
Seiring malam yang kian kelam, rembulan bersembunyi di balik awan. Dingin pun kian tajam menghunjam pori. Shin Seo Hyun menggandeng Izzah masuk ke dalam.
Terdengar senandung emas Omar Borkan Al-Gala. Izzah pun bergegas mengangkat teleponnya. Selang beberapa menit ia meletakkan ponsel di atas meja dengan wajah semringah.
“Dari siapa? Tampaknya kau sangat gembira,” tanya Shin Seo Hyun setelah mengganti bajunya dengan piama.
“Dari Bunda,” sahut Izzah sambil melepas jilbab. Siap untuk memakai pakaian tidur.
Shin Seo Hyun mendekat. Ia suka sekali mengecup tengkuk dan punggung istrinya saat ganti baju.
“Lalu, berita apa yang kau terima hingga membuat wajahmu begitu cerah?” tanyanya lagi seraya memutar tubuh istrinya.
Izzah tersenyum manis. Membuat Shin Seo Hyun menghadiahinya sebuah kecupan ringan di bibir.
“Ayah kembali pulang,” seru Izzah senang.
“Oh ya? Aku ikut bahagia mendengarnya,” timpal Shin Seo Hyun seraya mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke pembaringan.
Untuk sesaat mereka hanya duduk bersandar di kepala ranjang saling bertukar pandang.
“Oh ya, ngomong-ngomong hadiah apa yang Ha Na minta di hari ulang tahunnya kemarin?”
Tiba-tiba saja Shin Seo Hyun teringat akan hal yang menggugah rasa penasarannya sejak beberapa waktu yang lalu. Seketika Izzah membisu, tertunduk malu dengan pipi bersemu merah bak tomat masak. Buru-buru ia melorot dan meringkuk di bawah selimut.
“Hei! Ayolah …,” bujuk Shin Seo Hyun, menggelitik istrinya pelan.
“Hentikan, Mas!” teriak Izzah, meronta-ronta karena geli.
“Tidak! Sebelum kau jawab pertanyaanku,” tolak Shin Seo Hyun tegas sambil terus menggelitiki Izzah.
“Iya … iya … aku akan bilang,” pekik Izzah, akhirnya mengalah lantaran tak kuasa menahan geli. Shin Seo Hyun pun menghentikan aksi nakalnya.
Dengan malu-malu Izzah mendekati Shin Seo Hyun dan berbisik di telinganya.
“Apa?” teriaknya syok.
Sesaat kemudian tawanya pun pecah. Membuat Izzah menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
“Ha Na benar-benar anak yang cerdas,” ujar Shin Seo Hyun, memuji keponakannya itu setelah berhenti tertawa.
“Huh? Cerdas apanya?” sungut Izzah seraya bergerak hendak turun dari ranjang.
“Mau ke mana? Tetaplah di sini!” cegah Shin Seo Hyun. Izzah masih cemberut.
“Ayolah … kita siapkan hadiah ulang tahun untuk Ha Na sebelum Ayah dan Bunda menghadiahimu seorang adik,” rayu Shin Seo Hyun dengan kedip mata menggoda.
Mendengar ucapan Shin Seo Hyun, Izzah yang sudah berdiri di tepi ranjang merasa semakin malu. Spontan ia menggerakkan tangan hendak memukul suaminya, pura-pura gondok. Namun, secepat kilat Shin Seo Hyun menangkap pergelangan tangannya dan membantingnya ke ranjang. Dalam sekejap, tubuh Izzah telah terkunci di bawah tubuh suaminya. Sejurus mereka saling tatap ditemani debaran hati yang menggebu.
Bisik ombak dan temaram sinar rembulan membuat Shin Seo Hyun dan Izzah hanyut dalam romantisme pengantin baru. Pelan-pelan Shin Seo Hyun menyatukan bibirnya dan bibir Izzah. Mengecup lembut, lalu ********** rakus seiring gejolak asmara yang kian bergelora hingga desah kepuasan mengudara bersama lelah dan banjir keringat di tengah gulita.
***
Selesai sarapan Shin Seo Hyun dan Izzah siap-siap menyeberang ke pulau Kakaban untuk menikmati pesona danau air tawar. Sebuah danau yang terbentuk dari air laut yang terjebak dan berubah menjadi tawar. Merasakan sensasi sentuhan ribuan ubur-ubur yang telah kehilangan racun karena proses perubahan air laut menjadi tawar tentu akan sangat menyenangkan. Itulah yang terlintas di benak Izzah saat memilih berlibur ke pulau Derawan.
Setelah puas bercanda dan berpose bersama ubur-ubur, tak lupa Shin Seo Hyun dan Izzah melipir ke Kehe Daing. Sebuah laguna dengan airnya yang jernih membiru. Sungguh pemandangan yang luar biasa.
Pasangan itu pun makin terkagum-kagum saat memasuki Blue Light Cave. Sebuah gua air laut berupa rongga karang yang menghubungkan daratan dan lautan. Permukaan air yang memancarkan bias mentari bercahaya kebiruan membius mata dengan sempurna. Ditambah pesona terumbu karang beraneka warna benar-benar membuat betah berlama-lama berada di bawah permukaan air laut itu. Hilang sudah penat dan lelah dikikis keindahan yang memesona.
“Kau yakin tidak ingin ke pulau Maratua?” tanya Shin Seo Hyun begitu mereka tiba kembali di Derawan menjelang senja.
“Kita bisa menambah libur sehari lagi kalau kau mau,” sambungnya.
“Tidak usah, Mas. Kita masih punya dua spot lagi yang belum dikunjungi. Itu sudah cukup,” ujar Izzah, menolak tawaran Shin Seo Hyun.
“Baiklah. Terserah kau saja,” sahut Shin Seo Hyun seraya mendekap tubuh istrinya. Kembali menikmati matahari terbenam dalam kemesraan.
Rasa senang membuat waktu terasa begitu cepat berjalan. Tak terasa sudah hari ketiga Shin Seo Hyun dan Izzah di Derawan. Saatnya mengitari pulau Sangalaki. Di mana langit biru terbentang luas dalam kejernihan hakiki. Memayungi hamparan lautan berwarna unik. Perpaduan gradasi hijau toska ke biru muda atau biru tua yang
memukau.
“Aaah …,” teriak Izzah lantang sambil berlari merentangkan kedua tangannya ke atas menuju bibir pantai. Binar bahagia benar-benar terpancar dari wajahnya saat menyaksikan air laut dalam warna kesukaannya,
Shin Seo Hyun segera menangkap pinggang Izzah dan mengangkat tubuhnya ketika ia berhasil mengejar istrinya itu. Sejenak Shin Seo Hyun memutar tubuh Izzah bak adegan dalam drama. Lalu, keduanya saling berkejaran dan bergelut dengan ombak yang menghapus jejak mereka di permukaan pasir basah.
Merasa lelah, Shin Seo Hyun dan Izzah berjalan santai bergandengan tangan di sepanjang pantai. Sebelum pulang mereka menyempatkan diri melepas beberapa anak penyu ke laut. Kegiatan yang tidak boleh terlewatkan jika berkunjung ke pulau Sangalaki. Ya, pulau Sangalaki terkenal dengan pusat konservasi penyu. Di sanalah tempat penyu hijau dan penyu sisik bermigrasi dan bertelur.
Izzah dan Shin Seo Hyun membawa anak penyu di kedua telapak tangan mereka dengan sangat hati-hati. Takut
anak-anak penyu itu jatuh terhempas ke bumi.
Sesampainya di tepi laut, mereka pun segera berjongkok. Membiarkan anak-anak penyu itu bergerak bebas menjelajahi pasir putih nan lembut. Menunggu ombak datang menjemput, membawa mereka pergi menjauh. Berenang ke laut bebas, berjuang untuk bertahan hidup di tengah jernihnya air laut yang memesona di mata para penikmat surga dunia.
Matahari mulai condong ke Barat. Setelah salat zuhur dan makan siang, Shin Seo Hyun dan Izzah berlabuh menuju spot snorkelling. Meski tak terjun berenang bersama ikan pari manta yang berburu makan di siang dan sore hari. Shin Seo Hyun dan Izzah cukup puas bisa menikmati pemandangan bawah laut yang spektakuler itu dari atas perahu yang mereka tumpangi.
Menjelang sore mereka beranjak ke Tanjung Redep, ibukota Berau. Menyusuri jalanan seraya mencuci mata berburu oleh-oleh.
“Nisa? Kamu Nisa, kan?” sapa seorang lelaki yang berdiri di samping Izzah. Izzah menoleh.
“Sandy?” Izzah juga terkesima begitu mengenali lelaki yang menyapanya.
Setelah basa-basi sesaat, Izzah pun terlihat asyik bercengkerama dengan Sandy hingga seorang wanita memanggil. Sandy pun pamit berlalu.
Dari kejauhan, Shin Seo Hyun yang baru selesai membeli sebotol air mineral mengamati semua itu dengan mata berkilat.
***