SATRIA PININGIT

SATRIA PININGIT
KAKEK MIJAN DAN BARANG RAHASIA



Wisang Geni berbaring menghadap gadis ini, dia menatap lekat pada sang gadis, Pitaloka pun malu ditatap Geni.


"Aku akan bicara dengan mu sesuatu, tapi ingat ini jangan sampai ada orang lain yang tahu! " Ucap Geni pada Pitaloka dijawab dengan anggukan oleh gadis ini.


Wisang Geni menceritakan apa yang menjadi beban pikirannya selama ini, mengenai rencana yang telah diri nya susun serta bagaimana beban pikirannya sekarang.


"Tenang kang aku akan selalu mendukung kakang" Ucap Pitaloka menimpali pernyataan Wisang Geni. Sekuat apapun batin pemuda ini dia hanya manusia biasa yang terkadang perlu untuk tempat mencurahkan beban pikirannya.


Perjalanan ronbongan ini telah melewati hutan menyaok, dimana sekarang mereka telah memasuki kawasan kerajaan Mataram.


" Kakang Hitam dan Kakang Putih selanjutnya perjalanan akan kita tempuh malam hari, pagi ini kalian istirahatlah" Kata Geni memberikan perintah pada bawahannya.


"Baik tuan, kami ingin ke hutan sebentar guna mencari ayam hutan,Kami bosan makan ikan asin terus" Ucap kedua bawan tersebut. Macan hitam dan macan Putih lalu bergegas masuk ke hutan tersebut. Sedang yang lain merapikan kapal serta memasak nasi untuk makan pagi mereka.


Tak berapa lama keduanya telah mendapat yang mereka ingin kan. Tapi baru saja mereka melangkah hendak kembali tiba-tiba mereka mendengar suara pertarungan.


"Marilah kau pak tua..." Teriak pasukan kerajaan menyerang seorang pak tua.


"Wus... Plak... Duk" Suara pukulan dan tendangan mendarat telak pada dada pak tua tersebut.


"Uhuk... Uhuk... Ampun tuan...ampuni hamba" Pinta pak tua yang menjadi bulan-bulanan prajurit tersebut. Jumlah mereka hanya 10 orang, tapi memang dasarnya orang tua ini tak bisa ilmu silat, tak ayal dia menjadi samsak hidup prajurit kerajaan tersebut.


"Serahkan peta itu, maka kau akan selamat" Ucap salah satu prajurit membentak pak tua tersebut.


"Jangan-jangan tuan... Ini peninggalan leluhur kami" Jawab pak tua dengan ketakutan.


"Kalau begitu matilah kau... " Teriak prajurit sambil mengayunkan pedang ke arah leher pak tua itu. Lelaki tua hanya bisa memejamkan mata sambil menunggu ajal menjemput.


"Hitam ayo selamatkan pak tua itu" Kata macan Putih sambil meletakkan ayam hasil buruan tadi. Mereka melompat seperti terbang. Sebelum pedang mengenai leher pak tua macan Putih lebih dahulu menendang senjata tersebut.


"Trang... Buk... " Bunyi pedang jatuh beserta prajurit tadi, macan Putih menendang pedang serta prajurit tadi.


"Siapa kalian, Kenapa menghalangi kami?!" Ucap prajurit menatap dua laki-laki yang datang entah dari mana.


"Maaf tuan prajurit yang hebat, kenapa memaksa orang tua yang lemah" Ucap macan Hitam yang sudah siap dengan kuda-kudanya.


"Kalian mau membantu pemberontak?prajurit cepat bunuh mereka berdua! " Perintah orang kepala prajurit pada anak buahnya.


"Plak...plak... Buk... " Serangan demi serangan terjadi, walau hitam dan putih menang dalam segala hal, tapi mereka ingin melemaskan otot-otot nya yang lama tidak digerakkan tersebut.


Pertarungan tersebut sayup-sayup terdengar oleh Wisang Geni dan Rombongan.


"Paman ayo cepat, mungkin itu pertarungan paman macan Putih dan Macan Hitam" Ucap Geni sedikit panik.


Pemuda tersebut panik bukan tanpa sebab, dia tak mau rencananya gagal karna keteledoran bawahannya.


10 prajurit itu ganti menjadi bulan-bulanan kedua pendekar hebat ini. Mereka tak sadar bahwa mereka hanya menjadi bahan latihan 2 Laki-laki yang menjadi lawan mereka tersebut.


Melihat yang bertarung melawan 2 bawahannya adalah prajurit mataram Geni langsung panik.


"Cepat habisi mereka paman, jangan sampai ada yang tersisa" Perintah Geni dengan mengerahkan tenaga falam.


Perintah tersebut didengar jelas oleh kedua saudara tersebut.


"Plak duk...plak... Plak" Suara cakaran serta pukulan langsung melumpuhkan ke 10 prajurit tadi. Mereka mati dengan cepat tanpa perlawanan yang berarti. Melihat semua musuh telah mati Geni langsung memerintahkan untuk mengubur jasad tersebut.


"Bagai mana keadaan kakek? Apa kakek sakit" Tanya Wisang Geni pada kakek yang telah diselamatkan oleh kedua bawahannya ini.


"Trimakasih Kisanak, aku baik-baik saja" Ucap sang kakek sedikit takut dengan orang bertopeng ini.


"Tenang kakek, kami tak akan menyakitimu" Ucap Geni yang melihat ketakutan pada wajah kakek ini.


" Kemana tujuan dan dari mana sebenarnya kakek..." Tanya Geni yang memang belum mengenal kakek ini.


" Mau ke Semarang,asal ku dari Pusat Kota Mataram, mau ke rumah anak dan cucuku, nama ku Mijan" Terang sang kakek pada Wisang Geni.


"Hati-hati kek, sampai bertemu kembali" Wisang Geni pamit pada kakek tersebut tanpa bertanya apapun dan kenapa dia menjadi incaran prajurit kerajaan Mataram. Geni tak tahu bahwa sang kakek membawa benda, atau lebih tepatnya peta yang sangat berharga.


Setelah semua selesai hari sudah hampir siang. Mereka kembali ke perahu yang mereka jadikan alat transportasi menuju ke desa daun hijau.


"Tuan... Kenapa kelihatan tuan tidak suka dengan prajurit mataram!" Tanya kumbang sambil makan siang, mereka yang hadir disitu pun sependapat dengan saudara tertua mereka.


Geni berfikir keras, apa dia harus bercerita tetang semuanya pada bawahannya atau tidak.


"Kelak kalian pasti tau, cepat selesaikan makan lalu istirahat, nanti malam kita melakukan perjalanan" Perintah Geni pada tujuh orang tersebut. Mereka penasaran, tapi mereka pun tak berani melawan perintah tuannya tersebut.


Senja pun tiba, rombongan Geni telah bersiap-siap untuk melakukan perjalanan. Rombongan telah beristirahat kecuali Geni dan Pitaloka. Seperti kesepakatan bahwa tuan mereka akan berjaga di pagi hingga sore hari, sedang ke tujuh bawahan akan bekerja mengemudikan kapal pada malam hari.


Bawahan Geni bersiap berangkat dengan diterangi cahaya rembulan, mereka saling bantu mengemudikan perahu tersebut. Dua orang mengemudikan serta sebagai petunjuk jalan, empat yang lain mengembangkan layar serta macan kumbang sebagai pengendali mereka semua.


Setelah memberikan petunjuk kepada mereka semua serta apa-apa yang harus dihindarkan Geni pun beranjak pergi menuju tempat biasanya dia beristirahat, pemuda ini masih seperti dalam keadaan bingung.


Diah Pitaloka teringat kembali kejadian beberapa bulan yang lalu, dimana ditempat seperti sekarang dia bertemu dengan Wisang Geni. Semua kejadian yang pernah mereka lalui kembali menghiasi pikiran gadis ini, dari waktu dia bertarung dengan Geni, hingga sampai di rumah paman Bejo.


Entah kejadian yang mana, hingga gadis muda ini sangat bergelora jiwa mudanya ingin kembali merasakan saat-saat indah bersama pemuda yang menjadi tambatan hatinya tersebut.


"Mari istirahat kakang, sudah lama kita tidak berbincang, kakang pasti lelah sini aku pijit biar agak tenang" Tawar sang gadis setelah melihat pemuda ini masuk dengan tampang yang terlihat begitu kusut dan letih.


"Pasti gadis ini ada maunya" Batin Wisang Geni coba menerka-nerka tentang kemauan Pitaloka.