dengan mata berbinar. Khawatir kehadirannya diketahui dan rahasianya terbongkar, ia pun segera kembali ke ruang kerjanya.


Izzah mengantar Nyonya Shin hingga ke mobil.


“Da-da Aunty Izzah .…” Ha Na melambaikan tangan.


Izzah membalas lambaian tangan Ha Na. Lega. Lalu, ia kembali ke markasnya.


***