A Thousand Flowers

A Thousand Flowers
Chapter 18. Lega



Tiara membuka mata perlahan. Dimas yang melihat itu langsung memanggil orang tuanya.


“Ma … Pa … Kak Tiara sudah sadar!”


Tuan Prasetyo segera memanggil dokter. Nyonya Prasetyo berlari mendekati Tiara. Digenggamnya tangan Tiara dengan erat.


“Alhamdulillah kamu sudah bangun, Sayang. Mama sangat khawatir,” kata Nyonya Prasetyo penuh syukur sembari membelai rambut Tiara penuh kasih sayang.


Dokter masuk memeriksa Tiara.


“Tuan dan Nyonya tidak perlu khawatir. Tiara sudah melewati masa kritisnya. Tolong awasi makanan yang dikonsumsi Tiara!”


“Baik, Dok. Terima kasih,” jawab Tuan dan Nyonya Prasetyo hampir berbarengan.


Dokter itu pun keluar. Tuan dan Nyonya Prasetyo duduk di samping Tiara.


“Dim, ajak Izzah keluar cari makan!” perintah Tuan Prasetyo setelah melirik jam tangannya. Hari sudah menunjukkan pukul 13.25.


“Iya, Dim. Dari tadi Izzah menemani Tiara. Pasti sekarang lapar,” kata Nyonya Prasetyo mendukung suaminya.


"Iya, Ma … Pa … ayo, Zah!” ajak Dimas sambil melangkah keluar.


“Permisi, Paman … Tante .…” Izzah pamit menyusul Dimas.


Dimas membukakan pintu depan mobil untuk Izzah.


“Izzah duduk di kursi belakang aja, Mas,” tolak Izzah sopan. Dimas menatap tajam.


“Memangnya aku sopir? Duduk di kursi depan! Aku enggak bakalan gigit kamu kok,” perintah Dimas tegas


Izzah mengalah. Merasa risi dilihat satpam dan orang-orang yang berada di parkiran itu. Dimas menahan senyum.


Sepanjang perjalanan Izzah menatap ke luar jendela. Sama sekali tak bicara. Dimas melirik Izzah.


“Kamu suka makanan apa?” tanya Dimas memecah kebisuan di antara mereka.


“Apa saja boleh,” jawab Izzah tanpa menoleh. Dimas geleng-geleng kepala.


“Gadis ini benar-benar pintar membuatku kesal,” umpat Dimas dalam hati.


“Kenapa? Belum pernah lihat bunga ya? Dari tadi melototi bunga-bunga di pinggir jalan, bisa-bisa jadi layuh tuh bunga,” goda Dimas, mencoba mencairkan suasana.


“Aku lihatnya pakai mata, Mas. Bukan laser. Lagian, aku cuma merasa aneh aja,” jawab Izzah jutek


“Aneh?” Dimas mengernyitkan kening


“Iya. Kota ini  tidak hanya dipenuhi bunga, tapi nama jalannya juga semua pakai nama-nama bunga, bukan pahlawan. Bahkan, gedung juga dinamain bunga. Jangan-jangan entar di restoran menunya juga nama bunga lagi.”


Dalam hati Dimas tertawa geli. Merasa lucu dengan jalan pikiran Izzah.


“Namanya juga Negeri Seribu Bunga. Mau gimana lagi,” balas Dimas membela kota kelahirannya


Izzah tersentak. Diam, seperti deja vu.


Dimas memarkir mobilnya di sebuah restoran mewah. Begitu memasuki restoran, pelayan menyambut Dimas dan Izzah dengan ramah, mengantar mereka ke meja di lantai dua.


Dimas memesan meja dengan view terbaik. Izzah dibuat takjub dengan indahnya pemandangan kota itu. Benar-benar seperti berada di taman bunga.


Izzah membaca menu yang disodorkan pelayan. Ia bingung mau pesan apa. Meski pernah beberapa kali bernasib baik bisa makan di restoran mewah saat menjadi presenter pada acara seminar berskala internasional, semua daftar makanan yang dibacanya sekarang ini terasa asing.


Beberapa kali ia terlihat menghela napas panjang. Dimas mengamatinya dari seberang meja.


“Kenapa? Tidak ada yang menarik ya?” tanya Dimas melihat Izzah tak kunjung memesan makanannya.


Izzah gelagapan. “Bukan begitu, Mas. Bingung. Banyak banget menunya.”


“Mau aku bantu pilihkan?” tanya Dimas


“Hem … gimana kalau makanan andalan restoran ini saja,” tukas Izzah cepat.


Dimas tersenyum. "Cerdik juga nih cewek," pikir Dimas.


Dimas kecewa. Namun, ia tetap menuruti keinginan Izzah dan memacu mobilnya kembali ke rumah sakit.


***


Tiga hari sudah Izzah ditahan oleh orang tua Dimas. Kondisi Tiara sudah membaik dan dari kemarin sudah boleh pulang. Hari ini Dimas berjanji akan mengantar Izzah pulang ke rumah Ki Daud setelah menyelesaikan pekerjaanya. Jarum jam menunjukkan pukul 10.05. Masih ada waktu sekitar lima jam lagi.


Izzah memutuskan untuk menghabiskan waktu di perpustakaan keluarga Dimas. Kemarin malam Dimas menawarkannya untuk membaca koleksi buku-buku kedokteran yang dimiliki keluarganya karena melihat Izzah mulai bosan.


Nyonya Prasetyo dan Tiara duduk di teras belakang. Mereka berbincang-bincang sambil menikmati secangkir teh hangat.


“Ma … siapa sebenarnya gadis yang menggantikan Ki Daud itu?” tanya Tiara setelah mengobrol cukup lama.


“Entahlah. Mama juga tidak tau apa hubungannya dengan Ki Daud, tapi Izzah sangat kompeten. Kenapa? Kamu merasa kurang nyaman dengan kehadirannya di sini?”


“Tidak. Bukan begitu, Ma.”


“Terus?”


Tiara tampak ragu.


“Bilang saja! Mama janji enggak akan protes,” ucap Nyonya Prasetyo


“Benar ya, Ma .…”


“Iya.” Nyonya Prasetyo mengacungkan dua jari tanda berjanji. Tiara tersenyum.


“Ma … menurut Tiara … ada yang aneh dengan Izzah,” bisik Tiara, khawatir ucapannya terdengar oleh orang lain.


“Aneh gimana?” Nyonya Prasetyo tak mengerti


“Gini, Ma … setiap kali Izzah memeriksa kondisi Tiara, Tiara merasa tangan Izzah seperti mengeluarkan sesuatu. Rasanya sejuk dan hangat. Sangat nyaman.” Tiara membayangkan reaksi tubuhnya saat Izzah menyentuhnya.


“Ah kamu ini ada-ada saja. Mama rasa, itu karena Izzah menyentuhmu tidak hanya dengan tangan, tapi juga dengan hati,” ujar Nyonya Prasetyo memberi pengertian pada Tiara. Tiara tercenung sesaat.


“Tapi … kalau Mama yang menyentuh Tiara, Tiara tidak merasa begitu, Ma. Apa itu artinya Mama tidak menyentuh Tiara dengan hati?” Pertanyaan Tiara membuat hati Nyonya Prasetyo sedikit berdesir.


“Bukan begitu, Sayang. Mama kan orang tua kamu, sedangkan Izzah itu calon dokter. Tentu saja mama dan Izzah memiliki sentuhan yang berbeda, karena secara psikologis kamu memiliki sugesti yang berbeda mengenai sentuhan kami.” Nyonya Prasetyo meyakinkan putrinya.


“Mungkin,” jawab Tiara pelan. Merasa tidak puas dengan penjelasan ibunya.


Akan tetapi, ia lebih memilih menghentikan pembahasan tentang Izzah cukup sampai di situ. Bagaimanapun, mamanya tidak akan pernah paham, karena dialah yang merasakannya, bukan mamanya.


***


Izzah berada di perpustakaan keluarga Dimas. Perpustakaan itu cukup luas. Koleksi buku-bukunya sangat banyak.


Dikitarinya ruang perpustakaan itu dengan langkah pelan. Ribuan buku berjajar rapi pada rak-rak bertingkat. Jari-jarinya menyusuri buku demi buku. Sebagian buku terlihat sangat kuno.


Sudah setengah jam lebih, Izzah belum juga menemukan koleksi buku kedokteran yang dicarinya. Ia terus melangkah semakin ke dalam. Membaca label kategori buku yang terpampang di atas setiap rak. Masih tersisa dua lorong lagi.


Memasuki lorong terakhir, Izzah terpaku seakan tersihir oleh sebuah lukisan yang dipajang di ujung lorong itu. Letaknya yang tersembunyi membuat Izzah jadi penasaran. Ia pun melangkahkan kaki mendekati lukisan itu.


“Hah!”


Izzah berdiri terbelalak.


Bersambung ….


Author’s note:


Hai sobat readers …


Gimana ceritanya? Suka? Kalau sobat readers suka dengan cerita May, boleh juga bertandang ke aplikasi sebelah (N0v3lM3 dan N0v3l4ku). Sudah ada dua cerita tamat lho di sana (Lelaki Penakluk Nona Muda dan Love and Torture). Cerita on going ada Perfect Faith.


Cari aja nama pena Lathifah Nur, nanti muncul semua karya May. Lho, kok nama penanya beda? Itu karena ternyata nama May Ersa sudah ada yang memakainya. Jadi, terpaksa May masuk dengan nama pena yang lain. Ceritanya seru lho, apalagi Lelaki Penakluk Nona Muda. Bikin baper.


May tunggu ya kehadiran sobat readers semua. Terima kasih.