A Thousand Flowers

A Thousand Flowers
Chapter 16. Diagnosa Sementara



Selesai sarapan, Tuan dan Nyonya Prasetyo membawa Izzah ke kamar Tiara. Dimas dan Abbas juga ikut menemani.


Di dalam sebuah kamar yang luas dan elegan, seorang gadis terbaring lemah. Wajahnya tampak tirus dan pucat. Namun, kecantikannya masih terlihat jelas. Izzah yakin gadis itu adalah Tiara, kakak Dimas. Seorang wanita paruh baya baru saja selesai membersihkan tubuh Tiara.


Keluarga Dimas sangat prihatin melihat kondisi Tiara. Izzah mendekat.


“Sudah berapa lama Kak Tiara seperti ini, Tante?” tanya Izzah.


Ia memeriksa mata dan setiap ujung jari Tiara. Meraba nadi, mendengar serta menghitung detak jantung Tiara. Izzah melakukan semua itu secara manual karena tidak membawa peralatan medis bersamanya.


“Sejak dua bulan yang lalu,” jawab Nyonya Prasetyo


“Sudah dicek ke dokter?”


“Sudah. Saat itu kondisinya belum separah ini. Menurut dokter dia hanya stres dan kelelahan. Jadi, kami meminta ramuan herbal kepada Ki Daud.”


“Belum ada perubahan?" Izzah merasa ada yang janggal.


“Sempat membaik, tapi dua minggu ini dia bersikap agak aneh,” lanjut Nyonya Prasetyo. Nada bicaranya terdengar sedih.


“Maksud, Tante?” Izzah mencoba menggali riwayat penyakit Tiara lebih dalam.


Ia tidak ingin salah mendiagnosa, apalagi tanpa peralatan medis. Salah mengambil kesimpulan, nyawa Tiara taruhannya.


“Awalnya dia tampak senang, seolah tidak punya masalah,” jelas Nyonya Prasetyo.


“Tapi kemudian, dia sering merasa pusing dan muntah-muntah. Bahkan, beberapa hari ini dia seperti hilang kesadaran. Kami mengira dia hanya tertidur, tapi sulit sekali dibangunkan,” urainya lagi panjang lebar.


Izzah mendengarkan penjelasan Nyonya Prasetyo dengan sungguh-sungguh. Otaknya berpikir keras. Ia terus meneliti setiap mili ujung jari dan kuku-kuku Tiara dengan teliti.


Setelah selesai memeriksa Tiara, Izzah keluar dari kamar itu. Orang tua Dimas membawanya duduk di ruang keluarga. Izzah meminta orang tua Dimas untuk memperlihatkan obat-obatan yang pernah dikonsumsi Tiara, baik obat medis maupun herbal.


“Bi Ira, tolong ambilkan obat Tiara ya!” perintah Nyonya Prasetyo pada wanita yang biasa merawat Tiara. Bi Ira bergegas pergi.


“Menurutmu, Tiara sakit apa?” tanya Nyonya Prasetyo kepada Izzah, cemas dengan kondisi anaknya.


Izzah menghela napas. Ia harus menjawab dengan sangat hati-hati.


“Mohon maaf, Tante. Saya tidak berani menyimpulkan. Saya rasa akan lebih baik jika Kak Tiara dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut.”


Nyonya Prasetyo terlihat sedikit kecewa.


Tuan Prasetyo tersenyum kecil. Dalam hati ia berkata, “Gadis ini tidak gegabah dan sangat berhati-hati. Tidak salah Ki Daud memercayainya.”


Tidak lama kemudian wanita yang bertugas merawat Tiara datang membawa obat-obatan yang diminta Izzah. Izzah mulai memeriksa obat medis. Meneliti jenis dan tanggal kedaluwarsanya. Semua aman.


Izzah lalu mengambil obat-obatan herbal. Meski ia yakin Ki Daud tidak mungkin memberi sembarang obat, Izzah tetap memeriksanya. Selain membaca label, Izzah juga mencium aromanya. Sama. Semua aman. Tidak ada yang aneh.


“Lalu, apa yang salah?” tanya Izzah dalam hati.


Menurut hasil pemeriksaannya secara sederhana dan kasat mata, Tiara menunjukkan gejala keracunan. Jika bukan dari obat-obatan yang kedaluwarsa, lalu dari mana?


“Apa kak Tiara alergi makanan tertentu, Tante?” tanya Izzah setelah meletakkan kembali obat-obatan yang diperiksanya di atas meja.


Izzah semakin tak mengerti, tetapi ia tidak ingin menyerah. Pasti ada sesuatu yang salah. Ia yakin itu.


“Kalau begitu …  adakah makanan atau minuman tertentu yang dikonsumsi Kak Tiara akhir-akhir ini?" Izzah terus


menyelidik


Nyonya Prasetyo berpikir sejenak, lalu berujar, “Hanya teh tubruk. Apakah itu bermasalah? Tiara sangat menyukai teh tubruk.”


“Boleh saya lihat tehnya, Tante?” pinta Izzah.


Ia merasa ini kemungkinan terakhir. Jika salah, ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menyarankan orang tua Dimas untuk segera membawa Tiara ke rumah sakit.


Tidak lama kemudian, Bi Ira datang membawa teh yang Izzah minta. Izzah segera mengeluarkan sejumput teh hijau itu dan meletakkan di telapak tangannya. Diperhatikannya lembar daun teh yang sudah mengering itu. Terlihat sedikit aneh. Penasaran, Izzah lalu mencium baunya. Ia mengangguk mantap.


“Ada yang salah dengan tehnya?” tanya Nyonya Prasetyo setelah melihat ekspresi Izzah.


“Sepertinya begitu, Tante. Ada campuran lain dalam teh ini. Kurasa, itu yang menyebabkan Kak Tiara keracunan.” Jawaban Izzah membuat semua orang dalam ruangan itu kaget.


“Apa? Siapa yang tega dengan sengaja meracuni Tiara?” Tuan Prasetyo menggeram marah.


“Untuk memastikannya, sebaiknya tehnya dibawa ke laboratorium untuk diperiksa,” jawab Izzah tenang.


Abbas langsung keluar menghidupkan mobil. Dimas menyambar teh di atas meja, bergegas menyusul Abbas.


***


Ki Daud menatap lekat pohon besar di tepi danau Kembang Setaman, seperti menunggu sesuatu. Matanya tak berkedip. Entah sudah berapa lama ia berdiri di situ. Sesekali ia melirik jam yang melingkar di lengan kanannya, lalu kembali menatap pohon itu.


“Jika gadis itu memang benar anakmu, aku yakin kau akan membuka pintu ini, Rahmi. Aku menunggumu.” Ki Daud berkata pelan penuh harap.


Di sebuah ruangan sempit dan berdebu, seorang wanita paruh baya terlihat sibuk mencari sesuatu. Ia adalah Bunda Izzah. Matanya meneliti setiap sudut ruang itu dengan saksama. Membongkar setiap kotak yang ditemukannya. Beberapa kali ia menghempaskan napas kecewa karena tak menemukan apa yang ia cari.


Saat mulai lelah dan hampir putus asa, tiba-tiba ia melihat sebuah kotak kecil terimpit di sudut ruang itu. Bunda Izzah segera menyingkirkan benda-benda yang menjadi penghalang. Mengangkat kotak kecil itu dan membersihkan debu yang menutupinya. Lalu, ia keluar dari ruang itu tanpa merapikannya kembali.


Bunda Izzah mengunci pintu kamar, lalu duduk di tepi ranjang. Memangku kotak kecil yang dibawanya dari gudang. Sejenak ia tampak ragu. Namun, akhirnya ia memberanikan diri untuk membuka kotak itu.


Dengan gemetar, tangannya meraih selembar kertas usang berwarna putih kekuningan. Dibukanya lipatan kertas itu pelan-pelan. Tampaklah lukisan sebatang pohon besar di tepi sebuah danau yang dikelilingi bunga.


Bunda Izzah mendesah sambil memejamkan mata. Tiba-tiba bulir bening mengalir di kedua pipinya yang mulai keriput. Ia membuka mata perlahan. Jari-jari tuanya menyusuri tepian danau dalam lukisan. Selanjutnya, diraihnya seuntai kalung emas putih di tengah lipatan kertas.


Liontin kalung itu berbentuk bunga Rafflesia terbuat dari batu beryl merah dengan permata intan di bagian tengah.


Bunda Izzah menggenggam liontin itu dengan erat.


“Ya Allah, jika ini satu-satunya jalan yang harus kutempuh agar anakku bisa kembali, aku rela mengorbankan nyawaku, asal anakku selamat,” ratap Bunda Izzah pilu.


Air matanya semakin deras mengalir. Bunda Izzah membentangkan lukisan itu di lantai. Dengan hati-hati, diletakkannya liontin yang dipegangnya di tengah pokok pohon besar di tepi danau, dalam lukisan. Ia berdiri, menanti. Tiba-tiba muncul seberkas cahaya terang menyilaukan mata.


 


Bersambung …