SATRIA PININGIT

SATRIA PININGIT
PEMBERSIHAN... (MUSNAH)



Malam itu di markas penjahat yang menyebut diri sebagai iblis bathara kala tiba-tiba gempar... Para komplotan segera mengepung 12 orang termasuk Lokahita. Di sebuah pelataran 2 rumah yang cukup besar mereka mulai menyerang. Keributan tersebut tak lepas dari pendengaran Singo Maruto.


Tring... Trang... Crap... Suara pedang saling beradu, di tambah Tusukan dan sabetan pedang pada tubuh masing-masing petarung terdengar begitu nyaring. Ditambah lagi dengan keadaan malam yang sunyi, bunyi itu semakin terdengar lebih memekak kan telinga.


" Dasar lacur... Kenapa kau menghianati kami...!" Bentak Singo Maruto, dengan nada penuh emosi karna sakit hati, dia merasa dihianati oleh gadis itu, timbul rasa benci yang teramat sangat dalam hatinya pada Lokahita. Dia merasa di permainkan.


" Serang mereka...!!! Perintah Singo Maruto sambil menyerang dengan ganas. Tingkat kemampuan Singo Maruto sendiri adalah tingkat Ksatria madya tingkat 1, kemampuan yang cukup mumpuni bagi seorang pendekar. Tapi sayang jalan yang dia tempuh tidaklah benar. Bersekutu dengan para penjahat yang akan melaksanakan kudeta pada kerajaan. Ambisi menjadi petinggi sebuah kadipaten atau kerajaan dilakukan dengan cara yang salah.


Jika dilihat dari segi kemampuan jelas Singo Maruto akan kalah dengan Lokahita atau Patih Wiryo yang mempunyai tingkat Ksatria madya tingkat 2,tapi dengan bala bantuan yang dia miliki itu terasa sulit, ditambah kualitas tubuh Wiryo dan Lokahita hanya berada pada tingkat tubuh harimau. Apalagi 10 prajurit yang di bawa dalam perjalanan ini hanya berada di tingkat pendekar utama, atau bisa dikatakan kemampuan prajurit pada umumnya. Dengan banyak nya musuh mereka pun terpojok. Anggota iblis bathara kala memang tinggal separuh kekuatan, tak beda pula di pihak mereka hanya tersisa 5 prajurit.


" Lokahita cepat pergi cari bala bantuan... " Printah Wiryo yang sedang kewalahan menahan gempuran para anggota iblis bathara kala di tambah ganas nya ketua mereka. Singo Maruto menyerang dengan kekuatan penuh karena dia merasa di hianati Lokahita.


" Tidak kakang..." Kalau harus mati, kita akan mati bersama..." Jawab Lokahita yakin dengan keputusannya. Kata-kata Lokahita memang menambah semangat juang sang Patih. Tapi sayang tenaga mereka sudah mulai habis. Detik-detik dimana mereka telah pasrah...


" Serang.... " Teriak seorang pemuda dengan gagah sambil duduk di atas kuda. Di menghabisi para lawan dengan ganas. Setiap pedang yang di sabet kan pasti membelah tubuh anggota iblis bathara kala. Keadaan mulai berubah, pemuda yang sudah berumur 25 tahun ini adalah Patih Kecik. Dengan bala bantuan yang memang lebih banyak dari komplotan itu Patih kecik menguasai arena pertarungan, dia melihat rekan patihnya yaitu wiryo dengan tubuh yang memprihatinkan, banyak luka sayatan dan darah mengalir dari sudut bibirnya.


"Setan...siapa lagi ini... Hadapi aku...! " Teriak singo Maruto pada patih kecik, patih kecik sendiri kemauan hampir sama dengan lawannya, tapi memang lebih hebat dan sakti singo Maruto dari patih kecik. Serangan demi serangan pun terjadi.


Patih kecik pun kalah, tapi memang semua sudah di rencana kan lokahita dengan bala bantuan yang kuat pasti singo Maruto dapat di kalahkan. Patih kecik terkena pukulan pada dadanya, tapi dari arah belakang patih wiryo telah melesatkan tendangan ke arah punggung Singo Maruto, di tambah serangan yang lokahita mengecam pada titik-titik berbahaya dari Singo Maruto.


Semua anggota atau komplotan iblis Bathara kala dapat di kalahkan, pedang wiryo pun sudah menempul pada leher Singo Maruto.


" Cepat katakan dimana kelompok kalian yang lain... " Tanya Lokahita.


" Bunuh saja aku.... Aku tak akan mengaku dimana para anggota lu yang lain... " Jawab Singo Maruto tanpa gentar.


"Aku tanya sekali lagi... Dimana...? Bentak Lokahita.


" Perempuan penghianat.... Kau perempuan lac...ur... "


Sebelum menyelesaikan pertanyaan itu kepala Singo Maruto telah terlepas dari badannya.


" Kau tak pantas menyebut nona kami seperti itu... " Ayunan pedang wiryo menebas leher ketia penjahat tersebut.


Walaupun datang sedikit terlambat patih kecik merupakan penyelamat merka. Patih kecik sedikit tidak enak hati karna keterlambatannya dalam membantu sang putri.


" Mohon beribu ampun gusti putri... Hamba datang terlambat..." Sambil berlutut patih Kecik memohon maaf.


" Baik patih... Kuburkan mereka semua, setalah itu bakar rumah ini sampai tak bersisa... Kau sembuhkan luka mu setelah itu kau bisa bertugas seperti biasa, dan satu hal lagi jangan ada panggilan yang berbau putri pada ku, cukup panggil aku Lokahita... " Perintah Lokahita pada patih kecik.


Setelah proses pemakaman itu, rumah dan barang-barang hasil rampokan mereka bakar, dan kupang-kupang dikumpulkan nanti serahkan kepada masyarakat atau penduduk kadipaten bantul untuk membantu perekonomian warga setempat.


Dari pembersihan ini satu kelompok penjahat telah teratasi tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Kelompok iblis Bathara kala seakan-akan "MUSNAH" di telan bumi.


Pembersihan kerajaan Mataram pun berlanjut. Bahkan tidak sedikit prajurit yang meninggal dalam melaksanakan tugas. Hari itu satu komplotan telah musnah, desa Bambu Kuning pun terbabas dari malapetaka yang akan menimpa. Karna pergerakan para penjahat telah tercium prajurit kerajaan Mataram.


Penduduk pun tak menyadari kejadian kemarin malam, hanya menyisakan gundukan tanah tanda makam yang masih baru serta bekas bakar-an rumah yang hanya tersisa arang bekas kayu terbakar.


Patih wiryo sangkolo pun telah sembuh setelah beberapa hari dirawat Lokahita, benih cinta mulai tumbuh di hatinya. Lain dengan sang putri, dia merasa kasihan pada kakak seperguruannya ini. Dalam hati Lokahita hanya terbesit kewajiban untuk menolong sang Patih. Walau terkadang ada rasa kagum dan simpati dengan apa yang dilakukan sang Patih. Tapi itu semua belum cukup menumbuhkan benih cinta di hati sang putri.



Terlihat dua orang muda-mudi saling Becakap- cakap, kedua nya terlihat sangat akrab,...


" Terimakasih Lokahita... Kau telah merawat ku selama ini... "


" Tak apa kakang... Kakang terluka karna membela kerajaan, jadi sudah jadi tanggung jawab ku merawat kakang.


Wajah wiryo menjadi merah mendengar ucapan Lokahita. Kata-kata Lokahita sekan meng-isyaratkan bahwa itu adalah tanggung jawabnya (Lokahita), perasaan senang bahagia dan malu campur jadi satu.


" Kenapa muka kakang merah...? Apa kakang deman...? " Tanya Lokahita pada wiryo.


" Ti... Tidak Lokahita... Aku tidak deman.... Mungkin hanya terlalu capek..." Jawab wiryo gugup memandang wajah ayu Lokahita.


"Oh.... Baik kakang... Kalau begitu kita berangkat menunggu kakang benar-benar sembuh, aku tidak mau terjadi hal yang tak dinginkan pada kakang..." Kata-kata Lokahita kali ini Benar-benar membuat jantungnya seakan berhenti berdetak. Ucapan yang baru keluar dari gadis yang selama ini dia kagumi merupakan sebuah bentuk perhatian....


" Apa dia juga menyukai aku...? Biar waktu yang akan menjawabnya...." Batin Wiryo senyum-senyum sendiri.


" Kakang kenapa tiba-tiba tersenyum...? Apa ada yang aneh pada ku kakang...? " Tanya sang putri. Wiryo hanya bisa menggelengkan kepala, tanda memang tak ada yang salah.


" Kakang aneh,...tiba-tiba muka merah, terus senyum-senyum sendiri lalu di tanya cuma geleng-geleng..." Protes Lokahita pada Wiryo sembari meninggalkan tempat istirahat sang patih.