
Sang ibu hanya bisa mengangguk, mengiyakan ajakan sang putra, batinnya melayang menghawatirkan keadaan sang suami Raja Cokro Kusumo. Tak terasa air mata menetes dari permaisuri ketika mengingat keadaan sang suami yang sedang berperang melawan para pemberontak.
"Apa rencana mu pangaeran?" Tanya ibu pada anak nya pangeran Gesang Wicaksono.
"Aku akan mencari tempat perlindungan terlebih dahulu. Setelah aman baru kita pikirkan rencana selanjutnya ibu." Terang pangeran secara bijaksana. Dia tidak gegabah dalam keputusannya.
Roro ayu Sekar Kedaton masih sedih memikirkan bagaimana keadaan suami serta anak gadis nya yang sampai sekarang tak diketahui rimbanya.
Kerajaan Mataram yang semula banyak kejahatan sekarang telah kembali normal. Karna kejahatan yang selama ini terjadi atas perintah dari Ki Ageng Gumilar.
Kekuasan otomatis jatuh ke tangan Ki Ageng Gumilar,sekarang dia lah pengganti raja selanjutnya. Sekarang raja Ageng Gumilar berencana mengadakan pembersihan.
Pembersihan yang bertujuan menumpas semua prajurit Mataram yang masih setia kepada raja Cokro.
* * * * *
"Kakang...sebentar lagi kita akan sampai di perbatasan Mataram, jadi tak lama lagi kita akan masuk kawasan Mataram" terang gadis cantik itu dengan riang.
"Hem..." Jawab Geni sambil mengangguk mengiyakan pernyataan Lokahita, Wisang Geni merasa ragu untuk bertanya lebih lanjut kenapa Lokahita begitu semangat dan bahagia.
"Mungkin dia senang karna sebentar lagi bertemu keluarganya...aku melakukan perjalanan sendiri lagi..." Batin Wisang Geni.
"Apa kakang tidak senang?apa kakang enggan berpisah dengan ku..." Canda Lokahita sambil menyenggol pundak Wisang Geni dengan pundak nya.
"Aku...aku senang,asal kau bahagia," jawab Wisang Geni gugup, jawaban Wisang Geni yang asal-asalan malah terkesan ambigu dan tak mempunyai makna yang jelas.
"Apa benar kakang akan membahagiakan aku?" Gadis ini semakin melontarkan candaan kepada Wisang Geni. Mendengar semua itu tambah salah tingkah Wisang Geni.
"Maksud ku,....aku juga senang karna bisa mengantarkan kamu kepada orang tua mu." Jawab Geni sambil mempercepat langkah kakinya.
"Dasar laki-laki tidak peka!" Batin Lokahita yang tertinggal sedikit jauh karna Wisang Geni berjalan meninggalkannya.
"Aku bahagia itu karna bisa meluruskan permasalahan kakang dan raja Mataram, bukan aku ingin ketemu ayah ibu ku!" Ucap Lokahita sambil berlari mengejar Wisang Geni.
"Gadis bodoh kenapa malah memikirkan masalah Ku?" Batin Wisang Geni tetap berjalan dengan cepat.
Malam ini mereka masih bermalam di hutan, besok mereka akan sampai desa pertama di perbatasan ini.
Malam ini mereka berdua beristirahat dengan cepat, disamping perjalanan yang melelahkan mereka juga tak sabar ingin segera melanjutkan perjalanan besok pagi.
Setelah pagi tiba kedua insan itu pun melanjutkan perjalanan, berjalan dengan santai sambil menikmati indahnya pagi serta kebersamaan mereka. Lokahita merasa bahagia sekali, bukan karna sebentar lagi dia bisa bertemu keluarganya, melainkan bisa melakukan perjalanan dengan Wisang Geni.
Dari pagi mereka belum makan, Wisang Geni berencana mengajak Lokahita makan di warung makan setelah sampai desa terdekat. Tak berapa lama mereka telah memasuki desa yang tak begitu ramai,maklum desa ini merupakan kawasan Mataram paling Utara bisa di katakan desa paling terpencil, namun itu tak jadi masalah bagi Wisang Geni dan Lokahita yang sudah sering keluar masuk hutan.
"Paman kami pesan makanan yang paling enak," ucap Lokahita sambil melirik Wisang Geni seperti meminta persetujuan. Wisang Geni yang sudah biasa melihat kelakuan Lokahita hanya mengangguk dan tersenyum sebagai tanda setuju.
Gadis tersebut sempat panik,takut kalau identitasnya bakal katahuan. Dia sempat menunduk, tapi dilihat mereka mengacuhkan dirinya,gadis itu bersikap normal kembali. Dia merasa aneh kenapa prajurit tersebut tak mengenalinya.
"Kakang aku harap kerajaan setelah ganti raja akan aman lagi ya...." Ucap salah satu prajurit kepada yang lainnya.
"Ya...semoga begitu dik..." Jawab seorang prajurit yang di panggil kakang tadi.
Lokahita yang mendengar percakapan tersebut sempat kaget, tapi dengan cepat dia mengendalikan rasa keterkejutan nya sehingga Wisang Geni yang ada di hadapannya tak menaruh curiga.
"Apa mungkin ayahanda telah digantikan kakanda,tapi kenapa? Batin Lokahita Coba menebak apa yang terjadi di kerajaan Mataram.
" Tapi memang benar, setah raja di ganti kejahatan seakan-akan hilang kakang," pernyataan selanjutnya dari prajurit lainnya.
"Setidaknya itu yang terjadi dik...sudahlah kau pesan makanan dulu,aku sudah lapar!" Perintah prajurit tertua yang diajak bicara tadi.
"Apa yang dilakukan kakanda hingga bisa menumpas para penjahat dalam waktu kurang dari 2 bulan? Kakanda memang hebat" batin Lokahita sambil tersenyum. Gadis ini kagum dengan tindakan kakaknya. Gesang memang terkenal bijaksana dan ahli strategi, yang pasti dia tak pernah menggunakan emosi dalam menyelesaikan masalah.
"Moga saja raja baru bisa memberikan kedamaian pada masyarakat ini..." Ucap prajurit tertua sambil menyandarkan punggung pada tempat duduk itu.
" Kasihan raja Cokro, padahal dia raja yang Arif dan bijak, cuma dia belum bisa menumpas kejahatan yang terjadi. Sungguh malang nasib keluarganya"ucap prajurit termuda yang tadi memesan makanan, dia berucap sembari duduk kembali pada kursinya.
"Benar...setelah hilangnya sang putri raja itu seakan diruntun Masalah yang tak kunjung selesai selain itu peaisuri dan putra mahkota Gesang Wicaksono juga menghilang setelah kejadian pemberontakan yang di lakukan Raja Gumilar" ucap prajurit tertua sambil mendengus merasa kasihan pada nasib keluarga raja Cokro.
Lokahita yang mendengar percakapan itu sontak emosi dilangsung menyerang ke 4 penjaga tersebut.
"Cepat katakan padaku apa yang terjadi!?" Perintah Lokahita pada ke 4 prajurit tadi, ditambah cerita yang menyatakan bahwa ibu dan kakaknya menghilang.
Lokahita langsung menyerang dengan ganas ke 4 prajurit tadi, gerakannya lincah, tapi sayang di sedang emosi maka jurus yang dia mainkan sangat tak efektif sama sekali.
"Kenapa nona menyerang kami,apa Kami ada salah dengan nona?"tanya salah satu prajurit
"Apa yang kau katakan tadi benar!?" Bentak Lokahita yang bertanya tapi pertanyaan yang Di utarakan tak jelas sama sekali.
"Tentang apa nona? Dan kami tak tahu maksud nona?" Tanya balik prajurit bingung,apa ada kata-kata mereka yang menyinggung perasaan nona ini. Prajurit-prajurit ini adalah prajurit baru yang direkrut setelah terjadi peristiwa pemberontakan jadi mereka tak mengenali Lokahita.
"Tentang kerajaan Mataram! Apa semua itu benar!?" Tanya Lokahita tetap dengan nada tinggi.
"Benar nona,memang begitu kenyataannya" jelas prajurit singkat,mereka tak mau berlama-lama berurusan dengan orang yang tak penting batin prajurit-prajurit ini.
"Kalau begitu matilah kalian" Lokahita kembali menyerang dengan ganas.
Wisang Geni yang menyaksikan kejadian langsung menuju tempat perkelahian tersebut setelah membayar makanan yang sudah di pesan Lokahita dan prajurit-prajurit itu. Pemuda ini ikut terlibat dalam pertarungan, tapi dia pun ragu harus bagaimana? Prajurit-prajurit ini tak bersalah sama sekali.