
Lokahita yang mengetahui keraguan itu pun menjawab
"Lakukan kisanak aku akan terima segala resikonya" jawab Lokahita tampak sedikit ada senyum tersungging di bibirnya, ada harapan untuk sembuh kenapa harus pasrah menunggu kematian batinnya.
"A...aku harus menghisap tepat pada luka nona," Terang Wisang Geni menatap malu pada gadis itu.
Sambil memejamkan mata Lokahita menjawab pernyataan Wisang Geni padanya.
"Lakukan kisanak...!" Pinta Lokahita sambil memalingkan muka menahan sakit yang kian lama bertambah sakit. Bukan dia manja, melaikan racun itu sangat berbahaya di tambah nyeri pada luka yang masih tertancap anak panah itu.
Pakaian gadis itu sudah rusak dibeberapa bagian,banyak bekas sayatan ataupun serta darah yang sudah mengering. Wisang Geni melepas pakaian luar Lokahita. Gadis itu hanya dapat memejamkan mata serta memalingkan muka karna menahan sakit dan malu.
Wisang Geni mengamati seberapa parah luka pada gadis itu, di berfikir sejenak sebelum melakukan tindakan.
"Nona ini akan sedikit sakit!!!" Ucap Geni sambil memegang anak panah yang tertancap pada bawah tulang belikat sang gadis.
Crap..bunyi anak panah tercabut, hanya sedikit darah berwarna hitam yang merembes keluar dari luka tersebut. Warna sebagian kulit dada Lokahita sudah membiru menandakan racun sudah menyebar.
"Ach..." Teriak tertahan Lokahita di iringi tercabutnya anak panah itu, Di tetap terpejam sambil menggigit bibir bawahnya menah sakit pada bekas luka itu. Tak terasa air mata nya pun menetes keluar karna menahan sakit.
Berhubung Geni sudah dapat ijin walaupun sedikit ragu di menghisap bekas luka itu guna mengeluarkan racun tersebut. Cukup lama Wisang Geni melakukan tindakan tersebut sampai pada akhirnya darah merah segar yang keluar.
Hal tersebut menandakan sebagian racun sudah dapat di keluarkan. Lokahita sudah dalam keadaan lebih baik, tapi belum bisa dikatakan aman karna sebagian racun telah bercampur dengan darah. Mau tidak mau Wisang Geni harus mengeluarkan racunnya,kalau tidak gadis ini tak dapat hidup sampai besok pagi.
Perasaan aneh muncul dalam hati Wisang Geni waktu di menghisap luka yang ada pada pundak Lokahita. Dia merasa aroma tubuh gadis ini sangat menggiurkan dan ada rasa ingin selalu berdekatan dengan gadis ini.
"Perasaan apa ini sungguh aneh...? kenapa aku ingin sekali mencium aroma badannya lagi!" Batin Wisang Geni. Seketika dia teringat akan Diah ayu aroma badan gadis ini sama dengan gadis dari desa Bambu Kuning itu.
"Aku akan memulihkan tenaga ku...setelah itu aku akan mengobati nona" ucap Wisang Geni menutupi rasa malunya.
"Trimakasih" ucap Lokahita sambil membuka matanya. Hanya Kata-kata itu yang dapat dia ucapkan. Bermacam perasaan muncul dalam hatinya, sedih,menyesal serta malu. Orang yang dia curigai dan hendak dia bunuh bahkan menyelamatkannya.
Cukup lama Wisang Geni duduk semedi mengembalikan tenaga dalamnya,hampir tengah malam dia baru membuka mata. Tenaga dalamnya baru pulih 25% dari biasanya, dengan ini dia yakin dapat mengeluarkan sisa racun yang masih ada dalam tubuh gadis ini.
"Nona aku akan mengeluarkan sisa racun yang ada pada tubuhku" ucap Wisang Geni meminta ijin pada gadis tersebut. Kalau pengobatan gadis ini tertunda sampai besok pasti Lokahita tak akan selamat.
"Silahkan pendekar" jawab Lokahita pelan, dia seakan merasa bersalah pada pendekar ini, Karena menilai hanya dari penampilan Lokahita bahkan menuduh nya sebagai penjahat yang berniat membuat kekacauan.
Tangan pemuda itu menempel pada punggung Lokahita, dia mengalirkan tenaga dalam guna mengeluarkan racun dalam darah yang di derita Lokahita.
"Ternyata tenaga ku kurang..." Batin wisang geni sembari mengalirkan tenaga dalam pada Lokahita.
Lokohita yang awalnya merasa hangat pada telapak tangan Wisang Geni kini berubah menjadi sangat panas, dada Lokahita mulai terasa panas karena aliran tenaga dalam dari Wisang Geni.
"Uhuk...uhuk..." Lokahita terbatuk dan dari mulutnya keluar darah warna hitam yang menggumpal, darah yang keluar dari mulut Lokahita bar bau busuk. Hal ini mengadakan bahwa racun ini sangat berbahaya.
Proses pengobatan telah selesai,racun yang terdapat dalam darah Lokahita pun telah berhasil dikeluarkan. Wisang Geni mengambil obat dalam cincin ruang naga nya.
" Nona...segera minum obat ini,aku yakin besok kondisi nona akan membaik" ucapan Wisang Geni sambil menyerah kan pil jiwa pada Lokahita beserta pakaian wanita yang dia beli untuk Diah Ayu dan Rahayu adiknya.
Pakaian yang tak semewah punya Lokahita tapi cukup nyaman untuk di kenakan. Lokahita hanya tersenyum kecut merasa tidak enak dengan perlakuan Wisang Geni yang baik padanya.
"Aku akan beristirahat diluar nona" celetuk Wisang Geni untuk mengurangi kecanggungan pada mereka berdua. Baru beberapa langkah wisang geni berjalan, tiba-tiba dia jatuh pingsan. Dia telah kehabisan tenaga fisik dan juga tenaga dalam.
Lokahita yang menyaksikan kejadian itu sontak kaget, di belum pulih benar hanya bisa duduk. Tapi dia berusaha untuk melihat kondisi sang penyelamat. Lokahita tahu pendekar itu kelelahan akibat pertarungan serta pengobatan yang dia lakukan untuk mengobati dirinya.
Setelah meminum obat yang diserahkan Wisang Geni Lokahita mampu berdiri walau dengan keadaan payah. Berhubung dua tidak kuat mengankat pendakar ini karena kondisinya juga masih lemah, dia akan Menunggu sang penolong sampai siuman.
Akhirnya Lokahita duduk ber semedi di samping tempat pendekar tersebut pingsan.
"Kenapa pendekar ini begitu baik padaku, apa dia mengenal aku" batin Lokahita dalam semedi nya.
Perahu yang mereka tumpungi pun melaju tanpa nahkoda, berjalan mengikuti aliran sungai yang cukup besar. Lokahita pun pasrah kemana arah kapal ini melaju, dia sendiri pun tak bisa mengemudikan kapal ini.
Sinar kemerahan mentari pagi telah nampak dari ufuk timur, mengusir embun yang menyelelimuti malam, dia seakan tak Sabar ingin meperlihatkan betapa gagah dirinya kala bersinar.
Di atas perahu yang mengapung terdapat dua insan manusia, terlihat nampak sang gadis sedang duduk tenang dalam semedinya. Dan satu manusia sedang terlep tidur dalam lelahnya.
"Sudah pagi rupanya..." Gimana lirih Wisang Geni, waktu membuka mata yang pertama dia lihat ada gandis cantik yang sedang memulihkan kondisinya dia begitu menikmati semedinya. Gadis ini baru membuka mata setelah mendengar suara dari orang yang sudah mulai duduk didepannya.
" Maafkan saya pendekar...serta trimakasih telah menyelamatkan nyawa saya" ucap sang gadis sambil berlutut didepan pendekar yang menyelamatkannya.
"Tidak perlu seperti ini nona.." ucap Wisang Geni sambil menyuruh Lokahita berdiri, dia merasa canggung dengan situasi seperti ini. Pagi ini Wisang Geni berencana memancing ikan untuk makan mereka berdua.