SATRIA PININGIT

SATRIA PININGIT
MENUJU KERAJAAN PAJANG



"Jika seorang wanita terbuai akan kenikmatan maka dia akan lupa segalanya, dan laki-laki sebenarnya tetap dalam keadaan sadar, hanya saja dia berusaha membuat Sang Wanita lebih terbuai, sehingga wanita ini akan menyerahkan segala sesuatu bahkan harta paling berharganya untuk Sang laki-laki tersebut. "


"Aduh... Ach... Terus kang" ucap lirih Pitaloka waktu mangga itu tergigit Wisang Geni. Ucapan terakhir Sang gadis di ikuti suara petir yang sangat keras.


Blar... Blar... Duar... Suara petir ini seakan menyadarkan menyadarkan pemuda ini untuk melanjutkan ke babak berikutnya. Kembali Wisang teringat akan adik nya Rahayu dan gadis yang berada di desa Bambu Kuning, Diah Ayu.


Wisang Geni langsung merubah posisinya yang semula menindih Sang gadis kemudian pindah, memeluk Sang gadis dari belakang menahan semua pergerakan Sang gadis.


"Apa yang kakang lakukan... Tuntaskan kakang jika tidak inj akan menyiksa ku" Ucap Pitaloka dengan nafas yang memburu.


"Apa kau kira aku tak tersiksa, cukup Pitaloka. Jangan terlalu jauh" Ucap Geni coba menyadarkan Sang gadis.


Cukup lama Pitaloka mencoba bergerak, tapi apa boleh dikata tenaga mereka memang jauh berbeda. Akhirnya mereka tertidur dalam posisi tersebut.


Tanpa pakaian atas, hanya menyisakan celana yang masih melekat pada kedua insan manusia berlainan jenis ini. Sesuatu yang dikhawatirkan pun tidak terjadi, mereka hanya melakukan pemanasan saja tidak melakukan olah raga malam.


Seperti hari-hari sebelumnya, Wisang Geni bangun lalu membersihkan diri. Dia kembali ke tempat dimana dia semalam berjibaku dengan gadis yang ada didepannya.


"Bangun tuan putri" Ucap Geni mengoda gadis yang ada didepannya tersebut.


Pitaloka terperanjat kage dengan sapaan tersebut, setelah menguasai diri dia bingung harus berbuat apa.


"Kakang disitu, bagaimana aku bangun, aku malu kang" Ucap Pitaloka menyembunyikan muka dalam selimut tipis yang membalut tubuhnya, gadis ini masih dalam keadaan tak mengenakan pakaian atas.


Wisang Geni yang baru tersadar langsung menimpali ucapan Sang gadis.


"Bersihkan diri mu aku ingin bicara setelah ini" Ucap Geni sembari keluar dari dalam senthong(kamar tidur) yang mereka jadikan ajang gulat semalam.


Wisang Geni keluar menemui paman Bejo di bermaksud memberitahukan bahwa hari ini dia dan istri akan menuju Kerajaan Panjang.


Melihat Pitaloka selesai berbenah dan masuk kedalam kamar Wisang Geni ijin pada paman Bejo ingin berbenah.


Di kamar telah duduk Pitaloka dengan kepala tertunduk malu dengan apa yang semalam dia lakukan. Wisang Geni pun merasakan hal yang sama, tapi dia kuat kan hati untuk meluruskan masalah semalam.


"Pitaloka, apa kau suka padaku?" Tanya Geni dengan muka memerah menahan malu. Mendengar pertanyaan tersebut Pitaloka menengadah kan kepala melihat Geni, dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Apa kakang masih perlu mempertanyakan hal itu? Apa aku tak pantas untuk kakang?" Jawab Pitaloka dengan mata yang berkaca-kaca.


"Semua pertolongan yang kakang berikan pada keluarga ku tak akan mampu kami balas dengan apapun, aku kagum dengan ke ikhlasan kakang aku salut dengan kemampuan serta keberanian kakang, apa aku salah jika suka pada kakang?" Jawab Pitaloka dengan nada sedikit keras tapi tetap terkontrol agar orang diluar tidak mendengar.


"Bukan itu maksudku... " Jawab Wisang Geni bingung harus berkata apa.


Geni lebih dulu mengambil inisiatif, langsung mendekapkan kepala gadis dalam dadanya.


"Aku hanya tak mau kau akan kecewa kelak, kau tahu kerajaan Mataram dalam masalah, serta aku juga berkewajiban menepati janji pada guru ku" Terang Geni pada gadis yang ada dalam pelukannya. Tidak ada balasan dari sang gadis hanya isak tangis yang terdengar. Geni mencoba mencairkan suasana dengan berbicara pada gadis ini.


"Kenapa leher mu merah-merah apa kau gatal-gatal? Tanya Geni dengan polos dia tidak sadar bahwa tanda itu adalah peninggalannya. Gadis ini memegan tanda merah yang dimaksudkan oleh Geni. Seketika dia teringat tanda merah yang sedikit nyeri ini adalah tempat dimana pemuda dihadapannya menggigit-gigit semalam.


"Ini... Karna di gigit nyamuk nakal yang yang berkepala hitam" Ucap Pitaloka dengan muka tertunduk malu.


"Gadis nakal... Kenapa kau menyebut ku nyamuk" Jawab Geni setelah menyadari itu adalah hasil perbuatannya. Tawa riang pun keluar dari kedua muda-mudi ini.


"Sudah... Sudah... Mari kita berpamitan pada paman Bejo, hari ini kita berangkat ke Pajang" Ucap Geni mengakhiri candaan mereka berdua.


Setelah berpamitan mereka berangkat, hari sudah hampir siang mereka akan lewat kudus dan perjalanan ini hanya tiga hari dua malam jika tidak tergesa-gesa dan santai.


Mereka melakukan perjalanan dengan santai sambil menikmati panorama keindahan kota semarang.


Mereka tidak melewati hutan atau gunung, hanya bukit yang tidak terlalu tinggi, dan jalan ini merupakan jalan yang sering dilintasi masyarakat.


"Kita bermalam di bawah bukit itu saja, semoga malam ini tidak hujan" Ucap Geni menunjuk bukit kecil yang bawahnya terdapat cekungan seperti goa, dan itu cukup melindungi dari hujan jika turun malam ini.


Geni tak mau kejadian kemarin malam terulang kembali, karna dia takut tidak bisa mengontrol dirinya kembali. Karna tak dapat dia pungkiri dia jatuh hati pada gadis ini.


"Apa aku seorang penjahat wanita?" Batin Wisang Geni.


Mereka kini tak takut kelaparan karna Geni membawa bekal makanan yang cukup banyak dalam gelang ruang naga yang dia pakai.


"Kakang... Apa aku boleh tidur dalam dekapanmu lagi aku tidak dapat tidur" Pinta Pitaloka dengan manja. Wisang Geni hanya mengangguk tanda setuju. Wisang Geni juga berharap bisa dekat dengan gadis ini dalam batinnya. Tapi karna malu Geni hanya duduk dalam posisi meditasi, sedang Pitaloka menyandarkan kepala pada pundak Wisang Geni, dan tangan gadis ini melingkar pada pinggang Wisang Geni.


"Gadis bodoh,kenapa kau malah menyiksaku seperti ini!?" Batin Geni yang berusaha tetap dapat mengendalikan amukan gelombang burahi yang ada dalam hatinya. Sampai pagi pemuda ini terjaga dan tak mampu memejamkan matanya.


"Kakang ayo bangun cepat berbenah, matahari sudah tinggi" Sapa Pitaloka yang sedah berbenah dan menghidangkan masakan untuk makan pagi mereka.


"Tumben kau bangun pagi" Ejek Geni pada Pitaloka, Geni baru bisa tidur menjelang fajar maka dia bangun kesiangan.


"Bagai mana rencana kakang selanjutnya?" Tanya Pitaloka pada Geni yang sedang menikmati makan paginya.


"Aku juga bingung bagaimana selanjutnya, aku hanya berharap paman raja pajang masih ingat dengan mu" Ucap Wisang Geni yang memang belum memikirkan cara bagai mana menghadap pada Raja pajang Nanti.