A Thousand Flowers

A Thousand Flowers
Chapter 11. Perkenalan



Pendar cahaya rembulan yang menimpa pepohonan menghadirkan bayang-bayang hitam memanjang seperti lukisan gelap bergradasi kelabu dan terlihat menakutkan. Suara makhluk nokturnal bersahut-sahutan, membuat suasana semakin mencekam.


Izzah terus berlari, menerobos semak belukar. Ia sangat ketakutan. Tak ia pedulikan tubuhnya yang tergores diadang tanaman liar. Tak ia hiraukan pakaiannya yang sobek karena tersangkut di saat ia terus berlari. Yang ia pikirkan hanyalah berlari dan terus berlari menyelamatkan diri dari penjahat bertopeng yang terus mengejarnya. Entah sudah berapa lama ia berlari sekuat tenaga. Napasnya terengah-engah. Pandangannya mulai berbintang.


“Yaa Salaam … selamatkan aku!” jerit Izzah di hati. Napasnya kian memburu. Pandangannya pun semakin kabur.


GREP!


Tiba-tiba sepasang tangan menarik Izzah dari balik semak-semak sesaat sebelum ia hilang kesadaran.


“Sial! Cepat sekali lari gadis itu,” maki penjahat bertopeng ketika kehilangan jejak gadis yang diburunya. Ia berbalik arah, kembali ke tengah Hutan Larangan.


***


Saat Izzah membuka mata, ia mendapati dirinya berada di sebuah kamar asing bernuansa putih. Ia berusaha bangkit, tetapi kembali terhempas. Tubuhnya sangat lemah. Seluruh persendiannya terasa nyilu. Ia mengingat-ingat apa yang telah terjadi.


Seorang wanita paruh baya memasuki ruangan, membawa sebuah mangkuk berisi ramuan herbal. Ia tersenyum melihat Izzah sudah bangun.


“Senang melihat Anda sudah sadar, Nona,” sapanya tersenyum ramah.


“Bibi siapa? Bagaimana aku bisa berada di sini?” tanya Izzah.


“Aku Naimah. Ki Daud yang membawa Nona kemari dua hari yang lalu.”


Izzah kaget, tidak menduga kalau ia telah pingsan selama itu.


“Di mana Ki Daud sekarang?”


Izzah ingin berterima kasih kepada orang yang telah menyelamatkannya. Tanpa bantuan Ki Daud mungkin sekarang ia telah kehilangan kehormatannya atau bahkan nyawanya. Ia kembali berusaha bangkit. Wanita itu mencegahnya.


“Tetaplah berbaring, Nona! Aku akan mengobati luka-lukamu,” pinta wanita itu.


Izzah menurut. Wanita itu membersihkan luka dan sisa-sisa herbal yang mengering dengan kain basah. Menyentuh Izzah dengan lembut dan sabar. Rasa hangat membuat Izzah merasa nyaman. Sesekali ia meringis menahan perih.


“Sekujur tubuhmu hampir dipenuhi luka, bahkan sebagian cukup dalam. Bagaimana ini bisa terjadi?” tanya wanita itu ingin tahu. Sementara tangannya terus bekerja merawat luka-luka di tubuh Izzah.


Setelah memperkenalkan diri, Izzah  menceritakan semua peristiwa yang dialaminya. Wanita itu mendengarkan  tanpa sekali pun memotong ucapannya.


“Bagaimana dengan Pak Jumali?” tanya Izzah dengan nada khawatir begitu mengakhiri ceritanya.


“Dia kehilangan banyak darah, tapi masih bisa diselamatkan.”


“Syukurlah kalau begitu.” Izzah  merasa lega.


Naimah telah selesai membersihkan dan mengobati luka Izzah. Ia berdiri, memungut mangkuk di atas meja kecil di samping tempat tidur.


“Sekarang beristirahatlah, Izzah! Aku akan mengambilkan bubur untukmu,” kata Naimah, lalu berjalan keluar dari kamar itu.


“Ya, Bi. Terima kasih sudah merawat saya,” balas Izzah sopan.


Naimah senyum, “Sama-sama, Izzah,” jawabnya sebelum menghilang di balik pintu.


Sepeninggal Naimah, Izzah berusaha keras untuk bangkit. Ia duduk berselonjor kaki, mengamati luka-luka di tubuhnya. Sebagian sudah mulai mongering. Namun, luka di lengan kirinya masih cukup parah.


“Luka ini cukup besar, seharusnya mendapatkan beberapa jahitan. Kalau hanya mengandalkan ramuan herbal yang dipasang Bi Naimah, sepertinya luka ini butuh waktu lebih lama untuk pulih,” ujar Izzah pada diri sendiri sambil mengamati luka itu lebih teliti.


Izzah menempelkan tangannya pada luka itu. Ia memejamkan mata, lalu mencoba menyalurkan kekuatan yang didapatnya dari Syifa.


***


Di sebuah ruangan yang rapi dan bersih, seorang lelaki paruh baya duduk di atas kursi di sudut ruangan sambil mempertajam sebuah mata panah.


“Apa gadis itu sudah bangun, Bi?” tanya lelaki yang biasa di panggil Ki Daud itu. Ia tahu perempuan bernama Naimah itu baru saja keluar dari kamar Izzah.


“Sudah, Tuan,” jawab Naimah penuh hormat.


“Bagaimana luka-lukanya?”


“Sebagian besar sudah mengering, Tuan. Tapi, luka di lengan kirinya cukup parah.”


“Ya, Tuan.” Naimah segera berlalu menuju dapur.


Ki Daud meletakkan anak panah di atas meja, lalu beranjak menuju kamar yang dihuni Izzah. Ia mendorong pintu pelan-pelan agar suara derit pintu  tidak mengagetkan Izzah yang mungkin sedang tertidur setelah Naimah mengobati lukanya.


Baru saja Ki Daud melongokkan kepalanya di celah pintu yang sedikit terbuka, sontak ia melangkah mundur. Mulutnya ternganga. Ia tidak percaya dengan apa yang disaksikannya di dalam kamar itu.


“Tidak mungkin. Bagaimana bisa?” ucapnya berkali-kali seraya menggeleng-gelengkan kepala. Ia bergegas kembali ke tempat duduknya semula.


Naimah keluar dari dapur dengan membawa semangkuk bubur ayam untuk diberikan pada Izzah. Ia menatap heran tingkah aneh Ki Daud yang tidak jadi masuk ke kamar Izzah.


“Ada apa, Tuan?” tanya Naimah penasaran.


Ki Daud kaget. Ia tidak menyadari kehadiran Naimah.


“Tidak apa-apa,” jawab Ki Daud singkat.


Ia kembali mengambil anak panah dari atas meja dan mengasahnya. Naimah maklum. Ia meninggalkan Ki Daud dan melangkah ke kamar Izzah.


***


Ki Daud memasuki kamarnya, mencari-cari sesuatu. Dibongkarnya lemari pakaian dan diperiksanya setiap sudut. Ia juga memeriksa bagian atas dan bawah. Ketika tak menemukan apa yang dicari, ia membuka laci meja. Lagi-lagi ia mendengus kecewa.


“Di mana ya?” Ki Daud mencoba mengingat-ingat di mana ia menyimpan benda yang dicarinya.


“Ah!” pekiknya.


Tak lama kemudian ia beranjak menuju tempat tidur, menyingkap seprai yang menjuntai, lalu menarik sebuah kotak kecil dari bawah tempat tidur itu.


Ki Daud tersenyum. Ditiupnya debu yang menempel di kotak itu, lalu diletakkannya di atas meja di pojok kamar. Perlahan ia membukanya, mengeluarkan selembar foto yang sudah usang dimakan usia. Namun, tulisan yang tertera di belakang foto itu masih terbaca dengan jelas.


M. Daud Hasyim &  Aisyah Rahmi


21 Juli 1997


Ki Daud membalik foto itu, menatap lekat sepasang pengantin yang sedang tersenyum bahagia. Ia menghela napas berat. Pikirannya menerawang, membayangkan saat-saat bahagia dua insan yang sedang dimabuk cinta.


Tok! Tok! Tok!


Seseorang mengetuk pintu kamar Ki Daud. Cepat-cepat ia memasukkan foto di tangannya ke dalam kotak, menutupnya dan menyimpan kembali di kolong tempat tidur.


“Makan siang sudah siap, Tuan!” panggil Naimah. Terdengar suara langkah kaki menjauh. Ki Daud segera keluar.


“Izzah dan Jumali mana?” tanya Ki Daud ketika tak melihat Izzah dan Jumali di meja makan. Biasanya mereka sudah duduk menunggu Ki Daud.


“Mereka sedang latihan memanah, Tuan,” jawab Naimah.


“Hem .…” Ki Daud hanya bergumam. Ia menyelesaikan makan siangnya lebih cepat.


“Tolong ambilkan busurku, Bi! Aku akan menyusul mereka,” perintah Ki Daud begitu selesai mengeringkan tangannya.


“Baik, Tuan.” Naimah bergegas ke ruang perkakas.


Ki Daud duduk di teras rumah mengasah belati kesayangannya. Naimah datang membawa busur yang diminta Ki Daud.


“Ini busurnya, Tuan.” Naimah menyerahkan busur itu kepada Ki Daud.


“Terima kasih, Bi.”


Ki Daud menerima busur dari tangan Naimah dan meletakkannya di lantai. Ia menyimpan belatinya, lalu membersihkan busur. Naimah tidak langsung pergi. Ia tetap berdiri mengamati Ki Daud bekerja.


“Tuan …,” Naimah menghentikan ucapannya begitu melihat Ki Daud sudah menyandang busurnya dan bersiap  pergi.


“Hati-hati di rumah, Bi!” pesan Ki Daud, lalu beranjak pergi, meninggalkan Naimah menghela napas panjang dengan tatapan menyimpan sejuta tanya.


***