A Thousand Flowers

A Thousand Flowers
Chapter 98. Fase yang Bikin Mumet



Tanpa mengangkat wajah, Izzah menyodorkan hasil test pack kepada suaminya. Bergegas Shin Seo Hyun menurunkan tangan dan mengambil benda panjang mungil yang disodorkan Izzah dengan jantung berdegup kencang.


Tampak satu garis merah terang. Shin Seo Hyun menarik napas dalam. Dan ketika garis abu-abu tipis di bawah garis merah itu perlahan makin jelas dan memerah. Shin Seo Hyun berteriak senang.


“Sayang ... kau akan jadi ibu!” pekiknya, mengguncang tubuh istrinya.


Izzah terlihat bengong dengan tatapan kosong, memandangi keceriaan suaminya.


“Perasaan tadi cuma satu garis deh yang muncul,” batin Izzah dengan alis terangkat.


“Lihat ini! Dua garis! Kita akan segera punya anak,” ulang Shin Seo Hyun, meyakinkan Izzah seraya memperlihatkan hasil test pack-nya. Membuat mulut Izzah ternganga tak percaya.


“Alhamdulillah … Allah telah mengijabah doaku,” desis Shin Seo Hyun, luar biasa bahagia.


Secepat kilat disambarnya tubuh Izzah dan digendongnya kembali ke pembaringan.


“Mulai sekarang kau harus lebih hati-hati dan tidak boleh terlalu lelah,” ujarnya sembari menggenggam jemari Izzah dan mengecupnya mesra.


***


HAP!


Dengan sigap Shin Seo Hyun menangkap bantal yang dilempar Izzah begitu ia menginjakkan kaki di kamarnya.


“Tidur di bawah!” perintah Izzah sambil menunjuk lantai di samping ranjang.


“Hah? Di bawah lagi? Jangan begitu dong, Sayang … badanku jadi sakit semua,” rayu Shin Seo Hyun dengan tatapan mengiba. Izzah tak peduli. Ia tetap asyik dengan buku bacaannya.


Dengan terpaksa Shin Seo Hyun membaringkan tubuh lelahnya di atas sehelai kasur tipis.


“Nasib … sadis banget dah ngidamnya Izzah!” keluhnya dalam hati.


Semenjak berbadan dua, kepribadian Izzah sering kali berubah-ubah. Kadang-kadang ia sangat kolokan. Tak mau berpisah barang sekejap pun dari suaminya hingga memaksa Shin Seo Hyun untuk bekerja dari rumah.


Sekali waktu ia amat buas, memburu Shin Seo Hyun kemana-mana dengan sapu atau benda apa pun yang bisa jadi senjata untuk menyerang suaminya itu. Di kesempatan lain, ia tak mau didekati, apalagi disentuh. Ya, seperti saat ini dan Shin Seo Hyun cuma bisa pasrah. Berharap fase mengidam Izzah akan segera berlalu.


“Maaas … bangun!” teriak Izzah tatkala Shin Seo Hyun baru hendak memejamkan mata. Bergegas ia bangkit. Izzah pasti menginginkan sesuatu.


“Ada apa?” tanya Shin Seo Hyun.


“Belikan buah!” pinta Izzah dengan nada manja.


Shin Seo Hyun langsung mendekat. Kalau bicara Izzah sudah selembut itu, suatu pertanda baik. Fase kolokan Izzah kambuh dan itu adalah waktu yang sangat ditunggu-tunggunya.


“Mau buah apa, Sayang?” tanya Shin Seo Hyun seraya membelai pipi istrinya yang sudah dua hari tak dijamahnya.


Izzah meneleng, berpikir keras buah apa yang diinginkannya.


"Anggur, lengkeng, apel, pir, alpukat … terus … apa lagi ya? Itu saja deh,” sahut Izzah kemudian seraya mengalungkan kedua lengannya di leher Shin Seo Hyun.


Kesempatan itu dimanfaatkan Shin Seo Hyun untuk segera mendaratkan ciuman di bibir Izzah. Melumatnya sesaat sebelum akhirnya pergi berburu buah pesanan istrinya itu. Tak peduli selelah apa pun raganya, Shin Seo Hyun dengan senang hati akan memenuhi semua permintaan Izzah. Demi cinta dan si buah hati yang sedang berkembang di rahim wanita yang telah berhasil mengubah hidupnya penuh warna.


Melihat ulah sepasang sejoli itu, Sandra yang baru saja keluar dari kamarnya karena mendengar bunyi bel tersenyum geli. Ia sudah sangat hafal kebiasaan Izzah. Buru-buru dipindahkannya kantong yang tergeletak di lantai ke meja makan.


“Mau makan buah yang mana dulu, Nyonya?” tanya Sandra setelah menata buah-buah itu di tempatnya.


“Semuanya,” sahut Izzah, membuat Shin Seo Hyun dan Sandra terperangah.


 “Bawa ke sini saja, Bi!” lanjutnya.


Lekas Sandra mengangkat buah-buah itu dan menghidangkannya di depan Izzah. Shin Seo Hyun pun datang dengan membawa sebuah piring dan pisau


“Yang mana dulu?” tanya Shin Seo Hyun, tak bisa menebak selera Izzah.


Ia takut salah karena kesalahan sekecil apa pun akan dapat merubah fase Izzah dalam sekejap mata.


“Biar aku saja,” jawab Izzah, menadahkan tangan meminta pisau dari suaminya.


Tatkala pisau buah itu telah berpindah tangan, Sandra segera menjauh, berbalik masuk ke kamarnya. Mengamati perkembangan selanjutnya dari celah pintu. Ia harus siap siaga jika Izzah berubah jadi hewan buas yang menjadikan Shin Seo Hyun sebagai mangsa yang akan diburunya.


Dengan lemah gemulai Izzah membelah dua anggur dan lengkeng. Memasukkan sebagian ke dalam piring dan membiarkan sisanya tergeletak sembarangan. Begitu juga dengan buah lainnya. Ia hanya mengambil sebesar belahan anggur dan lengkeng yang tadi diirisnya. Setelah semuanya bercampur, Izzah melahapnya seraya mendecap nikmat.


Melihat perhatian istrinya teralihkan, cepat-cepat Shin Seo Hyun menyembunyikan pisau yang diletakkan Izzah di atas meja. Mencegah lebih baik dari pada mengobati.


“Mas! Kamu gimana sih? Masa buah-buahan ini dibiarkan berserakan di sini!” semprot Izzah, melotot melihat meja yang berantakan dipenuhi potongan-potongan buah.


“Aish! Kok aku bisa teledor sih!” umpat Shin Seo Hyun, memaki diri sendiri gara-gara terlambat membersihkan meja yang dikotori Izzah. Ia terlalu terpukau oleh pesona Izzah.


Dalam pandangannya, kecantikan Izzah hari demi hari terus bertambah. Tingkahnya yang mungkin sangat menjengkelkan bagi orang lain, tetapi bagi Shin Seo Hyun justru terlihat kian menggemaskan.


“Mas! Kamu ini ya … orang ngomong dicuekin,” bentak Izzah, mengagetkan Shin Seo Hyun.


Tergabas Shin Seo Hyun kabur saat dilihatnya Izzah melemparkan buah di atas meja ke arahnya. Kesal karena serangannya gagal, Izzah berdiri menggenggam remot, siap mengejar Shin Seo Hyun.


“Aduh! Sudah dong, Sayang …,” bujuk Shin Seo Hyun, meringis memegang kepalanya yang terkena lemparan Izzah.


“Hahaha .…”


Izzah tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi kesakitan Shin Seo Hyun. Rasanya puas sekali lemparannya tepat sasaran.


“Ya Tuhan, sampai kapan fase konyol ini akan berakhir,” gumam Shin Seo Hyun sambil terus mengamati perubahan suasana hati istrinya itu.


Dari balik pintu kamarnya, Sandra tertawa geli menyaksikan adegan kejar-kejaran Shin Seo Hyun dan Izzah.


“Astaga! Benar-benar seperti kapal pecah,” desisnya dengan wajah kecewa karena pekerjaannya bertambah. Ia harus begadang membersihkan lantai kotor itu sebelum Izzah sempat melihatnya lagi esok hari.


Mengendap-endap, Shin Seo Hyun membuntuti Izzah naik tangga. Lalu, ketika Izzah lengah, secepat kilat ia memeluk istrinya itu dari belakang dan mengecup tengkuknya. Hanya itu satu-satunya cara menetralkan ambisi perburuan Izzah dan mengembalikannya ke fase kolokan sebelumnya.


***