
"Itu kang...itu,ada ular!" Teriak Lokahita tetap menyembunyikan mukanya pada dada Wisang Geni. Hanya menunjukan dengan tangan kanannya dimana dia melihat ular tersebut.
"Aroma tubuh ini..." batin Wisang Geni sambil tetap menikmati aroma tubuh dari gadis yang entah kapan dia mulai menyukai gadis ini.
"Kakang...cepat usir ular itu!" Pinta Lokahita dengan nada sedikit berteriak. Suara Lokahita menyadarkan lamunan pemuda yang masih mematung itu.
"Baik...baik" jawab gugup Wisang Geni,sambil tetap menggendong Lokahita.
"Kakang cepat turunkan aku!,kenapa kakang malah membawaku kesana?,aku takut kang." Ucap lirih Lokahita menyadarkan kegugupan Wisang Geni.
Dari tempat berdiri Wisang Geni nampak ular seukuran lengan orang dewasa, ular tersebut merasa terganggu lalu siap untuk menyerang.
"Ular jenis kobra yang sangat beracun" batin Wisang Geni sambil mengeluarkan padang andalan yang dia miliki dari dalam gelang penyimpanan.
Sret...sret... dengan cepat Wisang Geni menebas ular tersebut menjadi berapa bagian. Ular tersebut mengandung racun yang berbahaya tapi disisi lain empedunya dapat digunakan menjadi penawar sebagai penawar racun.
Perasaan nyaman menyelimuti Lokahita yang berada dalam bopongan Wisang Geni. Gadis ini pun entah mengapa ingin bersama pemuda ini turus.
"Kenapa kamu masih minta gendong aku padahal ular itu sudah mati" ucap Wisang Geni pada Lokahita.
Lokahita yang mendengar ucapan Wisang Geni segera turun.
"Maaf kakang,aku takut dengan ular" ucap Lokahita dengan nada malu-malu. Wajahnya memerah seperti udang rebus.
Setelah membersihkan gua tersebut wisang geni mulai membuat perapian guna mengusir hewan buas serta untuk menghangatkan udara disekitar yang semakin dingin.
"Kamu tidur saja biar aku yang jaga" kata Wisang Geni memecah suasana canggung dari mereka berdua akibat kejadian yang baru saja terjadi.
"Baik kakang...aku istirahat dulu" ucap sang gadis tampak malu-malu.
"Gunakan ini sebagai tikar mu" ucap Wisang Geni menyerahkan baju luarnya untuk Lokahita.
"Lalu kakang pakai apa?" Sanggah Lokahita yang enggan menerima baju luar tersebut. Dia merasa tak enak.
"Sudah...kau pakai saja aku biasa tidur di hutan" Geni tetap menyerahkan pakaian pada gadis itu. Geni langsung duduk meditasi sambil memejamkan mata.
"Kakang...aku masih takut, boleh aku tidur disamping kakang?" Pinta Lokahita pada Geni yang sedang hanyut dalam meditasinya.
Likohita berpindah dari tempat semula, medekati Wisang Geni. Gadis itu berbaring tepat disamping dimana Wisang Geni meditasi.
"Kakang...dari mana kakang bisa mendapat barang-barang yang tidak kelihatan sama sekali kakang membawanya?" Tanya Lokahita penasaran, karna Wisang Geni tiba-tiba membawa pedang,pakaian wanita serta barang-barang lain, sedang buntelan yang dia bawa tak terlalu besar. Gadis itu selalu bertanya walau tahu pemuda disampingnya tak menjawab.
"Itu...sudahlah nanti kamu akan tahu dengan sendirinya."jawab Geni singkat karna dia tak ingin orang tahu tentang gelang ruang naga yang dia miliki. Merasa tergangu meditasinya Geni langsung mengeluarkan empedu ular yang dia dapat sore tadi.
Geni mengeluarkan bejana kecil serta beberapa botol kecil. Dia mencampur semua bahan itu satu-persatu, dan terakhir dia memasukkan empedu ular tersebut.
Lokahita memperhatikan apa yang sedang di kerjakan Geni. Di tak heran dengan barang apa yang di buat Geni, tapi dia kagum pemuda yang usianya tak jauh beda dengannya juga menguasai ilmu pengobatan.
"Ini kau simpanlah,kelak pasti berguna." Ucap Geni sambil menyerahkan benda sebesar kelereng.
"Apa ini kang?" Tanya heran Lokahita. Gadis itu tetap memperhatikan wajah Geni dengan kagum. Gadis itu menerima benda tersebut dalam botol kecil.memasukan dalam kantong kecil yang terselip di pinggang kanannya.
"Itu penawar racun, paling tidak itu bisa mencegah penyebaran jadi ada waktu untuk mengobatinya." Terang Wisang Geni pada Lokahita.
Kembali Wisang Geni melanjutkan meditasinya,Lokahita kembali istirahat. Gadis itu
Berbaring tepat di samping Geni. Gadis ini tidur dengan nyenyak.
"Bangun Lokahita...sudah pagi,paha ku sudah kesemutan." Geni mengoyang pundak Lokahita agar segera bangun.
Lokahita yang tertidur mulai membuka mata.
"Maaf kakang...maaf, aku tak tahu" pinta Lokahita, dia baru sadar kalau semalam dimerasa menemukan bantal,ternyata yang dia pakai adalah paha dari Geni, pemuda misterius yang membuat dia kagum.
Wisang Geni melangkah meninggalkan gua, langkahnya tertatih-tatih karna paha yang masih kesemutan. Lokahita tersenyum geli melihat Geni berjalan, tapi disisi lain dia merasa kasihan pada pemuda itu,karna itu semua karna perbuatannya.
Wisang Geni kembali dengan membawa beberapa ekor ikan yang cukup besar.
"Kamu mandilah,biar aku buat sarapan!" Perintah Geni pada gadis itu.
"Kakang jangan ngintip ya..." goda Lokahita pada geni. Entah kenapa dia senang melihat reaksi gugup,malu dan canggung pada Wisang geni.
Tak berapa lama Lokahita kembali, dia mengunakan baju yang masih bersih. Nampak Wisang Geni melihat dengan tertegun. Ikan yang dia bakar sudah matang.
"Apa ada yang salah kang?" Tanya Lokahita,dia merasa anaeh kenapa Geni memandang dia dengan heran.
"Cantik..." hanya kata itu yang terucap dari bibir Geni. Sepontan dia pun memuji kecantikan Lokahita.
"Kakang berkata apa?" Tanya Lokahita pada Geni, dia sebenarnya mendengar apa yang di katakan wisang geni, cuma ingin dengar sekali lagi dari Geni.
"Tidak...ini ikan sudah matang,mari makan" Wisang Geni coba mengalihkan pembicaraan. Dia tak sadar kenapa langsung keluar kata-kata tersebut dari bibirnya.
Acara makan pagi pun telah selesai. Pasangan muda-mudi ini akhirnya melanjutkan perjalanan kembali dengan menggunakan kuda yang mereka beli sebelumnya.
Perjalanan sudah 10 hari 2 hari lagi mereka akan keluar dari hutan Mentaok ini dan memasuki wilayah mataram. Perjalanan mereka sudah separuh dari perjalan yang akan mereka tempuh.
"Tolong...tolong...tolong..." teriak wanita separuh baya yang sedang berlari. Di belakang wanita itu ada 2 orang bertopeng sambil membawa pedang.
Lokahita yang menyaksikan itu sontak melompat dari atas kudanya. Dia langsung menghampiri wanita yang meminta tolong tadi.
"Tolong...tolong...tolong keluarga kami nona" ucap panik dari bibi tadi, bibi menjelaskan bahwa rombong mereka di serang para perampok.
"Perampok bedebah!" Lokahita langsung menerjang 2 orang yang mengejar bibi tadi.
Tring...trang...
kedua perampok langsung menerima serangan Lokahita.
Kedua perampok yang melihat kecantikan dari Lokahita langsung tersenyum picik, keduanya merasa akan mudah mengalahkan wanita cantik berpedang yang menjadi lawannya ini.
"Mari cantik,akan kulayani kau...setelah itu ganti layani kami..ha...ha...ha" celoteh salah satu dari perampok itu.
Dengan penuh Lokahita menyerang laki-laki yang bicara tak sopan padanya.
Lokahita menyerang dengan ganas, perampok yang tertawa tadi langsung terkena tusukan pedang pada dada kirinya.