
Sang resi pun mengawasi apa yang akan di perbuat pemuda ini, dia penasaran dengan cerita dari kedua muridnya.
Terlihat tiga pemuda sedang bertarung diatas arena latih tanding.
"Badai menerjang gunung" Teriak Waseso melancarkan serangan menggunakan pedang, dia menegaskan pedang mendatar layak angin badai, semua serangan tertuju langsung pada seluruh titik vital Wisang Geni.
Geni dengan cepat menangkis semua serangan menggunakan jurus pedang kilat, gerakan gesit dari Geni dapat manahan gempuran dari Waseso. Karna jurus yang dilakukan secara terus menerus akhirnya pemuda ini tenaganya menurun. Wisang Geni yang pada awalnya bertahan kini melesat maju menyerang.
Melihat Waseso terdesak Suro mulai melakukan pertahanan menggunakan tombak andalannya.
"Gunung menahan badai" Teriak Kang Suro melancarkan jurus pertahanan.
Sepintas terlihat sangat serasi jurus serangan dan pertahanan ini, Tapi Wisang masih melihat celah dan langsung menyerang titik lemah pertahanan kakang Suro. Dan dapat dipastikan Rusuk kiri Suro terkena tendangan dari Wisang Geni. Tidak berapa lama pukulan Wisang Geni bersarang pula pada perut dari Waseso.
Latihan ini jelas tampak perbedaan kemampuan mereka. Pertandingan ini disaksikan juga oleh patih sastro dan putranya. Mereka seakan tak percaya Geni dapat dengan mudah mengalahkan lawannya.
"Kakang Suro, kelemahan kakang terletak pada serangan yang monoton, tidak ada pengembangan serangan, kalau kang Waseso terlalu mengebu-gebu dalam menyerang, ini mempermudah lawan untuk membaca gerakan selanjutnya" Ucap Geni mengoreksi serangan paduan kedua pemuda tersebut.
"Kakang Suro harus memanfaatkan keadaan serta jarak, kakang bersenjata tombak paling tidak jangan menyerang langsung, tetaplah jaga jarak kakang terhadap lawan. Dan kakang Waseso harus tau jika waktu menyerang juga jangan menunggu kang Suro, jadi kakang harus lebih agresif karna kelemahan kakang akan ditutupi kang Suro" Geni sedikit mengenalkan kemampuan seni bertarung kepada kedua pumuda ini.
Wisang Geni merasa waktu nya kurang untuk mengajari kedua pemuda ini mendalami seni bertarung. Dia hanya mengenalkan sedikit seni bertarung menggunakan senjata andalan kedua pemuda tersebut.
"Sungguh luar biasa... " Ucap Resi kumboyono sambil tepuk tangan. Sang resi tahu kelemahan kedua muridnya tapi selama ini dia belum menemukan cara untuk memperbaiki jurus yang dia ciptakan untuk Suro dan Waseso. Tapi pemuda ini hanya melakukan pertarungan sebentar sudah mengetahui kelemahan jurus ciptaannya.
"Maaf sesepuh saya baru mengenal ilmu Silat" Ucap Wisang Geni dengan nada merendah, dia dapat mengetahui bahwa sesepuh ini berada pada tingkat Resi maka dia pun bersikap sopan.
Sedang rek Kumboyono melihat suatu yang janggal, bahwa kedua muridnya berasa pada tingkat kesatria madya tingkat 2 bahkan sebentar lagi dapat menembus Ksatria tingkat utama, tapi dapat dikalahkan pemuda yang baru berada pada tingkat pendekar utama, tingkatan yang dikuasai para prajurit pada umumnya.
"Tuan muda... Apakah tuan ini keponakan Raja Hadi?" Tanya Resi kumboyono masatikan.
"Benar sesepuh" Jawab singkat Wisang Geni tanpa mengurangi rasa hormat.
"Bagai mana tuan muda dapat mengetahui kelemahan jurus kedua bocah bodoh itu" Tanya sang Resi penuh selidik, karna Resi kumboyono penasaran.
"Mohon maaf sesepuh saya tidak mengetahui hanya, mencoba memperbaiki pola serangan dan pertahanan kedua Kakang kepala prajurit" Jawab Wisang Geni sopan agar tidak menyinggung sesepuh ini.
" Tuan muda...boleh aku tahu siapa nama gurumu" Tanya Resi Kumboyono yang memang ingin tahu guru dari pemuda hebat yang ada didepannya.
"Bukan maksud saya menolak memberitahu nama guru saya pada sesepuh, namun pesan guru beliau tidak mau namanya diketahui kalayak umum" Terang Geni sambil meminta maaf karna takut Resi ini tersinggung.
"Tidak apa-apa tuah muda, saya paham terkadang pendekar hebat jarang mau di kenal oleh kalayak umum, tapi boleh kah orang tua mencoba kemampuan tuan muda" Pinta Resi Kumboyono dengan sopan karna status pemuda ini tidak sederhana.
"Mohon maaf sesepuh tapi kemampuan anda jauh diatas saya, bahkan mungkin guru saya pun bukan tandingan sesepuh"jawab Wisang Geni merendah, karna dia sadar tak akan mampu melawan sesepuh ini.
" Tenang saja tuan muda, kita latih tanding tanpa mengerahkan tenaga dalam, hanya gerak jurus saja, jujur karna saya penasaran bagai mana tuan muda bisa mengetahui jurus yang saya ciptakan untuk mereka berdua(Suro dan waseso)" Pinta Resi kumboyono yang menawarkan latih tanding tanpa tenaga dalam.
Raja Hadi mendengar bahwa ada latih tanding antara Wisang Geni dan dua kepala prajurit Kerajaan Pajang penasaran dan ingin menyaksikan pertandingan tersebut. Tapi dia terlambat karna setelah sampai di arena pertandingan telah selesai.
"Keponakanku... Bertanding lah dengan Resi kumboyono, paman mu ini ingin melihat kemampuan jagoan muda dari Mataram" Teriak Raja Hadi yang juga mendukung keinginan dari Resi kumboyono.
Geni melihat arah sumber suara, disana tampak raja Hadi sedang berdiri disamping Pitaloka.
"Kapan paman Hadi datang?" Batin Wisang sambil mengangguk tanda bahwa dia menyetujui permintaan sang raja.
Geni baru sadar bahwa Resi Kumboyono adalah guru silat Kerajaan Pajang setalah sang Resi mengatakan jurus yang di gunakan Kedua saudaranya adalah ciptaan sang Resi.
"Mohon guru besar membimbing saya yang baru belajar ilmu silat" Ucapan santun Wisang Geni yang membuat Resi Kumboyono semakin kagum pada pemuda ini.
Kedua orang yang berada di tengah arena pertandingan telah bersiap-siap dengan kuda-kudanya.
"Mohon guru besar bermurah hati pada saya" Ucap Wisang Geni pada sang Resi yang dijawab dengan anggukan.
Resi Kumboyono menggunakan pedang yang digunakan Waseso dan juga dia ingin menggunakan jurus yang di pakai oleh sang murid waktu melawan Wisang Geni.
Pertarungan pun terjadi dengan sengit, tapi kali ini hanya menggunakan tenaga fisik tanpa disertai tenaga dalam. Sama seperti Waseso, Resi Kumboyono di awal pertarungan menguasai pertandingan. Dengan sabetan serta sayatan mendatar yang cukup cepat serta tajam.
Wisang Geni awalnya hanya mengimbangi serangan-serangan sang resi. Memang tidak dapat dipungkiri, dalam seni beladiri apapun kecepatan lah yang menentukan sebuah kemenangan. Walau tenaga juga sangat perlu tapi apalah arti tenaga yang besar jikalau kita sudah lebih dahulu terkena serangan lawan.
Wisang Geni banyak melihat celah dari serangan sang Resi. Kini giliran pemuda bertopeng ini menyerang dengan kecepatan penuhnya. Yang awalnya hanya bertahan kini Wisang Geni jadi menyerang dengan aktif apalagi setelah mengetahui kelemahan jurus yang di gunakan oleh Resi Kumboyono.