
"Tidak paman... Aku punya senjata yang lebih lebat dari pedang paman itu" Ucap Geni dengan bercanda. Setelah mengetahui kondisi Wisang Geni baik, raja dan guru beladiri Pajang segera kembali ke tempat Masing-masing dan membiarkan pemuda ini istirahat.
Malam ini kedua muda-mudi ini berkemas-kemas menyiapkan perlengkapan yang harus dibawa, pakaian selimut serta kasur tipis terbuat dari kapas.
"Kenapa banyak sekali barang yang kamu bawa"tanya Geni heran tak seperti biasanya gadis ini mempersiapkan perlengkapan yang dibutuhkan dengan begitu teliti.
" Ini semua untuk bekal kita kakang, agar perjalanan kita nyaman kakang" Jawab Pitaloka sambil memeriksa barang yang kurang.
"Tapi tidak sebanyak ini juga" Ucap Geni tanpa melarang tindakan sang gadis. Setelah sekian lama perlengkapan telah selesai disiapkan dan telah masuk kedalam gelang penyimpanan Wisang Geni.
"Kakang..." Panggilan Pitaloka secara lembut, itu adalah senjata andalan yang dia miliki untuk melemahkan jagoan dari Gunung Tidar ini.
"Suara itu... " Batin Wisang Geni melayang mendengar suara seperti ini, suara yang begitu manja, mengingatkan sang pemuda diwaktu mereka bergulat diatas ranjang ini.
"Kakang... Kenapa kau malah melamun?tanya sang gadis yang sudah duduk disampingnya.
" A... Ada apa Pitaloka?" Tanya Geni gugup menanggapi pertanyaan dari Pitaloka, dia tidak begitu jelas mendengar pertanyaan sang gadis karna asik dengan lamunannya.
"Aku senang waktu kakang tadi memanggil ku adik," Ucap Pitaloka pelan di dekat telinga Wisang Geni.
"Kapan? Aku lupa" Jawab Wisang Geni pura, dia tadi keceplosan waktu berbicara dengan Raja Hadi.
Sang gadis tahu bahwa pemuda didepannya pura-pura lupa.
"Apa kakang sayang pada ku?" Tanya Pitaloka sambil menunduk malu, dia kali ini berharap jawaban dari Geni. Mendapat pertanyaan yang cukup serius Geni langsung menatap gadis ini dengan tatapan mata tajam, sekilas tatapan mereka bertemu sejenak sebelum sang gadis kembali tertunduk malu.
"Aku sayang padamu,Tapi aku harap kau memahami situasi saat ini, kelak kalau semua sudah kembali seperti sedia kala baru akan kita bahas lagi." Jawab panjang lebar sang pemuda menjelaskan keadaan saat ini, pikir Wisang Geni kurang bijak jika saat ini mereka berfikir masalah perasaan yang mereka alami.
Pernyataan sederhana dari Wisang Geni sudah lebih dari cukup untuk sang gadis, dia begitu senang hingga wajahnya memerah.
"Trimakasih kakang" Ucap gadis ini tetap menunduk malu.
"Mari istirahat, besok kita akan melakukan perjalanan kembali" Ucap Geni sambil merebahkan tubuh nya.
Pitaloka pun rebahan miring di samping pemuda ini, Geni tidak melarang sang gadis. Bahkan Wisang Geni senang dapat berduaan dengan gadis cantik ini, apalagi jika teringat malam-malam sebelumnya.
Dengan posisi membelakangi Geni, Pitaloka pun bersuara kembali.
"Kakang...entah kenapa sekarang aku tidak dapat tidur jika tak ada kakang disamping ku" Ucap sang gadis tetap membelakangi Geni.
"Apa kau sadar dengan kelakuan mu itu?, aku laki-laki normal, yang aku khawatirkan jika suatu saat akan tidak dapat menahan gejolak ini entah apa yang akan terjadi" Ucap Geni sambil membalikan tubuh sang gadis menghadap dirinya.
"Sudah terkam saja makanan ini, dia juga mengharap hal itu," Setan dalam batin Geni pun perlahan membisikan nyanyian yang semakin kencang, tapi dengan segala adat serta norma yang pernah dipelajari dari sang guru, pemuda ini berhasil menghilangkan pikiran kotornya dan dapat tidur dengan tenang. Sama halnya Wisang Geni, gadis ini pun ingin sekali merasakan hal yang pernah mereka alami, hanya saja gadis ini malu.
Dua muda-mudi ini bangun lebih awal, mereka telah mempersiapkan segala sesuatunya semalam.
"Paman, bibi serta pangeran, kami berterimakasih karna selama disini saya dan adik Pitaloka banyak merepotkan paman serta bibi" Ucap Geni pada keluarga raja Hadi Wijaya.
"Tidak apa-apa nak Geni, sering-seringlah kesini juga bibi minta tolong jaga anak bandel ini."ucap permaisuri kerajaan Pajang pada pemuda yang ada didepannya.
" Geni, tolong apa yang ku sampaikan padamu untuk kakang Cokro jangan sampai terlupa, dan tenang saja, apa yang kita rencanakan akan segera kusiapkan segara, aku harap semuanya dapat berjalan seperti yang kau rencanakan."ucap raja Cokro pada Wisang Geni.
Pitaloka hanya mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
"Paman dan bibi kami berangkat dulu" Ucap Pitaloka sambil memeluk paman dan bibinya.
Setelah berpamitan kedua orang ini pergi meninggalkan kerajaan Pajang. Mereka akan pergi ke Semarang kemudian kembali Ke Mataram.
Dalam perjalanan kali ini Wisang Geni banyak diam, pikirannya sedang memikirkan rencana yang telah tersusun dengan rapi, dan pemuda ini berharap semoga tak ada kendala yang merepotkan.
"Kakang... Memang apa yang di pesan paman pada mu" Tanya Pitaloka penasaran dengan perkataan paman Hadi pada Geni.
"Paman berpesan setelah bertemu ayah..." Kata-kata Wisang Geni terhenti seakan-akan ada rahasia penting.
"Katakan kakang jangan buat aku penasaran" Ucap Pitaloka dengan penuh tanda tanya.
"Agar menghukum mu biar tidak crewet" Ucap bercanda Wisang Geni sambil tertawa cekikikan.
Pitaloka bukan gadis yang bodoh, dia tahu maksud Wisang Geni berbohong, mungkin ada sebuah rahasia yang memang tidak di perbolehkan orang lain mengetahuinya.
"Dasar pemuda mesum" Ucap Pitaloka menanggapi candaan pemuda yang ada disampingnya. Mereka melewati pesisir pantai pulau Jawa, pastinya karna letak kerajaan Pajang memang di pesisir utara pulau Jawa.
Sehari sebelum sampai kadipaten Semarang, Geni merasakan ada hal yang aneh, dia merasa banyak mata yang mengawasi mereka sewaktu melewati Kadipaten Kudus, dan di pinggir pantai menuju Semarang mereka seperti di ikuti orang. Wisang Geni sengaja mperlambat laju kuda yang dikendarai.
"Kita di ikuti orang, kau Berhati-hatilah" Ucap Wisang Geni dengan keadaan tenang sambil memperingatkan gadis yang ada disampingnya. Gadis ini pun bukan pendekar yang baru belajar beladiri, dia pun tetap tenang walau tahu akan adanya bahaya.
Mereka berdua hanya menunggu kapan diserang, karna jika mereka mempercepat laju kudanya yang dikhawatirkan ada perangkap yang sudah disiapkan. Jalan terbaik adalah tetap waspada serta menunggu waktu yang tepat untuk melakukan serangan balik.
Tidak berapa Wisang Geni dan Pitaloka memperlambat laju kuda mereka, Wisang Geni merasakan datangnya anak pana dari samping kanan.
Wuzz... Wuzz... Tring... Suara anak panah meluncur dan berhasil ditebas oleh pedang yang dipegang oleh Wisang Geni. Gelombang anak panah lain pun datang dari arah depan pemuda ini.