A Thousand Flowers

A Thousand Flowers
Chapter 68. Curahan Hati



Alis Shin Seo Hyun bertaut melihat Izzah menggenggam erat boneka di tangannya. Hatinya bertanya-tanya bagaimana bisa Izzah menyamakan pernikahan yang begitu suci dengan sebuah penjara yang terkenal dengan sebutan sebagai salah satu neraka dunia itu.


“Pernikahan itu ibadah. Kenapa kau malah berpikir sebaliknya?”


“Aku tidak hanya berpikir, Mas. Tapi, itulah yang kusaksikan,” sahut Izzah sedikit ketus.


“Tolong jelaskan! Jangan membuatku semakin bingung!” sahut Shin Seo Hyun, menggali rahasia Izzah lebih dalam. Ia yakin, semua itu ada kaitannya dengan mimpi buruk Izzah.


Entah sudah berapa judul buku yang dibacanya. Tak terhitung lagi berapa banyak artikel yang ditelusurinya. Bahkan, beberapa psikiater pun telah didatanginya. Semuanya bermuara pada kesimpulan yang sama. Penderita mimpi buruk harus membagi kisah kelamnya dengan orang lain agar bisa terbebas dari mimpi buruk itu.


Dan kini, Shin Seo Hyun tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu. Bagaimanapun caranya ia harus bisa membuat Izzah bercerita.


Shin Seo Hyun mengangguk, meyakinkan Izzah. Tatapan matanya yang teduh memantik keberanian gadis itu untuk lebih terbuka, karena ia berpikir mungkin inilah saatnya untuk membebaskan diri dari belenggu mimpi buruk. Toh setelah menikah belum tentu ia akan bertemu lagi dengan Shin Seo Hyun.


“Dulu … saat usiaku masih empat tahunan … sepasang pengantin baru pindah dan mengontrak di sebelah rumahku. Wanitanya sangat cantik dan lelakinya juga tampan. Sungguh pasangan yang sangat sempurna,” ujar Izzah, mengawali ceritanya.


Matanya menerawang jauh, mengingat kejadian yang telah berlalu itu. Shin Seo Hyun tetap diam mendengarkan.


“Tapi … wanita itu tidak pernah keluar rumah. Setiap pagi, saat suaminya berangkat kerja ia akan mengunci istrinya dari luar dan baru akan membukanya saat ia pulang dari kerja,” lanjut Izzah.


“Satu hal yang selalu kuperhatikan, sesaat sebelum suaminya pulang, istrinya harus selalu sudah siap dengan dandanan yang cantik untuk menyambut kedatangan suaminya. Sepertinya mereka benar-benar pasangan yang saling menyayangi. Mengingat tak pernah sekali pun wanita itu terlihat mengeluh atau bermuka masam kepada suaminya.” Sesaat Izzah menghentikan ceritanya. Menghela napas berat.


“Tapi … setelah istrinya melahirkan, semua itu berubah. Benar-benar seperti Black Beach. Karena kesibukannya merawat bayi yang baru lahir tanpa adanya pembantu, wanita itu seakan tidak punya waktu lagi untuk berhias diri. Membuat suaminya mulai main kasar. Awalnya hanya bentakan, lalu berubah menjadi dorongan dan tamparan. Makin lama makin brutal .…”


Shin Seo Hyun terus menyimak penuturan Izzah tanpa sekali pun memotong ceritanya. Hanya matanya yang kadang berkilat. Entah marah, entah prihatin, entah juga iba.


“Suatu hari, lelaki itu sakit, ia tidak sanggup pergi berbelanja. Dengan terpaksa ia mengizinkan istrinya keluar membeli sayur mayur pada tukang sayur langganan yang biasa lewat. Ia mengintip dari jendela kamar dan sangat marah ketika mengetahui istrinya digoda oleh tukang sayur. Sejak saat itu, ia makin memperketat pengawasannya. Ia tidak hanya mengunci istrinya saat pergi kerja, tapi juga memalang semua jendela dari luar. Benar-benar seperti seorang tahanan.”


Tiba-tiba air mata Izzah menetes, membasahi boneka yang dipegangnya. Shin Seo Hyun mengelus pundak Izzah, seolah memberinya kekuatan.


Setelah menyeka air matanya, Izzah kembali bertutur.


“Makin lama wanita itu makin kurus. Puncaknya, saat bayi mereka demam, wanita itu tidak sempat memasak,


apalagi berdandan. Ia masih mengeloni anaknya di kamar. Ketika lelaki itu pulang ia tidak sempat menyambutnya. Membuat darah lelaki itu mendidih. Dengan kasar ia langsung menarik istrinya turun dari tempat tidur. Menamparnya, menjambak rambutnya, bahkan juga mendorong dan membenturkan kepalanya ke dinding.”


Izzah membuang napas panjang. “Seperti orang kesetanan, ia sama sekali tidak peduli dengan tangisan anaknya dan juga jerit kesakitan yang mengiba dari istrinya. Ia terus saja menyiksanya hingga wanita lemah itu jatuh terkulai tak berdaya. Setelah meraba nadinya, ia cepat-cepat mengemas pakaiannya, lalu meninggalkan istri dan anaknya


tanpa menoleh sedikit pun.”


Izzah melirik Shin Seo Hyun. Bulir bening masih mengalir di kedua pipinya.


“Saat itu usiaku sudah lima tahun, tapi aku tidak mengerti apa yang terjadi. Aku hanya bisa menangis histeris dan menjerit tanpa suara. Kerongkonganku seakan tercekik. Bahkan, aku tidak bisa bicara selama beberapa hari. Dan sejak saat itu, hampir setiap malam kejadian itu menghantuiku dalam bentuk mimpi buruk.”


Izzah mengakhiri ceritanya dengan desahan napas berat sambil terus menyeka hidungnya. Shin Seo Hyun mengepalkan kedua tangannya. Sekarang ia paham mengapa Izzah seakan membenci lelaki.


Jangankan Izzah yang melihat langsung, ia saja yang hanya mendengar cerita Izzah sangat terpukul dan marah dengan perlakuan lelaki itu.


Melihat ekspresi Shin Seo Hyun yang tegang, Izzah tersenyum. Tiba-tiba saja beban berat yang selama ini mengimpit dadanya  terangkat dan terasa begitu ringan, seakan melayang ke udara. Terbang bersama desau angin


“Kau tahu? Allah menghadirkan seorang istri agar lelaki merasakan ketenteraman dan ditumbuhkan-Nya juga rasa kasih sayang antara suami istri itu. Kamu bisa baca Al-Qur’an Surat Ar-Ruum ayat dua puluh satu. Jadi, percayalah! Pernikahan yang akan kau jalani tidak akan seperti pernikahan yang kau takutkan itu,” sahut Shin Seo Hyun dengan senyumnya yang memesona.


“Bagaimana kau bisa seyakin itu?” tanya Izzah pesimis.


“Dengarkan aku baik-baik, kalau aku jadi suamimu, aku akan memuliakanmu, mencintai dan menyayangimu dengan segenap jiwa ragaku. Memanjakanmu dan menjadikanmu satu-satunya ratu di kerajaan hatiku,” ujar Shin Seo Hyun, mengucap janji. Membuat Izzah tersenyum geli.


“Begitukah?”


Shin Seo Hyun mengangguk mantap.


“Hem … baiklah. Jika kau jadi suamiku, mungkin aku akan belajar untuk mencintaimu kalau ….” Izzah menghentikan ucapannya dan menantang mata Shin Seo Hyun jenaka.


“Kalau apa?” kejar Shin Seo Hyun penasaran.


“Kalau saja kau mampu membuktikan semua janjimu itu,” sahut Izzah tegas.


“Kau meragukanku?” tukas Shin Seo Hyun, merasa diremehkan. Ia ikut berdiri menyusul Izzah yang berjalan ke dapur mengambil gelas.


“Tapi … itu tidak mudah. Kau tahu? Traumaku tidak bisa hilang begitu saja. Kau perlu bekerja keras untuk itu,” lanjut Izzah sambil menuangkan air dan menawarkan Shin Seo Hyun dengan kode tangan yang dibalas anggukan.


Izzah membawa nampan berisi dua gelas air  dan Shin Seo Hyun membawa makanan yang tadi diantar kurir.


“Sayangnya bukan kau yang akan menjadi suamiku,” ujar Izzah, meletakkan nampan di depan Shin Seo Hyun. Membuat Shin Seo Hyun menatap Izzah penuh misteri.


“Tak ada yang tahu apa yang direncanakan Allah untuk hamba-Nya,” sahut Shin Seo Hyun santai.


Saat Izzah dan Shin Seo Hyun selesai menikmati makan malam yang sangat terlambat, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas.


“Kau mau pulang sekarang?” tanya Shin Seo Hyun dengan nada hangat


“Tidak. Aku ingin tidur di sini. Kurasa mulai malam ini dan seterusnya aku akan tetap tinggal di sini,” sahut Izzah tegas.


“Baiklah. Aku tidak akan memaksamu, tapi hanya untuk malam ini. Besok kau harus kembali ke rumahku sesuai kesepakatan kita,” tukas Shin Seo Hyun, membuat alis Izzah bertaut.


“Mas, aku ini sudah ditunangkan. Rasanya tidak pantas bila aku tetap tinggal seatap denganmu,” protes Izzah.


“Justru itu … karena kau sudah bertunangan, aku merasa lebih bertanggung jawab untuk menjagamu. Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk menjelang hari pernikahanmu,” sergah Shin Seo Hyun. Kedua bola matanya menatap Izzah lekat dengan pancaran yang sulit diartikan.


“Sudahlah … tidak usah terlalu dipikirkan! Sekarang tidurlah! Aku akan menemanimu,” lanjut Shin Seo Hyun cepat sambil mengeluarkan kasur dan bantal yang masih tersimpan di lemari.


Izzah cuma bisa mendesah. Ia tahu Shin Seo Hyun tidak mudah dipengaruhi.


Ketika Shin Seo Hyun sudah terlelap dengan jarak dua meter darinya, Izzah masih belum bisa memejamkan mata. Hatinya dipenuhi sejuta tanya tentang sosok lelaki yang akan menjadi imamnya. Akankah lelaki itu sesabar dan selembut Shin Seo Hyun?


***