
Ageng Gumilar muda tetap berada di dalam Kedaton,walau perasaan benci pada sang raja muda dia tetap menahan segala amarahnya. Dari hal tersebut karakter kejam terbentuk, mulai hari itu ekspresi dingin selalu terpancar pada wajah Ageng Gumilar.
Kota Mataram/Kota Raja.
Keadaan kota raja malam ini terasa sepi, diluar kota raja telah bersembunyi pasukan Pendem yang telah Ki Ageng Gumilar siapkan. Mereka tinggal menunggu perintah dari Ki Ageng Gumilar. Rencana Ki Ageng Gumilar untuk merebut kekuasan sebentar lagi terlaksana,dia hanya menuggu kesiapan semua pasukan yang telah menempati posisi masing-masing.
Prajurit-prajurit Mataram hanya tersisa 3000 orang,itu pun banyak diataranya sudah bisa dikatakan berumur. Karena prajurit-prajurit yang muda dan kuat sebagian besar di pimpin para perwira muda untuk melakukan pembersihan kota Mataram dari kekacauan yang terjadi.
Apalagi selepas maha Patih menuju kerajaan Pajang semakin lemah pula kerajaan Mataram. Fajar mulai menyingsing, persiapan pun telah selesai. Tak berapa lama terlihat Ki Ageng Gumilar melepas anak panah api keudara. Itu adalah tanda pergerakan pasukan yang ada diluar benteng kota raja.
Pasukan yang di pimpin Ki Juru Sentanu menyerang dari arah selatan kota raja dia membawa 2000 pasukan yang bersenjatakan pedang dan tombak. Iring-iringan pasukan tersebut sontak membuat panik prajurit kerajaan Mataram yang berjaga.
"Lapor yang mulia raja...ada pasukan entah dari mana mencoba masuk dan merebut benteng pertahanan dari selatan kota" lapor salah satu kepala prajurit yang bertugas menjaga keamanan kota.
"Kerahkan semua prajurit yang ada dan hadang mereka aku akan pergi bersama mu kepala prajurit!" Perintah raja Cokro dengan mimik muka sedikit panik. Dia segera mengenakan baju perang yang sudah bertahun-tahun tidak dia kenakan.
Selepas kepala prajurit pergi sang raja berpamit pada istrinya dan memerintahkan kepala prajurit yang bertugas sebagai penjaga keraton.
" Diajeng kau jika situasi memburuk dan aku tak dapat mengatasi bawalah putra mahkota pergi melewati lorong rahasia" perintah sang raja pada istrinya.
"Aku akan bertarung bersam ayahanda mempertahankan kota raja" ucap Gesang Wicaksono, walau dia tak sehebat adiknya setidaknya dia akan berjuang disamping ayahnya.
"Anak bodoh...kalau kau pergi lalu siapa yang akan melindungi ibu mu?" Larang sang raja pada putranya
"Tapi ayahanda..." Sanggah sang putra mahkota tetap ingin pergi bersama sang ayah.
"Kau adalah calon raja berikutnya, kalau terjadi apa-apa dengan mu siapa yang kelak menggantikan aku." Ucap raja Cokro dengan nada tegas dan penuh intimidasi.
"Turuti perintah ayahanda mu anak ku" perintah sang ibu mendukung keputusan yang di buat suami nya.
Sang raja bergegas menuju pintu gerbang selatan kota raja. Setelah sampai kota bagian selatan belum dia ikut bertarung petugas dari penjaga pintu sebelah timur dan barat pun mengahadap, mereka berdua melaporkan hal yang sama seperti penjaga pintu selatan tadi.
Semakin panik raja Cokro, tapi hal tersebut tak di tunjukan sama sekali,dia tetap tenang. Dia kawatir kalau sampai terlihat dia panik akan mempengaruhi mental pasukannya.
Mau tidak mau sang raja pun membagi pasukan yang ada menjadi tiga. 1000 ke arah barat, 1000 lagi ke arah timur.
Disisi lain pertempuran,Ki Ageng Gumilar yang berada di dalam kota raja berencana menghabisi prajurit yang ada dari dalam benteng. Dengan begitu pasukannya dengan mudah akan masuk dan menguasai benteng pertahanan.
Dan ternyata semua yang di rencanakan Ki Ageng Gumilar benar-benar berjalan. Dia dapat memporak-poranda pertahanan bagian barat dan bagian timur. Karena pertahanan bagian barat dan timur tidak ada panglima atau patin yangengendali kan pertahanan, dari itu bagian barat dan timur sengaja di serang dulu oleh Ki Ageng Gumilar.
Sedang raja Cokro sendiri berada di bagian selatan pertahanan dimana disana pertama kali terjadi pemberontakan. Raja sibuk dengan pertarungannya. Dia langsung menuju tempat dimana Ki Juru Sentanu memberi komando pasukannya.
"Bedebah busuk...mati kau!" Teriak lantang sang raja sambil mengayunkan pedang. Dengan marah den emosi raja Cokro menyerang Ki Juru Sentanu. Terlihat jelas Dimata raja begitu banyak prajuritnya yang gugur menambah marah raja Cokro. Dalam benak raja Cokro hanya berpikir bagai mana menaklukan pemberontak ini,bahkan dia tak sadar Ki Juru Sentanu jauh lebih sakti darinya.
Ki Juru Sentanu dengan Mufah menangkis semua serangan Raja Cokro,dia tahu bahwa kemampuan sang raja tak begitu hebat.
"Raja bodoh .... Kau kira dapat mengalahkan aku?" Ucap Ki Juru Sentanu pada sang raja.
"Yang mulia pertahanan benteng barat dan timur telah ditrobos musuh" teriak salah seorang kepala prajurit pada raja Cokro yang sedang mengatur nafasnya. Raja tersebut terlihat payah karna tenaga yang mulai terkuras.
Mendengar kabar tersebut sontak perhatian yang raja terpecah, dia kembali teringat bagai mana dengan kondisi keraton sekarang. Dia kawatir dengan keadaan keluarganya. Dia tak mau kehilangan keluarga lagi karna sampai sekarang putrinya pun belum di ketahui rimbanya.
Plak..plak...buk. suara tendangan Ki Juru Sentanu yang berhasil mendaratkan pukulan serta tendangan tepat pada dada dan perut raja Cokro. Ki Juru Sentanu tersenyum sinis melihat raja Cokro terpental karena serangannya.
"Ternyata benar apa yang disampaikan Ki Ageng Gumilar bahwa raja Mataram lemah" ucap Ki Juru Sentanu tertwa penuh kemenangan.
Sang raja yang terpukul,mundur beberapa langkah sambil memutahkan darah segar dari mulutnya. Tambah hancur batin sang raja mendengar ucapan Ki Juru Sentanu.
"Kau hanya mengalihkan perhatian ku bedebah, tak mungkin perdana Mentri berada di pihak kalian" ucap sang raja menenangkan pikirannya tentang ucapan lawannya.
Ki Ageng Gumilar dan putra nya yang telah berhasil menguasai benteng pertahanan Mataram menuju ke selatan dimana sang raja sedang bertarung dengan ku Juru Sentanu. Ki Ageng Gumilar menyaksikan pertarungan yang berlangsung diatas kuda perang bersama putranya.
"Ternyata kau disamping lemah juga bodoh, lihat siapa yang berdiri di belakang mu bersama putra nya itu" ucap Ki Juru Sentanu menunjuk tempat berdirinya Ki Ageng Gumilar bersama putranya. Mereka tersenyum sinis diatas kuda perang.
Raja Cokro Kusumo melihat kebelakang dimana Ki Juru Sentanu menunjukan tempat keberadaan Ki Ageng bersama sang putra. Batinnya sangat terpukul melihat Ki Ageng Gumilar tepat berada tak begitu jauh darinya. Dia jatuh berlutut dengan satu kaki, dan pedangnya digunakakan sebagai penyangga keseimbngan tubuhnya.
"Ternyata benar yang aku duga selama ini...kau memang dalang di balik kerusuhan kerajaan Mataram." Ucap sang raja sambil menyeka darah yang keluar dari mulut nya.