A Thousand Flowers

A Thousand Flowers
Chapter 88. Melepaskan



“Rasanya seperti habis perang saat lagi puasa,” ujar Abbas berandai-andai.


"Ya. benar-benar lelah jiwa,” timpal Dimas, melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya.


Naimah datang membawakan minuman dingin dan meletakkannya di atas meja. Secepat kilat Dimas dan Abbas menyambarnya.


“Lo … Tuan Shin ke mana?” tanya Dimas begitu menyadari Shin Seo Hyun dan Izzah tak lagi duduk bersama mereka saat gelas yang dipegangnya sudah kosong dan diletakkan di atas meja.


Abbas hanya mengangkat bahu. Membiarkan Dimas bergelut dengan rasa penasarannya.


“Aaaakh … nyaris saja jantungku copot saking cemasnya,” ujar Izzah sambil menghempaskan tubuhnya telentang di atas ranjang. Shin Seo Hyun mengikuti jejak Izzah.


“Jujur, aku tak paham,” ujar Shin Seo Hyun, berbaring miring menghadap Izzah.


“Ceritanya panjang, tapi sekarang semua sudah berakhir. Kehidupan di sini akan kembali normal,” sahut Izzah datar seraya mengacak rambut suaminya.


Shin Seo Hyun menangkap tangan Izzah dan mengecup telapaknya.


TOK! TOK!


Terdengar suara ketukan, memaksa Izzah bangkit dan beranjak menuju pintu.


“Ayah?”


Izzah kaget melihat Ki Daud berdiri di depannya begitu pintu terbuka.


“Ini. Ambillah!” ujar Ki Daud, menyerahkan sebuah kunci.


“Kunci apa ini, Yah?” tanya Izzah, menerima kunci tersebut dengan ragu-ragu.


“Kurasa suamimu ingin jalan-jalan. Pakailah mobil yang ada di garasi!” sahut Ki Daud sambil melirik Shin Seo Hyun yang sudah berdiri di samping Izzah.


Selesai berkata begitu, Ki Daud meninggalkan anak dan menantunya, saling tatap tak percaya.


“Ayahmu sungguh pengertian,” bisik Shin Seo Hyun di telinga Izzah.


“Ayo kita pergi!” ajaknya.


Sejurus kemudian mereka sudah berganti pakaian dan turun ke bawah.


Dimas yang masih duduk dan berbicara dengan Ki Daud di ruang tengah mengangkat alis saat melihat Shin Seo Hyun turun bersama Izzah.


NYUT!


Hatinya terasa perih menyaksikan kedekatan Shin Seo Hyun dan Izzah. Abbas yang duduk di samping Dimas hanya menahan napas melihat tatapan cemburu terpancar jelas di mata sahabatnya itu.


***


Kisah dan hikmah seperti dua sisi koin yang bertolak belakang. Namun, saling membutuhkan dan tak terpisahkan. Begitu juga lika-liku hidup Izzah. Kesabaran dan ketabahan telah membuat hari-hari lalu beralih rupa, dari butiran debu yang selalu dihina jadi permata mulia yang dipuja dan dijaga. Dari sepi dan hampa, jadi canda dan gelak tawa.


Obrolan di meja makan itu benar-benar terasa seperti keluarga.


“Jadi, kau juga relasi bisnis anakku Dimas?” tanya Tuan Prasetyo, menatap Shin Seo Hyun dengan kehangatan seorang ayah.


“Iya, Paman. Tapi maaf, kalau aku tidak pernah tahu tentang hubungan baik keluarga kita,” sahut Shin Seo Hyun, sedikit canggung.


“Tidak apa-apa. Kalian generasi muda bagaimana bisa tahu kalau tak ada yang menceritakannya,” jawab Tuan Prasetyo santai.


“Justru kami sangat berterima kasih karena berkat kehadiranmu di negeri ini, kami semua bisa bebas berinteraksi dengan dunia luar,” lanjutnya lagi.


“Ah, aku tidak melakukan apa-apa, Paman. Mungkin memang sudah ditakdirkan begitu,” sahut Shin Seo Hyun merendah.


“Ngomong-ngomong, apa kau sudah menikah?” tanya Nyonya Prasetyo ikut nimbrung.


“Mama?” tegur Dimas, melirik mamanya. Ia merasa sungkan mamanya menanyakan hal pribadi kepada Shin Seo Hyun


“Huh? Sejak kapan?” batin Dimas kaget.


Diperhatikannya wajah Shin Seo Hyun lekat, tetapi ia terlalu malu untuk bertanya setelah tadi sempat memprotes mamanya.


“Oh ya? Kalau begitu, kapan-kapan kenalin ke Tante ya …,” pinta Nyonya Prasetyo.


Shin Seo Hyun tersenyum melirik Izzah, seolah minta pendapat. Izzah menggangguk ringan.


“Iya, Tante. Orangnya sudah di sini kok,” jawab Shin Seo Hyun sopan, lagi-lagi melirik Izzah.


Nyonya Prasetyo memperhatikan lirikan Shin Seo Hyun.


“Maksudmu Izzah?” tanyanya, tak percaya.


“Iya, Tante,” sahut Shin Seo Hyun mantap.


Di bawah meja, kaki Izzah menendang pelan kaki Shin Seo Hyun. Yang ditendang pura-pura tidak tahu dan tetap meneruskan makannya.


UHUK! UHUK!


Dimas terbatuk dan buru-buru menjangkau gelas minumnya, membuat Tuan dan Nyonya Prasetyo menautkan alis.


“Kenapa kamu, Mas?” tanya Nyonya Prasetyo, menepuk pundak anaknya pelan.


Dimas masih gelagapan, lalu pamit meninggalkan meja makan dengan kode tangan.


“Ya ampuun … hubungan keluarga jadi tambah dekat. Selamat ya!” ujar Nyonya Prasetyo, ikut senang dengan pernikahan Izzah dan Shin Seo Hyun.


“Padahal Tante sempat berharap Izzah bakal jadi menantu Tante lo ...,” sambungnya menggoda, membuat Izzah terbatuk.


Shin Seo Hyun hanya melempar senyum dengan kilatan mata yang sulit dimengerti.


Tuan Prasetyo cuma manggut-manggut karena kehilangan kesempatan bicara jika istrinya sudah ikut bersuara.


Selesai makan, Shin Seo Hyun dan Izzah pamit untuk menikmati keindahan Negeri Seribu Bunga sebelum pulang.


Melepaskan orang yang dicintai memang sulit. Tetapi jika memang hanya itu pilihan yang tersisa, demi kebahagiaan kekasih hati, sejatinya itulah yang seharusnya dilakukan, karena cinta ialah rasa hati yang berlabuh tanpa permisi dan tak tahu kapan akan pergi.


Dari balik jendela kamarnya, Dimas melepas kepergian Izzah dengan mata berkaca-kaca. Ada lara yang tak terkata. Bunga cinta yang telah dipupuknya sejak pertemuan pertama layu sudah sebelum berkembang.


Kilas balik peristiwa kecil tentang Izzah menari-nari di depan matanya. Kegelisahan yang memengaruhi kinerjanya saat rapat di kantor Shin Seo Hyun karena bayangan Izzah berkurung di kantor bosnya itu, juga ketidaksetujuan Shin Seo Hyun atas pertemuannya dengan Izzah di kantin. Aksi Shin Seo Hyun yang diam-diam curi-curi kesempatan menggenggam tangan Izzah di ruang rahasia Ki Daud hingga saat di mana dengan santainya Shin Seo Hyun turun tangga bersama Izzah. Semua itu sudah cukup jelas mendeklarasikan hubungan Shin Seo Hyun dan Izzah.


“Mengapa aku begitu bodoh?” sesal Dimas, menyadari betapa tidak pekanya ia membaca situasi. Disekanya air matanya setelah Izzah menghilang dari pandangan.


***


Menjelang sore, Shin Seo Hyun dan Izzah berjalan bergandengan tangan menyusuri bibir pantai dengan hamparan pasir putih yang halus dan lembut. Menikmati belaian ombak di ujung kaki dan merasakan hangatnya cahaya mentari yang tak begitu terik menyentuh kulit disertai indahnya tarian camar menghias cakrawala.


“Izzah, mencintaimu mengajariku arti sebuah keberanian, kesabaran dan juga pengorbanan,” ujar Shin Seo Hyun, menggenggam erat kedua tangan istrinya.


Izzah tak menanggapi, hanya menatap lekat mata suaminya.


“Karena dirimu aku telah melakukan hal-hal yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya,” lanjutnya lagi. Masih tak ada jawaban,


“Jadi, tetaplah di sisiku. Selama waktu terus berputar, selama itu pula cintaku padamu akan terus bertumbuh,” sambungnya, bersungguh-sungguh.


Tak ada kata yang keluar dari bibir Izzah untuk membalas ucapan Shin Seo Hyun. Namun, rasa haru yang menghinggapi hatinya membuatnya melingkarkan kedua lengan di leher Shin Seo Hyun, seolah menggantung harap bahwa semua yang didengarnya itu benar-benar akan menjadi nyata.


Matanya tak berkedip menyelami kepekatan cinta di kedua bola mata suaminya itu hingga tiba saatnya Shin Seo Hyun memberikan ciuman terdalam di bibir lembutnya. Disaksikan debur ombak, angin laut, dan buncah buih yang mengambang, saling berkejaran menyapu bibir pantai.


***