SATRIA PININGIT

SATRIA PININGIT
PIL ASMARA



Wisang Geni mulai merasakan setiap serangan yang mengarah ke dirinya. Dengan suara sedikit lantang dia berteriak.


"Tarian Dewata..."suara Wisang geni yang sedikit lantang membuat Lokahita yang tadi menutup mata kini membuka matanya.


Gadis itu mengarahkan pandangan pada pemuda yang dia kagumi. Mentap Geni yang masih tenang menghadapi perampok yang menyerang dirinya.


Wusst...tring...trang bunyi pedang saling beradu. Terlihat wisang geni menyerang dengan kemanpuan penuhnya. Para perampok yang hendak menyerang pun tak sempat menangkis serangan dari wisang geni.


Wisang Geni seperti menari, tapi setiap ayunan pedang serta gerak menghindarnya pasti memakan korban. Gerakkan nya begitu indan namun mematikan.


Tidak sampai 10 tarinakan nafas kepala para perampok serta pasukan yang berjumlah 20 orang terbating tanpa ada perlawanan yang berati. Mereka semua mati dengan mengenaskan.


Lokahita yang menyaksikan pertarungan singkat itu hanya bisa tertegun, melihat pemuda yang dia kagumi menghabisi kawanan perampok dengan begitu mudahnya.


Tak jauh beda dengan keluarga paman Bejo yang berada pada lokasi pertempuran. Mereka sampai mual menyaksikan mayat dari para perampok itu.


Wisang Geni akhirnya mumbuka tutup mata setelah merasa lawan sudah tak tersisa. Dia pun kaget dengan kondisi lawannya. Dia terduduk lemas, bukan karna kehabisan tenaga, tapi melihat kondisi para perampok yang dia habisi.


Kondisi ini bukan seperti pertarungan,melainkan pembantaian.


"Trimakasih tuan pendekar...kami tak tahu harus membayar dengan apa?" Ucap paman bejo beserta keluarganya yang berlutut di bawah kaki Geni.


"Jangan seperti ini paman, aku hanya menolong tanpa meminta imbalan."jawab Geni merasa canggung. Kemudian dia meminta paman bejo dan keluarga yang lain berdiri.


"Paman kau bisa menguburkan semua mayat ini?, aku ingin menyelamatkan istriku"sambung wisang geni pada paman Bejo.


"Bisa tuan pendekar... akan kami lakukan semampu kami"jawab paman bejo


Tiba-tiba Wisang Geni melopat kedepan dan mengayunkan pedang pusaka pemberian sang guru.


Blar..blom...suara tanah bergetar, terdapat lubang yang cukup lebar disana.


"Paman dapat mengubur mereka dengan mudah, paman juga boleh membawa kedua kuda kami agar perjalanan tidak terlalu lama." Perintah Geni pada paman Bejo.


"Nama ku Wisang Geni,paman siapa? Kelak kalau aku ke semarang pasti mampir kerumah paman" sambungnya


"Nama saya Bejo pendekar, kami sangat senang jika pendekar kelak mau mampir ke pondok kami" jawab paman Bejo dengan sopan.


"Baik kami pergi dulu paman, sampai bertemu lagi." Ucap Geni sambil membopong Lokahita pergi dari lokasi pertempuran.


"Aku harus cari tempat yang tepat untuk mengobati Lokahita"batin Wisang Geni. Dia berjalan membopong gadis itu cukup jauh, Wisang Geni telah memeriksa denyut nadi serta pernafasan Lokahita dan semua normal. Dia beranggapan bahwa lokahita hanya terlalu lelah.


Matahari sudah condong kebarat menandakan hari telah sore. Geni memilih tempat dibawah pohon rindang dimana disana terdapat batu mirip dipan(ranjang tidur) untuk memeriksa lebih lanjut apa yang diderita sang gadis.


"Kakang aku tidak apa-apa, hanya saja tubuh ku lemas,"suara lirih Lokahita, suaranya sedikit mendesah. Wisang Geni yang tak biasa melihat sang gadis bersikap seperti saat ini pun sampai berdiri bulu kuduknya,entah karna takut atau apa dia pun tidak bisa mengartikannya.


Tak bisa disangkal dari suara yang baru saja di ucapkan Lokahita memang sangat menggoda, ada desiran lain dihati Geni waktu mendengarnya.


Jiwa mudanya berkobar aneh waktu mendengar setiap ucapan gadis yang berada disampingnya, lamunannya bunyar kala dia mendengar pangilan suara yang tak asing di telinganya.


"Kakang...esss...ach....aku kedinginan kang" desah lirih Lokahita, racun yang diminumkan para penjahat mulai bereaksi. Dia merasa kedinginan yang hebat,bibir mungilnya sampai menggerutuk saking dinginnya.


Geni yang menyaksikan hal tersebut langsung mengeluarkan baju dari buntalan pakaia yang dia bawa. Dia menuelimutkan pada Lokahita, dia merasa kasihan pada gadis ini, tapi dalam fikiran yang lain dia sangat tergoda dengan tingkah sang gadis yang menggeliat seperti cacing kepanasan.


"Panas kakang...aduh...ach..."******* Lokahita mulai terdengar begitu indah de telinga Geni. Baru saja dia merasa kedinginan, sekarang mulai kepanasan.


Lokahita mulai dapat menggerakkan tubuhnya, dia mulai bisa bergerak seperti biasa. Gadis ini merangkat mendekati Wisang Geni. Melihat kelakuan Lokahita yang sedikit aneh Geni merasa ada yang tidak beres dengan gadis ini,tapi dia pun aneh kenapa malah suka dengan tindakan tersebut.


Wisang Geni duduk diseberang perapian dengan Lokahita, dia dapat manyaksinak setiap gerakan gadis itu merangkak pelan mendekati dirinya.


"Kakang mari Duduk disamping ku...eess...ach...apa kakang tidak kasihan melihat gadis lemah seperti ku kedinginan" Lanjut Lokahita yang sekarang sudah berada disampingnya.


Syukurlah kau sudah siuman, aku kira kau tadi teluka dalam" ucap Wisang Geni mulai gugup karna melihat Lokahita berprilaku aneh.


"Aku memang terluka dalam kakang,coba kakang liahat..." jawab Lokahita yang secara tiba-tiba membuka baju luarnya.


Wisang Geni Langsung memalingkan muka, dia malu dengan apa yang diperbuat gadis ini. Di lain sisi ada rasa keinginan yang besar untuk menyentuh gadis ini,tapi masih dapat Geni tahan.


Tak membuang kesempatan Lokahita langsung menyergap Wisang Geni. Topeng kayu pemuda itu dilepas paksa oleh Lokahita. Enteh karna kaget atau apa Geni terpaku diam.


Gadis ini langsung ******* bibir geni dengan ganas.


Darah muda dalam diri Wisang Geni pun bergejolak, dia pun menyambut aksi sang gadis. Pergulatan itu berlangsung cukup lama. Gadis ini menekan kepala Geni supaya lebih turun, agar daerah seneitifnya dapat dinikmati pemuda tersebut.


"Tampak aneh beda dari apa yang aku fikirkan, besar dan kenyal" batin Geni tetap mencubu sang gadis.


"Iya kang...itu...iyah..." suara Lokahita semakin serak dan lirih,gadis ini liar tak seperti biasanya.


Geni yang terbuai oleh aroma badan gadis ini serta pemandangan yang begitu menghiurkan membuat pemuda ini lupa sesaat, namun suara gadis ini menyadarkannya.


"Ada yang tidak beres..." batin geni mengakhiri cumbuannya.


Plak... suara pukulan ringan mendarat,Geni memukul tengkuk Lokahita, seketika gadis itu pungsan.


Geni membopongnya menuju batu yang mirip ranjang tidur itu,lalu membaringkan Lokahita sembari memasang untuk gadis itu. Pakaian Lokahita sudah lepas bagian atasnya, buah ranum itu pun terpapang di depan mata Geni.


Pemuda itu kemudian merapikan pakaian sang gadis. Geni mencari tempat agak jauh dari tempat Lokahita,tapi dia masih tetap dapat memantau gadis itu.


Dia kembali duduk meditasi untuk menenangkan batinya, ada sisi lain dalam dirinya yang menyasal karna dia mengakhiri kejadian tadi. Geni berusaha sampai akhirnya dia pun larut dalam meditasinya.


"Pasti itu adalah efek dari obat yang diminumkan kepadanya oleh kepala perampok tadi, pasti itu racun asmara"batin Geni tetap memejamkan matanya. Hanya terkadang dia sesekali membuka mata untuk memastikan gadis itu aman.