
Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan malam saat Izzah melirik arloji di tangannya. Cuaca makin dingin sampai-sampai kabut putih mengepul tebal setiap kali ia mengembuskan napas.
Dengan langkah gontai Izzah masuk ke rumahnya. Shin Seo Hyun yang sedari tadi menanti jawaban Izzah mengikuti langkah Izzah dari belakang.
Izzah mengedarkan pandangan ke setiap sudut rumah yang sudah seminggu lebih tak disinggahinya. Terlihat tumpukan di sana sini, tetapi ia tak memiliki tenaga untuk membersihkannya.
Hatinya terlalu lelah sehingga seluruh tenaganya sekan menguap entah ke mana dan tak ada lagi yang tersisa. Andai tak ada Shin Seo Hyun, ingin rasanya ia merebahkan diri di atas kasur tipis yang sudah terbentang.
“Tunggulah di luar sebentar! Aku akan membersihkannya untukmu,” ujar Shin Seo Hyun, seolah bisa membaca pikiran Izzah.
Sekilas Izzah menoleh pada Shin Seo Hyun, lalu kembali keluar menuruti perintahnya.
Secepat kilat Shin Seo Hyun membersihkan setiap sudut rumah Izzah. Tangannya sangat terampil mengibas, mengelap dan menata kembali barang-barang yang digesernya.
Shin Seo Hyun tersenyum puas melihat hasil kerjanya. Lebih-lebih setelah membentangkan lagi kasur tipis untuk Izzah.
Saat Izzah masuk karena tidak kuat menahan dinginnya angin malam di pengujung musim gugur, ia terperangah. Sungguh ia mengagumi kecekatan Shin Seo Hyun yang mampu membuat rumahnya kembali kinclong dalam waktu sesingkat itu.
“Terima kasih,” ucap Izzah datar, tanpa senyum di wajahnya.
“Tidurlah kalau kau lelah!” ujar Shin Seo Hyun sambil menepuk kasur yang didudukinya.
“Huh?” Kening Izzah berkerut.
“Ah, maaf,” sahut Shin Seo Hyun, menyadari kecanggungan Izzah.
Cepat-cepat ia berdiri. Tak urung tingkah Shin Seo Hyun yang terlihat agak kikuk itu membuat Izzah tersenyum tipis.
“Tidak apa-apa. Duduklah! Aku masih punya kasur yang lain,” tukas Izzah seraya membuka pintu lemarinya.
Mendengar jawaban Izzah, Shin Seo Hyun pun kembali duduk.
Selama beberapa saat Izzah termangu menatap lemarinya yang kosong. Hanya ada selembar baju jas tergantung. Izzah mengingat-ingat. Itu adalah baju yang diselimutkan oleh seseorang saat ia tertidur di ruang istirahat tenaga medis.
Dikeluarkannya baju jas itu dan diliriknya Shin Seo Hyun yang duduk bersandar di atas kasurnya.
“Mungkinkah ini punya Direktur Shin?” batin Izzah.
Ia menatap lekat pada Shin Seo Hyun yang memejamkan kedua matanya.
Seakan bisa merasakan tatapan Izzah, tiba-tiba Shin Seo Hyun membuka matanya. Membuat Izzah terkesiap dan buru-buru berpaling muka.
“Ada apa?” tanya Shin Seo Hyun. Ia mengernyit saat melihat Izzah sedikit gugup.
“Oh … ini … aku baru ingat. Apa baju ini milik Mas Dirga?” tanya Izzah, memperlihatkan baju yang dipegangnya.
Shin Seo Hyun berdiri dan mendekati Izzah, lalu mengambil baju dari tangan gadis itu. Setelah memperhatikan beberapa saat, ia menyahut.
“Iya. Biarkan saja di sini! Aku sengaja meninggalkannya saat mengambil pakaianmu.”
“Kenapa begitu? Aku sudah tidak membutuhkannya. Mas boleh mengambilnya kembali. Dan … terima kasih telah meminjamkannya padaku,” sahut Izzah dengan nada terdengar sedih.
“Ceritakan padaku jika kau punya masalah!” ujar Shin Seo Hyun, menatap Izzah setelah memasukkan kembali baju itu ke dalam lemari.
“Kau bohong! Aku bisa merasakan saat ini kau sedang bingung dan sedih. Berbagilah! Dengan begitu, beban berat di pundakmu akan terasa lebih ringan. Apa kau tidak percaya padaku?” cecar Shin Seo Hyun dengan nada lembut, seakan benar-benar bisa merasakan kegalauan Izzah.
Izzah memberanikan diri mengangkat wajahnya dan menatap lekat mata lelaki yang berdiri di hadapannya, menawarkan kelapangan hati untuk mendengar keluh kesahnya.
Lama Izzah menantang kedua bola mata Shin Seo Hyun. Tak sedikit pun kilat cemoohan tergambar di sana. Yang Izzah temukan hanyalah pancaran ketulusan yang hangat. Tiba-tiba saja Izzah merasa déjà vu. Ia seakan pernah melihat cahaya kelembutan di kedua bola mata itu sebelumnya.
Hati Izzah yang semula hampa, mendadak terasa hangat, seolah ia telah menemukan sesuatu yang selama ini hilang dari dirinya dan sangat dirindukannya.
Sejurus kemudian, Izzah tertunduk. Emosinya yang bertahun-tahun terpendam berangsur keluar dengan sendirinya. Perlahan ia mulai sesenggukan.
Melihat itu, dengan lembut Shin Seo Hyun memapah Izzah menuju kasur. Membiarkan Izzah duduk memeluk kedua lututnya. Shin Seo Hyun menenangkan Izzah dengan mengusap punggungnya. Sesekali dibelainya kepala gadis itu, seolah Izzah hanyalah seorang bocah.
Perlakuan Shin Seo Hyun mengingatkan Izzah pada seseorang. Izzah bangkit mengambil tasnya dan mengeluarkan sebuah boneka kecil. Shin Seo Hyun tetap duduk mengawasi Izzah. Matanya menyipit melihat boneka yang dipegang gadis itu.
Selang beberapa menit kemudian Izzah kembali menangis. Menelungkupkan kepalanya pada kedua lutut sambil terus menggenggam erat boneka kecil itu dengan kedua tangannya. Shin Seo Hyun bingung, tidak tahu harus bagaimana.
“Tidak apa-apa. Menangislah! Keluarkan semua beban yang mengimpit dadamu selama ini,” bujuk Shin Seo Hyun lembut.
Hatinya terenyuh. Ia tak menyangka gadis yang selama ini di luar tampak begitu tegar ternyata menyimpan penderitaannya sendiri. Dalamnya sangat rapuh. Saat Izzah menghentikan tangisnya, waktu sudah lewat dari satu jam. Shin Seo Hyun menyodorkan sapu tangannya.
Izzah menatap Shin Seo Hyun lekat. Pancaran matanya seakan ingin mengadu kepada Shin Seo Hyun. Shin Seo Hyun tersenyum manis.
“Apa yang harus kulakukan, Mas?” tanya Izzah dengan nada putus asa di ujung sedu sedannya.
“Ceritakan padaku agar aku bisa membantumu!” sahut Shin Seo Hyun penuh perhatian.
Sejenak Izzah ragu. Tetapi sorot mata itu, lagi-lagi mengingatkan Izzah pada seseorang. Sorot mata yang sama dengan sorot mata yang pernah membangkitkan semangat hidupnya. Sorot mata yang pernah menghalau nestapa dan kesedihannya.
“Aku akan menikah, Mas.”
Tiba-tiba saja kalimat itu meluncur dari bibir Izzah begitu saja. Kepalanya tertunduk.
Shin Seo Hyun berusaha tenang, menyembunyikan kekagetannya. Kilatan aneh memancar dari kedua bola matanya.
“Bukankah menikah itu menyempurnakan setengah agama?” sahut Shin Seo Hyun. Ia tak mengerti mengapa Izzah terlihat begitu sedih dengan rencana pernikahannya.
“Aku tahu, Mas, tapi ....” Izzah mengangkat kepalanya, meneliti ekspresi wajah lelaki yang duduk di hadapannya, seolah mencari bukti bahwa ia tidak salah pilih orang untuk berbagi duka.
Shin Seo Hyun menanti. Tatapannya hangat dan lembut. Membuat Izzah kembali angkat bicara.
“Aku takut.” Mata Izzah membiaskan kegelisahan. Membuat alis Shin Seo Hyun terangkat.
“Apa yang kau takutkan?” selidik Shin Seo Hyun hati-hati.
“Black Beach,” desis Izzah pelan.
“Black Beach?” Shin Seo Hyun makin tak mengerti.
“Ya. Aku takut pernikahanku akan menjelma seperti Black Beach di Malabo, Guinea Ekuatorial,” sahut Izzah dengan sorot mata benar-benar ketakutan. Membuat Shin Seo Hyun ternganga.
***