
Gelagapan, Izzah segera turun dari tubuh Shin Seo Hyun. Cepat-cepat ia berdiri mencari toilet.
Seo Hyun masih ternganga sambil menahan napas. Ia menjentikkan jarinya saat melihat Izzah berputar kebingungan. Seketika lampu menyala.
BRAK!
Izzah membanting pintu kamar mandi dengan kuat.
Tiga puluh menit sudah berlalu. Izzah belum juga keluar dari kamar mandi. Ia mondar-mandir di belakang pintu, menggigit jempol tangan kanannya dengan gugup. Sesekali ia mengintip di lubang kunci.
“Tuan Diretur sudah keluar dari kamar belum ya?”
“Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? Rasanya aku sudah kehilangan muka menemui Tuan Direktur.”
“Bagaimana kalau dia marah?”
Izzah benar-benar kebingungan.
Shin Seo Hyun yang masih berbaring di kasur melirik jam di pergelangan tangannya.
“Sudah lebih dari setengah jam, kenapa gadis aneh itu belum keluar juga dari kamar mandi?”
“Astaga! Jangan-jangan dia pingsan lagi!”
Sontak Shin Seo Hyun bangkit dan menggedor-gedor pintu kamar mandi.
“Dokter Izzah! Anda baik-baik saja?”
Tak ada jawaban. Izzah makin gugup.
“Aduuuh … bagaimana ini? Haruskah aku keluar sekarang? Aduuh … malunya.”
Gedoran di pintu semakin kencang.
“Dokter Izzah, Anda mendengarkanku?”
Izzah masih diam. Shin Seo Hyun mulai panik.
“Jawab aku, Dokter Izzah! Jika anda tidak keluar pada hitungan ketiga. Aku akan mendobrak pintu ini!”
Seo Hyun mulai menghitung.
“Satu! Dua! Ti—”
Izzah membuka pintu dan melangkah keluar dari kamar mandi. Wajahnya tertunduk lesu karena malu.
Seo Hyun yang panik spontan memeluk Izzah dengan erat saat melihat gadis itu tidak kenapa-napa.
“Syukurlah kamu baik-baik saja. Tolong, berhentilah membuatku cemas!” Seo Hyun benar-benar khawatir.
“Tuan Shin, aku … aku tidak bisa bernapas.”
Kedua lutut Izzah terasa lemas. Begitu banyak hal tak terduga yang terjadi antara dirinya dan Shin Seo Hyun. Apa semua ini hanya kebetulan? Kenapa harus berulang kali?
“Oh, maafkan aku!”
Seo Hyun melepaskan pelukannya begitu menyadari Izzah terkulai lemah.
Otak Izzah tak lagi mampu berpikir dengan jernih. Ia menurut saja ketika Seo Hyun memapahnya kembali ke tempat tidur dan menyelimutinya.
“Tidurlah! Kau terlalu lelah.”
Tak berani menatap wajah Seo Hyun, Izzah memutar posisi tidurnya, membelakangi Seo Hyun yang berdiri di sisi ranjang.
Deg! Deg! Deg!
Jantungnya berdetak lebih cepat dari pelari maraton. Susah payah Izzah berusaha memejamkan mata.
Shin Seo Hyun kembali merebahkan tubuh di kasur tipisnya. Ia menarik napas panjang berulang kali dan melepaskannya secara perlahan. Mati-matian berusaha menenangkan detak jantungnya yang terdengar seperti genderang perang.
“Gadis aneh ini benar-benar membuatku kehilangan kendali atas diriku sendiri.”
Akhirnya Shin Seo Hyun jatuh tertidur setelah perang batin yang begitu dahsyat.
***
Bangun tidur, Izzah tak lagi menemukan Shin Seo Hyun di kamar.
“Mungkin Tuan Direktur sudah bersiap-siap untuk kerja,” pikir Izzah, berjalan menuju kamar mandi.
Selesai membasuh badan, ia keluar dari kamar mandi dengan selembar handuk kecil di tangan, menyeka mukanya yang masih basah tanpa berganti pakaian.
“Nanti saja, setelah kembali ke kosan.” Begitu yang terlintas di pikiran Izzah.
Tanpa mengetuk pintu, Shin Seo Hyun masuk membawa nampan berisi roti selai dan segelas susu.
“Sudah bangun?”
“Ya.”
“Sarapan dulu!”
Seo Hyun meletakkan nampan yang dibawanya di atas meja.
Izzah duduk di atas sofa, mengambil roti dari atas piring.
“Tuan Direktur tidak sarapan?” tanya Izzah, melihat Seo Hyun membuka tabletnya.
“Sudah.”
Izzah menghabiskan makanannya tanpa bicara lagi. Ia tahu, sama seperti dirinya, Shin Seo Hyun masih canggung setelah apa yang terjadi di antara mereka kemarin malam. Jika mungkin, ingin rasanya Izzah menghilang di telan bumi.
Izzah meletakkan piring dan gelas yang sudah kosong di atas nampan. Seo Hyun bergerak cepat mengangkat nampan itu sebelum Izzah berdiri.
Izzah menyandang tasnya dan bersiap-siap untuk keluar dari kamar.
“Tunggu aku di ruang tamu! Aku akan mengantarmu pulang,” perintah Seo Hyun sambil menuruni tangga menuju dapur.
“Terima kasih, Tuan. Tapi, saya akan naik taksi saja. Saya sudah cukup merepotkan Anda.”
“Kamu mau mendapat sanksi karena datang terlambat?”
Seo Hyun meletakkan nampan kosong itu di atas meja dapur.
Izzah melirik jam di tangannya. Ia hanya punya waktu kurang dari satu jam untuk pulang dan berganti pakaian.
“Benar-benar bisa terlambat kalau begini. Apakah aku harus menerima tawaran Tuan Direktur?”
Izzah masih menimbang-nimbang ketika tahu-tahu Seo Hyun sudah berjalan melewatinya.
“Ayo!”
Buru-buru Izzah mengekor.
Sepanjang perjalanan, Izzah lebih memilih diam, memandang ke luar jendela menikmati indahnya daun-daun yang berguguruan.
Sesampainya di tempat tujuan, Izzah berlari menaiki tangga, berpacu dengan waktu. Membuka pintu dan lemari pakaian dengan tergesa-gesa, lalu masuk ke kamar yang hanya di sekat dengan partisi berupa rak buku.
Mendengar langkah kaki mendekati pintu masuk, Izzah menarik tirai di belakang rak untuk menghalangi pandangan menembus kamar.
Tanpa dipersilakan, Shin Seo Hyun masuk ke rumah Izzah setelah mengetuk pintu. Ia mengamati setiap sudut yang tak terhalang.
“Bersih dan rapi!”
Ia memuji tata interior di rumah itu, minimalis dan sangat fungsional. Melihat ada begitu banyak buku berjajar rapi, perlahan Seo Hyun mendekati rak. Matanya membaca dengan teliti setiap judul yang disentuhnya.
“Hem … ternyata gadis aneh itu juga suka membaca novel.”
Seo Hyun menarik sebuah novel dan membaca judulnya. Invisible Land by IN Cinnamon.
“Wow! Limited edition dengan tanda tangan asli penulis.”
Seo Hyun mengangkat alis.
“Sepertinya Dokter Izzah sangat menyukai penulis IN Cinnamon. Ia mengoleksi seluruh novelnya.”
Seo Hyun membuka setiap novel karya IN Cinnamon dan ia makin terperangah.
“Hah! Semuanya limited edition? Gila. Gadis itu benar-benar sudah jatuh cinta sama penulis IN Cinnamon.”
Seo Hyun geleng-geleng kepala. Bagaimana tidak, ia tahu pasti penulis IN Cinnamon hanya menyediakan seratus novel dengan tanda tangan asli untuk setiap judul yang terbit. Dan itu harus sudah pre-order jauh-jauh hari.
“Ckckk … luar biasa semangat juang gadis aneh itu!”
Tirai disibak. Izzah keluar. Seo Hyun mengamati penampilan Izzah. Tetap sederhana dan elegan. Seo Hyun mengangguk, seolah memberi persetujuan terhadap penampilan gadis di depannya.
“Ayo, Tuan!” Izzah melangkah keluar.
“Ah! Ya.”
Seo Hyun terperanjat. Ia mengembalikan novel yang dipegangnya ke tempat semula, lalu bergegas mendahului Izzah turun ke bawah.
Duduk di samping Shin Seo Hyun, Izzah masih merasa canggung.
“Kamu menyukai novel karya IN Cinnamon juga ya?”
Seo Hyun bertanya memecah kebisuan. Izzah mengangguk.
“Aku juga.”
“Oh ya?”
Izzah kaget, tak menyangka Seo Hyun memiliki kesamaan selera dengannya.
“Apa yang Tuan suka dari novel IN Cinnamon?” Izzah menyelidik.
“Selain ceritanya bagus dan menginspirasi, aku sangat mengagumi gaya bahasanya,” sahut Seo Hyun. “Penulis IN Cinnamon sangat pandai bermain kata sehingga tidak terkesan vulgar dan sangat sopan. Sepertinya dia masih menjunjung tinggi etika kepenulisan dan sangat mempertimbangkan kemungkinan adanya pembaca di bawah umur yang curi-curi kesempatan membaca karyanya.”
Izzah manggut-manggut. Untuk pertama kalinya ia mendengar langsung pandangan pribadi seorang penggemar kepada penulis IN Cinnamon.
“Tapi, sayangnya aku tidak berhasil mendapatkan karya terakhirnya.” Seo Hyun tampak kecewa. Wajahnya berubah muram.
“Maksud Tuan … Invisible Land?”
“Ya.”
Izzah mengambil sesuatu dari tas dan menyodorkannya kepada Seo Hyun.
“Ini. Ambillah untuk Anda!”
“Aku pinjam saja. Nanti aku kembalikan setelah selesai membacanya.”
Seo Hyun merasa tidak enak hati menerima pemberian Izzah. Ia tahu tidak mudah mendapatkan edisi terbatas.
“Tidak apa-apa, Tuan. Saya masih punya yang lain.”
“Oh ya? Waaah … kamu benar-benar pencinta sejati penulis IN Cinnamon ya?”
Izzah cuma senyum.
“Omong-omong, bagaimana kamu bisa memperoleh semua edisi terbatas itu?”
Izzah tak menjawab.
***