SATRIA PININGIT

SATRIA PININGIT
CEMBURU



"Menyelamatkan kamu bukan berarti berada pada pihak yang sama anak ku" Ucap patih Sastro memandang Wisang Geni dengan tatapan sinis penuh dengan kecurigaan.


Pitaloka yang tadi sempat kaget karna patih Sastro ada di kerajaan Pajang serta tak sempat melerai pertarungan antara patih Sastro dan Wisang Geni kini keluar dari kerumunan prajurit yang ikut menyaksikan pertarungan tersebut.


"Paman patih... Kang Geni ada di pihak kita" Jelas Pitaloka sembari mendekat dalam arena pertandingan.


Patih Sastro yang melihat putri tersebut sontak langsung memberikan hormat.


"Salam tuan Putri... Mohon maaf hamba tidak tahu" Jawa Patih Sastro dengan hormat. Lain hal nya Patih muda Wiryo, dia langsung berlari memeluk gadis tersebut.


"Bagai mana keadaan mu Pitaloka apa kamu sehat?" Tanya Patih Wiryo Sangkolo sambil memutar-mutar badan gadis tersebut. Rasa sayang Sang Patih melupakan status bahwa di hadapannya ini adalah putri kerajaan Mataram.


"He'em... " Patih Sastro memberikan kode dengan batuk ringan. Agar Sang putra berlaku sewajarnya di depan kalayak umum dan tidak melupakan bahwa gadis yang di peluk adalah putri raja Mataram. Menyadari hal tersebut Patih muda langsung memberi salam dengan berjongkok sama seperti yang dilakukan ayahnya.


"Maaf putri hamba terlalu bahagia, sehingga melakukan tindakan bodoh tadi" Permohonan maaf Patih Wiryo pada Pitaloka.


"Tak apa-apa kakang...bangunlah paman Patih dan kakang Wiryo " Jawab Pitaloka kepada Patih Sastro dan Patih Wiryo.


"Paman ini adalah kakang Wisang Geni, dia berada di pihak kita. " Terang Pitaloka kepada patih Sastro.


Wisang Geni yang melihat Wiryo tadi memeluk Pitaloka sontak panas hatinya.


"Kawatir boleh... Tapi tidak harus pelak-peluk... " Batin Wisang Geni jengkel dengan patih Wiryo.


Diwaktu yang sama Suro dan Waseso memperhatikan dengan seksama wajah pemuda yang bertarung dengan mereka.


"Kang Suro... Coba perhatikan wajah orang bertopeng itu, sekilas aku seperti kenal" Ucap Waseso sambil memperhatikan wajah Wisang Geni.


'Mirip dik Aryo" Ucap sang kakak membenarkan ucapan saudara kembarnya.


"Paman patih kenapa paman bisa berada disini?" Tanya basa-basi Pitaloka pada patih Sastro, sebenarnya dia tahu patih tersebut mencarinya, keterangan ini disampaikan oleh Raja Cokro dan permaisuri.


"Kami di utus yang mulia raja Cokro untuk mencari tuan putri" Jawab patih Sastro pada putri Pitaloka.


"Aku mau bertemu dengan Paman Hadi Wijaya, ayo kakang kita masuk" Ajak Pitaloka kepada Wisang Geni yang masih dalam keadaan jengkel.


Suro dan Waseso bagai tersambar petir mendengar perkataan Pitaloka, dia memanggil pemuda bertopeng yang mirip saudara mereka si Aryo dengan sebutan kakang, berarti pemuda itu adalah kerabat kerajaan Mataram.


"Celaka kita kang berani menyerang kerabat raja" Ucap Waseso dengan muka pucat.


"Sudah ku bilang kendalikan emosi mu, kalau seperti ini pasti masalah jadi runyam" Jawab Suro tak kalah takutnya. Mereka ber empat menuju ke dalam keraton, tinggal Suro dan Waseso beserta prajurit penjaga keraton yang masih berjaga. Sebelum masuk Wisang Geni mencoba bercanda dengan kedua pemuda tersebut.


Pitaloka yang mengetahui tindakan tersebut lalu bertanya pada pemuda yang dia gandeng tangannya ini.


"Kakang apa dua pemuda itu saudara mu yang kau ceritakan dulu?" Tanya Pitaloka sambil berbisik ditelinga Wisang Geni. Pemuda yang dia gandeng memberi isyarat agar tetap diam dan merahasiakannya, Pitaloka hanya mengangguk tanda setuju.


Melihat adegan tersebut gantian patih muda Wiryo Sangkolo yang panas hatinya.


"Kenapa mereka sedekat itu, apa jangan-jangan mereka telah... " Batin Wiryo Sangkolo yang tak terselesaikan namun membayangkan sesuatu yang bukan-bukan.


Sesampainya di dalam keraton Pitaloka melihat Raja Hadi yang sedang duduk sambil melamun. Seakan pikirannya melayang jauh entah kemana, tak seorang pun tahu apa yang menjadi beban pikiran Sang raja.


"Yang mulia patih Sastro ingin menghadap" Ucap prajurit penjaga keraton kerajaan.


"Suruh masuk" Perintahnya tak begituemperhatikan prajurit tersebut, jelas nampak kepahitan pada wajah raja tersebut.


"Paman... " Teriak Pitaloka memanggil raja Hadi Wijaya yang sedang melamun. Putri ini jelas masih ingat dengan perawatan serta wajah dari pamannya ini, walau Sang gadis sudah lebih dari 10 tahun tak berkunjung ke kerajaan Pajang.


"Mendengar suara yang asing serta panggilan paman yang terasa akrab dan tidak kaku raja pun tersadar dari lamunan serta mengarahkan pandanhnya pada sumber suara tersebut. Tampak dihadapan raja wajah yang cukup familiar dan tak asing, seketika dia teringat wajah kakak perempuannya yang menjadi permaisuri kerajaan Mataram.


"Dasar anak nakal... Sudah berapa lama kau tidak mengunjungi paman mu ini" Ucap raja Cokro, seketika kegembiraan tampak pada wajahnya. Pitaloka langsung berlari menuju Sang Raja,Tanpa rasa sungkan dengan orang disekitarnya gadis langsung memeluk sang raja. Raja pun menyambut pelukan sang gadis, kemudian dia merenggangkan pelukan sang gadis sembari menyentil kening dari Pitaloka.


"Dasar tukang bikin onar" Tegur sang raja, sentilan dan teguran sang raja bukan karna marah, melainkan ungkapan sayang sang raja kepada keponakankeponakannya.


Pitaloka langsung menangis memeluk sang raja seakan ada rasa yang terpendam dan harus dia sampaikan. Raja pun tahu beban yang diderita keponakannya ini.


"Kenapa pendekar gadis paman jadi cengeng?" Ucap sang raja dengan nada sedikit bercanda agar gadis ini tak berlarut dalam kesedihan.


Akhirnya Pitaloka menceritakan keadaan Mataram, dan bagai mana keluarganya saat ini. Sang raja hanya mendengar tentang hal-hal yang diceritakan Pitaloka, raja Hadi tak menyela cerita dari keponakannya ini. Setelah semua disampaikan gadis ini tampak lebih tenang.


"Sekarang kau temui dulu bibi mu" Pinta raja Hadi Wijaya pada Pitaloka. Sang gadis langsung pergi begitu saja, tanpa memperdulikan Wisang Geni yang tolah-toleh karna bingung dengan posisinya saat ini.


"Nak Geni... Trimakasih telah membantu keluarga ku, moga Dewata memberkati" Ucap raja Hadi Wijaya pada pemuda misterius ini.


"Trimakasih atas doa paduka raja, semoga paduka diberikan kesehatan serta panjang umur" Jawab Geni dengan sopan santun.


"Baiklah, sekarang kau istirahatlah dulu besok baru kita akan bicara lebih lanjut." Perintah sang raja yang melihat Geni belum terbiasa dengan situasi saat ini.


"Prajurit tolong tunjukan tempat istirahat nak Geni, siapkan segala kebutuhan yang diperlukan." Perintah sang raja kepada abdi dalem(pelayan istana). Setelah berpamit pada yang hadir disana Geni langsung menuju tempat yang telah disiapkan untuk tamu raja.