
Sang gadis hanya melempar senyum dingin sembari pergi meninggalkan kedua pemuda yang baru saja datang tersebut, Geni hanya geleng-geleng kepala menyaksikan hal itu.
"Aku mengajak kakang kesini ingin bicara hal penting, eh... Kakang malah asik menggoda gadis-gadis" Sindir Wisang Geni sambil bercanda.
"Itu... Karna... Aku... Ah... Sudahlah" Jawab Karno dengan gugup.
"Apa yang ingin kau bicarakan Gilang? " Tanya Karno penasaran.
"Sudah saatnya kakang" Ucap Geni dengan nada serius, walau Wisang Geni atau Gilang tidak berbicara secara terbuka tapi Karno mengerti apa dan kemana arah pembicaraan itu.
"Kapan bergerak...? " Tanya Karno dengan nada serius menanggapi ucapan Gilang atau Wisang Geni.
"Sejauh ini semua masih dalam kendali kang, dan ingat tugas kakang yang pernah saya perintahkan!" Ucap Gilang pada Karno mengingat kan tugas yang sudah di percayakan.
*** Area Alas Mentaok ***
Di luar gerbang kerajaan tepatnya daerah alas Mentaok terjadi sepatu yang aneh, daerah yang dulunya sepi kini ramai. Seperti halnya sebuah desa yang sudah cukup lama, banyak yang bekerja membangun rumah sederhana, ada juga kedai atau warung buat makan, hal tersebut nampak wajar dan biasa.
Tapi jika di cermati lebih mendalam maka akan terlihat sebuah kejanggalan, dimana hampir semua penduduknya laki-laki, ada perempuan hanya beberapa dan tidak sebanding dengan laki-laki nya, di samping itu tidak terlihat adanya anak kecil yang lalu-lalang.
Mereka adalah prajurit Kerajaan Pajang yang bersiap bertarung merebut kembali kerajaan Mataram. Mereka membangun benteng pendam atau persiapan diarea alas mentaok.
Hal tersebut sebenarnya diketahui para telik sandi kerajaan Mataram, namun karena mereka kurang begitu teliti maka para mata-mata tersebut tidak menyadari kejanggalan-kejanggalan yang ada di desa tersebut.
Daerah dimana prajurit pajang membangun benteng pendem tersebut atas arahan dari Geni, pemuda tersebut hafal waktu dulu membebaskan raja Cokro waktu ditawan raja Ageng Gumilar.
Sudah dua bulan lebih prajurit pajang berada di kawasan hutan Mentaok, suatu pagi para telik sandi yang di pasang oleh Raja Hadi melihat sebuah perahu yang berhenti di tepi sungai dimana tempat kapal ini bersandar dekat dengan perkampungan yang mereka dirikan.
"Lapor raja, ada pergerakan yang mencurigakan" Ucap salah satu telik sandi tersebut.
"Pergerakan bagai mana yang kau maksud?" Ucap raja Hadi, bukan beliau tidak paham hanya saja laporan tersebut tidak boleh bias dan kurang tepat mana kala salah mengambil tindakan, sekali salah maka mereka akan sangat dirugikan karna posisi mereka amat sangat tidak menguntungkan.
Prajurit pun melihat adanya perahu yang cukup besar, dan anehnya penumpang hanya beberapa orang saja, seperti mengintai posisi mereka saat ini.
"Terus awasi, jika mencurigakan segera... " Ucapan raja Hadi Wijaya tak terselesaikan, sambil memberikan isyarat menghunus pedang hanya sebagian dan menyarungkan kembali. Tanda tersebut sudah cukup untuk memberikan petunjuk agar menghabisi kawanan tersebut jika memang mencurigakan.
Setelah rombongan tersebut turun, pergerakan mereka pun sedikit mencurigakan, satu persatu dan seperti hal nya mengamati serta takut akan diketahui oleh musuh.
Tindakan tersebut bukan tanpa dasar, hal ini memang sengaja mereka lakukan agar tidak diketahui.
"Berhenti kalian!!! Kenapa memasuki Wilayah kami seperti ada yang kalian tutupi?! " Ucap salah seorang yang memakai pakaian serba hitam serta memegang pedang yang telah terhunus.
"Maaf Kisanak kami hanya numpang istirahat sejenak" Jawab salah seorang dari anggota perahu tersebut dengan tenang.
"Serang...!!! " Perintah pimpinan yang memakai baju hitam tersebut.
Tak ayal, mendapat perlakuan seperti itu mereka pun berusaha memberikan perlawanan dan pertempuran pun terjadi dengan sengitnya.
Wuzzz, swing tring... Bunyi pedang yang berkelebat.
Walau tanpa senjata kelompok dari kapal tersebut memberikan perlawanan yang cukup sengit.
"Mereka... Mereka adalah bajak laut yang di pimpin macam Kumbang" Teriak salah satu orang yang menggunakan pakaian serba hitam tersebut, prajurit ini pernah melakukan penumpasan penjahat di daerah Kerajaan Pati, dan dia hafal betul siapa lawan mereka saat ini.
Mendengar dari prajurit bahwa mereka adalah Macan Kumbang Raja Hadi sontak menuju tempat dimana mereka bertarung.
Rombongan yang datang ke daerah tersebut menggunakan perahu tersebuat adalah rombongan raja Cokro.
"Cepat lindungi Tuan! " Perintah Macan Kumbang kepada saudara nya, dia merasa pertarungan ini tidak akan mudah. 20 orang prajurit Pati pun kewalahan melawan 7 bawahan wisang Geni yang memang mereka merupakan pendekar pilih tanding.
"Dasar para penjahat, apa kalian sekarang bergabung dengan Kerajaan Mataram?! Teriak raja Hadi dengan mimik muka memerah serta pedang yang telah terhunus.
" Sabar paduka kita berada di pihak yang sama" Ucap macan Kumbang sambil sibuk menangkis serangan yang dilancarkan oleh Raja Hadi.
Raja Hadi Wijaya yang sudah dalam keadaan marah pun langsung menyerang dengan brutal dan tak mau mendengar penjelasan dari lawannya. Dengan pedang Jiwa membara semakin sakti lah Raja Hadi, kini keadaan pun berbalik.
Disisi lain, mendengar suara Raja Hadi, Raja Cokro pun baru sadar bahwa lawan yang menjadi bawahan anaknya adalah adik iparnya, tak ingin terjadi perselisihan Raja Cokro pun buka suara.
"Hentikan pertarungan, adik Hadi... Apa kau sudah tidak mengenal ku lagi?! " Ucap Raja Cokro sambil melompat mendekati area pertarungan.
Raja Hadi Wijaya pun menghentikan serangan dan mundur beberapa langkah ke belakang. Dia memperhatikan sosok laki-laki paruh baya yang coba melerainya.
"Ka... Ka... Kakang Cokro!? " Ucap Raja Hadi mengenal seraut wajah yang sudah lama tidak dia jumpai. Sembari menyarungkang pedang dia pun menuju Raja Cokro dengan sedikit prihatin melihat keadaan kakak iparnya tersebut.
" Kakang, bagaimana keadaanmu dan bagai mana mbakyu serta keponakan-keponakan ku? " Ucap Raja Hadi dengan rasa bahagia serta sedih melihat keadaan Raja Cokro yang seperti saat ini, dengan pakaian lusuh serta tampak kurang istirahat.
"Aku, mbakyu dan anak-anak ku semua dalam keadaan sehat" Jawaban singkat itu mengakhiri sapaan ringan oleh mereka berdua (Raja Cokro dan Raja Hadi).
"Lalu mereka...?! " Ucap Raja Hadi dengan nada sedikit sinis pada tujuh macan gunung tidar.
"Mereka adalah pengawal ku, mereka yang bertugas membawaku kemari dengan selamat, tanpa adanya mereka aku tak akan mudah sampai tempat ini" Jawab Raja Cokro.
Mendengar jawaban Raja Cokro, Raja Pati itu pun sedikit tenang, dan pandangan sinis kini berubah biasa saja.
"Semua bubar... Kembali ke tugas masing-masing, mari kang menuju tenda ku, dan kalian ber tujuh masih punya hutang penjelasan pada ku" Ucap Raja Hadi pada prajurit, serta kepada Tujuh macan gunung tidar. Raja Cokro pun menuju tenda Raja Hadi sambil bercakap-cakap ringan.