SATRIA PININGIT

SATRIA PININGIT
BERTEMU KI BRAJA MUSTI



Wisang Geni berjalan dengan santai,seakan terlihat malas untuk meninggalkan desa Bambu Kuning, batin nya berat untuk meninggalkan gadis yang mencuri hatinya. Tapi dia harus memenuhi janji yang sudah dia ucapkan pada gurunya.


Hari menunjukan malam segera tiba, tapi Wisang Geni tak mau ambil pusing. Perjalanan menuju kadipaten Bantul memakan waktu 5 hari, sedang dia sudah berjalan setengah jalan. Dia akan melewati hutan dan bermalam di situ. Wisang Geni memilih batang pohon yang besar untuk tempat dia beristirahat.


Malam belum begitu larut, naluri pendekar nya merasakan ada manusia lain disekitar tempat dia beristirahat. Dia mulai menajamkan pendengara dan penglihatannya. Dia mengamati tempat sekitar dia bermalam.


Orang tersebut pun mengetahui bahwa ada orang lain di sekitar dia lewat. Dan orang ini pun bukan orang biasa, karena orang ini berada disebuah pohon yang cukup tinggi. Tanpa memiliki kemampuan meringankan tubuh yang hebat mustahil orang tersebut dapat berada di tempat itu.


"Turunlah kisanak... Kenapa hanya mengamati dari atas?!" Ucap orang tua yang berusia kurang lebih 60 tahun itu. Walau dengan usia yang sudah lebih dari setengah abad orang tua itu masih nampak gagah, walau terkadang dia menahan nyeri di dadanya.


Wisang Geni yang merasa tak enak langsung turun, dengan kemampuan meringankan tubuhnya bukan suatu hal yang sulit di turun dari dahan pohon yang cukup tinggi itu. Hal ini menimbulkan kecurigaan lebih, karna nampak seorang pendekar yang usia belum begitu tua tapi memiliki ilmu meringankan tubuh yang hebat.


Tidak hanya usia yang belum begitu tua penampilan wisang Geni juga menambah curiga sesepuh Braja Musti. Meski Wisang Geni menyembunyikan kemampun bela diri nya tapi ilmu meringankan tubuhnya menunjukan bahwa dia seorang yang hebat.


"Kenapa kisanak mengawasi ku... Apa ada sesuatu?" Selidik Braja Musti tanpa mengurangi tingkat kewapadaan.


"Mohon maaf sesepuh...saya tidak berniat begitu tadi saya hanya istirahat di atas supaya lebih aman." Terang Wisang Geni sopan.


" Kenapa kisanak menyembunyikan kemampuan...apa ada yang perlu disembunyikan?" Dengan nada sinis sesepuh tersebut bertanya. Dengan tiba-tiba sesepuh tersebut memasang kuda-kuda siap menyerang.


Tangan sesepuh tersebut berubah merah seperti api. Braja Musti ingin segera menyelesaikan pertarungan karena dia sadar akan kondisinya yang tak mampu bertarung dalam tempo yang lama.


Wisang Geni sadar akan jurus yang di gunakan sesepuh tersebut sangat hebat, Wisang Geni belum mampu menggunakan jurus tubuh Dewata dia baru bisa menggunakan jurus kedua dari kitab Dewata yaitu jurus halilintar, dimana tangan serta kaki Wisang Geni seperti ada kilatan halilintar.


"Tahan sesepuh sebelum semua terlambat...saya sungguh tak punya niat buruk pada sesepuh." Wisang Geni masih mencoba untuk bernegosiasi. Tapi sesepuh tersebut sudah menyerangnya.


Blaamm...duar...duar...blaam...


Suara tendangan dan tangkisan dari kedua jurus yang mengandung tenaga dalam tingkat tinggi saling berbenturan. Kanan dan kiri lokasi pertempuran sangat kacau, banyak pohon tumbang disana.


Akhirnya kedua telapak tangan mereka beradu di ikuti pemusatan tenaga dalam masing-masing.


Bloammm....blaamm...


"Uhuk...uhuk..." Terlihat Braja Musti terpental beberapa langkah ke belakang. Dari sudut bibir mengeluarkan darah hitam, menandakan bahwa dirinya terluka dalam yang cukup serius. Hal tersebut juga menunjukan bahwa dia sudah terluka sebelum bertarung. Akhirnya Braja Musti pun pingsan tergletak. Wisang Geni langsung segera mendekati sesepuh tersebut.


Wisang Geni memberikan pil jiwa guna mengobati luka sesepuh tersebut. Untuk mempercepat penyembuhan dia mengalirkan tenaga dalam dari punggung sesepuh tersebut. Hampir satu malam Wisang Geni menglirkan tenaga dalam kepada sesepuh tersebut. Setelah dirasa cukup Wisang Geni beristirahat di dekat sesepuh tersebut. Dia bersandar di sebuah pohon yang cukup besar. Akibat penyaluran tenaga dalam yang lama wisang Geni terlelap karena begitu lelah.


Dia mengamati lokasi sekitar, tapi yang di temukan hanya sosok bertopeng yang bertarung dengannya semalam.


"Kenapa dia menyelamatkan ku...apa memang dia bukan pendekar yang di kirim untuk membunuh ku?" Batin Braja Musti yang berjalan mendekati Wisang Geni yang masih tertidur. Sesepuh itu tampak bingung, ingin dia membunuh Wisang Geni tapi dia juga sadar bahwa tak ada orang lain disitu, pasti orang inilah yang menyelamatkan nya.


Hangat mentari pagi menyinari wajah Wisang Geni, suara burung mulai membangunkan dia dari tidurnya. Badan nya masih terasa letih, namun rasa kantuknya sudah hilang. Dengan jelas dia melihat pertapa yang dia selamatkan semalam.


"Ternyata sesepuh sudah bangun..." Sapa Wisang Geni ketika melihat Braja Musti yang sedang duduk sambil meditasi.


"Kisanak kenapa kau menyelamatkan aku?" Tanya sesepuh tetap dalam duduk meditasi nya.


" Saya tak bermusuhan dengan sesepuh, saya bingung kenapa sesepuh tiba-tiba menyerang saya?!" Tanya balik Wisang Geni pada sesepuh tersebut.


" Saya Wisang Geni... Saya hanya seorang pengembara biasa sesepuh." Ucap Wisang Geni merasa kurang sopan kalau tidak memperkenalkan diri pada orang yang lebih tua.


" Aku Braja Musti...dulu aku ketua padepokan Bangau merah" jelas singkat Ki Braja Musti yang belum sepenuhnya percaya pada wisang Geni. Wisang Geni tahu Ki Braja Musti belum percaya dengan keterangan yang dia berikan.


"Sesepuh saya bisa membantu mengobati luka dalam yang sesepuh derita...Tapi tapi saya mohon sesepuh dapat menceritakan kenapa sesepuh terluka sampai seperti itu?" Tawar Wisang Geni pada Braja Musti.


" Ceritakan dulu siapa kisanak...baru nanti aku akan ceritakan semua!" Jawab sesepuh tersebut masih dengan nada sinis.


"Saya murid Resi Tomo dari gunung Tidar" jelas singkat Wisang Geni. Mendengar nama guru orang ini tampak senang pada Raut muka Braja Musti, karna dia tahu resi Tomo adalah pendekar yang suka menolong penduduk desa yang sedang membutuhkan, terutama dalam hal pengobatan.


"Mohon sesepuh memanggil saya dengan Wisang Geni saja, karena usia saya baru 19 tahun" pinta Wisang Geni pada Ki Braja Musti, karena tetua ini bersikap sangat sopan setelah tahu nama guru nya.


Sesepuh tersebut sangat kaget dengan pernyataan Wisang Geni yang baru menginjak usia 19 tahun. Usia yang masih sangat muda tapi kemampuannya mampu mengimbangi dirinya. Apalagi setelah tahu pemuda ini juga menguasai ilmu pengobatan.


" Sungguh luar biasa pemuda ini" batin Ki Braja Musti.


Akhirnya Ki Braja Musti menceritakan kenapa dirinya sampai terluka separah ini tanpa dikurangi dan dilebihkan.


".... Entah siapa dalang dibalik peristiwa ini, aku menduga ini semua ada kaitan dengan kacaunya kerajaan Mataram." Jelas Ki Braja pada wisang Geni.


" Kurang ajar,..." Ucap Wisang Geni penuh emosi. Darah mudanya bergejolak mendengar cerita dari Ki Braja.


"Sesepuh di dalam botol ini ada 10 pil jiwa, mohon sesepuh terima,"Ucap Wisang Geni sambil menyerahkan botol kecil. Dengan obat yang di beri wisang Geni setidaknya sesepuh dapat pulih total dalam waktu 2 bulan.