
Seorang perempuan usia awal tiga puluhan datang membawa secangkir teh hangat untuk Shin Seo Hyun.
“Kenalkan, ini istri saya, Sarah,” ujar Ilham, memperkenalkan istrinya.
Shin Seo Hyun menganggukkan kepala dan dibalas senyum oleh Sarah.
“Silakan diminum tehnya, Tuan!“ ujar Ilham setelah Sarah berlalu dari ruangan itu.
“Terima kasih,” sahut Shin Seo Hyun, mengambil cangkir dari atas meja.
Dengan sudut matanya, Shin Seo Hyun mengamati lelaki yang duduk di tepi ranjang. Penampilannya rapi. Terkesan cerdas dan tangguh. Kulitnya sedikit gelap terbakar matahari. Mungkin itu karena ia bekerja sebagai penjaga gerbang, pikir Shin Seo Hyun.
“Apa maksud, Tuan, mengatakan istriku sudah terbang?” tanya Shin Seo Hyun, merasa janggal.
“Ah … itu … seseorang menjemputnya begitu mendapat informasi ada orang asing terdampar di sini. Tuan tunggu saja! Sebentar lagi Tuan juga akan dijemput. Aku sudah menghubungi pihak yang berwenang,” sahut Ilham, menjelaskan situasinya.
“Begitu rupanya. Baiklah. Tadi Anda bilang ini Negeri Seribu Bunga. Di mana itu? Aku belum pernah mendengarnya.”
Ilham hanya tersenyum. “Di dunia ini, banyak hal yang terkadang tak kasatmata, tapi bukan berarti tidak ada. Keberadaan negeri kami mungkin memang tak pernah Tuan temukan di peta dan aku pun tak bisa menjelaskannya.”
Jawaban Ilham mengundang tatap heran Shin Seo Hyun.
“Tapi … Tuan tidak perlu khawatir, kami akan mencari cara untuk mengeluarkan Tuan dan istri Tuan dari negeri ini,” lanjutnya, menenangkan Shin Seo Hyun.
Rentetan kisah suka dan duka adalah sekumpulan warna dalam palet rasa. Di mana cinta menjadi kanvas putih di atas stand kehidupan yang telah ditegakkan sempurna oleh Sang Pelukis takdir. Dan manusialah sang kurator, kolektor sekaligus apresiator dari hasil cipta seni Yang Kuasa. Terlepas dari peran mana yang lebih dominan, maka keikhlasan dan ketabahan hatilah museum sejati dalam diri.
Shin Seo Hyun menghela napas panjang. Menangkap setitik cahaya terang di ujung lorong resah. Panel-panel komunikasi yang terpasang di salah satu dinding ruang kerja Ilham menjadi saksi bisu perjuangannya menunaikan janji untuk melindungi sang istri.
“Bersiaplah, Tuan! Jemputan Anda akan segera tiba,” ujar Ilham mengingatkannya.
“Ya, baiklah.” Shin Seo Hyun bergegas merapikan pakaiannya dan menyusul Ilham turun dari rumah.
Dengan sekali entakan, kuda yang ditunggangi Ilham berlari membawa Shin Seo Hyun ke hamparan padang ilalang, di mana sebuah helikopter sudah siap menanti.
Di tengah harapan yang bermekaran di taman hati, Shin Seo Hyun melambaikan tangan pada Ilham, sang penjaga gerbang yang menjadi jembatan perantara untuk menemui pujaan hati.
Ketika helikopter mendarat di puncak sebuah gedung tinggi, waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Seorang lelaki muda menyongsong Shin Seo Hyun dengan dasi berkibar-kibar ditiup angin kencang karena perputaran baling-baling helikopter.
“Tuan Shin!” seru Abbas kaget begitu Shin Seo Hyun menginjakkan kaki di lantai atap gedung itu.
“Tuan Abbas!” Shin Seo Hyun tak kalah kaget.
Keduanya saling berjabat tangan dengan menyimpan tanya di hati masing-masing.
“Ayo turun!” ajak Abbas seraya melangkah mendahului Shin Seo Hyun yang mengekor di belakang.
“Silakan duduk, Tuan Shin!” ujarnya saat tiba di ruang kerjanya.
Sembari mengedarkan pandangan, Shin Seo Hyun mengamati ruang kerja Abbas. Keindahan tata dekorasi interior dan beberapa lukisan tua membuat perasaan Shin Seo Hyun sedikit lebih tenang.
“Ceritakan padaku bagaimana Anda bisa tiba di negeri ini, Tuan Shin!” pinta Abbas sambil meletakkan secangkir kopi di atas meja, lalu duduk menemani Shin Seo Hyun.
“Entahlah. Aku juga tidak begitu paham. Yang jelas, aku mengejar istriku,” sahut Shin Seo Hyun sembari menyeruput kopi panas itu.
“Oh … Anda sudah menikah?” tanya Abbas terkesima. Ia bahkan tak mendapat undangan.
“Maaf, bukan maksudku untuk tidak menghargai Anda, tapi … pernikahan kami memang sangat tertutup dan sederhana. Itu juga atas permintaan Izzah,” sahut Shin Seo Hyun, merasa tidak enak hati melihat tatapan mata Abbas seakan bertanya-tanya.
“Kira-kira Dimas tahu enggak ya?” batinnya.
“Ah! Tolong rahasiakan dulu dari Tuan Dimas!” pinta Shin Seo Hyun seolah bisa membaca pikiran Abbas.
“Baiklah. Anda bisa memercayaiku,” sahut Abbas, sangat memahami maksud perkataan Shin Seo Hyun.
Cinta dan kerinduan tak pernah bisa terpisahkan. Tak ada cinta tanpa kerinduan. Dan kerinduan menjadi duri dalam daging ketika hati menanti tak pasti. Rasanya sakit sekali. Satu-satunya obat hanyalah perjumpaan. Abbas pun sangat paham itu.
“Jika Anda tidak terlalu lelah, sebaiknya kita berangkat sekarang. Aku akan mengantar Anda menemui Izzah,” ujar Abbas setelah melihat cangkir Shin Seo Hyun kosong. Mata Shin Seo Hyun langsung berbinar cerah.
“Ayo!” tukasnya cepat seraya berdiri penuh semangat dan berjalan menuju pintu. Membuat Abbas menahan senyum.
“Dasar yang lagi kasmaran,” gumamnya meledek, lalu menyambar jasnya dan keluar menyusul Shin Seo Hyun.
Abbas melajukan mobilnya membelah kegelapan malam, melintasi jalan berliku Negeri Seribu Bunga. Kerlip lampu dari gedung-gedung bertingkat tampak indah dan memesona.
Shin Seo Hyun pun terkesima. Tak menyangka di suatu negeri antah berantah yang bahkan tak terlihat di peta dan tak terlacak di antariksa, ternyata tersimpan keanggunan kota yang luar biasa. Anehnya, semua didominasi oleh bentuk bunga.
“Hem … mungkin karena itulah negeri ini dikenal dengan nama Negeri Seribu Bunga,” batin Shin Seo Hyun, menarik kesimpulan dari hasil pengamatan sepintas lalu.
“Masih jauh ya?” tanya Shin Seo Hyun, melirik jam tangannya.
Sudah satu jam lebih perjalanan yang ditempuh, tapi belum ada tanda-tanda Abbas akan menghentikan laju kendaraannya. Memperlambat pun tidak.
“Sudah dekat kok,” sahut Abbas, tersenyum tipis.
“Sepertinya Tuan Shin benar-benar tidak sabar untuk bertemu istrinya,” batin Abbas, melirik Shin Seo Hyun yang termenung menatap ke luar jendela. Kegelisahan terdengar jelas dari tarikan napasnya.
Di luar sana sangat gelap. Namun, tak segelap hati Shin Seo Hyun. Kepergian Izzah benar-benar membawa separuh jiwanya. Menyisakan ruang kosong di sudut hatinya yang terluka. Sehari rasakan mati, apalagi lebih dari itu. Bisa-bisa jiwa raganya membatu, menambah koleksi mumi di Museum of Egyptian Antiquities, Mesir.
TOK! TOK! TOK!
Izzah baru saja selesai tilawah Alquran ketika terdengar suara ketukan di pintu kamarnya.
“Sebentar …,” teriaknya dari dalam kamar. Mengira Naimah memanggilnya.
Saat pintu terbuka, tampak seorang lelaki berdiri membelakanginya. Izzah terperangah. Ragu-ragu ia menyapa.
“Mas Dirga?” Dikuceknya matanya beberapa kali untuk meyakinkan penglihatannya.
Begitu balik badan, Dirga tak bisa menahan kerinduannya.
“Izzah, kau nyaris membuatku mati,” bisik Shin Seo Hyun sambil memeluk erat istrinya.
Tangis haru tumpah tak terbendung dari mata mereka berdua.
“Maafkan aku, Mas. Aku … aku tak bermaksud begitu,” sahut Izzah, merasa bersalah.
“Aku tahu,” jawab Shin Seo Hyun, menghalau rasa bersalah istrinya sambil menyeka air mata di pipi Izzah.
Sedetik kemudian, mereka hanyut dalam gelora asmara. Mengubah resah jadi desah dan gulana pun beralih rupa jadi bahagia. Mengukir warna jingga pada sepotong kanvas cinta.
***