
Mendengar penjelasan dari kakang angkatnya Wisang Geni hanyut dalam lamunannya. Batinnya mengaitkan cerita serta peristiwa yang terjadi di Kerajaan Mataram,dia mulai ragu dengan semua anggapannya bahwa raja Mataram adalah raja yang tidak punya jiwa kemanusiaan dan jahat.
"Jadi begini kakanda....kakang Wisang Geni adalah korban selamat dari peristiwa pembantaian kurang lebih 5 tahun lalu,semua kerabat serta sanak saudaranya di bunuh, dia mengira yang membunuh mereka dari kerajaan Mataram,karna di Salah satu mayat terdapat pengenal tanda prajurit Mataram."jelas Diah Pitaloka kepada kakaknya Gesang Wicaksono.
"Apa itu benar Geni!?Coba kau jelaskan dari awal bagaimana kejadian itu" pinta Kakang Gesang pada Wisang Geni dengan muka merah pada menahan amarah. Dia bukan marah karna wisang geni menduga kerajaan mataram yang pemuda ini curigai. Melainkan peristiwa tak manusiawi itu yang buat marah kakang Gesang.
Akhirnya Wisang Geni menceritakan semua yang terjadi pada dirinya. Hingga dia diselamatkan sang guru,Serta apa tujuannya berkelana sampai pada akhirnya dia berjanji mengantar Diah Pitaloka pulang kepada keluarganya. Tapi ada beberapa hal yang terlewat itu semua disadari oleh permaisuri Roro Ayu Sekar Kedaton.
"Jadi jelas bukan ayah angkat mu yang memerintahkan perbuatan Keji itu Geni" terang permaisuri
"Jadi perlu kau ketahui Geni raja Pajang itu adalah adik ku, jadi tak mungkin suami ku menyerang kerajaan Pajang" lanjut ibu angkat Wisang Geni.
Wisang Geni kaget dengan ungkapan dari ibu angkatnya, jadi setelah semua keterangan yang dia dapat maka ada sepercik cahaya menerangi jalan jalan pikirannya.
Untuk mengurangi Beban pikiran putra dan putrinya permaisuri mencoba mengalihkan perhatian para muda-mudi tersebut dengan topik lain.
"Kapan aku bisa meninimang cucu putri ku? Apa kau sudah hamil?" Tanya permaisuri pada putrinya yang sedang duduk disamping Wisang Geni, mereka seperti sedang mendiskusikan sesuatu dengan berbisik-bisik seakan-akan orang lain tak boleh tahu apa yang mereka bicara kan.
"Uhuk...uhuk..."Diah Pitaloka tersedak serta terbatuk-batuk mendengar ucapan sang ibu. Karna Pitaloka sedang makan pisang,Buah kesukaan gadis tersebut.
"Pelan-pelan makannya!" Ucap Wisang Geni, melihat Pitaloka batuk-batuk sontak mengurut leher serta menepuk-nepuk punggung Gadis itu. Pemuda itu langsung memberikan air minum pada sang gadis.
"Pasti benar....memang suami mu memang tok car..." canda sang ibu pada kedua muda-mudi yang terlihat mempunyai hubungan yang begitu dekat itu.
"Cruat...uhuk..."kali ini tak hanya batuk Pitaloka juga menyemburkan air yang baru sampai tenggorokannya ke muka Wisang Geni.
Wisang Geni tampak tenang karna dia sudah menduga kemana arah tujuan ibu angkatnya berkata seperti tadi.
Dan hal ini lah yang terlewat dari cerita yang disampaikan muda-mudi ini, sang permaisuri
Merasa cerita tentang pernikahan mereka belum sampat disampai kan pada sang ibu.
"Masalah itu biar adik Pitaloka yang menjelaskan ibu." Ucap Geni dengan tenang. Dia tidak terlihat Panik sedikit pun, justu Pitaloka lah yang terlihat panik.
"Biar aku yang menjelaskan ibu."ucap Pitaloka yang sudah dapat mengendalikan rasa paniknya.
"Untuk mengurangi pandangan miring masyarakat,aku yang meminta kakang Wisang Geni mengaku kalau kami sudah menikah,masa kami melakukan perjalanan bersama tanpa ada ikatan, bagai mana pandangan masyarakat nantinya?" Jelas Diah Pitaloka pada ibunya.
"Ibu paham sekarang, jadi kakang mu Geni itu anak angkat ku apa anak mantu ku?" Mendengar Canadaan dari sang ibu sontak memerah muka dari gadis ini di merasa sangat malu.
"Aku tak mau punya kakang mesum seperti dia!" Ucap Diah Pitaloka pada Wisang Geni,pernyataan bercanda namum serius,karna Pitaloka tak ingin menjadikan Wisang Geni sebagai kaka,dia ingin pemuda ini menjadi pendamping hidupnya.
"Lagi pula siapa yang mau punya adik tukang buat onar seperti mu" bela Wisang Geni menanggapi Candaan Diah Pitaloka.
"Sungguh bijaksana ibu angkat ku ini,untuk mengurangi ketegangan beliau dapat mengalihkan pembicaran supaya sutuasi bisa cair," batin Geni membenarkan tindakan ibu angkatnya.
Malam itu di akhiri dengan percakapan ringan, rencana perjalanan mereka akan di bicarakan besok. Karena mereka tak mau merusak suasana bahagia malam ini.
Wisang Geni kembali melakukan meditasi seperti biasa, melatih tenaga dalam agar kemampuannya bisa naik ketahap selanjutnya. Dalam meditasi yang dia lakukan batinnya menerawang jauh,memikirkan langkah apa yang akan dia kerjakan.
"Pitaloka sudah ku Antar kepada keluarganya,apa aku langsung ke Nihon menunaikan janji ku pada guru,apa Aku harus bantu mereka? Lalu bantuan apa yang bisa aku diberikan?"
Pagi itu susana di sekitaran Goa tempat istirahat Wisang Geni banyak terdapat kegiatan, mulai dari Pitaloka yang menyiapkan makan pagi bersama kedua paman yang membantu membuat perapian, Gesang membersihkan sekitaran Goa di bantu sang ibu.
"Kemana kakang Geni pergi,kenapa dia tak pamit padaku?" Batin Diah Pitaloka yang sedari tadi belum melihat Wisang Geni.
"Gadis bandel kau terlihat helisah...memang kau memikirkan apa?" Tanya Gesang pada Pitaloka,karna dia memperhatikan tingkah sang adik seperti sedang mimikirkan sesuatu.
"Kakang Geni kemana kang mas kok aku dari tadi belum melihatnya?"tanya Pitaloka pada kang mas Gesang.
"Geni pergi fajar tadi,dia pamit pergi sebentar,tapi aku sendiri pun tak tahu kemana dia pergi?" Jawab Gesang pada adiknya yang sedang gelisah.
Sampai hari menjelang siang Wisang Geni belum nampak batang hidungnya, yang dari awal Pitaloka sudah kawatir kini semakin menjadi-jadi.
"Kemana kakang Geni pergi ya?sudah siang belum juga kembali." Gerutu Pitaloka sambil sesekali keluar Goa untuk melihat apa pemuda itu sudah datang apa belum?.
"Sabar putri ku...kekasih mu sebentar lagi pasti pulang."goda permaisuri pada putri nya.
"Apa sih ibu...aku cuma takut terjadi sesuatu pada kakak angkatku"jawab Pitaloka berkilah.
Tak berapa orang yang di nanti-nantikan akhirnya muncul juga. Pemuda itu membawa dua buntelan yang cukup besar.
"aku harap ibu mau bersabar tinggal di Goa ini, aku berencana membebaskan raja Cokro" ucap pemuda itu mengutarakan rencana yang semalam sudah difikirkan.
Ketiga orang yang mendengar semua seakan kaget, terkejut dengan apa yang di sampaikan pemuda bertopeng ini.
"Aku akan ikut dengan mu kakang"jawab Pitaloka dengan semangat berapi-api.
"Kau Kira ini bertamasya,ini sangat berbahaya" terang Wisang Geni pada Pitaloka, dan dibenarkan oleh semua orang yang ada di situ.
"Terus kalau terjadi sesuatu pada kakang siapa yang menolong?"ucap Pitaloka penuh kawatir.
"Terus jika terjadi sesuatu padaku kamu akan bisa selamat?"jawab Geni coba sekarang keinginan Pitaloka.