SATRIA PININGIT

SATRIA PININGIT
TERTANGKAP BASAH



Ach...kau Karno,mengagetkan aku saja, aku dari luar cari angin" jawab Gilang singkat sambil merebahkan badan pada dipan(tempat tidur dari kayu).


"Kukira kau dari mana...besok aku ajari ilmu pengobatan yang kau kuasai ya..."pinta Karno yang memang tertarik dengan kemampuan pengobatan Gilang.


Gilang yang sangat capek tak menghiraukan apa yang dikatakan Karno dia tertidur begitu merebahkan badannya pada dipan(tempat tidur).


"Dasar *****(nempel molor/tidur)" gerutu Karno sedikit jengkel dengan anak ini.


Hari-hari menjelang kompetisi dilakukan dengan latihan seperti biasa, calon prajurit belum di ikut sertakan kegiatan seperti prajurit pada umumnya. Rencana dari kerajaan mataram perekrutan prajurit akan dilaksanakan setelah kompetisi pemilihan prajurit penjara.


Hal ini dilakukan bukan tanpa alasan, raja Ageng Gumilar mengingingkan prajurit penjaga penjara juga menjadi prajurit benteng terakhir penjaga istana juga, Bisa dikatakan mereka(prajurit penjaga penjara) difungsikan sebagai prajurit khusus. mereka tidak di gunakan perang melainkan pengawal khusus raja disamping tugas pokoknya sebagai penjaga penjara.


Hari pertandingan seleksi pemilihan pun siap dimulai kembali, Arena pertandingan sudah siap.


"Hari ini pertandingan bisa dimulai kembali..." teriak paman juri pertandingan yang berada di tengah-tengah arena pertandingan.


Pertandingan dimulai seperti biasa, dentingan suara pedang serta terikan-teriakan penyemangat terdengar Indah seperti alunan musik para maestro. Karno pun menunjukan kan ilmu silat yang cukup tinggi,tak jauh bede dengan Kebo Edan.


Dua peserta ini memang awalnya di unggulkan menjadi juara sebelum kehadiran Gilang. Tapi tak bisa dipungkiri bahwa mereka berdua tetap jadi kandidat terkuat saat ini.


Namun itu semua bukan masalah bagi Gilang yang memang dia tak mengharap juara pada kompetisi kali ini. Dia hanya bertindak sesuai rencana yang dia buat.


Dalam ruang penjara,kondisi sang raja pun sudah membaik seperti semula,ada semangat baru dalam batinnya setelah bertemu pemuda yang bernama Wisang Geni,walau sang raja sendiri tak melihat wajah orang itu tapi batinnya yakin dengan orang yang menyelamatkan keluarganya itu.


Pertandingan menyisakan 4 kandidat terkuat, Gilang, Karno, Kebo Edan dan Sukmo Aji. Mereka berempat memiliki kemampuan yang bisa dikatakan tidak hebat walau tak sehebat Gilang.


Kebo Edan akan melawan Sukmo Aji sedang Gilang melawan Karno. Gilang masih meraba kemampuan Karno karna sampai saat ini dia belum pernah bertanding melawan pemuda yang jadi temannya selama ini. Karna di pertandingan sebelumnya Karno juga belum memperlihatkan kemampuan sebenarnya.


Pertandingan Kebo Edan dan Sukmo Aji memperebutkan juara 3 sedang Gilang dan Karno memperebutkan  juara 1 dan 2.


Pertandingan akan dilaksanakan besok jadi untuk hari ini para peserta yang akan bertanding di perbolehkan untuk istirahat lebih awal.


"Gilang...kau akan kemana nanti?" Tanya Karno sambil jalan menuju barak.


"Apa maksudmu?" Tanya Gilang sedikit bingung, dia kawatir apa penyusupannya di ketahui orang lain.


"Maksudku kau akan jalan-jalan lagi apa tidak kalau tidak aku ingin kau mengajari aku ilmu pengobatan." Pinta karno pada Gilang.


"Syukur dia tak tahu...kalau sampai tahu pasti kacau rencana ku." Batin Gilang sambil melamun membayangkan rencana yang telah dia susun.


"He...kau malah melamun"tegur Karno pada Gilang.


Siang itu tak hanya Karno yang datang,bahkan 2 peserta lain juga ikut bertandang ke tempat Karno dan Gilang. Mereka juga ingin bersahabat dengan Gilang.


"Dek Gilang....maaf ganggu waktu mu...boleh kita berbincang tentang penempaan senjata?" Pinta Kebo Edan bersama Sukma Aji kepada Gilang.


"Bisa kang...nanti akan saya ajarkan kepada kakang" jawab Gilang sopan pada Kebo Edan yang memang usianya lebih tua dari dirinya.


Akhirnya siang itu mereka bertiga belajar tentang ilmu pengobatan serta ilmu menempa senjata,ketiga orang tersebut mendengar segala arahan yang diberikan oleh Gilang. Sebagian besar dari yang disampaikan sudah dapat mereka mengerti.


Malam ini Gilang ingin menyusup kembali,dia ingin memastikan bagaimana kondisi raja Cokro. Jika di rasa mampu besok setelah pertandingan selesai maka dia akan membebaskan sang raja.


Malam ini seperti malam-sebelumnya sepi, sunyi dan tak nampak manusia lain yang lalu-lalang hanya beberapa prajurit yang berjaga di depan istana yang masih tampak bugar.


Gilang menggunakan pakaian seperti ninja dengan muka tertutup khas ninja jepang. Sebelum memulai aksinya dia memastikan bahwa Karno sudah tidur dengan lelap. Dia sudah merasa aman dan segera memulai aksinya menembus kegelapan malam.


Gilang bertindak serapi mungkin dan tak mau ada kesalahan,karna sedikit kesalahan akan berakibat fatal, baik untuk keselamatan sang raja ataupun dirinya. Karna dari situ Gilang tak bertindak ceroboh.


"Yang mulia bagai mana keadaan paduka?" Tanya Wisang Geni pada raja Cokro yang duduk meditasi. Kesehatan raja Cokro telah kembali seperti sedia kala,luka sayatan maupun lebam sudah tak nampak disana.


"Sudah kembali seperti sedia kala Tetua"jawab singkat raja Cokro entah bingung apa yang harus dia katakan pada penyelamatnya. Dia pun hanya menduga bahwa usia dibalik topeng itu pastilah tak jauh beda dengan usianya.


"Maaf paduka hamba masih muda harap paduka jangan terlalu sungkan,besok malam hamba akan berusaha mengeluarkan paduka, saya harap paduka bersiap setelah malam tiba,hamba mohon pamit paduka." Ucap Wisang Geni sembari menyerahkan pakaian pada raja Cokro, pakaian sederhana layak seorang petani biasa.


Tanpa menunggu jawaban dari raja Cokro Wisang Geni langsung pamit meninggalkan tempat tersebut, karna dia takut tindakan ini akan diketahui dari pihak lawan.


Manusia hanya bisa berencana Tuhan yang menentukan segalanya, sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga. Istilah itulah yang tepat menggambarkan keadaan Gilang atau Wisang Geni, pergerakannya telah diketahui seseorang. Geni pun tak tahu ada beberapa pasang mata mengamati dari kejauhan apa yang dilakukan Wisang Geni.


Merasa aman Gilang luar tembok kerajaan untuk mengganti pakaian yang dia kenakan.


Swing...swing...crap...crap, suara dua belati tertancap tepat dibelakang pohon tempat dia berdiri. Dia pun bingung dari mana asal lemparan belati ini?.


Tiba-tiba keluar tiga orang dari balik persembunyian, tiga orang yang tidak asing bagi Gilang, tiga orang yang siang meminta petunjuk atau pelajaran mengenai ilmu pengobatan dan penempaan senjata.


Mereka bertiga adalah Karno, Kebo Edan dan Sukmo Aji.


Merasa tak enak, walau pun Gilang yakin mereka tak tahu wajahnya pemuda ini menyapa lebih dulu.


"Kenapa kisanak tiba-tiba menyerang ku,apa salah ku?" Tanya pemuda bertopeng yang tak lain adalah Gilang atau Wisang Geni.


"Kenapa kau bilang,apakah menyelinap kedalam penjara malam-malam merupakan tindakan benar?kau kira kerajaan ini milik ayah mu?" Jawab Karno dengan nada tenang.