
Tak berapa lama 15 orang penjahat tersebut mati dengan mengenas kan tanpa perlawanan. Kondisi mereka sangat mengenaskan, Hampir semua dari penjahat mati dengan tubuh terpotong atau pun terbelah. Wanita yang bersama pemuda tersebut langsung pingsan menyaksikan begitu sadis penyalamat mereka ini.
Orang misterius itu segera menyadarkan wanita tersebut,
"Kakang bawa ibu mu menuju bawah pohon itu,aku akan mengobati kedua paman ini." Kata pria misterius masih belum memperkenalkan dirinya, sebenarnya Gesang sedikit ragu,tapi tanpa penyelamat ini tentu mereka semua sudah menjadi Korban para penjahat yang sekarang sudah menjadi jasad.
"Paman segera minum ini!" Perintah pria misterius sambil menyerahkan kapada mereka masing-masing 2 pil. Satu pil jiwa dan satu lagi pil penambah tenaga.
Kedua pengawal ini tahu harga kedua obat ini tidak murah, Dan orang ini memberikan begitu saja pada mereka.
"Ini...ini benar buat kami pendekar?" Tanya pengawal tersebut masih ragu.
"Sudah cepat minum paman lalu bantu aku menguburkan mayat-mayat ini!" Pinta orang misterius tersebut.
Ibu dan anak muda hanya menyaksikan yang mereka lakukan, mereka bertiga bekerja cepat karna Hari sudah hampir gelap. Selesai memakamkan mayat pria misterius menuju tempat dimana ibu dan anak itu istirahat.
"Trimakasih pendekar...aku Gesang dan beliau ibu ku, entah bagaimana kami dapat membalas kebaikan pendekar" ucap Gesang Wicaksono memperkenalkan diri.
"Aduh kakang tak usah peradatan seperti itu,ini kakang cepat kau minum dan ini untuk bibi" menyerahkan pil sebesar biji jagung pada kedua orang itu.
Gesang dan ibunya segera minum tanpa curiga, ternyata memang ajaib,stamina dan luka dalam pemuda itu sembuh seketika. Sang ibu pun tak jauh berbeda staminanya kembali,tubuhnya serasa lebih segar dari sebelumnya.
"Kalau boleh tahu pendekar ini siapa namanya?"tanya ibu Gesang pada pendekar yang telah menyelamatkan mereka.
"Maaf aku lupa memperkenalkan diri bibi...Aku Wisang Geni dan panggil saja Geni,usiaku baru 19 tahun mungkin sudah 20 tahun aku juga lupa" ucap Wisang Geni sedikit malu karna lupa memperkenalkan diri. Dari geni meninggalkan gunung Tidar memang dia hampir 1tahun berada di wilayah kerajaan Mataram ini.
"Nak Geni hendak kemana?"tanya ibu Gesang sambil memperhatikan penampilan aneh dari Wisang Geni.
"Aku dan istri hendak ke Mataram bibi" menjelaskan tujuannya.
"Lalu dimana istri mu nak Geni?" Tanya ibu Gesang pada pemuda yang mengaku telah beristri di usia yang masih muda itu.
"Di goa tak jauh dari sini bibi, kalau bibi kakang berkenan kita bisa bermalam bersama sambil mengakrabkan diri" tawar Geni pada kelompok itu.hal ini dilakukan untuk lebih bisa tahu keadaan mataram,disamping itu dia berfikir pasti Pitaloka akan senang bertemu dengan rombongan dari mataram ini.
Mereka berempat sepakat akan ikut Geni,karna mereka merasa aman bersama pemuda yang mempunyai kemampuan hebat ini.
"Pendekar...usiaku lebih tua darimu bagai mana kalau kau ku angkat jadi adik angkat ku?" Pinta Gesang pada pemuda yang baru dia kenal.
"Terserah kakang saja...makin banyak saudara makin baik" jawab Geni sambil memimpin jalan kelompok tersebut.
"Ibu jadilah saksi ku hari ini aku mengangkat saudara dengan adik Wisang Geni" pernyataan yang direstui sang ibu dengan anggukan.
"Trimakasih kakang...trimakasih bibi" ucap Geni pada kedua orang tersebut.
"Anak durhaka...kenapa masih memanggil ku bibi!?" Ucap ibu Gesang pada Wisang Geni.
Akhirnya Geni pun ikut memanggil ibu pada ibu kakang Gesang,walau nama asli ibu angkatnya dia belum tahu.
"Kenapa kakang belum kembali...apa terjadi sesuatu?"gerutu Pitaloka kawatir pada keselamatan Wisang Geni.
"Lihat saja nanti kalau sampai akan aku marahi dia" batin gadis itu jengkel Dan kawatir.
Rombongan Wisang Geni, Gesang, ibu serta kedua paman pengawal sudah sampai didepan Goa. Wisang Geni ingin memberikan kejutan pada Pitaloka.
"Pitaloka lihat siapa yang datang bersama!?"panggil Geni pada gadis yang sedang membuat api unggun itu. Empat orang yang mendengar panggilan Geni sontak kaget dan menghentikan langkah kaki mereka.
"Kakang kenapa kau pergi lama seka..."ucapan Pitaloka terhenti melihat orang yang ada di belakang pemuda itu...
Wisang Geni yang melihat perubahan wajah Pitaloka mengira gadis ini takut, saking takutnya sampai gadis ini mau menangis batin pemuda itu.
Pitaloka berlari menelentangkan tangan seperti akan memeluk Geni. Pemuda itu pun membuka tangan seperti ingin menyambut pelukan sang gadis.
Pitaloka berlari melewati Geni dan dan langsung memeluk ibu angkatnya.
"Ibu..."ucap Pitaloka sambil memeluk wanita yang ada di belakang Wisang Geni.
Bagai tersambar petir tanpa hujan, Wisang Geni kaget bukan kepalang mendengar Pitaloka memanggil ibu pada ibu angkatnya. Dia teringat tentang perkataan bahwa dia bersama istrinya.
"Aduh...bagaimana nanti menjelaskannya ya" batin Geni memberi ruang untuk mereka bertiga.
Wisang Geni keluar Goa segera memanggang ayam hasil buruannya bersama kedua pengawal,paman Markum dan paman Mantang.
"Benar aden sudah menikah dengan putri ayu?" Tanya paman Markum pada Wisang Geni.
"Ceritanya panjang paman"jawab singkat Wisang Geni.
"Kalau begitu syukurlah den...musuh mataram banyak kasihan putri ayu,setidaknya dia sudah ada yang menjaga"ucap paman markum seolah-olah Wisang Geni dan Diah Pitaloka memang sudah menikah.
Wisang Geni hanya menunduk kesal dengan ucapan paman markum,dia pun bingung bagai mana menjelaskan pada ibu angkatnya. Karna memang dia sendiri yang menyatakan Pitaloka itu istrinya sewaktu bertemu dengan ibu angkatnya.
Setelah ayam matang Geni membawa kapada mereka bertiga yang sedang melepas rindu,Pitaloka menceritakan semua pengalaman bersama pemuda ini.
"I...ibu mari makan,"ucap Wisang Geni pada ibu angkatnya,dia mengeluarkan 3 buntelan nasi jagung yang masih ada,bekal yang dibeli siang tadi dari desa yang mereka lewati.
"Kakang kalau boleh tahu apa yang terjadi pada kerajaan Mataram?" Tanya Geni waktu selesai makan,dia ingin mendengar cerita dari kakang serta ibu angkatnya.
Akhirnya kakang Gesang menceritakan semua yang terjadi di kerajaan mataram,dari awal terjadi kekacauan hingga sampai pada pemberontakan ki Ageng Gumilar. Dan sampai pada akhirnya mereka bertemu dipinggiran desa dimana mereka berempat diselamatkan oleh Wisang Geni.
"Kakang apa pernah Mataram mencoba menyerang kerajaan lain, kerajaan Pajang misalnya?"tanya Wisang Geni penuh selidik.
"Tidak pernah adik Geni, ayahanda benci dengan pertempuran,dia lebih cinta damai. Beliau tak mau melihat peperangan karna hal tersebut menyengsarakan rakyat,aku dapat berkata seperti ini karna setiap pertemuan aku harus hadir karna aku putra mahkota, walau aku tahu usul dan saran ku tak dibutuhkan kala itu" jelas Gesang pada Geni.