
Selesai sarapan pagi, Shin Seo Hyun duduk di ruang tengah. Ia membuka tablet, lalu mengecek email dan lampiran berkas-berkas yang belum sempat dibacanya kemarin malam.
Shin Seo Hyun tidak berniat untuk berangkat kerja hari ini. Ia ingin menghabiskan waktu seharian penuh bersama Ha Na dan Izzah. Menciptakan ribuan momen indah yang akan dikenangnya sepanjang masa.
Sejuta kisah kirana yang akan membuat hari-harinya menjadi lebih berwarna bak jembatan pelangi membentang indah pada langit senja.
Tanpa sadar, Shin Seo Hyun senyum-senyum sendiri. Membayangkan sekuntum bahagia yang akan segera mekar di dalam hatinya.
Di dapur, Izzah masih sibuk membersihkan perkakas makan yang tadi mereka gunakan. Sesekali disekanya keringat yang menetes di keningnya dengan lengan baju. Kelelahan yang disebabkan mimpi buruknya kemarin malam masih membekas. Membuat konsentrasi kerjanya terganggu.
PRAANG!
Tiba-tiba saja gelas yang dipegang Izzah terjatuh, menimpa tumpukan piring di bawahnya.
Mendengar suara berisik itu, sontak Shin Seo Hyun meletakkan tabletnya dan tergopoh-gopoh berlari menuju dapur.
“Astagfirullah!” Izzah kaget dan cepat-cepat mengecek gelas yang baru saja dijatuhkannya. Sedetik kemudian, ia menarik napas lega karena tak ada satu pun yang pecah.
Dalam waktu bersamaan Shin Seo Hyun tiba dan berdiri di samping Izzah.
“Kau tidak apa-apa? Ada yang luka?” tanya Shin Seo Hyun cemas, memperhatikan tangan Izzah seraya melirik tumpukan pecah belah dalam wastafel.
Izzah menoleh dan tertegun melihat bias kekhawatiran di wajah Shin Seo Hyun.
“Aku … baik-baik saja. Maaf, sudah mengagetkan, Mas Dirga,” sahut Izzah terbata-bata.
“Syukurlah kalau begitu. Pergilah temani Ha Na! Biar aku yang melanjutkannya,” ujar Shin Seo Hyun lembut.
“Tidak usah, Mas. Aku masih bisa menyelesaikannya,” sahut Izzah bersikeras.
Shin Seo Hyun baru saja akan membuka mulut ketika Ha Na tiba-tiba muncul, lalu menarik tangannya dan tangan Izzah.
“Uncle, Aunty … sini! Ikut aku!” ajak Ha Na, menyeret Shin Seo Hyun dan Izzah.
Tanpa kata, Shin Seo Hyun dan Izzah pun mengikuti Ha Na. Gadis mungil itu membawa mereka ke taman belakang, membuat Shin Seo Hyun dan Izzah saling pandang dengan alis terangkat.
“Uncle, Aunty … lihat!” ujar Ha Na, menunjuk taman.
Shin Seo Hyun terperangah menyaksikan keindahan bunga-bunga yang bermekaran di tamannya.
“Luar biasa! Kekuatan gadis aneh itu sangat menakjubkan. Bagaimana bisa dia mengubah taman yang hampir mati menjadi indah begini?” seru hati Shin Seo Hyun takjub. Sementara Izzah juga melongo, tak percaya dengan hasil kerjanya sendiri.
“Ayo Uncle, Aunty!” teriak Ha Na, berdiri di jalur sepeda sambil melambaikan kedua tangan mungilnya. Memanggil Shin Seo Hyun dan Izzah yang masih berdiri mematung di teras.
Shin Seo Hyun dan Izzah melangkah pelan pada sisi yang berbeda, seolah tak ingin ada satu tanaman pun yang terlewatkan dari pengamatan mereka. Lalu, tanpa sengaja tatapan Shin Seo Hyun dan Izzah kembali bertemu saat mereka sama-sama memutar tubuh.
DEG! DEG! DEG!
Keterpakuan Shin Seo Hyun dan Izzah terputus saat Ha Na berlari menjemput mereka dan menggamit lengan Izzah. Izzah mengikuti langkah pendek Ha Na didampingi Shin Seo Hyun dengan pipi yang terasa hangat, sehangat cahaya mentari pagi itu.
Langkah kecil Ha Na berhenti di sudut taman yang tersembunyi di balik gazebo. Shin Seo Hyun dan Izzah berdiri mengapit Ha Na.
“Aunty, di sini kenapa bunga dan rumputnya mati?” tanya Ha Na polos. Ia menoleh ke setiap sudut taman.
“Yang lain cantik …,” protes Ha Na heran.
Izzah dan Shin Seo Hyun mengedarkan pandangan berkeliling. Ha Na menarik tangan Shin Seo Hyun, membuat laki-laki itu tiba-tiba merunduk melihat Ha Na.
“Uncle, taman jeleknya kok jadi cantik lagi?” Ha Na yang tak tahu apa-apa merasa sangat penasaran dengan perubahan taman itu.
“Ha Na percaya keajaiban?” sahut Shin Seo Hyun tersenyum. Ia bingung bagaimana harus menjelaskan kepada gadis kecil itu. Ha Na mengangguk.
“Begitulah … Allah bisa berbuat apa pun yang diinginkan-Nya,” lanjut Shin Seo Hyun, berusaha memberi pengertian sesuai usia Ha Na.
“Tapi … kenapa Allah tidak menghidupkan yang itu?” protes Ha Na sambil menunjuk bunga dan rerumputan kering di depannya.
“Ha Na mau Allah juga mengubah bunga-bunga itu jadi cantik?” tanya Izzah lembut. Lagi-lagi Ha Na cuma mengangguk.
“Kalau begitu, ayo bantu Aunty menyiramnya,” ajak Izzah, lalu beranjak mencari selang air.
Namun, ia kalah cepat dari Shin Seo Hyun. Lelaki itu tahu-tahu sudah datang membawa dua selang di tangannya dan menyerahkan salah satunya kepada Izzah.
Ha Na senang sekali bisa bermain air dari selang yang dipegang Izzah. Ia tertawa-tawa dan menari-nari seolah-olah sedang berada di bawah guyuran hujan deras. Shin Seo Hyun tersenyum geli melihat tingkah centil Ha Na.
Puas mandi hujan buatan, Ha Na berlari mendekati pot-pot bunga yang berjajar. Ia berjongkok mengamati bunga yang ada di pot itu, seakan tengah menanti bunga-bunga itu bermekaran.
Saat Izzah memutar tubuhnya untuk menyiram rerumputan, ia terpana menatap pohon besar yang berdiri kokoh di ujung taman itu. Sekilas ia melihat pendar cahaya merembes dari batang pohon itu.
“Aisshh!” pekik Shin Seo Hyun kaget ketika air dari selang yang dipegang Izzah memandikannya. Dilihatnya Izzah berdiri mematung. Tanpa sadar ia pun mengikuti pandangan Izzah.
Tiba-tiba Izzah kembali teringat lukisan pohon di kamar rahasia ayahnya. Diperhatikannya pohon itu dengan lebih saksama. Alisnya terangkat saat menyadari pohon yang diamatinya itu sangat mirip dengan lukisan yang pernah dilihatnya.
“Mungkihkah itu gerbang keempat yang selama ini dicarinya?” batin Izzah bertanya-tanya.
Izzah mengongak menatap langit di kejauhan. Tampak bulan memudar di ujung sana, setengah bersembunyi di balik pohon besar itu. Pertanda purnama baru saja berlalu. Sontak mata Izzah berkilat. Sebuah benih harap mulai bersemi di hatinya karena cahaya yang memancar dari pohon itu. Tanpa sadar Izzah mengumbar senyum. Membuat Shin Seo Hyun yang kebetulan meliriknya ikut tersenyum.
Tiba-tiba .…
Shin Seo Hyun mengarahkan selang yang dipegangnya kepada Izzah, membuat gadis itu berteriak kaget. Izzah mengusap wajahnya dan balas menyerang Shin Seo Hyun dengan sengit.
Teriakan Izzah mencuri perhatian Ha Na. Gadis kecil itu menoleh dan langsung berlari mendekati Shin Seo Hyun dan Izzah. Ikut mandi air di posisi tengah. Sesekali Shin Seo Hyun mengangkat tubuh mungil Ha Na dan menari berputar di tengah guyuran hujan dari selang yang dipegang Izzah. Pagi itu, mereka benar-benar bahagia dalam canda dan gelak tawa.
***