
“Zaaah … sini!” panggil Kang So Ra, melambaikan tangan saat Izzah melintasi meja bagian informasi.
Izzah menghampiri Kang So Ra setelah meletakkan rekam medik pasien yang baru saja diperiksanya.
“Ada apa? Sekarang kan belum waktunya makan siang,” tanya Izzah, melirik jam di tangannya.
“Yeee … yang mau ngajak makan siang juga siapa,” bantah Kang So Ra.
“Lah … terus ngapain manggil? Mau ngajak ngobrol? Mentang-mentang pasien lagi sepi. Entar dimarahin dokter senior baru tahu rasa,” cerocos Izzah.
“Isshh … dengerin dulu kenapa. Nyerocos terus,” protes Kang So Ra.
“Iya, iya. Sorry. Cepetan ngomongnya,” sahut Izzah sambil menarik kursi dan duduk di hadapan Kang So Ra.
Kang So Ra mencondongkan badannya ke arah Izzah, seolah apa yang akan dibicarakannya bersifat sangat rahasia.
“Dengar-dengar bakal ada program bakti sosial sebentar lagi. Mau ikut, enggak?” tanya Kang So Ra setengah berbisik.
“Ya ampun. Kirain apa. Semua orang juga sudah tahu kali,” sahut Izzah.
“Masa sih?” Kang So Ra tak percaya.
Izzah menunjuk ke sekelompok dokter yang berjalan beriringan dengan dagunya. Spontan Kang So Ra menepuk keningnya.
“Dokter Izzah, Kang So Ra. Ayo ke ruang pertemuan sekarang!” panggil Lee Kwan Gi.
Izzah dan Kang So Ra bergegas menggabungkan diri.
Di ruang pertemuan, Lee Kwan Gi menjabarkan rencana dan program kerja kegiatan bakti sosial yang akan dilaksanakan.
“Nah, itu tadi agenda yang akan kita jalankan, tapi … tidak semua yang ada di ruangan ini akan terlibat secara langsung dengan kegiatan bakti sosial tersebut. Kita hanya akan mengirimkan empat dokter dan empat perawat secara berpasangan,” tegas Lee Kwan Gi, mengundang rasa kecewa dan bisik-bisik sebagian besar dokter dan
perawat yang duduk di ruang itu.
“Yang bersedia ikut, harap acungkan tangan!” sambungnya lagi.
Beberapa dokter dan perawat segera mengangkat tangan, termasuk Kang So Ra.
“Kamu tidak mau ikut, Zah?” tanya Kang So Ra. Ia heran melihat Izzah hanya diam saja.
“Dokter Izzah akan berpasangan denganku.”
Tiba-tiba sebuah suara terdengar dari pintu masuk, mengagetkan orang-orang yang ada di ruangan itu. Serentak mereka menoleh ke arah sumber suara.
“Pak Direktur?” pekik dokter dan perawat perempuan yang notabene masih berstatus jomlo. Sementara dokter dan perawat laki-laki berbisik-bisik saat Shin Seo Hyun berjalan melewati mereka.
Mereka tak menyangka Shin Seo Hyun bakal melibatkan diri secara langsung pada acara bakti sosial itu. Tak sedikit dari dokter dan perawat itu yang mempertanyakan niat sang direktur.
Kemunculannya yang tak terduga dan langsung mendeklarasikan pasangan kerjanya sungguh sebuah keaenehan yang membuat kening berkerut dan mengundang tanya. Apa sekarang Direktur Shin sudah berubah? Begitu pemikiran yang muncul di benak para karyawannya.
Selama ini Shin Seo Hyun terkenal sebagai dokter yang selalu menghindari bekerja secara berpasangan dengan seorang wanita. Kenapa sekarang malah dia sendiri yang menentukan dan memutuskan pasangannya. Apa matahari sudah terbit dari Barat?
Berbeda dengan seluruh yang hadir di ruangan itu, Lee Kwan Gi tersenyum ramah menyambut kedatangan Shin Seo Hyun. Ia mempersilakan lelaki itu untuk naik ke atas panggung dan berdiri di mimbar.
Setelah kata sambutan singkat dari sang direktur, rapat itu pun dibubarkan.
***
Sebuah ambulans sudah standby di pelataran parkir rumah sakit. Beberapa petugas medis tampak sibuk mempersiapkan perlengkapan dan obat-obatan yang akan dibawa, lalu menatanya di dalam mobil.
Bakti sosial itu juga melibatkan beberapa mahasiswa jurusan Gizi yang bertugas menyediakan makanan sehat bagi penduduk yang akan mereka datangi.
Begitu semua persiapan selesai, satu per satu petugas medis yang akan berangkat memasuki ambulans.
“Dokter Izzah, sini!” panggil Shin Seo Hyun saat Izzah baru saja hendak mengangkat kaki menaiki ambulans itu.
Izzah menoleh. Sejenak ia bimbang. Tak enak hati dengan rekan-rekan yang lain.
“Silakan berangkat! Tinggalkan Dokter Izzah! Dia akan ke sana bersamaku,” ujar Shin Seo Hyun memberi perintah kepada petugas lain yang terlihat masih setia menunggu Izzah.
Dalam sekejap, ambulans itu pun melaju meninggalkan asap putih tipis, membuat Izzah terbatuk. Perlahan ia melangkahkan kaki menuju mobil sang direktur.
Begitu Izzah mengenyakkan pantat, Shin Seo Hyun langsung mengoper gigi persneling dan menginjak gas, menyusul ambulans di depannya.
“Kenapa kau memilihku menjadi pasanganmu? Bukankah banyak dokter lain yang lebih senior dariku?” tanya Izzah blak-blakan atas keputusan Shin Seo Hyun di saat ia sendiri merasa ragu untuk mengikuti kegiatan itu.
Shin Seo Hyun tersenyum. “Apa itu penting?”
“Aku hanya penasaran. Selama ini kudengar Anda tidak pernah terjun langsung ke lapangan saat kegiatan bakti sosial. Lalu, kenapa tiba-tiba sekarang jadi tertarik?” Sekilas Izzah melirik Shin Seo Hyun.
Shin Seo Hyun tidak langsung menjawab. Ingatannya kembali ke saat-saat menjelang rapat.
Di lorong rumah sakit yang sepi, dua dokter tampan sedang berjalan sambil membahas agenda kegiatan bakti sosial.
“Kali ini pasti lebih seru,” ujar dokter yang berjalan di sisi kiri.
“Betul. Akan kupastikan Dokter Izzah ikut dan menjadi pasanganku,” sahut dokter yang berjalan di sisi kanan.
“Enak saja. Akan kubuat Dokter Izzah memilihku,” sergah dokter pertama sambil memukul kepala rekannya dengan gulungan kertas yang dipegangnya.
“Aish … sakit tahu!” Dokter kedua itu pun membalas perlakuan rekannya dengan mengunci tengkuk dokter itu dengan kedua tangannya.
Mendengar perselisihan kecil dua dokter muda yang saling memperebutkan Izzah, Shin Seo Hyun yang baru saja keluar dari lift menjadi naik darah. Ia yang semula akan keluar menemui rekannya langsung mengeluarkan ponselnya, menjadwal ulang waktu pertemuan, lalu berbelok ke ruang rapat.
“Hahaha .…” Shin Seo Hyun tertawa kecil. Mengulur waktu, mencari alasan yang tepat. Ia tahu, Izzah tak akan percaya begitu saja dengan ucapannya.
“Kau memang selalu berterus terang. Aku suka itu,” puji Shin Seo Hyun, masih mengulur waktu.
Izzah mendengus, mulai kesal. Ia tidak pernah tahu apa yang ada di pikiran bosnya itu.
Shin Seo Hyun melirik Izzah dengan sudut matanya. Melihat roman muka Izzah yang tertekuk, ia tersenyum tipis. Entah kenapa ia selalu suka melihat ekspresi Izzah saat kesal atau marah. Bibir mungilnya yang mengerucut terlihat seksi. Mata bundarnya yang membulat tampak sangat menggemaskan. Ingin rasanya Shin Seo Hyun mengecup semua itu.
“Aku hanya ingin membantumu. Kulihat kau agak bingung dan tak kunjung bersuara. Apa itu salah?” Akhirnya Shin Seo Hyun menjawab juga pertanyaan Izzah.
“Oh .…” Izzah cuma ber-oh, membuat hati Shin Seo Hyun makin kebat-kebit.
Tiba-tiba Shin Seo Hyun termangu, teringat rencana pernikahan Izzah yang sudah di depan mata.
***