A Thousand Flowers

A Thousand Flowers
Chapter 15. Kaget



Jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari. Jalanan tampak lengang. Mobil yang dikemudikan Abbas melaju dengan kecepatan tinggi. Butuh waktu lebih kurang dua jam dari rumah Ki Daud untuk sampai ke mansion keluarga Dimas.


Izzah tertidur pulas di kursi belakang. Dimas menahan kantuk duduk di sebelah Abbas. Abbas menyetel murottal untuk memecah keheningan malam. Sengaja ia menghidupkan murottal itu dengan volume rendah agar tak mengganggu tidur Izzah.


Sesekali terdengar percakapan ringan antara Abbas dan Dimas di sela merdunya lantunan ayat yang dibaca oleh Syech Abdurrahman As Sudais. Akhirnya, Dimas pun jatuh tertidur karena tak kuasa menahan kantuk.


“Dim … bangun, Dim!” Abbas mengguncang tubuh Dimas dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya tetap memegang kemudi.


Dimas serasa bermimpi dan membuka mata dengan malas.


“Ada apa sih, Bas? Sudah sampai ya?” tanya Dimas dengan nada masih mengantuk.


“Belum … bukan itu …,” jawab Abbas sambil melirik kaca spion.


“Terus kenapa?” Dimas mulai kesal karena tidurnya terganggu.


“Itu … Izzah ... sepertinya dia mimpi buruk,” jawab Abbas setengah berbisik, lalu menghidupkan lampu.


Dimas melihat kaca spion. Tampak Izzah gelisah dalam tidurnya. Keringat bercucuran membasahi dahinya.


Dimas meminta Abbas menghentikan mobil. Bergegas ia pindah ke kursi belakang dan duduk di samping Izzah. Abbas kembali melajukan mobil.


“Ah, kalau tahu begini mending tadi aku tidak usah duduk di depan,” gerutu Dimas dalam hati


Untuk beberapa waktu, Dimas bingung, tidak tahu harus bagaimana dan berbuat apa. Ia tidak berani memeluk gadis itu untuk menenangkannya. Ia juga tidak ingin membangunkannya karena tidak ingin Izzah merasa malu nantinya.


Dimas memutuskan untuk tetap duduk manis di samping Izzah sambil terus mengawasinya.


Izzah benar-benar mimpi buruk. Ia makin ketakutan. Napasnya memburu, Keringatnya makin bercucuran. Tangan kirinya mencengkeram rok dengan kuat, sementara tangan kanannya bergerak liar seperti berusaha menggapai sesuatu.


Dimas tak mampu lagi menahan diri. Ia menggeser posisi duduknya agar lebih dekat dan memberanikan diri meraih tangan Izzah. Digenggamnya tangan gadis itu dengan lembut, dielus, dan ditepuknya perlahan untuk menenangkannya.


Izzah terus menceracau tidak keruan sambil sesenggukan, tetapi Dimas tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Ia berusaha mendekatkan kupingnya, tetapi tetap tidak tahu apa yang diucapkan Izzah.


Entah bagaimana awalnya, tahu-tahu lengan kiri Dimas sudah melingkar di pundak Izzah, menepuknya pelan. Air mata Izzah membasahi kemeja Dimas. Tangan kanan Dimas terus menggenggam jemari Izzah. Ia baru melepaskan genggaman tangan dan rangkulannya di pundak Izzah lima belas menit kemudian, setelah kondisi Izzah benar-benar sudah tenang.


***


Abbas membelokkan mobil yang dikemudikannya memasuki gerbang sebuah mansion yang sangat luas dan memarkir mobil itu tidak jauh dari pintu utama.


Dimas membuka pintu mobil pelan, lalu keluar meninggalkan Izzah yang masih tertidur pulas. Ia mendekati Abbas yang masih duduk di kursi kemudi, mencabut sebuah flash disk.


“Jangan bercerita atau bertanya apa pun tentang kejadian tadi kepada Izzah kalau tidak mau gajimu ku potong!” bisik Dimas di telinga Abbas dengan nada mengancam.


“Siap, Bos,” balas Abbas pelan


Dalam hati Abbas mengumpat. “Sial! Selalu saja ngancam main potong gaji.”


Dimas berjalan menuju bagasi, mengeluarkan barang bawaannya.


Abbas membangunkan Izzah pelan agar tak mengagetkannya. Izzah mengucek mata sesaat, sebelum akhirnya keluar dari mobil menenteng ransel kesayangannya. Abbas segera membantu Dimas.


Begitu sampai di depan pintu, mereka disambut oleh seorang pria dan wanita paruh baya. Lelaki itu segera mengambil alih barang-barang yang dibawa Dimas dan Abbas.


“Tolong antarkan Nona ini ke kamarnya, Bi!” perintah Dimas kepada wanita itu.


Dimas sudah memintanya untuk membersihkan kamar tamu sebelum meninggalkan rumah Ki Daud.


“Baik, Tuan Muda.” Ia menunduk hormat.


“Mari ikut saya, Nona!” Wanita itu pun melangkah diikuti Izzah.


Dimas naik ke lantai dua menuju kamarnya. Abbas mengekorinya.


“Aku nginap di kamarmu malam ini ya?” pinta Abbas


“Memangnya kalau aku larang kamu akan segera pulang ke rumahmu?" jawab Dimas tanpa menoleh dan terus saja berjalan.


Abbas tertawa kecil dan bergegas mendahului Dimas. Begitu sampai di dalam kamar, ia langsung menghempaskan tubuhnya di atas kasur yang empuk.


Dimas ke kamar mandi membasuh muka dan membilas tubuhnya untuk menghilangkan sisa-sisa keringat yang menempel. Ia mengganti kemejanya yang basah dengan piyama, lalu merebahkan diri di samping Abbas yang sudah mendengkur.


Di kamarnya, Izzah baru saja melipat sajadah setelah melaksanakan tahajud. Karena masih sangat mengantuk, Izzah langsung merangkak naik ke tempat tidur. Merebahkan tubuh. Sejurus kemudian, ia pun kembali tertidur pulas.


***


Abbas baru saja selesai mandi. Dibukanya lemari  pakaian Dimas, mencari baju ganti. Berkali-kali ia memilih dan menukar kembali sampai menemukan yang dirasa cocok.


“Flash disk apa ini, Bas?” tanya Dimas menunjukkan sebuah benda mungil yang ia pungut dari atas kasur kepada Abbas.


Abbas masih mengancingkan kemeja. Ia menoleh pada Dimas. “Oh … itu yang aku setel tadi malam. Aku menemukannya di taman pribadi Ki Daud, di bawah pohon tempat kamu biasa nangkring.”


Abbas menyisir rambut, lalu mendekati Dimas yang duduk di sisi ranjang. Berusaha merebut kembali flash disk itu dari tangan Dimas.


Melihat gelagat Abbas, Dimas segera memasukkan flash disk itu ke saku celananya.


“Aku yakin ini punya Izzah. Biar aku yang mengembalikannya,” kata Dimas seraya melangkah keluar kamar.


“Mana bisa begitu … aku yang menemukannya,” protes Abbas sambil mengejar Dimas yang sudah beranjak turun menuju ruang makan.


“Mau potong gaji sebulan?” Dimas bertanya tak acuh


“Sial. Lagi-lagi ngancam potong gaji,” maki Abbas dalam hati. Ia pun terpaksa mengalah.


Izzah sudah duduk di meja makan bersama orang tua  Dimas, Tuan dan Nyonya Prasetyo, ketika Dimas dan Abbas menggabungkan diri.


“Jadi, kamu yang dikirim Ki Daud untuk menggantikannya?” tanya Ayah Dimas kepada Izzah.


“Iya, Tuan,” jawab Izzah sopan


“Panggil saja aku Paman! Biar lebih akrab. Keluarga Ki Daud dan keluarga kami sudah bersahabat secara turun-temurun. Kami sudah seperti keluarga. Jadi, kau juga bisa menganggap kami begitu,” jelas Ayah Dimas.


Sikap hangat ayah Dimas membuat rasa rindu Izzah akan sosok seorang ayah yang tidak pernah dikenalnya sedikit terobati. Dalam hati Izzah berkata, “Dimas beruntung memiliki ayah sebaik dan sehangat Tuan Prasetyo.”


“Kamu masih kuliah atau sudah bekerja?” Ibu Dimas ikut bertanya.


Entah kenapa, sejak pertama kali melihat Izzah ia sudah merasa tertarik dengan gadis itu. Matanya besar dan bulat dengan kelopak mata ganda. Beralis tebal, bulu mata lentik, hidung mancung serta bibir tipis dengan senyum menawan. Tubuhnya proporsional dengan tinggi sekitar 165 cm. Tanpa make up pun Izzah sudah cantik alami dengan kulit eksotis bak seorang bintang Bolywood.


Ditambah dengan sikap dan tutur kata yang sopan, Izzah benar-benar tampak sempurna di mata Nyonya Prasetyo.


“Izzah masih kuliah, Tante. Masuk tahun keempat.”


“Oh ya? Ngambil apa?”


“Kedokteran, Tante.”


Ibu Dimas makin bersemangat. “Di mana?”


Izzah menyebutkan nama universitas tempatnya kuliah. Orang tua Dimas mengernyitkan kening seolah belum pernah mendengar nama universitas tempat Izzah menimba ilmu itu. Dimas dan Abbas saling pandang.


Izzah tetap tenang. Ia tahu keluarga Dimas tak akan mengerti dan ia juga tidak bisa menjelaskannya. Mereka melanjutkan sarapan dalam hening.


“Apakah nama lengkapmu Izzatun Nisa?” tanya Dimas tiba-tiba, memecah keheningan. Giliran Izzah yang terperanjat.


“Bagaimana kamu bisa tahu?” tanya Izzah tak percaya


“Ah … ternyata benar. Kita benar-benar beruntung Ki Daud mengirim Izzah kesini, Pa … Ma .…” Dimas tersenyum ceria menatap orang tuanya.


Izzah menatap Dimas tajam. Kesal karena pertanyaannya tak dijawab, tetapi Dimas tak memedulikannya.


“Benarkah? Waah … kalau begitu kita harus berterima kasih pada Ki Daud, Pa,” kata Nyonya Prasetyo memprovokasi suaminya


“Tapi … benar juga kata Izzah, bagaimana kamu bisa tahu?” Nyonya Prasetyo ikut penasaran karena Dimas tidak pernah kuliah di universitas yang disebutkan Izzah.


“Rahasia dong, Ma.” Dimas tersenyum penuh misteri.


***