
Perjalanan Wisang Geni dan rombongan pun telah memasuki desa Bambu Kuning, tepat 14 hari mereka sampai di desa yang telah menjadi tujuan perjalanan kali ini. Desa pinggiran yang kondisi masyarakatnya tidak begitu berbeda dengan desa Daun Hijau, tapi memang tak bisa di pungkiri desa Daun Hijau untuk saat ini memang lebih maju.
Terlihat seorang gadis yang sedang sibuk melayani masyarakat yang sedang berobat, dia mondar-mandir memeriksa keadaan masyarakat yang sedang dia obati. Bahkan didalam sebuah pendopo besar didepan rumah sang gadis kini dijadikan tempat pengobatan, pendopo luas tanpa sekat itu terlihat ramai sekali.
Gadis ini kini terlihat lebih dewasa dan lebih cantik, tak ayal banyak pemuda anak petinggi( pejabat desa) ingin mempersunting dirinya tapi memang tak mudah merayu gadis ini, dia adalah wanita yang merebut hati Wisang Geni, Diah Ayu.
Trang... Pyar... Terdengar suara kendi air yang jatuh dan pecah seketika.
"Kakang... " Ucap Diah Ayu kaget melihat sosok pemuda yang selama ini dia rindukan, karna kekagetan ini gadis tersebut menjatuhkan kendi air yang dia bawa.
Gadis ini langsung berlari menuju tempat dimana terlihat pemuda tersebut berdiri, dia pun mengabaikan orang-orang yang datang bersama pemuda tersebut.
Diah Ayu berlari menghampiri pemuda pujaan hatinya, tampak ceria pada wajah gadis ini. Tak beda dengan Wisang Geni, raut muka yang semula nampak lelah letih kini berganti sedikit cerah. Gadis ini langsung menjabat tangan sang pemuda sambil mencium punggung tangan pemuda tersebut. Wisang Geni pun tampak heran dengan apa yang dilakukan oleh sang gadis karna sebelumnya gadis ini tak bersikap seperti saat ini.
Keakraban kedua insan ini tak lepas dari pandangan rombongan Wisang Geni, terlebih gadis cantik nan anggun yang dari tadi hanya diam dan memperhatikan kakang Geni beserta gadis yang belum pernah dia kenal sebelumnya.
"Apa ini gadis yang selalu menjadi pembicaraan kang Geni?" Batin Diah Pitaloka sambil memikirkan siapa gadis ini sebenarnya, walau hati nya panas Pitaloka tetap bersikap tenang.
"Mana paman dan bibi? Tolong sampaikan mereka aku bertamu bersama rombongan" Ucap Geni dengan suara pelan.
"Di kebun obat belakang rumah, silahkan masuk kang biar aku memberitahu ayah dan ibu" Ucap Diah Ayu mempersilahkan Wisang Geni berserta rombongan masuk kedalam rumah. Gadis ini pun bergegas memberitahukan kepada kedua orang tuanya.
Terlihat sepasang suami istri berjalan tergopoh-gopoh mendengar kabar bahwa ada tamu yang penting datang berkunjung.
"Selamat datang nak Geni... Kenapa tidak memberi kabar terlebih dahulu?!" Ucap paman Supar sambil memeluk pemuda tersebut. Bibi Marni pun menyambut Wisang Geni dengan hangat layak putra sendiri.
"Paman...maaf jika merepotkan paman dan keluarga" Ucap Geni dengan sopan. Geni menyampaikan maksud pada paman Supar tentang rencana mereka untuk beberapa waktu akan tinggal di keluarga ini. Paman Supar dan keluarga pun senang mendengar permintaan ini, terlebih lagi gadis cantik yang sedari tadi tampak memperhatikan dirinya, Diah Ayu.
Lain Dengan Diah Pitaloka, gadis ini nampak murung setelah berada di desa Bambu Kuning lebih tepatnya di rumah paman Supar. Hati gadis ini merasa sakit melihat kedekatan Diah Ayu dengan Wisang Geni.
"Entah kenapa kakang bisa suka dengan gadis kampung ini? Aku harus bisa jadi lebih baik dari perempuan centil itu" Batin Diah Pitaloka dalam hati, dia tidak mau kalah bersaing dengan perempuan lugu desa Bambu Kuning ini. Lamunan Pitaloka terhenti manakala pundaknya di tepuk seseorang dari arah belakang.
"Aku harap kau dapat menjaga sikap, dan jangan berulah lagi" Ucap Wisang Geni sambil memegang pundak Pitaloka. Wisang Geni tahu bahwa gadis ini sedang panas hati ketika melihat dirinya dengan Diah Ayu bercanda di teras depan rumah. Wisang Geni ingin menghibur sang gadis tapi hanya dia tidak tahu caranya.
"Aku harap kamu bisa akrab dengannya..." Ucap wisang Geni memandang Diah Ayu yang sedang mengobati para penduduk desa yang sakit.
"Dia gadis yang baik... Belajarlah darinya" Sambung Wisang Geni sambil berlalu pergi meninggalkan Pitaloka yang masih duduk dalam ruang tengah rumah tersebut.
" Memang aku tidak baik kang" Balas Pitaloka dengan nada sedikit kesal.
Wisang Geni malam nanti ingin berterus terang dengan paman Supar dan keluarga, dia tidak ingin berbohong pada keluarga ini karna rencana ini bukan suatu yang kecil. Menggulingkan sebuah kerajaan resmi memerlukan dukungan serta simpatisan dari masyarakat dan penduduk kerajaan itu sendiri. Besar harapan Wisang Geni masyarakat desa Bambu Kuning dapat membantu perjuangannya walau tanpa mengangkat senjata.
Sebenarnya paman Supar sedikit menaruh curiga kepada sosok penolong keluarganya, karna kali ini sikap Wisang Geni sedikit berbeda tidak seperti biasanya.
"Ada apa dengan nak Geni kenapa dia sekarang seperti menyembunyikan sesuatu...?" Batin paman Supar yang merasa pemuda bertopeng itu kini lebih misterius. Ditambah bawahan Wisang Geni yang 7 orang tersebut tampak seperti bukan orang biasa.
Diluar rumah teelihat dua gadis saling berbincang, walau terkesan sedikit kaku mereka mencoba saling mengakrabkan diri.
"Dik Ayu sedah berapa lama kamu kenal kang Geni? Tanya Pitaloka sedikit menyelidik, pertanyaan yang sebetulnya tidak terlalu pribadi tapi Diah Ayu merasa kurang nyaman dengan pertanyaan tersebut.
" Belum begitu lama mbak yu, dulu kakang Geni menyembuhkan nopo yang lagi sakit, lalu menyarankan mendirikan balai pengobatan, dan dari sini pula kehidupan keluarga kami jadi lebih baik dari sebelumnya" Jawab Diah Ayu, setidaknya keterangan itulah yang dia ketahui, gadis ini tidak menceritakan bahwa balai pengobatan tersebut adalah milik Wisang Geni karna memang modal memang milik Wisang Geni.
"Oh... Jadi belum lama" Jawab Pitaloka sambil menerka-nerka kapan gadis ini bertemu pemuda yang telah merebut hatinya tersebut. Pitaloka berfikir dia harus mencari tahu dan mungkin mengikuti apa yang dilakukan gadis kampung ini supaya dirinya juga mendapat perhatian khusus seperti Diah Ayu oleh Wisang Geni.
"Paman Supar Mohon kabarkan pada kakek Braja musti bahwa saya berkunjung kemari" Ucap Wisang Geni pada paman Supar dia sempat melupakan keberadaan guru keduanya yang memang berada tidak jauh dari rumah pan Supar.
Paman supar segera menuju tempat atau padepokan tempat Ki braja musti mengajar ilmu beladiri.
"Kakek Braja... Kakek Braja... Cucu mu telah kembali bersama orang tua serta keluarganya" Ucap paman supar sambil sedikit berlari. Mendengar hal tersebut ki Braja Musti Gembira namun tampak bingung menyelimuti dirinya.
Jangankan nama bertemu ayah Wisang Geni pun dia belum pernah, sedang Warga desa ini mengenal dirinya sebagai kakek dari Wisang Geni.
Hal tersebut jelas terlihat oleh paman Supar, tapi dirinya tak ambil pusing, dia hanya menyampaikan pesan dari Wisang Geni.
"Kenapa kakek Braja kelihatan bingung, harusnya dia bahagia dapat bertemu anak dan cucunya" Batin paman Supar yang melihat mimik bingung Ki Braja Musti.