
Sang Ustadz menatap Ki Daud dan Rahmi bergantian. Ia dapat melihat dengan jelas betapa dua orang yang duduk di depannya itu masih saling mencintai.
“Sebelum aku memutuskan perlu atau tidak akad baru untuk kasus Ki Daud dan Bu Rahmi, aku ingin kalian menjawab pertanyaanku dengan jujur,” sahutnya, menggantung jawaban.
“Pertama, ini untuk Ki Daud. Apakah selama hidup terpisah Ki Daud pernah berniat atau bahkan terucap kata talak atau cerai untuk Rahmi baik secara lisan maupun tertulis?”
“Tidak pernah, Pak Ustadz. Saya sangat mencintai istri saya,” tukas Ki Daud cepat seraya menggeleng kuat.
Pak Ustadz mengalihkan pandangannya kepada Rahmi.
“Lalu, bagaimana dengan Bu Rahmi? Apakah Bu Rahmi rida dengan perlakuan Ki Daud yang tidak melaksanakan kewajibannya memberi nafkah lahir dan batin selama puluhan tahun itu?”
“Iya. Saya rida Pak Ustadz. Tidak pernah sekali pun saya menyesalinya,” jawab Rahmi tegas.
Pak Ustadz mendesah lega. “Kalau begitu, kalian tidak perlu mengulang akad, tapi seandainya dulu setelah enam
bulan hidup terpisah, Bu Rahmi tidak rida atas perbuatan Ki Daud, maka perlu dilakukan akad baru,” jelas Pak Ustadz, memberi pemahaman.
Mendengar itu, Ki Daud dan Rahmi serentak mengucap syukur. Benar kata pujangga, jika ingin melihat pelangi, maka bertahanlah hingga hujan berganti.
***
“Memangnya kita mau ke mana sih, Mas?” tanya Izzah, mengintip layar monitor dari balik pundak Shin Seo Hyun.
“Maldives. Keren kan?” sahut Shin Seo Hyun, memamerkan keindahan pantai yang ditampilkan Mbah Google.
“Keren sih, tapi … kalau cuma mau liburan ala Maldives mah di Indonesia juga banyak, Mas. Lebih murah lagi,” celoteh Izzah blak-blakan tanpa bermaksud menyinggung perasaan suaminya.
“Oh ya? Jadi, kau mau ke mana? Mumpung aku belum pesan tiket dan booking hotel nih.”
Sejenak Izzah tampak berpikir. Mengingat-ingat beberapa pulau yang tak kalah indah dari Maldives.
“Hem … bagaimana kalau ke Pulau Derawan saja,” usulnya.
Shin Seo Hyun pun segera melakukan pencarian di Google.
Setelah mengamati dan membaca beberapa artikel tentang pesona pulau Derawan, Shin Seo Hyun berseru riang.
“Oke. Kita ke sana. Pilihan cerdas,” ujarnya, mengelus kepala Izzah.
“Ayo berkemas!” ajaknya.
“Hah! Secepat itu?” seru Izzah kaget.
“Terus kapan? Tahun depan? Sudah keburu punya anak kali …,” goda Shin Seo Hyun. Membuat pipi Izzah merona.
Menjalani rumah tangga tak ubahnya bagai berlayar di tengah lautan kehidupan demi mencapai pulau impian yang bernama kebahagiaan. Dihiasi bunga-bunga kasih sayang dan bernaung di bawah teduhnya pondok cinta dengan tiang-tiang kejujuran, kesetiaan, saling pengertian dan kepercayaan yang terpancang kokoh di atas pondasi keimanan, berbalut kesadaran akan rasa tanggung jawab bersama.
Izzah berdiri berpangku tangan, menikmati keindahan mentari senja dari rumah panggung yang disewa suaminya selama beberapa hari ke depan. Sinar matahari memantul keemasan di permukaan air laut yang jernih, tampak indah dan membuat jiwa terlena dibuai atmosfer bahari pulau Derawan.
Shin Seo Hyun datang menghampiri Izzah dan memeluknya dari belakang. Menikmati detik-detik matahari senja kembali keperaduannya, dipeluk malam. Dalam hening, Shin Seo Hyun dan Izzah mengukir sepenggal kisah roman di permulaan catatan kehidupan yang akan dibukukan dan dibaca ulang ketika prahara datang tanpa diundang. Menjadi perekat hati dikala letih. Sebagai pelipur lara di usia renta, ketika anak cucu berlalu setelah restu.
“Sangat indah!” desis Izzah, memuji pesona senja.
“Terima kasih telah menjadi bagian dari keindahan itu,” bisiknya seraya mencium pipi kiri Izzah
Satu jam kemudian, Izzah merasa hidup bak seorang putri raja. Makan malam romantis telah terhidang di atas meja. Wangi aroma mawar dan lavender yang terpancar dari lilin-lilin indah sungguh menenangkan jiwa.
Duduk di kursi yang disiapkan Shin Seo Hyun untuknya, Izzah termangu melototi lobster jumbo di tengah meja. Shin Seo Hyun yang baru saja mengenyakkan pantatnya mengernyitkan alis ketika melihat Izzah belum menyentuh makanannya.
“Kenapa? Kau tak suka lobster?” tanyanya, menyesali diri karena tak meminta pendapat Izzah sebelum memesan makanan.
“Oh! Tidak. Bukan itu. Lobsternya besar sekali. Aku bingung gimana cara makannya,” sahut Izzah agak malu. Terus terang ia belum pernah melihat lobster sebesar itu.
Shin Seo Hyun tersenyum tipis. Disuwirnya lobster itu dengan jari-jarinya dan disuapkan ke mulut Izzah.
“Wow … enak banget!” seru Izzah, takjub akan cita rasa khas pulau Derawan.
Sedetik kemudian ia pun mengikuti cara Shin Seo Hyun menikmati lobster itu. Membuat senyum Shin Seo Hyun kian lebar.
“Tunggu!” cegah Shin Seo Hyun saat Izzah hendak minum
“Huh?” Sontak Izzah menurunkan gelasnya.
Shin Seo Hyun berdiri membungkukkan badan dan mendekatkan mukanya ke wajah Izzah. Lalu, secepat kilat ia menyapu bibir istrinya yang berlepotan saus itu dengan bibirnya sebelum Izzah menyadari apa yang akan dilakukan suaminya.
Izzah hanya melongo saat menyaksikan Shin Seo Hyun kembali duduk dengan santainya.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Izzah lugu
“Menambah cita rasa masakan,” sahutnya sambil menyuap. Pancaran matanya tersenyum geli menatap ekspresi polos Izzah.
Selanjutnya, Shin Seo Hyun dan Izzah menghabiskan makan malam itu dengan saling suap dan canda tawa. Sesekali Izzah mengerjai suaminya dengan menarik kembali makanan yang akan disuapkan ke mulut sang suami. Namun, gerakannya kalah cepat dengan sambaran tangan Shin Seo Hyun.
Shin Seo Hyun menahan pergelangan tangan Izzah dengan tangan kekarnya. Mengambil makanan di ujung jari istrinya dengan gigi, lalu menyuapkan ke mulut sang istri seraya mengecup bibirnya saat makanan itu sudah berpindah ke mulut Izzah. Kala mata mereka saling bertemu, Izzah merasa jantungnya berdetak kencang.
Lagi-lagi ia dibuat terperangah oleh ulah suaminya. Tak menyangka Shin Seo Hyun akan melakukan hal-hal segila itu.
Selesai makan malam, Shin Seo Hyun dan Izzah duduk santai di teras. Menatap bebas ke laut lepas. Merasakan belaian lembut angin laut. Temaram sinar rembulan melahirkan bias kebiruan di permukaan air laut. Purnama sempurna yang bercermin muka pada air sebening kaca itu seakan menari-nari bersama riak kecil yang terlahir dari embusan angin.
Semakin kuat hawa dingin menusuk tulang, kian kencang lengan Shin Seo Hyun melingkar di pundak Izzah. Tak ada yang bicara. Hanya raga yang makin merapat, menyampaikan rasa dalam sunyi.
Izzah bersandar manja di bahu Shin Seo Hyun. Menikmati elusan dan kecupan sang suami. Mencoba membuka hati akan hadirnya cinta suci.
“Ada apa?” tanya Shin Seo Hyun ketika Izzah menengadah memandangnya tak berkedip.
“Terima kasih telah mencintaiku,” bisiknya seraya melayangkan ciuman ringan di pipi Shin Seo Hyun.
Shin Seo Hyun tersenyum dan mempererat pelukannya.
“Terima kasih juga telah memberiku kesempatan untuk terus mencintaimu,” balasnya, lalu mengecup kilas kening Izzah.
Bulan yang menggantung di langit malam menjadi saksi bisu akan hadirnya benih cinta yang mulai tumbuh di hati Izzah.
***