
"Dari mana kau dapat kupang itu?" Tanya Geni yang tahu gadis ini tidak memiliki kupang.
"Kemarin aku diberi kupang oleh paman Hadi" Jawab gadis itu singkat sambil menyerahkan buntelan pakaian yang cukup besar pada Wisang Geni. Melihat tuannya membawa buntelan tersebut Macan Lembah mengambil alih pekerjaan tersebut.
"Paman...ini aku beli baju untuk kalian, masing-masing ambil dua pasang ya, biar bisa ganti-ganti, jangan baju itu-itu terus yang di pakai" Ucap Pitaloka sambil menyerahkan baju pada 7 orang tersebut.
"Lalu aku mana?aku tak punya baju ganti lagi?!" Ucap Geni dengan nada mohon.
" Untuk suami ku tercinta pasti ada, tapi nanti ya setelah sampai rumah paman Bejo" Ucap genit Pitaloka pada Wisang Geni.
Rombongan yang mendengar langsung mengalihkan pandangan mereka ke arah lain serta bersiul-siul seakan tidak melihat kejadian tersebut.
Menjelang Sore rombongan Wisang Geni sampai pada kedai milik paman Bejo.
"Selamat datang nak Geni, bagai mana keadaannya?" Sapa paman Bejo pada Wisang Geni. Mereka mengutarakan keinginan untuk singgah beberapa waktu di tempat paman Bejo.
Sebelumnya Wisang Geni meminta paman Waryo untuk memperbaiki kapal yang dimiliki oleh paman Kumbang, kapal bekas yang di pakai untuk merampok tersebut.
"Kami minta ijin untuk singgah beberapa waktu disini paman, sembari menunggu kapal kami diperbaiki." Ucap Wisang Geni pada paman Bejo.
"Silahkan nak Geni, nak Geni dan istri sudah kami anggap seperti keluarga sendiri, kalau boleh tahu siapa 7 orang yang gagah ini nak Geni?" Tanya paman Bejo pada Wisang Geni.
"Mereka adalah saudara seperguruan ku paman" Jawab Geni menjelaskan identitas mereka.
Setelah sedikit berbasa-basi mereka akhirnya makan bersama dengan keluarga paman Bejo. Malam ini suasana rumah paman Bejo nampak ramai bukan karna tamu yang beli makanan di warung tersebut, melainkan tamu istimewa mereka, Wisang Geni dan rombongan.
Dalam acara makan tersebut mata Macan gunung dan Macan Lembah tak lepas dari 2 gadis yang merupakan anak dari tuan Rumah, yayuk dan Sri. Hal ini diketahui oleh Geni dan Pitaloka. Acara makan malam pun Selesai, akhirnya paman Bejo dan bibi menyiapkan tepat istirahat untuk Geni dan Pitaloka.
Sedang ke tujuh bawahannya tidur pada kedai yang terdapat Lincak(semacam tempat duduk dari bambu yang bisa digunakan untuk tempat rebahan). Sebelum masuk kerumah paman Bejo Wisang Geni berbincang dengan kedua orang dari kelompok tersebut.
Kang Gunung dan Kang Lembah, apa kakang tertarik pada Yayuk dan Sri? Kalau kakang tertarik nikahi saja kakang setelah urusan selesai nanti" Ucap Wisang Geni menggoda dua laki-laki yang memang pantas menjadi kakaknua tersebut, mereka hanya senyum malu-malu.
"Apa pantas kami yang mantan bajak laut untuk mereka berdua tuan" Jawab Keduanya dengan nada sedikit menyesal karna perkerjaan mereka sebelumnya.
"Kakang... Tidak ada kata terlambat untuk sebuah awal yang baik, aku harap kakang berdua bisa menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya" Ucap Wisang Geni menyemangati kedua bawahan tersebut, jelas kelima saudara yang lain pun tertawa melihat raut muka malu-malu kedua adiknya itu.
"Aku istirahat dulu paman, kakang... Besok kalian bantu paman Bejo mempersiapkan pembangunan penginapan ya!" Perintah Geni pada 7 orang bawahannya.
Mereka bertuju tetap didalam kedai paman Bejo, sedang Geni menuju rumah yang berada tak jauh dibelakang kedai tersebut. Semua orang tampak kelelahan terutama keluarga paman Bejo yang sibuk di kedai serta mempersiapkan pembangunan penginapan yang akan segera dibangun.
"Mari kakang istirahat" Ajak sang gadis sambil menepuk-nepuk bantal yang ada disampingnya.
Geni merasakan darah mudanya kembali bergemuruh, kamar ini, situasi seperti ini, dua pekan lalu mereka pemasan dan hampir olah raga malam disini. Apakan akan terulang kembali, batin pemuda ini jauh menerawang.
"Kenapa kakang diam saja, apa kakang takut kalau aku akan menggigit mu?" Candaan Pitaloka dengan kata-kata "gigit" Baru saja mengingatkan dirinya bahwasanya dialah yang mengigit-gigit gadis ini waktu itu.
Geni langsung rebahan di samping Pitaloka, dalam dada gadis ini selalu mendesir aneh mana kala berdekatan dengan pemuda ini, dia sadar bahwa dirinya telah jatuh hati pada pemuda ini, dia dia tahu bahwa pemuda tersebut juga merasakan hal seperti yang dia rasakan. Perasaan yang sebenarnya tidaklah sulit di ungkapkan namun tidaklah mudah untuk di ucapkan.
Malam ini terasa begitu panjang karna kedua insan ini sedang hanyut pada pikiran masing-masing.
"Kakang... Apa gadis itu (Diah Ayu) lebih cantik dari ku?" Tanya Pitaloka ingin tahu seperti apa gadis yang ada di Desa Bambu Kuning tersebut.
"Dia gadis yang baik" Jawab Wisang Geni singkat.
"Kakang... Aku tanya apa jawabnya apa?Malas aku! " Ucap Pitaloka sewot.
"Sudah... Tidur saja tidak usah berfikir macam-macam" Ucap Wisang Geni pada gadis yang berada disamping nya.
Pitaloka juga tak peduli dengan hubungan Wisang Geni dan Diah Ayu, Pitaloka akan terus ikut pemuda ini kemana pun pemuda ini pergi batin sang gadis.
"Ini kang minumnya" Ucap Yayuk menyerahkan teko minuman dari tanah kepada Macan Gunung. Terlihat wajahnya memerah sambil berlalu pergi dari ketujuh orang yang bekerja membantu pembangunan penginapan. Tak berapa lama sang adik Sri pun datang membawa makanan ringan untuk mereka.
"Ini kang" Ucap Sri yang menunjukan raut muka tak jauh beda dengan mbakyu nya, dia menyerahkan nampan yang berisi rebusan singkong dan pisang pada Macan Lembah.
"Tampaknya sebentar lagi aku akan punya keponakan" Ucap Macan Kumbang sambil bercanda dengan saudara lainnya. Mendengar hal itu semua tertawa kecuali Gunung dan Lembah yang diam serta tertunduk malu.
Hubungan mereka ber empat semakin akrab dan seakan tahu perasaan dalam hati masing-masing. Mereka berdua(Macan Gunung dan Macan Lembah) punya rencana untuk meminang keduanya setelah mendapat restu dari kakang mereka dan tentunya dari Wisang Geni.
Tapi mereka masih bingung akan Tujuan sang tuan yang hendak ke Mataram.
Sepekan berlalu hari ini adalah hari mereka harus kembali ke dermaga pelabuhan dimana dari sana mereka akan berangkat menuju Mataram dengan menggunakan kapal yang di perbaiki oleh paman Waryo.
"Kau sabarlah, kelak aku akan menemui mu lagi" Ucap Macan Gunung nerpamitan pada Yayuk. Hal yang sama pun dilakukan oleh Macan Lembah pada Sri Rokayah adik dari Yayuk.
"Paman, kami pergi dulu kelak jika ada waktu pasti aku akan mampir kesini lagi" Ucap Geni pamitan pada paman Bejo.