SATRIA PININGIT

SATRIA PININGIT
PENJAGA DESA DAUN HIJAU



Ditepi sebuah hutan nampak seorang pemuda sedang sibuk bertarung dengan 15 orang , disana terdapat 12 orang lain yang menanti dengan cemas pertarungan itu. Wisang geni bergerak dengan lincah, walau lawannya menggunakan senjata tak ada satu pun yang dapat menyarangkan serangan pada pemuda itu. Hampir semua perampok itu dapat dikalah kan, hanya tersisa 5 orang.


" Aku harus turun tangan sendiri..." Batin Ketua perampok itu.


Sang Ketua pun langsung menyerang wisang geni yang tampak tenang dan tak nampak lelah pada wajahnya .


Tidak mau ambil resiko, wisang geni pun langsung mengeluarkan pedang pemberian sang guru.


Tring...trang...buk.... Suara senjata laksana melodi yang menyayat hati pada pagi itu. Kepala perampok menggukan semua kemampuan nya untuk melawan pemuda tersebut. Kemampuan kepala perampok ini berada pada tingkat Ksatria madya tingkat 1, kemampuan cukup tinggi dikalangan perampok pada umumnya. Bahkan kemampuan kepala perampok lebih hebat dari kemampuan kepala prajurit.


" Kemampuan mu lumayan kisanak... Terimalah Serangan ku ini..." Teriak sang Ketua. Terlihat serangan ketua tersebut sangat hebat, pedang yang dia gunakan meliuk- liuk laksana ular.


Itu semua tak begitu berpengaruh terhadap wisang Geni. Wisang Geni hanya tersenyum simpul.


Merasa di rendahkan dengan senyum winsang Geni kepala perampok lebih gencar menyerang wisang Geni. Tapi wisang Geni meras aneh, kenapa serangan kepala perampok ini tak mempunyai niat membunuh, hal ini terlihat serangan yang hebat ini masih di tahan walau jurus yang di gunakan cukup dahsayat.


Wisang Geni Pun tak mau kalah,di menggunakan jurus pedang ke dua dari kitab pedang dewa Yama, jurus pedang hujan musim semi. Pedang wisang Geni laksana hujan yang turun dari langit, begitu cepat seolah-olah pedang datang seperti hujan turun. Alhasil kepala perampok tersudut dengan jurus yang dimainkan wisang Geni. Jurus pedang yang baru kepala prajurit lihat, dari gerakan serta pedang yang terlihat bukan dari Bumi Nusantara.


" Jurus serta pedang yang aneh..." Batin kepala perampok itu.


Kelengahan kepala perampok dapat di manfaatkan wisang geni dengan baik. Tak berapa lama leher kepala perampok telah menempel sebilah pedang.


" Menyarah lah dan segera bertobat paman..." Perintah wisang Geni pada kepala perampok itu. Wisang Geni bersikap sopan pada perampok ini bukan tanpa alasan, dia dapat merasakan bahwa pertarungan tadi walau tampak serius namun sebenarnya tidak ada niat membunuh dari kedua petarung, semua seperti hanya latihan.


Melihat ketua mereka terancam 5 orang perampok yang menyaksikan pertarungan tadi tiba-tiba berlutut memohonkan ampun untuk ketua mereka.


" Mohon pendekar yang hebat ini mengampuni ketua kami...kami rela jika nyawa beliau di ganti kami..." Sikap loyal ditunjukan oleh anggota perampok tadi di ikuti 4 teman lainnya. Wisang Geni kaget dan Tak menyangka bawahan perampok ini sangat loyal pada atasannya.


" Berdiri kalian ...tuan pendekar ... Kau bunuhlah aku, tapi aku minta kau lepas kan anak buah ku..." Pinta kepala perampok pada wisang Geni. Kembali Geni kaget dengan ucapan kepala perampok ini, biasanya kepala perampok atau penjahat merelakan bawahannya mati agar dia selamat tapi beda kepala perampok ini. Wisang Geni menduga bahwa mereka sebenarnya bukan perampok keji yang mengutamakan hasil rampokan, Meraka mungkin hanya butuh untuk mencukupi makan mereka. Karena di lihat dari awal para perampok tidak menyerang secara membabi buta, atau pun meminta semua harta yang mereka bawa. Hanya minta wisang geni memberikan sedikit harta yang di bawa oleh para penduduk desa.


" Sengguh pemuda yang hebat,,, namun misterius..." Percakapan lirih dari dua sesepuh itu menatap wisang Geni tak berkedip.


Para sesepuh belum berani mendekat karena belum ada perintah dari wisang Geni.


" Katakan kalian dari kelompok apa...? Dan kenapa aku harus melepas kalian ...?" Tanya wisang Geni penuh intimidasi. Wisang Geni berpura-pura tanya dari komplotan mana para perampok ini, agar kalau masih ada dapat segera di tumpas sekalian, agar penduduk desa sekitar bisa aman.


" Kami tidak ikut kelompok mana pun...tolong pendekar maaf kan anggota ku...mereka masih punya anak istri..." Mohon kepala perampok itu penuh iba.


Wisang Geni ingin bertanya lebih jauh karena para perampok ini cara bicara serta logat mereka mencerminkan bahwa mereka bukan dari bandit-bandit biasa. Wisang Geni pun sekilas dapat melihat ada tanda prajurit pada salah satu dari mereka yang telah pingsan.


" Bukan kah kalian bandit-bandit kerajaan Mataram...? Katakan yang sebenarnya kalau tidak mau mati..." Selidik winsang Geni dengan nada sedikit mengancam.


" Bu...bukan pendekar... Baik saya akan jelaskan ..." Sanggah ketua perampok itu.


" Dulu memang kami prajurit kerajaan,...4 tahun lalu kami di tugas kan sebagai penjaga pintu masuk kerajaan. Suatu waktu kelompok yang bertugas menggantikan kami jaga malah membuat onar dan menjarah desa tempat pintu masuk tersebut, kami mencoba melarang mereka,,, tapi entah setan apa yang merasuki kelompok itu, mereka mengajak kami bergabung dalam kegiatan itu,jelas kami menolak. Disini awal mula petaka itu, kami di fitnah sebagi pemberontak kerajaan. Kami beserta keluarga di usir dari desa kami,... Berhubung kami tak ada ketrampilan jadi kami memilih pekerjaan ini. Tapi seperti yang Tuan pendekar lihat,,, kami hanya meminta sedikit dari harta orang-orang kaya yang lewat. Dari kami sepakat tidak pernah membunuh mangsa kami... Dan jika memang tuan pendekar mau menghukum... Maka saya lah yang pantas mati untuk menebus nyawa anggota saya, ... " Jelas ketua dengan penuh penyesalan.


Wisang Geni yang awal nya menuduh mereka menjadi kasihan dengan mereka.


" Kerajaan Mataram memang jahat... Akan aku buat hancur kalian..." Batin wisang Geni penuh emosi, kejadian ini menambah benci hati wisang Geni pada Mataram. Bukan hanya membuat onar dengan penarikan pajak secara paksa, tindakan ini bisa merusak jiwa dan mental seseorang seperti kelompok perampok yang dulu mereka merupakan para prajurit atau pejuang kerajaan.


" Baik paman bagai mana kalau paman bekerja kepada ku, masalah upah nanti kita bicarakan. Tugas paman menjaga keamanan desa. Dan jika paman setuju paman boleh membawa serta keluarga kalian, sebelum kalian dapat membuat rumah kalian bisa menempati rumah ku..." Wisang Geni berencana membuat sebuah pemerintahan kecil didesa daun hijau, hal ini dilakukan untuk memuluskan rencananya.


" Ba...baik tuan pendekar kami bersedia...tak ada alasan buat kami menolak ajakan pendekar..." Pernyataan setuju di ikuti 5 anggota yang masih sadar. Dengan cepat wisang Geni membatu menyadarkan para anggota mantan rampok gunung ini.


" Baik paman tolong berikan pil ini pada anggota paman supaya tenaga mereka pulih kembali..." Perintah wisang Geni sambil menyerah kan 2 botol kecil dari buntalannya.


semua meminum pil yang di berikan oleh wisang geni, seketika tenaga meraka pulih. dan mengikuti di belakang wisang geni yang berjalan menuju para penduduk desa yang sedang bingung...